23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Triyantra Murti dan Refleksi Ramayana: Kolaborasi Total Teater Lingkungan Karya Made Sidia

Nyoman Budarsana by Nyoman Budarsana
March 5, 2025
in Panggung
Triyantra Murti dan Refleksi Ramayana: Kolaborasi Total Teater Lingkungan Karya Made Sidia

Triyantra Murti, Kolaborasi Total Teater Lingkungan Karya Made Sidia

SENIMAN Bali (juga Nusantara) tak habis-habis mereguk air dari mata air epos Ramayana, tapi rasa haus mereka sepertinya tak pernah pernah lunas. Di Bali, selain menjadi kakawin yang memukau, epos Ramayanan juga masuk pada beragai media seni, seperti wayang dengan segala variannya. Namun, segala bentuk seni itu sepertinya tak pernah terpuaskan, bagi seniman, atau bagi penikmatnya.

I Made Sidia, salah satu seniman Bali yang belakangan sangat giat melakukan berbagai eksplorasi bentuk seni pertunjukan—terutama yang berbasis pada wayang—juga seakan tak pernah puas mengeplorasi Ramayana. Ia gelisah, sepertinya. Selalu gelisah.

Lihatlah garapannya dalam ujian akhir untuk memperoleh gelar doktor pada Program Studi Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Bali. Ia mengerahkan 400-an seniman dan melakukan kolaborasi terhadap berbagi bentuk seni, seperti wayang kulit, wayang orang dan wayang kaca, dalam proses garapannya ang boleh dibilang spektakuler itu.

Made Sidia memberi judul garapannya: “Triyantra Murti: Refleksi Filosofi Ramayana”. Garapannya itu disebut sebagai teater lingkungan yang dimainkan di sekitar Sanggar Paripurna, Banjar Dana, Desa Bona, Kabupaten Gianyar, Senin 3 Maret 2025.

Lokasi panggung tidak berfokus pada satu tempat, melainkan berpindah-indah dari satu stage ke stag yang lain. Meski terpisah, stage satu dengan lainnya tetap saling terhubung karena pertunjukan itu dirancang dinamis, terutama dari segi pembabakan cerita yang tidak terputus-putus.

Made Sidia menyajikan 7 babak cerita, yang setiap babak itu ditarikan pada 7 stage yang berbeda pula.

Kisah dalam setiap stage itu memang berbeda-beda, sesuai dengan pembabakan yang diangkat dalam cerita itu. Penonton pun dibuat sibuk, ikut berpindah-pindah untuk menyaksikan setiap adegan. Sebab, setiap adegan dalam stage berbeda itu merupakan satu-kesatuan garapan yang utuh.

Ketika ketinggalan satu adegan saja atau satu stage, maka terputuskan pembacaan kisah yang sudah tersusun rapi sejak awal. Maka tak heran, penotnon yang awalnya duduk manis, tiba-tiba berdiri, lalu duduk kembali beralas tanah atau batu.

 “Garapan Triyantra Murti ini menginterpretasikan nilai-nilai filosofis Ramayana dengan pendekatan yang sistematis dan terstruktur. Dalam Triyantra Murti ini meliputi tiga konteks, yaitu Wayang Orang, Wayang Kulit, dan Wayang Kaca,” kata Made Sidia.

Sementara Bentuk Lango, sebagai struktur karya adalah menyatukan elemen tradisional dalam ketiga Wayang tersebut secara yang harmonis, kemudian disajikan melalui tempat pertunjukan (stage) yang menyatu dengan lingkungan dan berbeda suasana.

Dari Stage ke Stage, Dari Babak ke Babak

Setelah dibuka oleh Rektor ISI Bali Prof. Dr, I Wayan Kun Adnyana sekaligus ketua penguji bersama dewan penguji, seluruh undangan mulai dari guru besar, tokoh seni, budayawan serta undangan dan masyarakat umum kemudian menuju areal parkir, sebagai stage pertama.

Dalam stage ini, menyajikan Kanda I, yaitu Bala Kanda menceritakan kisah kelahiran Rama beserta 3 (tiga) orang saudaranya yaitu Barata, Laksmana Satrughna. Kisah kanak-kanak berguru kepada guru Wasista. Lalu, mengikuti sayembara di Metila dan Rama memproleh istri Sita.

Bentuk dan ide garapannya menyatu dengan alam. Opening dengan suara genta dan sungu, siluwet di layar munculnya sinar suci, bulan dan bintang dilayar. Lalu, ada beberapa penari menyalakan api unggun atau obor, di halaman parkir seiring tiupan sunggu, genta dan disambut dengan bedug/kendang besar bersahutan.

Kelahiran putra Putra Raja Dasarata, yaitu: Rama, Barata, Laksmana, Satrughna, mulai dari Bayi yang berbentuk Wayang Kaca, bergerak-gerak yang muncul dari layar kecil atau Bander yang berwarna putih. Resi Walmiki pelan-pelan silam.

Dilanjutkan dengan jaman kanak-kanak, berguru dengan Bagawan Wasista Rama, Barata, Laksmana, Satrughna kecil diikuti 50 -70 penari anak-anak menari, masing-masing pasukan menggunakan kostum warna-warni yang dominan putih dan kuning, dengan membawa panah.

Sementara di layar Wayang Kaca burung, satwa dan serangga lainnya seolah-olah menjadi sasaran pembelajaran memanah para putra Raja. Di sana juga ada, adegan rakyat merefleksikan perjalanan Putra Raja bersama anak-anak telah sukses dengan pelajaran memanah/aji Danurdara.

Resi Wasista merasa bangga melihat tekunnya para putra raja belajar. Kisah Rama Dewasa diminta oleh Resi Wiswamitra untuk membantu para petapa yang tempatnya dirusak oleh para raksasa digambarkan dengan Wayang Kulit dan Wayang Kaca.

Cerita dilanjutkan dengan penggambaran Rama dan Laksamana mengikuti sayembara. Adegan Wayang Orang bertopeng dengan Wayang Kulit, dilayar mengisahkan sayembara Dewi Sita di kerajaan Metila, didahului dengan suara gong Beri lanjut dengan kemenangan Rama berhasil memboyong Sita ke Ayodya.

Pementasan berlanjut ke stage kedua, panggung terbuka depan wantilan. Perpindahan tempat pentas itu tampak elok, karena di sepanjang perjalanan itu disuguhan seni yang selalu terkait dengan garapan itu sendiri. Pertunjukan wayang menggunakan kelir pada setiap tembok pembatas jalan itu.

Satu orang dalang memainkan satu jenis wayang yang telah ditentukan. Seorang dalang itu, tak hanya bertugas menghidupkan benda dua diomensi itu, tetapi juga melantunkan tembang, ucap-ucapan termasuk membawa lampu untuk menciptakan bayangan wayang.

Kanda II Ayodya Kanda, memanfaatkan stage terbuka dan wantilan itu mengisahkan kemelut di Istana Ayodya, karena Dewi Kekayi menuntut janji kepada Dasarata agar menjadikan anaknya Barata menjadi pewaris tahta kerajaan.

Akibat dari hal itu, Dasarata merasa sangat terpukul dan mengalami kekecewaan yang sangat mendalam, karena Dasarata menginginkan Rama anak tertua yang harus menjadi pewaris tahta kerajaan, namun di sisi lain Dasarata harus menepati janji Dewi Kekayi.

Akhirnya dengan bijak dan ikhlas Rama, memutuskan siap keluar dari istana agar Barata bisa dinobatkan sebagai Raja Ayodya. Dasarata merasa bersalah atas keputusannya, akibat terlalu dipikirkannya, menyebabkan ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal.

Barata mengetahui hal ini sangat marah dan kecewa, ia tidak mau menjadi Raja untuk menjalankan pemerintahan di kerajaan Ayodya, karena yang paling cocok jadi raja adalah Rama.

Bentuk dan Ide garapannya, diawali permainan Wayang Kaca oleh Dayang-dayang, kemudian fokus kepada Kekayi yang sudah dipengaruhi oleh embannya agar nantinya Baratalah yang menjadi Raja. Prajurit mempersiapkan 65 diri untuk menghadap Raja Dasarata.

Prabu Dasarata dengan tiga permaisuri membicarakan tentang putra mahkota yang sudah menginjak dewasa. Tiba-tiba datang Rama bersama Laksmana mengajak Dewi Sita yang dikawal oleh Begawan Wiswamitra.

Raja Dasarata sangat terkejut dan merasa bangga setelah Rama menyampaikan keberhasilannya memboyong Sita dari Sayembara yang dilaksanakan di negeri Metila. Dari sinilah Dasarata ingin menobatkan Rama untuk menggantikan tahtanya sebagai raja di Ayodya.

Namun terjadilah kemelut Dewi Kekayi dengan suara lantang menuntut janji kepada Daasarata agar anaknya Barata menjadi pewaris tahta kerajaan. Mendengar tuntutan Dewi Kekayi Rama siap keluar dari istana agar Barata bisa dinobatkan sebagai Raja Ayodya.

Dasarata merasa bersalah atas keputusannya, maka akibat terlalu dipikirkannya menyebabkan jatuh sakit dan meninggal. Adegan rakyat yang mengulas tentang betapa kejamnya konflikk keluarga kerajaan yang mengakibatkan tersingkirnya Rama dan Sita ke hutan.

Kanda III, Aranyaka Kanda dipentaskan di stage batu sikat (pintu masuk sanggat). Dikisahkan Rama menikmati kehidupan di hutan dengan menemui para pertapa mohon restunya. Rama juga memberantas semua Raksasa yang mengganggu kehidupan para pertapa.

Tiba-tiba Barata datang menemui Rama memohon agar kembali ke Ayodya menjadi raja. Rama dengan tenang menolaknya dan memberikan petuah tentang Asta Brata merupakan ajaran kepemimpinan yang harus dipahami oleh Barata untuk memimpin negeri Ayodya.

Sebelum Barata kembali ke Ayodya 66 Rama memberikan Terompah (sandal) sebagai simbol Rama ikut memimpin negeri Ayodya. Surpanaka adik dari Rahwana menggangu Laksmana, dan disarakan untuk menemuai kakaknya Rama.

Karena merasa cintanya ditolak Supanaka geram ingin menyerang Sita dan Laksmana. Tidak terima kelakuan Surpanaka, maka hidungnya ditebas oleh Laksmana. Surpanaka kesakitan dan tidak terima perlakuan Laksmana, maka ia melaporkan kepada Rahwana, dan Rahwana murka.

Rahwana dengan patihnya Marica menyusun siasat agar Sita dan Rama terpisah. Merica berubah wujud menjadi seekor kijang emas, patih Merica berhasil memisah Sita dan Rama. Suara Rama minta tolong yang membuat Sita cemas, diutuslah Laksmana untuk membantunya.

Laksmana awalnya menolak dan akhirnya melindungi Sita dengan Ajian Asta Geni agar tidak melewati batas yang sudah ditentukkan. Kondisi ini diketahui Rahwana dengan tipu muslihatnya menyamar sebagai kakek tua, berhasil menarik Dewi Sita keluar dari Ajian Asta Geni.

Dewi Sita pun diboyong ke negeri Alengka, namun dalam perjalanan dihadang oleh Jatayu, dengan kesaktian Rahwana Jatayu dapat dilumpuhkan.

Dari Wayang ke Wayang

Satwa (binatang) dan tokoh-tokoh seperti rahwana, kijang massal, para raksasa, dan petapa itu diwujudkan dalam bentuk Wayang Kulit dan Wayang Kaca. Kombinasi Triyantra Murti diiringi musik MIDI dan musik gamelan Bebonangan, dan Gegenderan. Sementara adegan rakyat dengan anak-anak merefleksikan tentang penculikan Sita oleh Rahwana.

Perpindahan dari stage menuju areal tegalan, juga disajikan kreativitas seni yang menarik. Selain menampilkan belasan dalang mempertunjukan wayang menggunakan kelir tembok, juga diisi dengan wayang-wayangan listrik (lampu) oleh anak-anak. Mereka selalu menari setiap penonton yang melewatinya.

Kanda IV, Kishkinda Kanda memanfaatkan tegalan sebagai tempat pentas. Dalam stage ini, tak hanya memenfaatkan tumbuhan yang ada, juga menatas panggung di atas pohon. Pertempuran Sugriwa dan Subali terjadi atas pohon.

Pada bagian ini, menceritakan Rama sedih karena istrinya diculik, kemudian Rama mendapat petunjuk oleh para pertapa agar minta bantuan kepada Sugriwa dan para wenaranya untuk menemukan Sita.

Rama berhasil membantu Sugriwa merebut tahta dari keserakahan kakaknya Subali, dan sebagai timbal baliknya Sugriwa bersama pasukan wanara yang dikoordinir oleh Hanoman, membantu Rama mencari Sita.

Bentuk dan ide garapannya, beberapa penari monyet masuk dari berbagai arah menggunakan kostum warna-warni, dengan layar, beberapa monyet berkaca dan dengan tarian berkaca, Hanoman menari dengan kain di Goa Kiskenda dipanggung tegalan sebelah timur lapangan.

Adegan Sugriwa menantang Subali terjadi perang yang sangat sengit. Adegan beberapa monyet yang bergelantungan naik ke pohon dengan tali seolah-olah rantimg pohon. Pertikaian dua bersaudara Subali dan Sugriwa dibahas oleh rakyat dan anak-anak.

Kanda V, yaitu Sundara Kanda dalam sebuah bangunan dengan jendela terbuka. Stage ini berada di sebelah tegalan itu, sehingga penonton hanya bergerak sedikit saja. Sundara Kanda ini  mengisahkan tentang Hanoman Duta yang ditugaskan oleh Rama ke Alengka.

Hanoman berhasil bertemu Sita, dan menyampaikan pesan kepada Rama. Hanoman tidak langsung kembali setelah bertemu Sita, namun melakukan pengerusakan di Alengka dengan maksud agar kehadiran dirinya diketahui oleh Rahwana, karena melakukan pengrusakan.

Hanoman ditangkap dan diadili, kemudian diputuskan ekornya dibakar yang mengakibatkan terbakarnya negeri Alengka. Di luar perhitungan Rahwana, setelah ekor Hanoman terbakar lalu melompat kesana-kemari sembari mengibaskan ekornmya yang berisi api.

Alengka mengalami kebakaran hebat dan benteng-benteng pertahanan istana dihancurkan oleh Hanoman. Ruang itu terbakar dengan api yang cukup besar. Para dalang ke luar ruangan, dan memainkan wayang dari arah penonton, sehingga pertunjukan semakin menarik. 

Dalam adegan ini, berisi Wayang Kulit, Wayang Orang dan Wayang Kaca di layar yang dimainkan oleh beberapa dalang dengan menggunakan LCD pojektor. Iringan musik life Bebonangan dan MIDI.

Hanoman kemudian mengarahkan penonton untuk menuju stage selanjutnya, yakni di Alengka. Penonton diajak merasakan jembatan Situbanda yang dibuat oleh pasukan kera. Stage ini sangat besar yang memanfaatan areal sawah kosong. Stage dibuat bertingkat dengan lighting yang sangat megah dan mewah.

Kanda VI, yakni Yudha Kanda yang dpentaskan pada stage sawah ini menceritakan kisah sebelum perang dimulai didahului dengan membuat jembatan menuju Alengka, karena dibatasi oleh laut yang sangat luas. Pembuatan jembatan adalah Nal dan Nil anak dari Wiswa Karma.

Selesai jembatan, Rama dan pasukanya menginjakkan kakinya di Alengka. Peperangan dimulai, menggunakan adegan interaksi antara di layar dan di panggung. Berselang-seling, dan terjadi multi adegan dan setting, dan tehnik permainan cahaya.

Dipadu pula dengan animasi, sound efek penggunaa ogoh-ogoh yang dua dimensi saat perang ditambah dengan beberapa topeng digerakan oleh pemain kecak dan anak-anak dewasa. Musik perang dengan Gong Gede ditambah sound effec juga kolaborasi dengan gambelan Bleganjur.

Pada saat Sita dibakar, diuji kesuciannya oleh Rama dan masyarakat Ayodya. Satu persatu mulai dari patih Prahasta, Kumbakarna, para prajurit, prajuit Raksasa berguguran dan terkecuali pangeran Indrajit (Meganada). Rahwana sangat sedih dan marah, kemudian maju beperang.

Rama dibantu oleh Wibisana yang memberikan masukan agar bisa mengimbangi kedahsyatan Rahwana yang berujung pada kematian Rahwana. Setelah Rama menang maka berhasil bertemu Sita, namun sebelum ketemu Rama membuktikan kesucian Sita melalui upacara Labuh Geni (Sita Obong).

Sita berhasil membuktikan dirinya Suci, Rama mengajak Sita untuk kembali ke Ayodya untuk dinobatkan menjadi Raja Ayodya.

Dalam adegan ini, bentuk dan ide garapannya digarap apik. Wayang Kulit di layar, Rama, Sugriwa dan pasukan monyet membuat jembatan menuju Alengka karena dibatasi oleh laut yang sangat luas. Perpaduan setting layar, kain Bander, dan property.

Sementara, peperangan menggunakan adegan di layar dan di panggung. Berselang-seling, dan terjadi multimedia, adegan dan setting, teknik permainan cahaya LCD, dan animasi dengan sound efek penggunaan ogoh-ogoh yang dua dimensi dan tiga dimensi.

Ditambah pula dengan beberapa topeng yang digerakan oleh pemain kecak dan anak-anak dewasa. Musik untuk perang menggunakan Gong Gede ditambah sound effec juga kolaborasi dengan gambelan bleganjur.

Kanda VII, juga memanfaatkan stage besar ini. Utara Kanda merupakan yang terakhir ini, menceritakan tentang kisah terjadi perguncingan rakyat Ayodya bahwa Sita masih sangat diragukan kesuciannya karena cukup lama ada di Alengka.

Keresahan ini didengar oleh Rama, sehingga memerintahkan Laksmana membawa Sita keluar dari kerajaan dan agar Laksmana melepas Sita di dekat Sungai Gangga di pertapaan Walmiki sebagai tempat kehidupan Sita yang bebas dari pergunjingan.

Sita memasuki pasraman Walmiki sudah dalam keadaan hamil muda hasil hubungannya dengan Rama. Seiring dengan waktu lahirlah anak kembar di pasraman walmiki, yang oleh walmiki diberi nama Kusa dan Lawa.

Ketika Rama melaksanakan upacara kurban, oleh Walmiki dikenalkan Kusa dan Lawa kepada Rama bahwa mereka adalah anaknya. Saat itu pula mengatakan bahwa Sita adalah Wanita yang Suci, akhirnya Sita membuktikan kedua kalinya kesucian dirinya dengan disaksikan oleh Ibu Pertiwi.

Sebagai bukti bumi terbelah sebagai tanda penjemputan Sita untuk kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Rama dengan segera melangkahkan kakinya mengikuti perjalanan suci. Rama masuk ke air suci kembali ke alam Wisnu (Wisnu Loka) menyatu dengan para dewa.

Pada saat Rama memerintahkan Laksmana membawa Sita keluar dari kerajaan, kain besar dengan gelombang sebagai simbol sungai Gangga. Ketika Rama melaksanakan upacara dan mengatakan bahwa Sita adalah Wanita yang Suci.

Perpaduan dua kain besar seperti tanah terbelah itu mucul gelombang air dan tampak Rama. Lalu masuk ke Sungai Gangga muncul kreta emas dari sorga menjemputnya untuk kembali ke alam Wisnu dan Ramapun tiba di alam Wisnu disambut oleh para dewa yang lain dengan gembira “Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma”, pertunjukan usai.

Pergolakan Batin

Made Sidia mengatakan, garapan ini memanfaatkan Wayang Orang untuk menonjolkan ekspresi tubuh dan wajah aktor untuk menggambarkan pergolakan batin tokoh-tokoh utama. Wayang Kulit menciptakan dimensi spiritual melalui bayangannya dan Wayang Kaca menambahkan elemen modern dengan refleksi dan transparansi.

“Wayang Kaca ini untuk memperkuat tema dualitas, nilai-nilai moral dan spiritual, seperti pertempuran antara kebaikan dan kejahatan yang dari eksternal, maupun konflik internal dalam diri individu. Hal ini untuk menciptakan pengalaman dalam menggugah penonton, memperkuat filosofi mendalam melalui penggunaan elemen tradisional dan lingkungan,” ucapnya.

Pengelola Sanggar Paripurna Bona itu menyatakan, penggunaan Triyantra Murti menciptakan dimensi transendental, menyampaikan ekspresi batin tokoh, dan menambah kedalaman dualitas karakter. Sinergi elemen tradisional dan lingkungan membuka peluang baru dalam seni pertunjukan teater lingkungan yang mengajak penonton dalam karya ini.

“Karya teater lingkungan yang menginterpretasikan nilai-nilai filosofi Ramayana direfleksikan dalam tujuh tahapan hidup manusia guna mencapai kesempurnaan hidup,” sebutnya.

Karya didukung 300 pemain, dan diiringi gamelan Semarandana, Gong Gede, Gender Wayang, serta MIDI, dan 100 lebih pendukung lainya total ada 400 orang. Tata penyajiannya berpindah-pindah dengan tujuh tempat yang berbeda sebagai perwujudan tingkat kesadaran manusia.

Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana mengungkapkan, ujian Tertutup Penciptaan Seni yang dilakukan Kandidat Doktor Seni Prodi Program Doktor ISI Bali I Made Sidia, menjadi momentum pemuliaan ISI Bali di tengah masyarakat.

Momentum ini merupakan titik balik untuk kembali memaknai Perguruan Tinggi dengan tradisi apaguron (berguru pada maestro). “Seting Desa Bona, dengan habitus keluarga seni, seperti keluarga Maestro Made Sidja, menemu titik relevansinya,” kata Prof. Kun.

Perbekel Desa Bona, I Gusti Ngurah Susila menyambut baik serta merasa bangga bila Bona akan kembali menelorkan doktor lagi. Pihaknya menyebut di Bona sejak tahun 1917 sudah ada kesenian cak, seiring perjalananan Cak Bona sempat mengalami kemunduran.

“Kali ini Cak Bona yang memiliki kekhaskan tersendiri kembali dibangkitkan, dan di saat ujian doktor kali ini pula Cak Bona disertakan dalam pementasan Ramayana karya Made Sidia, kami sangat senang,” kata Ngurah Susila. [T]

Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Adnyana Ole

Tulang, Tubuh, dan Puisi dalam Ruang-Waktu | Dari Pameran Seni Instalasi Sampi Duwe di Desa Tambakan
 “Nuwur Geni Kahuripan Ang-Ah”, Karawitan Ekologis Nyoman Kariasa: Ritus “Mejaga-jaga” di Pinda-Gianyar
Tags: ISI BaliISI DenpasarMade SidiaRamayanawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

3 Mahasiswa STAHN Mpu Kuturan: Kuliah, Bisnis Kopi “Mai Nongki”, dan Hadapi Tantangannya

Next Post

6 Hal yang Dilakukan Sutjidra pada 100 Hari jadi Bupati Buleleng: Nomor 6 Pasang Lampu Hias

Nyoman Budarsana

Nyoman Budarsana

Editor/wartawan tatkala.co

Related Posts

150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
150 Penari Buka Buleleng Festival 2026

KEMEGAHAN menyambut malam pembukaan Buleleng Festival 2026. Sebanyak 150 penari tampil memukau dalam kolaborasi akbar, mengawali peresmian festival yang dibuka...

Read moreDetails

Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Cara Anak Muda Menikmati Spirit Masa Lalu di Praja Mandala Singa Ambara Raja; Dari “Suara Senja” ke “Buleleng Festival”

LELAKI muda duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon kamboja di Palemahan Kangin, Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja,...

Read moreDetails

“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

by I Putu Gede Pradipta Utama
August 17, 2026
0
“Maborbor” : Menyimak Kesakralan Tari Sanghyang Janger di Desa Metra dalam Perspektif Etnoestetika

DI tengah kehidupan masyarakat Desa Metra, Yang Api, Kecamatan Tembuku, Kabupaten Bangli, masih lestari sebuah seni pertunjukan ritual yang memiliki...

Read moreDetails

Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Dari Matahari Terbit hingga Kecak: Sanur Menjadi Panggung Kemerdekaan

MATAHARI perlahan muncul ketika alunan musik mulai mengisi udara pagi di Pantai Sanur. Di antara suara ombak dan cahaya matahari...

Read moreDetails

Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

by Nyoman Budarsana
August 17, 2026
0
Gerak Ceria Nusantara, Menanamkan Kebhinekaan Sejak Dini Lewat Seni Tari

ANAK-ANAK bergerak mengikuti irama. Ada yang mengepakkan tangan seperti burung, melangkah dalam barisan, memainkan properti, hingga berpindah formasi bersama teman-temannya....

Read moreDetails

Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

by Nyoman Budarsana
August 16, 2026
0
Gelar Karya “Lihat Kebunku”: Anak-Anak yang Bertumbuh melalui Permainan dan Kesenian

ANAK-ANAK itu menebar senyum ceria. Di tengah halaman hijau yang teduh, mereka berlari, bermain, bernyanyi, dan berinteraksi bersama teman-temannya. Ruang...

Read moreDetails

Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Nenden Shintawati di SUVJF 2026: Dari Penyanyi Cilik ke Jazz Kelas Dunia

SALAH satu momen menarik ketika Salamander Big Band tampil membuka Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026 pada Jumat, 7...

Read moreDetails

Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

by Dede Putra Wiguna
August 15, 2026
0
Sebelum Merah Putih Berkibar, SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar Sudah Riuh Lebih Awal Lewat Panggung Ekspresi

SORAK sorai suporter terdengar dari sudut aula. Tepuk tangan menyambut setiap penampilan, sementara tawa pecah di antara adegan-adegan drama yang...

Read moreDetails

Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

by Nyoman Budarsana
August 15, 2026
0
Ubud FolkFest 2026: Menanam Seni dan Budaya untuk Masa Depan

KETIKA suling mulai dimainkan, suasana seketika berubah. Para pemain Genjek Pondok Pekak, Ubud, bergerak dengan ekspresi yang kuat. Penari laki-laki...

Read moreDetails

Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

by Dede Putra Wiguna
August 13, 2026
0
Dodot Trio di Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 dan Cerita Empat Dekade Jazz di Balik ‘The Story of White Piano’

MALAM di Subak Stage, Sthala Ubud Village Jazz Festival (SUVJF) 2026, berjalan dalam suasana tenang ketika Dodot Trio mulai memainkan...

Read moreDetails
Next Post
6 Hal yang Dilakukan Sutjidra pada 100 Hari jadi Bupati Buleleng: Nomor 6 Pasang Lampu Hias

6 Hal yang Dilakukan Sutjidra pada 100 Hari jadi Bupati Buleleng: Nomor 6 Pasang Lampu Hias

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co