TEATER Jineng dari SMAN 1 Tabanan seperti mata air di lereng pegunungan Batukaru yang tak henti-henti mengucurkan air. Hampir setiap event yang berisi sesolahan drama, atau seni pertunjukan lain, kelompok teater ini selalu muncul dengan garapan-garapan anyar mereka.
Jika event itu berupa lomba, Teater Jineng seringkali meraih juara, di tingkat lokal maupun nasional. Teater sekolah ini sudah bisa disebut kelompok teater semi profesional karena keseriusannya mengembangkan sastra, drama modern dan seni pertunjukan, bukan hanya di Tabanan, melainkan juga dalam skala Indonesia.
Terbaru, Teater Jineng meraih juara 3 dalam lomba drama modern berbahasa Bali tingkat SMA/SMK se-Bali serangkaian Bulan Bahasa Bali VII tahun 2025 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, pada Februari 2025. Saat lomba itu Teater Jineng memainkan naskah berjudul “Nini Kija Jani”
Ke Mana Perginya Sawah-sawah?
Naskah Nini Kija Jani menggambarkan fenoman-fenomena kehidupan masa kini masyarakat Tababan, sebagai daerah agraris.
Diceritakan, seorang petani bernama Wayan Kayun. Ia hidup bersama istrinya, Luh Kendran, dan seorang mbah (panggilan nenek di Tabanan) yang bernama Mbah Kayun.
Wayan Kayun merasa bosan hidup di desa sebagai petani, yang hidup penuh tekanan, kemiskinan, dan hinaan di tengah himpitan ekonomi dan tuntutan hidup yang semakin mengganas. Muncullah niatnya untuk mencari penghidupan dengan kabur dari desa dan memilih bekerja di kapal pesiar.
Masalah muncul. Ia perlu modal untuk bisa kerja di kapal pesiar, hingga akhirnya ia ingin menjual sawah warisan leluhurnya demi memuluskan keinginannya. Neneknya tentu saja tidak setuju.

Pentas “Nini Kija Jani” Teater Jineng di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: Dok. Teater Jineng
Terjadilah perdebatan antara nenek dan cucunya itu. Konflik keinginan antara orang tua dan anak itu digarap di atas panggung dengan strategi pendramaan yang penuh pesan filosofis, namun tidak meninggalkan sisi estetik. Gambaran keindahan alam, eksotisme agraris, sekaligus juga konflik yang menyiratkan kecemasan dan kengerian juga digarap dengan baik.
Nini Kija Jani? Kemana perginya sawah-sawah? Itu adalah gambaran tentang kecemasan terhadap sesuatu yang belakangan dengan gampang hilang. Sesuatu yang belakangan sangat mudah berubah, seperti sulap, seperti sihir.
Setelah sawah-sawah pergi, tikus-tikus memberontak, burung cetrung menangis, manusia berdalih bahwa semua yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Muncul pertanyaan, jika begitu kejadiannya, masihkah cita-cita Jagat Kerthi, dunia yang harmoni bahagia sejahtera itu akan bisa terwujud?
Drama ini menjadi kritik dan kontemplasi bagi kita orang Bali, tentang paradigma kita memaknai dan menjalani kehidupan. Betapa ganasnya kekuatan hedonisme dan gaya hidup modern masa kini menggerus kesadaran orang Bali untuk menjaga warisan budayanya.
Menjual sawah, bukan semata-mata menjual asset dan pemiskinan diri, tetapi menjual sawah adalah menjual jatidiri kebudayaan Bali yakni subak. Subak menjadi inspirasi lahirnya berbagai pusparagam seni budaya Bali.
Apabila subak dan berbagai ritus tradisinya punah, maka kebudayaan Bali akan kehilangan jati dirinya, yang berujung pada hilangnya taksu kebudayaan Bali itu sendiri.
Drama Simbolik Filosofis
I Gede Arum Gunawan, pelatih sekaligus penulis naskah dan sutradara dalam pertunjukan Nini Kija Jani itu, mengatakan pertunjukan teater ini disajikan dengan konsep drama simbolik filosofis. Garapan ini menawarkan bentuk baru pada pertunjukan drama Bali konvensional yang cenderung bersifat realis. “Pada garapan ini, tokoh-tokoh yang ada sejatinya merupakan tokoh imajiner yang merepresentasikan objek yang tidak sejatinya,” kata Arum Gunawan.
Tokoh-tokoh itu, kata Arum Gunawan, seolah nyata dan memerankan dialog tertentu, tetapi sejatinya tokoh itu menggambarkan watak manusia modern saat ini.

Pentas “Nini Kija Jani” Teater Jineng di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: Dok. Teater Jineng
Dalam pertunjukan itu terdapat tokoh Padi, Bikul, Cetrung. Menurut Arum, mereka sejatinyabukanlah tokoh realis tetapi tokoh imajiner yang menggambarkan pemikiran, perasaan, kondisi psikis dan fenomena yang sedang dialami oleh masyarakat Bali, khususnya para rakyat kecil yang makin terdesak di tanah kelahirannya sendiri.
Tokoh Padi menyimbolkan rakyat Bali yang merasa nyaman dengan kondisi saat ini, serba ada, serba mudah, disanjung dan dielu-elukan. Tanpa disadari bahwa nasibnya sudah diujung tanduk, dan dibuat tak sadar akan bahaya yang mengahadang.
Tokoh Bikul dan Cetrung merepresentasikan rakyat yang hanya memikirkan dirinya dan kepentingannya saja, akhirnya juga ikut memberontak karena merasa hidupnya terdesak. Seluruh tokoh gumatap-gumitip sawah itu menggambarkan suara rakyat kecil yang tak terdengar walaupun sedang menyuarakan hal-hal yang benar.
Tokoh Wayan Kayun, kata Arum Gunawan, merepresentasikan kayun ataupemikiran oknum penguasa atau investor rakus yang hanya ingin mengeruk keuntungan dari tanah jagat Bali.
Tokoh Luh Kendran adalah simbol kebudayaan Bali, karena budaya yang adiluhung itulah Bali disebut Kendran yang artinya surga, penuh keindahan dan membawa kedamaian. Kebudayaan Bali kini dianggap tak penting lagi, pun juga mulai dikesampingkan.
Tokoh Mbah Kayun yang menyimbolkan air (membah) dan subak yang ada di Bali. Tokoh ini membawa Dewasa Nini atau Dewa Nini yang menjadi inti dari pesan drama ini, yakni menyimbolkan sigihan (ikatan) padi yang berhiaskan seri-serian (anyaman janur) yang menjadi simbol suci Dewi Sri, Sang Dewi Kemakmuran.
“Keberadaan tokoh Mbah Kayun yang diperlakukan kasar dan kejam menandakan kekerasan pada padi dan subak di Bali,” kata Arum Gunawan.
Melalui drama ini, menurut Arum, ia mengajak penonton untuk melihat realita saat ini. Perdebatan rumah tangga yang terjadi, adalah perdebatan ideologis orang Bali dalam upaya menjaga Subak alih-alih sekadar mengejar kemapanan ekonomi. Bukannya mendapat kesejahteraan dan kemakmuran, yang terjadi malah sebaliknya, kemerosotan, penderitaan, dan berujung pada penyesalan.

Pentas “Nini Kija Jani” Teater Jineng di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: Dok. Teater Jineng
Menurut Arum, drama ini merupakan drama kontemplatif, memanfaatkan berbagai unsur pemanggungan dan kemampuan tokoh untuk merepresentasikan suatu kejadian yang seolah-olah terjadi.
Namun sejatinya kisah itu menyimbolkan kondisi dan peristiwa yang melampaui sebuah perdebatan keluarga, seperti perdebatan ideologis tentang ketahanan budaya Bali, dan semangat penguatan dan pemajuan kebudayaan Bali untuk mewujudkan kesejahteraan semesta, sebagaimana cita-cita mulia Jagat Kerthi, yakni kesadaran yang berkelanjutan untuk mewujudkan keharmonisan alam, manusia, dan kebudayaan Bali.
Sor Singgih Bahasa Bali
Yang membuat drama ini unggul tentu saja pada penggunaan bahasa Bali. Bahasa yang digunakan pada drama ini adalah bahsa yang sangat memperhatikan unsur kebahasaan dan kesusastraan Bali. Dalam drama ini pilihan bahasa yang digunakan disajikan berdasarkan aturan Sor singgih basa.
Di dalamnya juga ada rerasmen basa (pribahasa dan kiasan untuk memperindah bahasa Bali) yang berupa sesonggan, raos ngempelin, bladbadan dan sloka, beberapa di antaranya terselip pada dialog tokoh seperti “angkab-angkabin barong somi”, “buka nyepeg yeh tuara ngidang pegat”, “mapiring don biu”, dan lainnya.
Tidak hanya itu, disajikan pula tembang-tembang lawas yang mengiringi drama ini, seperti Pupuh Sinom “I Centrung”, dan juga Gending Nini yang diambil dari kesenian Joged Nini yakni tarian saat upacara Ngusabha Nini di Desa Buruan, Penebel, yang liriknya menggambarkan keindahan sawah, harapan kesuburan pertanian dan doa kesejahteraan.
Menurut Arum Gunawan, lagu-lagu tersebut dipilih, selain alasan estetik relevan dengan pertunjukan, tetapi juga untuk mengingatkan betapa kayanya budaya agraris di Bali, yang kini mulai tidak dipedulikan oleh generasi penerusnya.
Musik pengiring yang digunakan juga memadukan unsur modern dan tradisi. Penggunaan instrumen gamelan tingklik dan suling sangat bernuansa agraris berpadu padan dengan gitar, bass, dan drum elektrik menjadi simbol sinergi seni modern dan tradisi untuk membangun kekayaan budaya Bali di masa depan. Semua disajikan untuk mendukung pertunjukan drama tersebut.
“Terlepas dari kekurangan dan keterbatasan anak-anak dalam menyajikan drama ini. Namun kami semua sangat menikmati proses berkaryanya, dan masalah peringkat kejuaraan adalah bonus dari kerja kreatif ini,” kata Arum Gunawan.
Sebelumnya, “Ketut Garing” dan “Punggung Tiwas”
Wimbakara (Lomba) Drama Bali Modern Tingkat SMA/SMK se-Bali serangkaian dengan Peringatan Bulan Bahasa Bali VII ini diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.
Lomba tahun 2025 ini adalah lomba yang diikuti kedua Teater Jineng. Pada tahun 2023 Teater Jineng mengisi acara Sasolahan (Apresiasi Sastra) pada Bulan Bahasa Bali V dengan menampilkan Drama Bali Modern bertajuk “Ketut Garing”.
Baru kemudian pada tahun 2024, untuk pertama kali ikut dalam lomba dengan mementaskan drama Bali Modern berjudul “Punggung Tiwas”. Saat itu Teater Jineng memperoleh Juara III. Tahun 2025 ini Teater Jineng kembali menjadi Juara III dengan menyajikan drama berjudul “Nini Kija Jani?”

Pentas “Nini Kija Jani” Teater Jineng di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: Dok. Teater Jineng
Putu Tristan Abi Putra, Ketua Teater Jineng mengatakan, ia sangat senang bisa belajar dan berproses dalam lomba kali ini. Ia bisa berkarya bersama teman-teman dan dapat menonton berbagai karya teater dari berbagai peserta lainnya yang tampil. Ia bisa memperdalam akting, sastra dan juga melatih berbahasa Bali.
“Saya senang dilatih mengucapkan kata-kata dalam bahasa Bali dengan sangat detail oleh Kak Arum (maksudnya Gede Arum Gunawan), bahkan sampai ke irama agar kelengutan dan tabuh basa Bali-nya bisa tepat dan indah,” kata Tristan.
Dengan pengalaman main drama berbahasa Bali ini, ia mengaku banyak mengenal istilah-istilah Bahasa Bali yang unik dan langka, begitu juga gending-gending dalam drama ini memberi pengalaman yang luar biasa bagi kami semua.
“Meski harus berpacu dengan waktu, mengatur waktu belajar di kelas, les, dan kesibukan lainnya,” kata Tristan.
Bahkan, menurut Tristan, mereka pernah latihan di tengah-tengah badai, saat itu bertepatan dengan cuaca ekstrem melanda Taanan, dan silih bergantipula anggota mengalami sakit. termasuk Tristan sendiri beberapa hari menjelang pentas, suaranya serak dan tidak enak badan.
“Tetapi karena semangat dan support dari teman dan pembina kami bisa melalui semua itu,” ujar Tristan.
Untuk semua itu, Tristan mengucapkan terima kasih pada Dinas Kebudayaan Provinsi Bali yang telah memberi ruang kreatifitas bagi Tetaer Jineng. Ucapan terima kasih juga ia sampaikan kepada Bapak Kepala SMA N 1 Tabanan, Komite Sekolah, Bapak/Ibu Guru, Kakak Pelatih dan semua pihak yang mendukung, membimbing dan memfasilitasi mereka untuk berlatih dan mengasah bakat mereka dalam dunia teater dan sastra.
“Semoga hal kecil yang kami lakukan ini, dapat membanggakan sekolah, daerah dan juga bersumbangsih untuk memajukan seni sastra dan teater di Provinsi Bali,” kata Tristan.
Secara umum diakui, Lomba Drama Bahasa Bali ini menjadi lomba yang dinanti oleh Tetaer Jineng, sebab menjadi lomba pertama dan kesempatan pertama bagi angkatan baru di kelas X dan XI untuk bermain drama dan berlomba di tingkat provinsi. Persiapan untuk pertunjukan ini dilakukan selama tiga minggu, mulai dari persiapan naskah, bedah naskah, latihan dasar, pembentukan hingga akhirnya dipentaskan pada tanggal 14 Februari 2025 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali. Momen ini menjadi momen belajar, asah mental, sekaligus momen konsolidasi tim bagi Teater Jineng.

Juru musik dalam Pentas “Nini Kija Jani” Teater Jineng di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: Dok. Teater Jineng
Sebagai media belajar, mereka bisa mengamati dan belajar tentang pementasan teater dari teman-temannya di komunitas lain yang juga tampil. Lomba ini juga menambah pengalaman dan jam terbang mereka dalam pentas, teori-teori yang mereka terima saat ekstra rutin kini ditampilkan dan dipraktikkan langsung dalam lomba ini, tentu ini akan menjadi pengalaman berharga sekaligus ajang asah mental dan bakat mereka untuk menyiapkan diri untuk pertunjukan maupun lomba lainnya.
Melalui kegiatan ini pula, mereka bisa saling mengenal, berinteraksi, bekerja sama, dan memperat tali persaudaraan di antara angkatan mereka. Hal ini sejatinya menjadi inti dan tujuan utama dalam mengikuti lomba ini, selain juga untuk memperdalam kemampuan mereka dalam berbahasa Bali dan menyelami keindahan kesusastraan Bali.
Drama ini melibatkan 25 orang pemain dan kru yang merupakan anggota Teater Jineng kelas X dan XI.
Yang menjadi penanggungjawab tentu saja Kepala SMA Negeri 1 Tabanan I Nyoman Surjana, S.Pd.,M.Pd. dengan empat pelatih yang selalu kompak melatih mereka, yakni 1. Gusti Ayu Ratih Parinithi, S.Pd.,M.Pd., Agung Hary Sunjaya Sapanca, S.Pd.,M.Pd., I Gede Arum Gunawan, S.Ag.,M.Ag., dan A.H. Wisnu Wardono
Drama itu tentu akan kehilangan kesempurnaannya jika tak disi musik yang ditata oleh Yan Priya Kumara Janardhana, S.Sn.,M.Sn., dan Ida Bagus Hery Yoga Permadi, S.Pd.,M.Sn. Yang bertindak sebagai koreografer A.H. Wisnu Wardono.
Tokoh Wayan Kayun dimainkan oleh Putu Tristan Abi Putra, Luh Kendran diperankan Ni Made Ari Andini Putri, sementara Mbah Kayun dimainkan dengan apik oleh Ni Putu Julena Parwati.
Yang berperan sebagai Padi adalah Ni Kadek Debby Shinta Ayudia Dusak, I Wayan Fandy Sugita, Ni Komang Ayu Siska Riyani, dan I Dewa Made Satriya Wibawa.
Bikul dipergakan dengan alami oleh I Gede Dika Agastya Ermawan, dan Kedis Cetrung oleh Ni Made Dwi Shania Prisila.
Yang menaji pragina teaterikal adalah Ni Putu Asri Trisnadewi, Ni Luh Gede Putri Ayu Candra Mulan, Ni Putu Diviya Maura Giri, Ni Putu Mely Asia Nandini Putri, Kadek Naresya Reina Pratiwi, dan Ni Nyoman Rahayu Natalia.
Sementara musik dimainkan oleh Ida Bagus Gede Purna Wijaya, Kadek Adi Priya Anggareksa, I Kadek Ajus Juliarta Putra, Anak Agung Sagung Dinda Ari Maheswari, I Gede Putu Hadi Pradnyana, I Putu Mardiana Wibawa, I Putu Angga Praditha, I Made Agus Dwi Putra Timor, dan Maxim Reavi Worotikan. Kru dikoordinasikan oleh Agus Bayu Riswandanu bersama Tim Artistik Teater Jineng.
Sejarah Teater Jineng
Teater Jineng merupakan salah satu ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Tabanan, yang berdiri sejak tanggal 28 Oktober 1998. Salah satu inisiator dari pendirian Teater Jineng ini adalah Bapak alm. Umbu Landu Paranggi, yang kala itu sering berkeliling Bali mengajar sastra dan jurnalistik. Walau sempat mati suri karena sepinya peminat, baru kemudian pada tahun 2009 bangkit kembali, hingga akhirnya pada tanggal 11 November 2012 Teater Jineng akhirnya dikukuhkan sebagai teater binaan Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan, dan Bupati dan Wakil Bupati Tabanan selanjutanya berkedudukan sebagai Dewan Penasehat, sebagai apresiasi terhadap prestasi dan sumbangsih teater Jineng dalam menjaga ekosistem dan semangat kehidupan sastra di Tabanan.
Hingga akhirnya pada tahun 2018, Ni Putu Putri Suastini Koster, juga berkenan menjadi Dewan Penasehat Teater Jineng. Hingga saat ini Teater Jineng masih terus berkarya, berproses kreatif dan terus berupaya meningkatkan prestasi di bidang seni sastra khususnya Teater, serta terus menginisiasi pembentukan teater sekolah di Tabanan, seperti Teater Bingin SMA N 1 Kediri pada tahun 2012 dan Teater Bulan SMA N 2 Tabanan pada tahun 2021.
Beberapa prestasi yang pernah diraih oleh Teater Jineng antara lain Juara 1 Lomba Monolog Festival Lomba Seni Siswa Nasional Tingkat Provinsi Bali (2018-2024), mendapat Medali Perak Lomba Monolog Festival Lomba Seni Siswa Nasional Tingkat Nasional (2021), Juara 1 Musikalisasi Puisi Balai Bahasa Provinsi Bali (2024), Juara 3 Lomba Drama Bahasa Indonesia Peringatan 100 Tahun A.A Navis (2024), Juara 3 Lomba Drama Bahasa Bali Bulan Bahasa Bali Tingkat Provinsi 2023, Juara 3 Lomba Drama Bahasa Bali Bulan Bahasa Bali Tingkat Provinsi 2024.
Teater Jineng SMAN 1 Tabanan juga mendapatkan penghargaan Kerthi Bhuwana Sandhi Nugraha (2019) dari Gubernur Bali, dan penghargaan Parama Patram Budaya (Kategori Unggul) sebagai lembaga seni tersertifikasi di bidang sastra dan teater.
Teater Jineng SMAN 1 Tabanan setiap tahunnya dipercaya untuk membuat pertunjukan teater pada Peringatan Bulan Bung Karno, sendratari peringatan HUT Proklamasi RI dan event kesenian lainnya di Pemerintah Daerah Kabupaten Tabanan. Serta aktif pula mengisi kegiatan di tingkat Provinsi maupun Nasional.

Pentas “Nini Kija Jani” Teater Jineng di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali | Foto: Dok. Teater Jineng
Kepala SMAN 1 Taanan I Nyoman Surjana, S.Pd.,M.Pd., mengatakan sekolah selalu mendukung setiap kegiatan dan aktivitas akademis maupun non akademis yang dilakukan oleh civitas akademika di SMAN 1 Tabanan, terlebih yang mampu memberikan pengalaman belajar lebih besar kepada siswa.
Menurutnya, Teater Jineng selalu semangat berlatih, dan menyuguhkan karya-karya yang tidak hanya menjadi tontonan semata tetapi juga penuh tuntunan. “Prestasi yang diraih kali ini, harus jadi motivasi untuk lebih semangat lagi belajar dan mengasah kemampuan, sebagaimana semangat kita ‘Satu Siswa, Satu Prestasi’, belajar dan kerjarlah prestasi itu.
Kepada seluruh Pembina dan pelatih Surjana ucapkan terima kasih atas dedikasinya dalam membina dan mendampingi anak-anak dalam proses kreatif yang panjang ini.
“Jadikanlah Teater Jineng sebagai wahana belajar dan pembentuk karakter siswa yang unggul, sehingga Teater Jineng ke depannya mampu menjadi Lumbung Prestasi dan Lumbung tempat berkumpulnya anak-anak kreatif pecinta sastra, pelestari kebudayaan Bali,” ujarnya. [T]
Reporter/Penulis: Budarsana
Editor: Adnyana Ole
- BACA JUGA: