23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 2, 2025
in Esai
Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Warga keturunan Tionghoa bersembahyang di sebuah klenteng di Singaraja | Foto: Dok. tatkala.co

PADA sebuah batu nisan tertulis DCB 1884.

“Kubur ini adalah kuburan ayah kakek saya,” kata Lie Hong Tan, lelaki berusia 73 tahun yang tinggal di belakang konco kecil (kelenteng) di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, bali.

Menurutnya, DCB barangkali singkatan untuk bulan Desember. Angka 1884 adalah tahun untuk penguburannya. Tapi Hong Tan agak ragu, “Mungkin saja itu tahun pemugarannya. Saya tidak bisa pastikan”.

Keraguan terhadap angka tahun itu muncul karena ia tak mampu membaca sebagian besar huruf-huruf Cina yang memenuhi nisan itu. Tapi ia tahu bahwa yang terbaring dalam kubur itu adalah Lie Sing Hwat, buyutnya yang datang langsung dari Tiongkok.

Kakek dan ayah Hong Tan lahir di Bali. Hong Tan sendiri lahir di Nongan pada tahun1924. Sehari-hari ia berbahasa Bali. Tidak bisa berbahasa Cina.

“Kami Hokian, kemungkinan dari Hayting,” ujarnya dengan ragu.

Imigrasi warga Tiongkok ke Bali dalam gelombang-gelombang yang berbeda. Era sebelum Majapahit, mata uang masyarakat Bali adalah Mong, mata uang yang diperkirakan awalnya dipakai kalangan warga Cina. Pemberlakuan mata uang Cina ini menandakan perdagangan Cina menguasai pulau ini.

Pura Pucak Penulisan yang diperkirakan telah ada sekitar abad X masehi, tidak lepas dari keterkaitan legenda pernikahan Putri Cina dengan raja Bali. Konon, putri Cina (bermarga Kang), setelah dinikahi raja Bali, mereka membuka sebuah kawasan di utara Gunung Batur, pada hamparan tanah subur di sekitar 4 kilometer dari Pura Penulisan. Tempat itu disebut Bali-Kang, yang sampai kini dikenal sebagai Pura Balingkang di Desa Pingan. Pingan berarti damai dalam bahasa Cina.

Sensus Warga Tionghoa


Volkstelling, semacam sensus yang dilakukan pemerintah Belanda, pada tahun 1930 mencatat kedatangan imigran Tiongkok masuk Indonesia periode tahun 1869 sampai1890 naik dari 221.438 jiwa sampai 451.089 jiwa. Total jumlah imigran Tiongkok yang telah masuk ke Indonesia sampai tahun 1930 telah mencapai 1.233.214 jiwa.

Lie Sing Hwat, dan seorang keponakannya, yang sama-sama kelahiran Tiongkok, kemungkinan mereka bagian dari gelombang imigran yang datang ke Bali periode Hindia-Belanda, sekitar tahun 1869. Sing Hwat menetap di Desa Nongan, menikah 4 kali, istri pertamanya yang keturunan warga Tionghoa yang bermukim di Desa Sangsit, Buleleng, pantai utara Bali. Tiga istri lainnya keturunan warga Bali.

Keturunan Sing Hwat tinggal di Nongan sampai sekarang, beberapa diantaranya menyebar ke wilayah lain di Bali. Keturunan Sing Hwat secara turun-temurun bercerita bahwa Sing Hwat diberi kepercayaan oleh Raja Bangli untuk bermukim di kawasan Nongan, segitiga perbatasan tiga Kerajaan Karangasem-Bangli-Klungkung. Sementara itu, keponakan Sing Hwat, diperkirakan bernama Lie Bun Gong, bergabung dengan pasukan Raja Bangli lainnya untuk menjaga daerah segitiga perbatasan Kerajaan Bangli-Kerajaan Badung-Kerajaan Buleleng di Dusun Lampu, perbukitan Catur kawasan Kintamani-Batur.

Di Dusun Lampu, yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari Desa Nongan, kita bisa menemui Lie Giok Tian, salah seorang keturunan Lie Bun Gong.

“Leluhur kami memang semula bermukim di Desa Nongan,” aku Lie Giok Tian.

Lie Giok Tan bercerita tentang leluhurnya yang menjaga perbatasan, bernama Lie Bun Gong. Namun nama itu tidak begitu jelas baginya. Sebagai keturunan serdadu penjaga perbatasan, disamping sengaja menyembunyikan kejelasan nama dan berbagai cerita, Giok Tian merasakan hubungannya dengan ayah atau kakeknya tidak begitu dekat.

“Barangkali karena mereka serdadu. Mereka jarang bercerita tentang masa lalu mereka. Mereka barangkali sengaja menyembunyikannya untuk keamanan keluarga,”tambah Giok Tan.

Legenda Dusun Nanpu

Di Dusun Lampu, bukan hanya keluarga Tan yang terlahir dari serdadu penjaga perbatasan. Sekurangnya sebelas warga Tiongkok sempat menjadi penjaga perbatasan itu. Keturunannya yang masih bermukim di Lampu ada 6 marga : Lie, Siaw, Cwa, Po,Ang dan Tan. Lima marga lainnya berpindah ke daerah lain dan seorang dari serdadu itu tewas dalam pertempuran di perbatasan.

Salah satu anggota serdadu yang tewas itu konon bernama Ming Seng An. Ia dikubur di lokasi perbatasan. Walau nisan Ming Seng An itu telah dibongkar warga yang bertani, karena nisan itu sempat lama menjadi penanda wilayah itu, desa itu sampai kini masih dikenal sebagai Desa Mungsengan. Ming Seng An memang tewas dalam pertempuran itu, tapi namanya tak pernah terkubur. Ming Seng An identik dengan Mungsengan, sebuah desa perkebunan yang subur dan hijau.

Menurut cerita yang didengar Lie Hong Tan, usai upacara penguburan Ming Seng An, serdadu warga Tionghoa lainnya bergerak ke arah utara tempat itu, dengan membawa obor dan perlangkapan ritual penguburan. Tepat di wilayah Desa Lampu sekarang, obor mereka tiba-tiba padam. Merekapun menangkap padamnya obor sebagai sebuah pertanda untuk berhenti dan menetap di sana. Mereka membangun tenda dan gubuk-gubuk, berhari-hari menyalakan lampion-lampion tanda berkabung atas kematian Ming Seng An. Desa itu selanjutnya dikenal sebagai Desa Lampu.

Lie Giok Tan punya versi lain tentang nama dusunnya. Konon, pasukan dari Kerajaan Jagaraga, Buleleng, menyerang kawasan perbatasan itu. Para serdadu Cina yang diperintah raja Bangli itu terdesak. Karena berjumlah hanya belasan orang saja, mereka menyusun strategi. Untuk memperlampat serbuan pasukan Jagaraga, mereka menebangi pohon-pohon. Lokasi itu kini bernama Desa Mengandang (menghadang). Setelah pasukan Jagaraga mampu menembus hadangan pohon-pohon itu, mereka menyerang dengan lebih beringas. Serdadu Bangli yang anggotanya warga Tionghoa itu mundur perlahan-lahan. Memasuki wilayah Sungai Segae senja makin gelap. Pasukan Jagaraga semakin mendesak serdadu Cina-Bangli sampai ke pinggir barat sungai Sagae. Didesak masuk ke sungai, pasukan Cina-Bangli mulai kalang kabut dan berteriak-teriak.

Saat itulah, di antar pohon-pohon yang lebat, di seberang timur Sungai Segae, tiba-tiba ratusan lampion menyala, cahayanya memecah malam yang baru tiba. Cahayanya bergerak-gerak dalam tiupan angin dan kabut. Aliran sungai bertabur cahaya. Pasukan Jagaraga-Buleleng yang mendesak pasukan Cina-Bali menjadi gusar. Lampion-lampion itu menggangu konsentrasi mereka. Pasukan Jagaraga-Buleleng mundur perlahan dan menghentikan penyerangan.

Lampion-lampion itu hanya trik serdadu Cina-Bangli. Sedari siang seorang serdadu telah menyiapkan ratusan lampion-lampion berjejer di seberang sungai. Saat ia tahu pasukan Cina-Bangli terdesak, ia menyalakan ratusan lampion-lampion itu secara serentak. Kawasan di seberang sungai itu selanjutnya disebut Dusun Lampu. Dusun dimana lampion-lampion-lampion selalu menyala. Di sanalah warga Tionghoa bermukim, berkebun, beranak-pinak, berbaur dan menikah dengan warga setempat.

Ada pula yang menafsir kata Lampu berasal dari kata Nan-Pun (Desa Selatan). Lama kelamaan karena mereka tidak berbahasa Cina keturunan mereka melupakannya. Penduduk sekitar, untuk memudahkan penyebutan, selanjutnya menyebut dusun tersebut sebagai Dusun Lampu.

Apapun versi cerita tentang Dusun Lampu yang berkembang, kini keturunan para serdadu yang dulu menjaga perbatasan itu sebagian menjalani hidup mereka sebagai petani. Ada yang bertani kopi dan pula bercocok tanam jeruk. Beberapa diantaranya menjadi buruh atau petani penggarap. Giok Tan menjadi bengkel. Hok Buan seorang pensiunan supir dan istrinya, Ci Kam menjad tukang jahit kebaya. Beberapa yang lainnya aktif menjadi pemimpin desa adat.

Desa-desa Perbatasan Peranakan



Di dua titik perbatasan lain, yang juga di kawasan Kerajaan Bangli yang dulu dijaga para serdadu Tionghoa, seperti Desa Langgahan, terletak di perbatasan tiga Kerajaan Bangli-Gianyar-Badung, Po Sin Cin bertani mengelola tanah warisan leluhurnya yang diperoleh dari hadiah Raja Bangli karena telah gigih menjaga perbatasan. Di Kembang Sari, desa perbatasan Bangli dan Buleleng, Lie Tian Han menjadi petani vanili. Oleh warga desanya, ia lebih dikenal sebagai Penyarikan (pemimpin adat) dengan nama Mangku Candra. Sehari-hari ia memimpin berbagai ritual di berbagai Pura di desanya, menjadi saksi penikahan, dan rapat-rapat adat. Ia merasakan dua aliran darah mengalir dalam dirinya, Cina dan Bali. Di belakang rumahnya ia pun membangun konco (kelenteng) untuk leluhur dari pihak ayahnya dan mrajan (pura leluhur) untuk leluhur dari pihak ibunya.

Dalam era kemerdekaan Indonesia, daerah-daerah perbatasan kerajaan tidak banyak lagi terjadi sengketa perbatasan. Batas-batas kerajaan di Bali kini menjadi batas-batas kabupaten yang ada. Keturunan Cina yang datang semasa jaman kerajaan identik dengan daerah perbatasan. Perbatasan juga bagian dari identas mereka. Mereka tetap berada di perbatasan antara ke-Cina-an dan ke-Bali-an mereka. Secara genetik keturunan Tionghoa namun ikatan bathin mereka lebih dekat dengan tanah Bali. Mereka berbahasa Bali, berusaha mengikuti ketentuan keanggotaan desa adat dan tradisi Bali. Tetap saja, mereka “orang dalam” merangkap “orang luar”. Secara kultural dan geografis mereka masih bermukim di perbatasan.


Nara sumber :
1.Lie Giok Tian, Desa Lampu (perbatasan Bangli-Buleleng-Badung).
2.Mangku Candra alias Lie Tian Han, Desa Kembang Sari (perbatasan Bangli-Buleleng).
3.Po Sin Cin, Desa Langgahan (perbatasan Bangli-Gianyar-Badung)
4.Lie Hon Tan, 73 tahun, Desa Nongan (perbatasan Karangasem-Bangli-Klungkung)

Catatan : Data dan jumlah imigran Tiongkok diambil dari Konfrontasi, Jurnal Kultural, Ekonomi dan Perubahan Sosial. No 1, Oktober 1998

Sumber : http://www.scribd.com/doc/45359347/nongan-Peranakan-Cina-Di-Bali-Sugi-Lanus

  • BACA JUGA:
Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa
Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Tags: BanglibulelengChinaDesa NonganDusun LampuTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Next Post

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar
Tualang

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

by Made Wirya
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co