7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Peranakan Cina : Mereka yang Bermukim di Perbatasan Kerajaan-Kerajaan Bali

Sugi Lanus by Sugi Lanus
March 2, 2025
in Esai
Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Warga keturunan Tionghoa bersembahyang di sebuah klenteng di Singaraja | Foto: Dok. tatkala.co

PADA sebuah batu nisan tertulis DCB 1884.

“Kubur ini adalah kuburan ayah kakek saya,” kata Lie Hong Tan, lelaki berusia 73 tahun yang tinggal di belakang konco kecil (kelenteng) di Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, bali.

Menurutnya, DCB barangkali singkatan untuk bulan Desember. Angka 1884 adalah tahun untuk penguburannya. Tapi Hong Tan agak ragu, “Mungkin saja itu tahun pemugarannya. Saya tidak bisa pastikan”.

Keraguan terhadap angka tahun itu muncul karena ia tak mampu membaca sebagian besar huruf-huruf Cina yang memenuhi nisan itu. Tapi ia tahu bahwa yang terbaring dalam kubur itu adalah Lie Sing Hwat, buyutnya yang datang langsung dari Tiongkok.

Kakek dan ayah Hong Tan lahir di Bali. Hong Tan sendiri lahir di Nongan pada tahun1924. Sehari-hari ia berbahasa Bali. Tidak bisa berbahasa Cina.

“Kami Hokian, kemungkinan dari Hayting,” ujarnya dengan ragu.

Imigrasi warga Tiongkok ke Bali dalam gelombang-gelombang yang berbeda. Era sebelum Majapahit, mata uang masyarakat Bali adalah Mong, mata uang yang diperkirakan awalnya dipakai kalangan warga Cina. Pemberlakuan mata uang Cina ini menandakan perdagangan Cina menguasai pulau ini.

Pura Pucak Penulisan yang diperkirakan telah ada sekitar abad X masehi, tidak lepas dari keterkaitan legenda pernikahan Putri Cina dengan raja Bali. Konon, putri Cina (bermarga Kang), setelah dinikahi raja Bali, mereka membuka sebuah kawasan di utara Gunung Batur, pada hamparan tanah subur di sekitar 4 kilometer dari Pura Penulisan. Tempat itu disebut Bali-Kang, yang sampai kini dikenal sebagai Pura Balingkang di Desa Pingan. Pingan berarti damai dalam bahasa Cina.

Sensus Warga Tionghoa


Volkstelling, semacam sensus yang dilakukan pemerintah Belanda, pada tahun 1930 mencatat kedatangan imigran Tiongkok masuk Indonesia periode tahun 1869 sampai1890 naik dari 221.438 jiwa sampai 451.089 jiwa. Total jumlah imigran Tiongkok yang telah masuk ke Indonesia sampai tahun 1930 telah mencapai 1.233.214 jiwa.

Lie Sing Hwat, dan seorang keponakannya, yang sama-sama kelahiran Tiongkok, kemungkinan mereka bagian dari gelombang imigran yang datang ke Bali periode Hindia-Belanda, sekitar tahun 1869. Sing Hwat menetap di Desa Nongan, menikah 4 kali, istri pertamanya yang keturunan warga Tionghoa yang bermukim di Desa Sangsit, Buleleng, pantai utara Bali. Tiga istri lainnya keturunan warga Bali.

Keturunan Sing Hwat tinggal di Nongan sampai sekarang, beberapa diantaranya menyebar ke wilayah lain di Bali. Keturunan Sing Hwat secara turun-temurun bercerita bahwa Sing Hwat diberi kepercayaan oleh Raja Bangli untuk bermukim di kawasan Nongan, segitiga perbatasan tiga Kerajaan Karangasem-Bangli-Klungkung. Sementara itu, keponakan Sing Hwat, diperkirakan bernama Lie Bun Gong, bergabung dengan pasukan Raja Bangli lainnya untuk menjaga daerah segitiga perbatasan Kerajaan Bangli-Kerajaan Badung-Kerajaan Buleleng di Dusun Lampu, perbukitan Catur kawasan Kintamani-Batur.

Di Dusun Lampu, yang jaraknya sekitar 40 kilometer dari Desa Nongan, kita bisa menemui Lie Giok Tian, salah seorang keturunan Lie Bun Gong.

“Leluhur kami memang semula bermukim di Desa Nongan,” aku Lie Giok Tian.

Lie Giok Tan bercerita tentang leluhurnya yang menjaga perbatasan, bernama Lie Bun Gong. Namun nama itu tidak begitu jelas baginya. Sebagai keturunan serdadu penjaga perbatasan, disamping sengaja menyembunyikan kejelasan nama dan berbagai cerita, Giok Tian merasakan hubungannya dengan ayah atau kakeknya tidak begitu dekat.

“Barangkali karena mereka serdadu. Mereka jarang bercerita tentang masa lalu mereka. Mereka barangkali sengaja menyembunyikannya untuk keamanan keluarga,”tambah Giok Tan.

Legenda Dusun Nanpu

Di Dusun Lampu, bukan hanya keluarga Tan yang terlahir dari serdadu penjaga perbatasan. Sekurangnya sebelas warga Tiongkok sempat menjadi penjaga perbatasan itu. Keturunannya yang masih bermukim di Lampu ada 6 marga : Lie, Siaw, Cwa, Po,Ang dan Tan. Lima marga lainnya berpindah ke daerah lain dan seorang dari serdadu itu tewas dalam pertempuran di perbatasan.

Salah satu anggota serdadu yang tewas itu konon bernama Ming Seng An. Ia dikubur di lokasi perbatasan. Walau nisan Ming Seng An itu telah dibongkar warga yang bertani, karena nisan itu sempat lama menjadi penanda wilayah itu, desa itu sampai kini masih dikenal sebagai Desa Mungsengan. Ming Seng An memang tewas dalam pertempuran itu, tapi namanya tak pernah terkubur. Ming Seng An identik dengan Mungsengan, sebuah desa perkebunan yang subur dan hijau.

Menurut cerita yang didengar Lie Hong Tan, usai upacara penguburan Ming Seng An, serdadu warga Tionghoa lainnya bergerak ke arah utara tempat itu, dengan membawa obor dan perlangkapan ritual penguburan. Tepat di wilayah Desa Lampu sekarang, obor mereka tiba-tiba padam. Merekapun menangkap padamnya obor sebagai sebuah pertanda untuk berhenti dan menetap di sana. Mereka membangun tenda dan gubuk-gubuk, berhari-hari menyalakan lampion-lampion tanda berkabung atas kematian Ming Seng An. Desa itu selanjutnya dikenal sebagai Desa Lampu.

Lie Giok Tan punya versi lain tentang nama dusunnya. Konon, pasukan dari Kerajaan Jagaraga, Buleleng, menyerang kawasan perbatasan itu. Para serdadu Cina yang diperintah raja Bangli itu terdesak. Karena berjumlah hanya belasan orang saja, mereka menyusun strategi. Untuk memperlampat serbuan pasukan Jagaraga, mereka menebangi pohon-pohon. Lokasi itu kini bernama Desa Mengandang (menghadang). Setelah pasukan Jagaraga mampu menembus hadangan pohon-pohon itu, mereka menyerang dengan lebih beringas. Serdadu Bangli yang anggotanya warga Tionghoa itu mundur perlahan-lahan. Memasuki wilayah Sungai Segae senja makin gelap. Pasukan Jagaraga semakin mendesak serdadu Cina-Bangli sampai ke pinggir barat sungai Sagae. Didesak masuk ke sungai, pasukan Cina-Bangli mulai kalang kabut dan berteriak-teriak.

Saat itulah, di antar pohon-pohon yang lebat, di seberang timur Sungai Segae, tiba-tiba ratusan lampion menyala, cahayanya memecah malam yang baru tiba. Cahayanya bergerak-gerak dalam tiupan angin dan kabut. Aliran sungai bertabur cahaya. Pasukan Jagaraga-Buleleng yang mendesak pasukan Cina-Bali menjadi gusar. Lampion-lampion itu menggangu konsentrasi mereka. Pasukan Jagaraga-Buleleng mundur perlahan dan menghentikan penyerangan.

Lampion-lampion itu hanya trik serdadu Cina-Bangli. Sedari siang seorang serdadu telah menyiapkan ratusan lampion-lampion berjejer di seberang sungai. Saat ia tahu pasukan Cina-Bangli terdesak, ia menyalakan ratusan lampion-lampion itu secara serentak. Kawasan di seberang sungai itu selanjutnya disebut Dusun Lampu. Dusun dimana lampion-lampion-lampion selalu menyala. Di sanalah warga Tionghoa bermukim, berkebun, beranak-pinak, berbaur dan menikah dengan warga setempat.

Ada pula yang menafsir kata Lampu berasal dari kata Nan-Pun (Desa Selatan). Lama kelamaan karena mereka tidak berbahasa Cina keturunan mereka melupakannya. Penduduk sekitar, untuk memudahkan penyebutan, selanjutnya menyebut dusun tersebut sebagai Dusun Lampu.

Apapun versi cerita tentang Dusun Lampu yang berkembang, kini keturunan para serdadu yang dulu menjaga perbatasan itu sebagian menjalani hidup mereka sebagai petani. Ada yang bertani kopi dan pula bercocok tanam jeruk. Beberapa diantaranya menjadi buruh atau petani penggarap. Giok Tan menjadi bengkel. Hok Buan seorang pensiunan supir dan istrinya, Ci Kam menjad tukang jahit kebaya. Beberapa yang lainnya aktif menjadi pemimpin desa adat.

Desa-desa Perbatasan Peranakan



Di dua titik perbatasan lain, yang juga di kawasan Kerajaan Bangli yang dulu dijaga para serdadu Tionghoa, seperti Desa Langgahan, terletak di perbatasan tiga Kerajaan Bangli-Gianyar-Badung, Po Sin Cin bertani mengelola tanah warisan leluhurnya yang diperoleh dari hadiah Raja Bangli karena telah gigih menjaga perbatasan. Di Kembang Sari, desa perbatasan Bangli dan Buleleng, Lie Tian Han menjadi petani vanili. Oleh warga desanya, ia lebih dikenal sebagai Penyarikan (pemimpin adat) dengan nama Mangku Candra. Sehari-hari ia memimpin berbagai ritual di berbagai Pura di desanya, menjadi saksi penikahan, dan rapat-rapat adat. Ia merasakan dua aliran darah mengalir dalam dirinya, Cina dan Bali. Di belakang rumahnya ia pun membangun konco (kelenteng) untuk leluhur dari pihak ayahnya dan mrajan (pura leluhur) untuk leluhur dari pihak ibunya.

Dalam era kemerdekaan Indonesia, daerah-daerah perbatasan kerajaan tidak banyak lagi terjadi sengketa perbatasan. Batas-batas kerajaan di Bali kini menjadi batas-batas kabupaten yang ada. Keturunan Cina yang datang semasa jaman kerajaan identik dengan daerah perbatasan. Perbatasan juga bagian dari identas mereka. Mereka tetap berada di perbatasan antara ke-Cina-an dan ke-Bali-an mereka. Secara genetik keturunan Tionghoa namun ikatan bathin mereka lebih dekat dengan tanah Bali. Mereka berbahasa Bali, berusaha mengikuti ketentuan keanggotaan desa adat dan tradisi Bali. Tetap saja, mereka “orang dalam” merangkap “orang luar”. Secara kultural dan geografis mereka masih bermukim di perbatasan.


Nara sumber :
1.Lie Giok Tian, Desa Lampu (perbatasan Bangli-Buleleng-Badung).
2.Mangku Candra alias Lie Tian Han, Desa Kembang Sari (perbatasan Bangli-Buleleng).
3.Po Sin Cin, Desa Langgahan (perbatasan Bangli-Gianyar-Badung)
4.Lie Hon Tan, 73 tahun, Desa Nongan (perbatasan Karangasem-Bangli-Klungkung)

Catatan : Data dan jumlah imigran Tiongkok diambil dari Konfrontasi, Jurnal Kultural, Ekonomi dan Perubahan Sosial. No 1, Oktober 1998

Sumber : http://www.scribd.com/doc/45359347/nongan-Peranakan-Cina-Di-Bali-Sugi-Lanus

  • BACA JUGA:
Di Baturiti, Nenek ke Surga, Diantar Rasa “Bareng Ngayah” Warga Bali dan Keturunan Tionghoa
Merayakan Imlek di Keluarga Bu Herma – Serasa Main Film Khas Tionghoa
Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Tags: BanglibulelengChinaDesa NonganDusun LampuTionghoa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Putrajaya, Kota Pemerintahan Malaysia yang Tenang

Next Post

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Listibiya dan Seniman Muda Badung Persembahkan Karya Prabhu Wibuh untuk Pemimpin Anyar

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co