6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Triyantra Murti dan Refleksi Ramayana: Kolaborasi Total Teater Lingkungan Karya Made Sidia

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
March 5, 2025
in Panggung
Triyantra Murti dan Refleksi Ramayana: Kolaborasi Total Teater Lingkungan Karya Made Sidia

Triyantra Murti, Kolaborasi Total Teater Lingkungan Karya Made Sidia

SENIMAN Bali (juga Nusantara) tak habis-habis mereguk air dari mata air epos Ramayana, tapi rasa haus mereka sepertinya tak pernah pernah lunas. Di Bali, selain menjadi kakawin yang memukau, epos Ramayanan juga masuk pada beragai media seni, seperti wayang dengan segala variannya. Namun, segala bentuk seni itu sepertinya tak pernah terpuaskan, bagi seniman, atau bagi penikmatnya.

I Made Sidia, salah satu seniman Bali yang belakangan sangat giat melakukan berbagai eksplorasi bentuk seni pertunjukan—terutama yang berbasis pada wayang—juga seakan tak pernah puas mengeplorasi Ramayana. Ia gelisah, sepertinya. Selalu gelisah.

Lihatlah garapannya dalam ujian akhir untuk memperoleh gelar doktor pada Program Studi Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Ia mengerahkan 400-an seniman dan melakukan kolaborasi terhadap berbagi bentuk seni, seperti wayang kulit, wayang orang dan wayang kaca, dalam proses garapannya ang boleh dibilang spektakuler itu.

Made Sidia memberi judul garapannya: “Triyantra Murti: Refleksi Filosofi Ramayana”. Garapannya itu disebut sebagai teater lingkungan yang dimainkan di sekitar Sanggar Paripurna, Banjar Dana, Desa Bona, Kabupaten Gianyar, Senin 3 Maret 2025.

Lokasi panggung tidak berfokus pada satu tempat, melainkan berpindah-indah dari satu stage ke stag yang lain. Meski terpisah, stage satu dengan lainnya tetap saling terhubung karena pertunjukan itu dirancang dinamis, terutama dari segi pembabakan cerita yang tidak terputus-putus.

Made Sidia menyajikan 7 babak cerita, yang setiap babak itu ditarikan pada 7 stage yang berbeda pula.

Kisah dalam setiap stage itu memang berbeda-beda, sesuai dengan pembabakan yang diangkat dalam cerita itu. Penonton pun dibuat sibuk, ikut berpindah-pindah untuk menyaksikan setiap adegan. Sebab, setiap adegan dalam stage berbeda itu merupakan satu-kesatuan garapan yang utuh.

Ketika ketinggalan satu adegan saja atau satu stage, maka terputuskan pembacaan kisah yang sudah tersusun rapi sejak awal. Maka tak heran, penotnon yang awalnya duduk manis, tiba-tiba berdiri, lalu duduk kembali beralas tanah atau batu.

 “Garapan Triyantra Murti ini menginterpretasikan nilai-nilai filosofis Ramayana dengan pendekatan yang sistematis dan terstruktur. Dalam Triyantra Murti ini meliputi tiga konteks, yaitu Wayang Orang, Wayang Kulit, dan Wayang Kaca,” kata Made Sidia.

Sementara Bentuk Lango, sebagai struktur karya adalah menyatukan elemen tradisional dalam ketiga Wayang tersebut secara yang harmonis, kemudian disajikan melalui tempat pertunjukan (stage) yang menyatu dengan lingkungan dan berbeda suasana.

Dari Stage ke Stage, Dari Babak ke Babak

Setelah dibuka oleh Rektor ISI Bali Prof. Dr, I Wayan Kun Adnyana sekaligus ketua penguji bersama dewan penguji, seluruh undangan mulai dari guru besar, tokoh seni, budayawan serta undangan dan masyarakat umum kemudian menuju areal parkir, sebagai stage pertama.

Dalam stage ini, menyajikan Kanda I, yaitu Bala Kanda menceritakan kisah kelahiran Rama beserta 3 (tiga) orang saudaranya yaitu Barata, Laksmana Satrughna. Kisah kanak-kanak berguru kepada guru Wasista. Lalu, mengikuti sayembara di Metila dan Rama memproleh istri Sita.

Bentuk dan ide garapannya menyatu dengan alam. Opening dengan suara genta dan sungu, siluwet di layar munculnya sinar suci, bulan dan bintang dilayar. Lalu, ada beberapa penari menyalakan api unggun atau obor, di halaman parkir seiring tiupan sunggu, genta dan disambut dengan bedug/kendang besar bersahutan.

Kelahiran putra Putra Raja Dasarata, yaitu: Rama, Barata, Laksmana, Satrughna, mulai dari Bayi yang berbentuk Wayang Kaca, bergerak-gerak yang muncul dari layar kecil atau Bander yang berwarna putih. Resi Walmiki pelan-pelan silam.

Dilanjutkan dengan jaman kanak-kanak, berguru dengan Bagawan Wasista Rama, Barata, Laksmana, Satrughna kecil diikuti 50 -70 penari anak-anak menari, masing-masing pasukan menggunakan kostum warna-warni yang dominan putih dan kuning, dengan membawa panah.

Sementara di layar Wayang Kaca burung, satwa dan serangga lainnya seolah-olah menjadi sasaran pembelajaran memanah para putra Raja. Di sana juga ada, adegan rakyat merefleksikan perjalanan Putra Raja bersama anak-anak telah sukses dengan pelajaran memanah/aji Danurdara.

Resi Wasista merasa bangga melihat tekunnya para putra raja belajar. Kisah Rama Dewasa diminta oleh Resi Wiswamitra untuk membantu para petapa yang tempatnya dirusak oleh para raksasa digambarkan dengan Wayang Kulit dan Wayang Kaca.

Cerita dilanjutkan dengan penggambaran Rama dan Laksamana mengikuti sayembara. Adegan Wayang Orang bertopeng dengan Wayang Kulit, dilayar mengisahkan sayembara Dewi Sita di kerajaan Metila, didahului dengan suara gong Beri lanjut dengan kemenangan Rama berhasil memboyong Sita ke Ayodya.

Pementasan berlanjut ke stage kedua, panggung terbuka depan wantilan. Perpindahan tempat pentas itu tampak elok, karena di sepanjang perjalanan itu disuguhan seni yang selalu terkait dengan garapan itu sendiri. Pertunjukan wayang menggunakan kelir pada setiap tembok pembatas jalan itu.

Satu orang dalang memainkan satu jenis wayang yang telah ditentukan. Seorang dalang itu, tak hanya bertugas menghidupkan benda dua diomensi itu, tetapi juga melantunkan tembang, ucap-ucapan termasuk membawa lampu untuk menciptakan bayangan wayang.

Kanda II Ayodya Kanda, memanfaatkan stage terbuka dan wantilan itu mengisahkan kemelut di Istana Ayodya, karena Dewi Kekayi menuntut janji kepada Dasarata agar menjadikan anaknya Barata menjadi pewaris tahta kerajaan.

Akibat dari hal itu, Dasarata merasa sangat terpukul dan mengalami kekecewaan yang sangat mendalam, karena Dasarata menginginkan Rama anak tertua yang harus menjadi pewaris tahta kerajaan, namun di sisi lain Dasarata harus menepati janji Dewi Kekayi.

Akhirnya dengan bijak dan ikhlas Rama, memutuskan siap keluar dari istana agar Barata bisa dinobatkan sebagai Raja Ayodya. Dasarata merasa bersalah atas keputusannya, akibat terlalu dipikirkannya, menyebabkan ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Barata mengetahui hal ini sangat marah dan kecewa, ia tidak mau menjadi Raja untuk menjalankan pemerintahan di kerajaan Ayodya, karena yang paling cocok jadi raja adalah Rama.

Bentuk dan Ide garapannya, diawali permainan Wayang Kaca oleh Dayang-dayang, kemudian fokus kepada Kekayi yang sudah dipengaruhi oleh embannya agar nantinya Baratalah yang menjadi Raja. Prajurit mempersiapkan 65 diri untuk menghadap Raja Dasarata.

Prabu Dasarata dengan tiga permaisuri membicarakan tentang putra mahkota yang sudah menginjak dewasa. Tiba-tiba datang Rama bersama Laksmana mengajak Dewi Sita yang dikawal oleh Begawan Wiswamitra.

Raja Dasarata sangat terkejut dan merasa bangga setelah Rama menyampaikan keberhasilannya memboyong Sita dari Sayembara yang dilaksanakan di negeri Metila. Dari sinilah Dasarata ingin menobatkan Rama untuk menggantikan tahtanya sebagai raja di Ayodya.

Namun terjadilah kemelut Dewi Kekayi dengan suara lantang menuntut janji kepada Daasarata agar anaknya Barata menjadi pewaris tahta kerajaan. Mendengar tuntutan Dewi Kekayi Rama siap keluar dari istana agar Barata bisa dinobatkan sebagai Raja Ayodya.

Dasarata merasa bersalah atas keputusannya, maka akibat terlalu dipikirkannya menyebabkan jatuh sakit dan meninggal. Adegan rakyat yang mengulas tentang betapa kejamnya konflikk keluarga kerajaan yang mengakibatkan tersingkirnya Rama dan Sita ke hutan.

Kanda III, Aranyaka Kanda dipentaskan di stage batu sikat (pintu masuk sanggat). Dikisahkan Rama menikmati kehidupan di hutan dengan menemui para pertapa mohon restunya. Rama juga memberantas semua Raksasa yang mengganggu kehidupan para pertapa.

Tiba-tiba Barata datang menemui Rama memohon agar kembali ke Ayodya menjadi raja. Rama dengan tenang menolaknya dan memberikan petuah tentang Asta Brata merupakan ajaran kepemimpinan yang harus dipahami oleh Barata untuk memimpin negeri Ayodya.

Sebelum Barata kembali ke Ayodya 66 Rama memberikan Terompah (sandal) sebagai simbol Rama ikut memimpin negeri Ayodya. Surpanaka adik dari Rahwana menggangu Laksmana, dan disarakan untuk menemuai kakaknya Rama.

Karena merasa cintanya ditolak Supanaka geram ingin menyerang Sita dan Laksmana. Tidak terima kelakuan Surpanaka, maka hidungnya ditebas oleh Laksmana. Surpanaka kesakitan dan tidak terima perlakuan Laksmana, maka ia melaporkan kepada Rahwana, dan Rahwana murka.

Rahwana dengan patihnya Marica menyusun siasat agar Sita dan Rama terpisah. Merica berubah wujud menjadi seekor kijang emas, patih Merica berhasil memisah Sita dan Rama. Suara Rama minta tolong yang membuat Sita cemas, diutuslah Laksmana untuk membantunya.

Laksmana awalnya menolak dan akhirnya melindungi Sita dengan Ajian Asta Geni agar tidak melewati batas yang sudah ditentukkan. Kondisi ini diketahui Rahwana dengan tipu muslihatnya menyamar sebagai kakek tua, berhasil menarik Dewi Sita keluar dari Ajian Asta Geni.

Dewi Sita pun diboyong ke negeri Alengka, namun dalam perjalanan dihadang oleh Jatayu, dengan kesaktian Rahwana Jatayu dapat dilumpuhkan.

Dari Wayang ke Wayang

Satwa (binatang) dan tokoh-tokoh seperti rahwana, kijang massal, para raksasa, dan petapa itu diwujudkan dalam bentuk Wayang Kulit dan Wayang Kaca. Kombinasi Triyantra Murti diiringi musik MIDI dan musik gamelan Bebonangan, dan Gegenderan. Sementara adegan rakyat dengan anak-anak merefleksikan tentang penculikan Sita oleh Rahwana.

Perpindahan dari stage menuju areal tegalan, juga disajikan kreativitas seni yang menarik. Selain menampilkan belasan dalang mempertunjukan wayang menggunakan kelir tembok, juga diisi dengan wayang-wayangan listrik (lampu) oleh anak-anak. Mereka selalu menari setiap penonton yang melewatinya.

Kanda IV, Kishkinda Kanda memanfaatkan tegalan sebagai tempat pentas. Dalam stage ini, tak hanya memenfaatkan tumbuhan yang ada, juga menatas panggung di atas pohon. Pertempuran Sugriwa dan Subali terjadi atas pohon.

Pada bagian ini, menceritakan Rama sedih karena istrinya diculik, kemudian Rama mendapat petunjuk oleh para pertapa agar minta bantuan kepada Sugriwa dan para wenaranya untuk menemukan Sita.

Rama berhasil membantu Sugriwa merebut tahta dari keserakahan kakaknya Subali, dan sebagai timbal baliknya Sugriwa bersama pasukan wanara yang dikoordinir oleh Hanoman, membantu Rama mencari Sita.

Bentuk dan ide garapannya, beberapa penari monyet masuk dari berbagai arah menggunakan kostum warna-warni, dengan layar, beberapa monyet berkaca dan dengan tarian berkaca, Hanoman menari dengan kain di Goa Kiskenda dipanggung tegalan sebelah timur lapangan.

Adegan Sugriwa menantang Subali terjadi perang yang sangat sengit. Adegan beberapa monyet yang bergelantungan naik ke pohon dengan tali seolah-olah rantimg pohon. Pertikaian dua bersaudara Subali dan Sugriwa dibahas oleh rakyat dan anak-anak.

Kanda V, yaitu Sundara Kanda dalam sebuah bangunan dengan jendela terbuka. Stage ini berada di sebelah tegalan itu, sehingga penonton hanya bergerak sedikit saja. Sundara Kanda ini  mengisahkan tentang Hanoman Duta yang ditugaskan oleh Rama ke Alengka.

Hanoman berhasil bertemu Sita, dan menyampaikan pesan kepada Rama. Hanoman tidak langsung kembali setelah bertemu Sita, namun melakukan pengerusakan di Alengka dengan maksud agar kehadiran dirinya diketahui oleh Rahwana, karena melakukan pengrusakan.

Hanoman ditangkap dan diadili, kemudian diputuskan ekornya dibakar yang mengakibatkan terbakarnya negeri Alengka. Di luar perhitungan Rahwana, setelah ekor Hanoman terbakar lalu melompat kesana-kemari sembari mengibaskan ekornmya yang berisi api.

Alengka mengalami kebakaran hebat dan benteng-benteng pertahanan istana dihancurkan oleh Hanoman. Ruang itu terbakar dengan api yang cukup besar. Para dalang ke luar ruangan, dan memainkan wayang dari arah penonton, sehingga pertunjukan semakin menarik. 

Dalam adegan ini, berisi Wayang Kulit, Wayang Orang dan Wayang Kaca di layar yang dimainkan oleh beberapa dalang dengan menggunakan LCD pojektor. Iringan musik life Bebonangan dan MIDI.

Hanoman kemudian mengarahkan penonton untuk menuju stage selanjutnya, yakni di Alengka. Penonton diajak merasakan jembatan Situbanda yang dibuat oleh pasukan kera. Stage ini sangat besar yang memanfaatan areal sawah kosong. Stage dibuat bertingkat dengan lighting yang sangat megah dan mewah.

Kanda VI, yakni Yudha Kanda yang dpentaskan pada stage sawah ini menceritakan kisah sebelum perang dimulai didahului dengan membuat jembatan menuju Alengka, karena dibatasi oleh laut yang sangat luas. Pembuatan jembatan adalah Nal dan Nil anak dari Wiswa Karma.

Selesai jembatan, Rama dan pasukanya menginjakkan kakinya di Alengka. Peperangan dimulai, menggunakan adegan interaksi antara di layar dan di panggung. Berselang-seling, dan terjadi multi adegan dan setting, dan tehnik permainan cahaya.

Dipadu pula dengan animasi, sound efek penggunaa ogoh-ogoh yang dua dimensi saat perang ditambah dengan beberapa topeng digerakan oleh pemain kecak dan anak-anak dewasa. Musik perang dengan Gong Gede ditambah sound effec juga kolaborasi dengan gambelan Bleganjur.

Pada saat Sita dibakar, diuji kesuciannya oleh Rama dan masyarakat Ayodya. Satu persatu mulai dari patih Prahasta, Kumbakarna, para prajurit, prajuit Raksasa berguguran dan terkecuali pangeran Indrajit (Meganada). Rahwana sangat sedih dan marah, kemudian maju beperang.

Rama dibantu oleh Wibisana yang memberikan masukan agar bisa mengimbangi kedahsyatan Rahwana yang berujung pada kematian Rahwana. Setelah Rama menang maka berhasil bertemu Sita, namun sebelum ketemu Rama membuktikan kesucian Sita melalui upacara Labuh Geni (Sita Obong).

Sita berhasil membuktikan dirinya Suci, Rama mengajak Sita untuk kembali ke Ayodya untuk dinobatkan menjadi Raja Ayodya.

Dalam adegan ini, bentuk dan ide garapannya digarap apik. Wayang Kulit di layar, Rama, Sugriwa dan pasukan monyet membuat jembatan menuju Alengka karena dibatasi oleh laut yang sangat luas. Perpaduan setting layar, kain Bander, dan property.

Sementara, peperangan menggunakan adegan di layar dan di panggung. Berselang-seling, dan terjadi multimedia, adegan dan setting, teknik permainan cahaya LCD, dan animasi dengan sound efek penggunaan ogoh-ogoh yang dua dimensi dan tiga dimensi.

Ditambah pula dengan beberapa topeng yang digerakan oleh pemain kecak dan anak-anak dewasa. Musik untuk perang menggunakan Gong Gede ditambah sound effec juga kolaborasi dengan gambelan bleganjur.

Kanda VII, juga memanfaatkan stage besar ini. Utara Kanda merupakan yang terakhir ini, menceritakan tentang kisah terjadi perguncingan rakyat Ayodya bahwa Sita masih sangat diragukan kesuciannya karena cukup lama ada di Alengka.

Keresahan ini didengar oleh Rama, sehingga memerintahkan Laksmana membawa Sita keluar dari kerajaan dan agar Laksmana melepas Sita di dekat Sungai Gangga di pertapaan Walmiki sebagai tempat kehidupan Sita yang bebas dari pergunjingan.

Sita memasuki pasraman Walmiki sudah dalam keadaan hamil muda hasil hubungannya dengan Rama. Seiring dengan waktu lahirlah anak kembar di pasraman walmiki, yang oleh walmiki diberi nama Kusa dan Lawa.

Ketika Rama melaksanakan upacara kurban, oleh Walmiki dikenalkan Kusa dan Lawa kepada Rama bahwa mereka adalah anaknya. Saat itu pula mengatakan bahwa Sita adalah Wanita yang Suci, akhirnya Sita membuktikan kedua kalinya kesucian dirinya dengan disaksikan oleh Ibu Pertiwi.

Sebagai bukti bumi terbelah sebagai tanda penjemputan Sita untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Rama dengan segera melangkahkan kakinya mengikuti perjalanan suci. Rama masuk ke air suci kembali ke alam Wisnu (Wisnu Loka) menyatu dengan para dewa.

Pada saat Rama memerintahkan Laksmana membawa Sita keluar dari kerajaan, kain besar dengan gelombang sebagai simbol sungai Gangga. Ketika Rama melaksanakan upacara dan mengatakan bahwa Sita adalah Wanita yang Suci.

Perpaduan dua kain besar seperti tanah terbelah itu mucul gelombang air dan tampak Rama. Lalu masuk ke Sungai Gangga muncul kreta emas dari sorga menjemputnya untuk kembali ke alam Wisnu dan Ramapun tiba di alam Wisnu disambut oleh para dewa yang lain dengan gembira “Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”, pertunjukan usai.

Pergolakan Batin

Made Sidia mengatakan, garapan ini memanfaatkan Wayang Orang untuk menonjolkan ekspresi tubuh dan wajah aktor untuk menggambarkan pergolakan batin tokoh-tokoh utama. Wayang Kulit menciptakan dimensi spiritual melalui bayangannya dan Wayang Kaca menambahkan elemen modern dengan refleksi dan transparansi.

“Wayang Kaca ini untuk memperkuat tema dualitas, nilai-nilai moral dan spiritual, seperti pertempuran antara kebaikan dan kejahatan yang dari eksternal, maupun konflik internal dalam diri individu. Hal ini untuk menciptakan pengalaman dalam menggugah penonton, memperkuat filosofi mendalam melalui penggunaan elemen tradisional dan lingkungan,” ucapnya.

Pengelola Sanggar Paripurna Bona itu menyatakan, penggunaan Triyantra Murti menciptakan dimensi transendental, menyampaikan ekspresi batin tokoh, dan menambah kedalaman dualitas karakter. Sinergi elemen tradisional dan lingkungan membuka peluang baru dalam seni pertunjukan teater lingkungan yang mengajak penonton dalam karya ini.

“Karya teater lingkungan yang menginterpretasikan nilai-nilai filosofi Ramayana direfleksikan dalam tujuh tahapan hidup manusia guna mencapai kesempurnaan hidup,” sebutnya.

Karya didukung 300 pemain, dan diiringi gamelan Semarandana, Gong Gede, Gender Wayang, serta MIDI, dan 100 lebih pendukung lainya total ada 400 orang. Tata penyajiannya berpindah-pindah dengan tujuh tempat yang berbeda sebagai perwujudan tingkat kesadaran manusia.

Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana mengungkapkan, ujian Tertutup Penciptaan Seni yang dilakukan Kandidat Doktor Seni Prodi Program Doktor ISI Bali I Made Sidia, menjadi momentum pemuliaan ISI Bali di tengah masyarakat.

Momentum ini merupakan titik balik untuk kembali memaknai Perguruan Tinggi dengan tradisi apaguron (berguru pada maestro). “Seting Desa Bona, dengan habitus keluarga seni, seperti keluarga Maestro Made Sidja, menemu titik relevansinya,” kata Prof. Kun.

Perbekel Desa Bona, I Gusti Ngurah Susila menyambut baik serta merasa bangga bila Bona akan kembali menelorkan doktor lagi. Pihaknya menyebut di Bona sejak tahun 1917 sudah ada kesenian cak, seiring perjalananan Cak Bona sempat mengalami kemunduran.

“Kali ini Cak Bona yang memiliki kekhaskan tersendiri kembali dibangkitkan, dan di saat ujian doktor kali ini pula Cak Bona disertakan dalam pementasan Ramayana karya Made Sidia, kami sangat senang,” kata Ngurah Susila. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
 “Nuwur Geni Kahuripan Ang-Ah”, Karawitan Ekologis Nyoman Kariasa: Ritus “Mejaga-jaga” di Pinda-Gianyar
Tags: ISI BaliISI DenpasarMade SidiaRamayanawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

3 Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan: Kuliah, Bisnis Kopi “Mai Nongki”, dan Hadapi Tantangannya

Next Post

6 Hal yang Dilakukan Sutjidra pada 100 Hari jadi Bupati Buleleng: Nomor 6 Pasang Lampu Hias

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 27, 2026
0
Sasolahan ‘I Sigir Jlema Tuah Asibak’ Siap Tutup Bulan Bahasa Bali 2026

Sasolahan “I Sigir Jlema Tuah Asibak” bakal menutup perhelatan Bulan Bahasa Bali VIII yang telah berlangsung selama sebukan penuh, 1-28...

Read moreDetails

Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

by Nyoman Budarsana
February 26, 2026
0
Teater Tari ‘Swarga Rohana Parwa’ dari IHDN Mpu Kuturan: Teks-teks Kuno yang Digerakkan, Ditarikan dan Disuarakan

LAMPU panggung menyala. Seorang penari perempuan masuk panggung. Ia membaca puisi bahasa Bali. Suaranya menggema dari panggung ke seluruh ruangan....

Read moreDetails

‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Basur’ Garapan Teater Jineng Smasta Tabanan: Tonjolkan Kisah Perempuan yang Dimuliakan

MESKI tetap menampilkan suasana magis ala Bali, Drama "Basur" yang dipentaskan Teater Jineng SMA Negeri 1 Tabanan (Smasta) sesungguhnya lebih...

Read moreDetails

‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

by Nyoman Budarsana
February 25, 2026
0
‘Mlantjaran ka Sasak’ dari Nong Nong Kling: Gamelan Bungut dan Kekuatan Aktor Tradisional di Panggung Bali Modern

SANGGAR Nong Nong Kling adalah kelompok seni pertunjukan yang lebih sering mementaskan drama gong, misalnya di ajang Pesta Kesenian Bali...

Read moreDetails

Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

by Dede Putra Wiguna
February 21, 2026
0
Ketika Pelajar SMP se-Bali Membaca Puisi dalam Dua Bahasa di Kesbam Anniversary Contest (KAC) VI

SELASA pagi, 10 Februari 2026, ruang rapat Gedung A lantai 2 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) mendadak berubah fungsi....

Read moreDetails

Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

by Dede Putra Wiguna
February 19, 2026
0
Dhanwantari: Ketika Nilai dan Identitas SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Menjelma Tari Kebesaran di Usia Tujuh Belas

SORE itu, di atas panggung utama, lima penari perempuan berdiri dalam sikap anggun nan tegas. Jemari mereka lentik, sorot mata...

Read moreDetails

Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 17, 2026
0
Kreativitas Aransemen dan Penggunaan Alat-alat Musik Baru Masih Minim pada Lomba Musikalisasi Puisi Bali di Bulan Bahasa Bali 2026

PESERTA Wimbakara (Lomba) Musikalisasi Puisi Bali serangkaian dengan Bulan Bahasa Bali VIII tahun 2026 di Gedung Ksirarnbawa, Taman Budaya Bali,...

Read moreDetails

Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

by tatkala
February 16, 2026
0
Lomba Baca Puisi se-Bali 2026 di Tegalmengkeb Art Space: Puisi Sebagai Jalan Membangun Desa

DI Bali, seni tumbuh seperti napas: alami, dekat, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Namun tidak semua seni mendapat panggung...

Read moreDetails

Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

by Radha Dwi Pradnyani
February 15, 2026
0
Buleleng International Rhythm Festival, 10-15 Maret 2026: Kolaborasi Budaya Dunia di Bali Utara

DI tengah arus modernisasi dan industri hiburan yang masif, upaya pelestarian kesenian terus dihidupkan melalui berbagai ruang kolaborasi. Salah satunya...

Read moreDetails

‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

by Nyoman Budarsana
February 11, 2026
0
‘Tresnané Lebur Ajur Satondén Kembang’, Novel Lama yang Digarap dengan Nuansa Baru dalam Drama Bali Modern Teater Jungut Sari

PANGGUNG gelap, kecuali panggung di sisi kiri. Di situ cahaya jatuh pada bangunan berbentuk pondok beratap alang-alang. Di teras pondok...

Read moreDetails
Next Post
6 Hal yang Dilakukan Sutjidra pada 100 Hari jadi Bupati Buleleng: Nomor 6 Pasang Lampu Hias

6 Hal yang Dilakukan Sutjidra pada 100 Hari jadi Bupati Buleleng: Nomor 6 Pasang Lampu Hias

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co