24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Son Lomri by Son Lomri
February 8, 2025
in Khas
Warung Kopi Tionghoa di Kampung Baru, 50 Tahun Jadi Saksi Pasang-Surut Kota Singaraja

Warung kopi dengan nuansa Tionghoa di wilayah kampung Baru, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

KE arah Timur dari Klenteng Ling Gwan Kiong, atau dari jembatan Pelabuhan Tua Buleleng di Singaraja, vibes jaman kolonial menyeruak sepanjang tepi jalan. Bangunan-bangunan tua itu peninggalan jaman Hindia Belanda yang kini disulap menjadi toko-toko atau jajakan kuliner dengan nuansa Cina.

Aktivitas kuliner dan jajanan itu menjadikan bangunan itu tidak lapuk di makan usia. Tidak terbengkalai, dan terasa sangat merdeka dihidupkan oleh orang-orang, yang sebagian besar merupakan etnis Tionghoa.

Bahkan di sela pagi langit masih gelap sekitar jam 4.30 WITA, Sebuah warung kopi—orang-orang menyebutnya dengan nama Warung Kopi Surapati, barangkali karena warung itu berada di Jalan Surapati—sudah membuka matanya menanti pengunjung datang. Sudah sekitar 50 tahunan warung ini tetap bertahan dari gibasan jaman. Sejak 1975.

Kota Singaraja, selama 50 tahun ini, mengalami pasang-surut kehidupan. Pernah ramai, pernah sepi. Kadang ramai, kadang sepi. Dan warung itu, 50 tahun menjadi saksi.

Warung kopi dengan nuansa Tionghoa di wilayah kampung Baru, Singaraja | Foto: tatkala.co/Son

Warung Kopi Surapati bertempat di Kampung Baru, Kelurahan Kampung Baru, Singaraja Bali. Warung ini berdekatan dengan kedai makanan khusus vegan dan vegetarian dengan tulisan “Loving Hut”. Mereka menjajakan menu yang berbeda, pula dengan pasarnya yang berbeda. Tapi sama-sama bertahan di bangunan lama itu.

“Warung Surapati sendiri, sudah lima puluh tahunan atau mungkin lebih. Saya sendiri generasi ke tiga setelah ayah. Generasi pertamanya itu kakek. Kake saya asli dari Cina, leluhur kami dari China,” kata Koh Guan, generasi ketiga Warung Kopi Surapati.

Foto-foto leluhur di dinding warung | Foto: tatkala.co/Son

Di sebuah tembok yang tak jauh dari arah pintu masuk ke ruang keluarga, sebagaimana bangunan itu merupakan bagian dari rumah tempat tinggal. Warisan. Terdapat foto-foto lawas sang kakek dipajang masih baik untuk mengenang leluhur dan masa lalu. Dengan nama Liem Tiek Khim. Tidak ada tahun masehi yang tertulis di foto itu.

Tapi penampakan wajah si kakek saat masih muda, dan masa tua itu, dapat diperkirakan dipotret sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan.

Di sebuah Solo, atau tempat mendiang foto leluhur—disemayakan suci, dihaturkan banten. Tampak jelas kehormatan dan doa diluhurkan untuk mereka para mendiang. “Di Hari Raya Imlek kemarin, doa-doa baik sudah disematkan untuk mereka,” kata Koh Guan.

Koh Guan | Foto: tatkala.co/Son

Koh Guan sendiri lahir pada tahun 1977. Sewaktu kecil, katanya, lelaki itu ingat betul ketika warungnya saat masih dikelola sang kakek. Ramainya minta ampun. Selebihnya, ia tak ingat lagi—bagaimana sang kakek menjaga warung itu tetap hangat dan ramai, dan banyak dikunjungi orang.

Tapi rasanya, kata lelaki itu, para pengunjung waktu di jaman kakeknya, masih ada yang terus datang hingga saat ini, dengan umur yang tua-tua. Langganannya sudah banyak, tetap, dan setia. Tetapi soal nama-nama mereka yang setiap hari datang Koh Guan tidak ingat.

“Saya ingat di wajah, tapi tak ingat di nama,” katanya.

Koh Guan tak sendiri mengelola warung yang diwariskan kakeknya, Liem Tiek Khim. Setelah dibantu paman dan kemudian paman wafat, Koh Guan kemudian mengelola warung warisan itu bersama istrinya tahun 1999.

Istri Koh Guan berdarah Bali, namanya Ketut Suardani. Mereka dikaruniai tiga anak, satu perempuan dan dua laki-laki.

Pecah Telor Ayam Kampung, Rahasia Stamina Leluhur

Dari lima puluh tahun yang lalu sampai sekarang, menu mereka tetap sama. Yaitu kuning telur ayam kampung campur madu, harganya lima ribu rupiah. Juga dengan telur setengah matang dengan tambahan garam dan merica, tegantung selera si pembeli.

Telur setengah matang | Foto: tatkala.co/Son

Setiap hari, Koh Guan bisa menghabiskan sekitar 100 telor ayam kampung bahkan bisa lebih, dan menghabiskan satu botol madu. Selain itu, jajakan kopi susu dan kopi pahit juga masih dipertahankan di sana, baik rasa maupun cara pembuatannya.

Untuk membuat kopi, caranya sederhana. Ia merebus terlebih dahulu kopi dengan air bersamaan, setelah mendidih, disaring ampas ke wadah yang lain. Kemudian, kopi tanpa amas itu dihidangkan, siap diminum. Harganya tiga ribu rupiah untuk kopi biasa, lima ribu untuk kopi susu.

Sekitar jam 05.00, dari arah timur seorang lelaki dengan rambut putih tua datang. Tubuhnya cukup kurus dan ringkih, menggunakan kacamata minus berjalan di atas trotoar dengan bantuan lampu-lampu toko menyala. Walaupun sedikit membungkuk, dari cara berjalannya tanpa tongkat memperlihatkan tubuhnya sehat. Lelaki tua itu duduk dan memesan segelas kopi susu dan dua buah telor setengah matang.

“Untuk penahan rasa lapar,” kata Sukadana. “Bisa juga menambah stamina tubuh, Mas. Saya sering ke sini. Sudah sedari dulu, saat dipegang sama kakeknya Guan,” kata dia.

Sukadana, atau Pak Sukadana, adalah pembeli setia di warung itu. Ia lahir tahun 1940. Di usia senjanya, mengkonsumsi telor ayam kampung memang cukup baik. Di dalamnya terdapat protein, kalium, kalsium, dan fosfor yang dapat mencegah tulang tidak cepat dihantam kropos.  

Di dapur kopi dimasak | Foto: tatkala.co/Son

Selain itu, juga bermanfaat menjaga otak tidak mudah pikun. Saat usianya—masih produktif, sebelum berangkat kerja, pagi ia selalu datang di warung itu. Efeknya, terhadap ingatannya yang sekarang masih kuat terjaga, walaupun mesti membuka laci ingatan itu agak lama.

“Dulu rame di sini, Mas. Pas (Singaraja) jadi ibukotanya Bali. Di sebelah sana ada gedung bioskop. Rame. Sekarang udah enggak ada,” katanya.

Yang setia, tak hanya Sukadana. I Nyoman Danu, kelahiran 1954 itu juga sering datang setiap hari ke Warung Kopi Surapati. Bahkan lebih pagi dari Pak Sukadana, Pak Danu jam 04.00 sudah duduk di sana berhadapan dengan kopi susu. Ia datang untuk ngopi dan menikmati suasana bertemu dengan teman-teman lama, seperti Pak Sukadana, dan teman-teman lainnya.

Setelah matahari mulai menampakkan dirinya, Pak Danu bergegas pulang. “Saya tinggal dulu, ya, Mas. Mau ke toko saya. Toko Mandarin Baut di Jalan A. Yani No. 128. Mampirlah kapan-kapan ke sana, tapi nanti jangan sebut nama, sebut saja pernah ketemu di warung ini. Hehe.” [T]

Reporter/Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Adnyana Ole

Book Café Halaman Belakang di Singaraja — Cocok untuk Baca Buku, juga Main Game di Toilet
Farm Brew & Co, Menikmati Kopi di Tanah Legendanya
Tags: SingarajaTionghoawarung kopi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lomba Gebogan Sambut Hari Suci Saraswati di UPMI Bali: Merangkai Buah dan Merajut Kebersamaan

Next Post

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?

Son Lomri

Son Lomri

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Berwisata ke Rumah Jokowi: Ada Apa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co