2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

I Wayan Artika by I Wayan Artika
January 5, 2025
in Kritik Sastra
Tanda-tanda * dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk

TEORI struktur naratif menjelaskan susunan cerita dalam novel atau puisi yang panjang. Teori ini penting bagi pembaca ketika ia harus memahami bagian-bagian suatu cerita yang bersambung atau sangat panjang. Demikian pula bagi penulis, struktur naratif akan menjadi “denah” atau “peta perjalanan” ceritanya sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau pengulangan yang tidak disengaja.

Struktur naratif yang paling umum berupa bagian-bagian dalam cerita seperti dikenal istilah episode, bab, bagian, babak, atau apapun namanya yang digunakan dengan pertimbangan tertentu oleh pengarang. Epos Mahabharata misalnya dibagi menjadi 18 parwa dan epos Ramayana dibagi menjadi 7 kanda. Pada sastra cetak tanda-tanda susunan cerita sangat banyak variannya, misalnya pergantian bab menggunakan ilustrasi, judul bab dan sub bab. Ada yang menggunakan angka romawi atau angka arab. Umum pula menggunakan tanda * (bintang).

Yang dibicarakan dalam esai ini adalah tanda struktur naratif dalam Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Di samping menggunakan “Bagian Pertama’, “Bagian Kedua”, “Bagian Ketiga’, “Bagian Keempat”, dan “Bagian Kelima” Ronggeng Dukuh Paruk juga menggunakan tanda *.

Ahmad Tohari menggunaka dua varian *, yaitu * (bintang 1) dan *** (Bintang 3). Kalau tidak dibaca dengan cermat tanda Bintang tersebut tidak bermakna apa-apa karena pembaca tetap berada di dalam suasana cerita atau alam Dukuh Paruk (kemiskinan, kebodohan, daya tahan, kemelaratan, prostitusi, kekayaan alam, kendali kekuatan roh Ki Secamenggala, perubahan sosial, dan pembangunan instalasi irigasi yang mangkrak sejak zaman Jepang oleh Orde Baru).

Setelah dicermati ternyata kedua jenis tanda * dalam Robggeng Dukuh Paruk  yaitu * dan bintang *** memiliki fungsi yang sangat jelas. Memang Ahmad Tohari tidak hanya mengandalkan *. Untuk menyusun cerita novel Ronggeng Dukuh Paruk ternyata Ahmad Tohari juga menggunakan penanda struktur naratif berupa “bagian”.  Ronggeng Dukuh Paruk jilid pertama pertama adalah  Ronggeng Dukuh Paruk dengan judul tambahan yaitu Catatan buat Emak terdiri atas empat bagian,  lalu Lintang Kemukus Dini Hari terdiri atas lima bagian, dan Jantera Bianglala terdiri atas empat bagian. Seluruh trilogi terdiri atas 13 bagian.

Teori naratif juga menjelaskan teknik pengarang dalam menyampaikan kisahnya. Secara umum ada dua, teknik aku dan teknik orang ketiga. Ahmad Tohari menggunakan teknik orang ketiga.  Namun karena sesuatu pertimbangan, yaitu pertimbangan keintiman atau kedekatan secara batin dengan tokoh (dalam hal ini Rasus), Ahmad Tohari juga menggunakan penceritaan aku. Campuran teknik cerita Ayu Utami dalam novel Saman telah dilakukan oleh Ahmad Tohari dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Penceritaan aku dilakukan oleh Rasus.

Rasus adalah tokoh penting dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Ia adalah laki-laki desa yang gagah, korban yang selamat dari musibah keracunan tempe bongkrek, senasib dengan Srintil, dan berobsesi menemukan kuburan emaknya.  Lalu karena peran penting itulah Ahmad Tohari memberikan ruang khusus bagi Rasus untuk bercerita dengan menggunakan teknik aku. Pada bagian itu Ahmad Tohari menggunakan tanda ***. Namun maksud yang sama juga ditandai dengan * (Jantera Bianglala, halaman 205). Padahal tanda yang sama digunakan menyajikan cerita sisipan yang cukup panjang pada Lintang Kemukus Dini Hari  dan Jantera Bianglala.  

Cerita sisipan adalah cerita yang melebar atau berkembang jauh dari persoalan inti. Namun demikian, masih terasa berhubungan.  Dan, pada kondisi naratif seperti ini, Ahmad Tohari (atau editor) merasa perlu memberi tanda bagi pembaca.

Penggunaan teknik bercita aku dalam hal ini yang bercerita adalah Rasus muncul di dalam bagian pertama trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yaitu bagian yang paling banyak dan mendalam menceritakan obsesi Rasus dalam menemukan di mana makam emaknya. Tanda bercerita aku pada jilid pertama ini adalah ***. Ketika membaca trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid 1 pembaca menemukan *** yang menunjukkan peralihan (atau sisipan) teknik naratif dari teknik orang ketiga ke teknik orang pertama. Mengapa pengarang beralih teknik naratif?

Jilid pertama Ronggeng Dukuh Paruk mengungkapkan bahwa pada bagian-bagian pengarang menggunakan teknik narasi aku adalah bagian yang paling intim dari pengalaman batin Rasus ketika ia harus menghadapi kenyataan yang berbeda dari obsesinya, yang semula ia ingin menemukan tokoh emak pada Srintil. Tetapi kenyataan Dukuh Paruk mengatakan bahwa Srintil adalah ronggeng. Ia milik orang-orang Dukuh Paruk dan milik para laki-laki hidung belang. Jelas Rasus tidak bisa menerima kenyataan ini.

Pada bagian atau tahapan yang paling penting metamorfose seorang ronggeng yaitu pada saat seorang calon ronggeng diwisuda dengan cara melepaskan keperawanannya kepada laki-laki yang memenangkan lelang, yaitu pada acara malam buka kelambu; Rasus mendapatkan keperawanan secara sukarela dari Srintil sendiri. Dengan setengah hati karena Rasus harus menghapus bayangan emaknya pada diri Srintil; bagi Srintil adalah pemberian atau persembahan seorang perempuan kepada laki-laki yang dicintainya; atau Rasus telah membayarnya dengan sebilah keris ronggeng; untuk kali ini Rasus-lah yang memerawani Srintil. Jadi malam buka klambu adalah omong kosong. Pasangan dukun ronggeng Ki dan Nyai Kertareja telah ditipu oleh Srintil dan Rasus.

Penggunaan *** untuk menandai narasi aku Rasus atau teknik bercerita aku yang dilakukan oleh Rasus terjadi tiga kali pada jilid pertama novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu pada halaman 64, 110, dan 160. Tiga kali penggunaan teknik bercerita aku lebih mendekatkan pengalaman batin Rasus secara khusus, untuk menegaskan dilema dan obsesi Rasus dalam menemukan dimana makam emaknya setelah peristiwa keracunan tempe bongkrek. Narasi orang ketiga yang mendominasi trilogi ini menghadirkan konstelasi Srintil, Rasus, dan tradisi ronggeng di Dukuh Paruk.

Lewat narasi orang ketiga, Rasus memeram relasi batin yang bertolak belakang dalam batinnya. Pada satu sisi adalah Srintil sebagai bayangan emaknya dan pada sisi yang berlawanan Srintil adalah calon ronggeng. Pada diri Srintil terungkap bahwa ia ada dalam relasi yang juga bertolak belakang antara menjadi ronggeng dan mencintai Rasus. Rasus memang melakukan hubungan badan di luar pengetahuan Ki dan Nyai Kertareja setelah ia berjuang untuk menghapus bayangan emaknya pada Srintil yang sejak malam itu, Srintil resmi menjadi ronggeng.

Hubungan ini pernah gagal di areal makam Ki Secamenggala tadi siangnya sebelum malam buka kelambu; diulangi secara lebih leluasa pada bagian akhir Catatan buat Emak, ketika Rasus untuk waktu yang lama akan meninggalkan Dukuh Paruk karena masuk tentara. Melalui hubungan ini Srintil mengira akan menjadi istri Rasus dan mendapatkan anak. Rasus tegas menolak karena ia meniduri Srintil seperti laki-laki pelanggan ronggeng. Tidak ada lagi bayangan emak pada Srintil. Perempuan seperti Srintil pun di mata Rasus adalah pemuas birahi.

Pada trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid kedua yaitu Lintang Kemukus Dini Hari Ahmad Tohari ternyata sama sekali tidak menggunakan teknik bercerita orang pertama seperti dalam jilid pertama.  Artinya, pada bagian Lintang Kemukus Dini Hari Rasus tidak dihadirkan. Dengan konsep teknis ”dihadirkan” ini ternyata teknik bercerita aku untuk Rasus tidak hanya digunakan untuk menunjukkan dan memebri pembaca pengalaman batin yang intim dan mendalam karena tokoh bercerita sendiri dari dalam pikiran dan batinnya serta pengalamannya, teknik bercerita aku khusus untuk Rasus digunakan oleh pengarang juga untuk menunjukkan kehadiran tokoh ini. 

Munculnya tanda * untuk menandai teknik bercerita aku Rasus muncul dalam bagian akhir Jantera Bianglala  menimbulkan pertanyaan. Mengapa novel ini menggunakan tanda naratif untuk menandai penggunaan teknik narasi aku (Rasus) dengan dua tanda yang berbeda? Untuk tujuan yang sama digunakan tanda *** (Catatan buat Emak) dan * (Jantera Bianglala).  Apakah ini kealpaan, edior, pengarang?

Dalam Lintang Kemukus Dini Hari (halaman 93, 110, 160) dan Jantera Bianglala  (hal 56, 120, dan 170) pengarang menggunakan * untuk menandai cerita-cerita sisipan yang panjang dan membawa perubahan suasana cerita yang dirasakan oleh pembaca. Hal ini didasari oleh pertimbangan bahwa bagian cerita yang diberi * mulai menjauhi cerita inti namun tetap terasa memiliki hubungan. Karena pengarang/editor sangat cermat maka dipandang perlu menggunakan tanda struktur naratif * untuk menyampaikan cerita-cerita sisipan.

Tanda * mulai digunakan pada trilogi Ronggeng Dukuh Paruk jilid kedua yaitu Lintang Kemukus Dini Hari. Di dalam jilid ini * digunakan untuk menandai tiga cerita siispan. Tanda * (halaman 32) menceritakan kehadiran pertemuan Srintil dengan sepasang suami istri pengamen kecapi, Wirsiter dan Ciplak. Materi yang disampaikan di dalam cerita sisipan ini adalah suka duka kehidupan pengamen pasar dan pengetahuan tentang musik, serta teknologi kecapai sebagai kekayaan budaya bangsa.

Cerita sisipan ini tetap terasa berhubungan dengan cerita inti karena Srintil berada di dalam cerita sisipan tersebut. Hubungan antara cerita sisipan dengan cerita inti terasa longgar. Inilah yang menjadi alasan mengapa Ahmad Tohari atau editor memberi tanda *. Jika tidak bisa dikatakan teknik mengembangkan materi novel, untuk menambah jumlah halaman, cerita sisipan berfungsi untuk memperkaya pengetahuan. Karena pengetahuan itu sangat penting pada banyak prosa atau puisi, pembaca pun menilai kualitas sastra dari khazanah pengetahuan yang disertakan.

Cerita sisipan kedua (hal. 93) adalah pertemuan Dilam dan Marsusi. Dilam bukanlah tokoh penting seperti Marsusi (kepala perkebunan karet, orang kaya, lelaki hidung belang, pelanggan Srintil dengan berani membayar paling mahal, dan pada Jantera Bianglala bermaksud menikahi Srintil) dalam Ronggeng Dukuh Paruk. Cerita sisipan ini tidak berpusat pada tokoh cerita tetapi pada materi.  Keduanya pergi ke kakek Tarim, dukun santet yang sakti, di Kalipucang. Tujuan mereka sama, meminta bantuan dukun ngelmu Tarim untuk membunuh seteru mereka masing-masing. Marsusi ingin membunuh Srintil karena ronggeng ini telah membuatnya malu dengan menolak tawaran menari kembali di acara Agustusan di Dawuan.

Dilam mencari dukun pembunuh karena ada orang yang meracuni kerbaunya sekaligus dua ekor dalam satu malam, gara-gara kerbaunya masuk ke perkebunan seseorang dan permohonan maaf dan pengajuan ganti ruginya ditolak. Sebagai imbalan, pada malam harinya, dua ekor kerbaunya mati. Setelah disembelih, perutnya dikeluarkan lalu dibuang ke kolam dan ikan-ikan di kolam itu mati, sebagai pertanda kerbau itu makan racun.

Untuk membalas sakit hatinya Dilam ke Kalipucang. Cerita ini menunjukkan bahwa tidak setiap permintaan dipenuhi oleh dukun ngelmu. Marsusi urung meminta bantuan untuk membunuh Srintil setelah melewati dialog antara dirinya dan kakek Tarim. Setelah kakek Tarim berhasil menjalankan aksinya, tinggal sekarang Dilam berjuang untuk menenangkan dan meyakinkan dirinya bahwa tindakannya itu benar. Perasaan lega justru ada pada diri Marsusi.

Cerita sisipan kedua (hal. 110) mengenai kegembiraan melanda Dukuh Paruk karena Srintil kembali menari pada malam Agustusan. Cerita sisipan ini mengingatkan peristiwa terdahulu ketika untuk pertama kalinya Srintil menjadi ronggeng. Ki dan Nyai Kertareja sibuk menyiapkan segala sesuatunya. Masih berhubungan dengan Srintil dan ronggeng, cerita sisipan ketiga (hal. 160) terjadi di Alaswangkal, di rumah Sentika. Kali ini pentas ronggeng Srintil dalam rangka pembayaran hajat atau kaul menanggap ronggeng. Keluarga Sentika memiliki lima anak dan empat orang perempuan. Satu-satunya laki-laki, Waras, adalah anak bungsu. Ia mengalami masalah seksual, tidak memiliki naluri birahi. Tugas Srintil kali ini adalah mengembalikan Waras sebagai laki-laki, seperti harapan kedua orang tuanya.  

Kajian terhadap struktur naratif dalam trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk dengan melihat bahwa ditemukan penggunaan* baik * maupun *** maka dapat ditarik suatu simpulan sebagai berikut. Tanda *  (satu) digunakan oleh pengarang untuk menyajikan cerita-cerita sisipan yang panjang dan hubungan materialnya dengan materi inti sudah terasa longgar. Namun demikian, pembaca tetap merasakan ada ikatan dengan cerita inti.  

Di samping menggunakan *, pengarang juga menggunakan*** untuk melakukan peralihan sudut pandang atau teknik bercerita, dari teknik cerita orang ketiga yang digunakan untuk seluruh trilogi, pada bagian tertentu, ketika pengarang menghadirkan tokoh Rasus secara intim, mendalam, dan lebih batiniah. Maka pengarang mengubah teknik cerita orang ketiga menjadi teknik cerita aku (orang pertama).  

Cerita yang dimulai dengan *** adalah sudut pandang Rasus. Tokoh ini  dihadirkan secara khusus melalui struktur naratif yang ditandai dengan bintang ***. Perlu diberi catatan kecil bahwa terjadi kekeliruan atau ketidakkonsistenan dalam penggunaan *** karena pada Jantera Bianglala  tanda  * (satu)  sama fungsinya dengan*** (tiga).  Seharusnya pada bagian cerita tersebut dimulai dengan ***. Padahal di sini yang bercerita adalah Rasus.

Ketika masih kecil aku sering keluar dari Dukuh Paruk malam hari bersama teman-teman untuk melihat pagelaran wayang kulit.  Wayang kulit itu. Dunia kecil berbumi batang pisang bermatahari lampu blencong telah berjasa besar meletakkan dasar-dasar wawasan pada diriku tentang kehidupan ini. Para dalang telah menanamkan pada diriku yang masih anak-anak nilai-nilai dasar yang waktu itu ku yakini sebagai kebenaran sejati [….] (Jantera Bianglala, hal. 205)

Struktur naratif memang telah menjadi suatu kajian ilmiah dalam berbagai studi teks sastra. demikian pula halnya dalam film, music, lukisan,, arsitektur, dan desain.  Struktur naratif tidak hanya identik dengan sastra.  Struktur naratif terkait dengan susunan elemen-elemen pembangun karya seni.  Dalam teori teks struktur naratif adalah bangunan sebuah teks. Studi terhadap struktur naratif novel kurang berkembang karena dianggap kering ketimbang studi sastra secara ekstrinsik. Jangan lupa bahwa struktur naratif sebagai kajian kritik atau studi ilmiah telah cukup lama berkembang dan telah menghasilkan satu genre cerita. Hal ini tampak pada cerita berbingkai.

Istilah cerita berbingkai lahir dari sumbangan kajian struktur naratif.  Kajian-kajian tentang morfologi cerita yang berkembang di Rusia itu juga sumbangan kajian struktur naratif. Bahwa dongeng-dongeng Rusia dibangun oleh struktur naratif yang tetap. Apapun judulnya, sebuah dongeng selalu disusun dalam pola tertentu atau dalam morfologi tertentu. Teori teks memang lebih menegaskan bahwa struktur naratif teks adalah pilihan hadirnya sebuah teks dan menjembatani kepentingan penulis dan pembaca. [T]

BACA esai-esai lain dari penulis I WAYAN ARTIKA

Membaca Ulang “Ronggeng Dukuh Paruk, Catatan Buat Emak”, Pergulatan Batin Rasus Dalam Menemukan Ibunya
Relasi Ekosistem Kesenian dan Festival
Tulisan Ilmiah dan Esai
Gagal Menulis Esai
Tags: Ahmad ToharinovelNovel Ronggeng Dukuh Paruksastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Obrolan Serombotan: “Sirna atau Bertahan”

Next Post

Atmakusumah Astraatmadja dan Jurnalisme Berkualitas

I Wayan Artika

I Wayan Artika

Dr. I Wayan Artika, S.Pd., M.Hum. | Doktor pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni, Undiksha Singaraja. Penulis novel, cerpen dan esai. Tulisannya dimuat di berbagai media dan jurnal

Related Posts

Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

by I Nyoman Darma Putra
February 2, 2026
0
Apa Keunggulan Novel ‘Lampah Sang Pragina’ Hingga Raih Hadiah Sastra Rancage 2026?

NOVEL Lampah Sang Pragina (Perjalanan Sang Penari) karya Ketut Sugiartha ditetapkan menerima Hadiah Sastra Rancage 2026 untuk sastra Bali. Menurut...

Read moreDetails

Puitika Ruang Sitor Situmorang

by Isnan Waluyo
November 9, 2025
0
Puitika Ruang Sitor Situmorang

RUANG menjadi titik keberangkatan sekaligus penanda akhir perjalanan panjang kepenyairan Sitor Situmorang (1994-2014). Puisi berjudul “Pasar Senen” bukan hanya puisi...

Read moreDetails

Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

by Angga Wijaya
September 13, 2025
0
Kelam Jiwa Georg Trakl – Puisi, Trauma, Skizofrenia

MEMBACA sajak-sajak Georg Trakl seperti memasuki lorong jiwa yang tak berujung. Lahir pada 3 Februari 1887 di Salzburg, Austria, Trakl...

Read moreDetails

“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

by I Wayan Artika
July 21, 2025
0
“Tarian Bumi” dan Kuasa Teori Sastra

NOVEL Tarian Bumi telah memasuki usia tiga dekade. Awalnya terbit di Magelang di Indonesia Tera. Lalu dan selanjutnya terbit di...

Read moreDetails

Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

by I Nyoman Darma Putra
July 19, 2025
0
Kalau “Geguritan” bisa Dijadikan Novel, Bukankah Novel bisa Diadaptasi jadi “Geguritan”?

Jika geguritan atau kidung Bali bisa digubah menjadi novel, mengapa tidak menggubah novel menjadi geguritan atau kidung? Ide itu tiba-tiba...

Read moreDetails

“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

by Wicaksono Adi
July 18, 2025
0
“Kraspoekoel”, Alam Gaib dan Labuwangi

Kawan yang baik, Beberapa waktu yang lalu engkau bertanya, ”Selain Max Havelaar karya Multatuli, adakah karya sastra zaman kolonial lainnya...

Read moreDetails

Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

by Hartanto
May 18, 2025
0
Mengkaji Puisi Picasso : Tekstualisasi Karya Rupa Pablo Picasso

SELAMA ini, kita mengenal Pablo Picasso sebagai pelukis dan pematung. Sepertinya, tidak banyak yang tahu kalau dia juga menulis puisi....

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [2-Tamat]: Sore Hari Bersama Sang Penyair

PADA suatu sore yang muram saya berbincang sambil minum teh dengan Joko Pinurbo di teras rumahnya. Entah bagaimana tiba-tiba dia...

Read moreDetails

Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

by Wicaksono Adi
May 4, 2025
0
Mengenang Joko Pinurbo [1]: Menemukan Sajak di Sebuah Rumah, di Ujung Sebuah Gang

SYAHDAN dua puluh satu tahun silam, pada tahun 2004, Dewan Kesenian Jakarta membuat acara bertajuk “Cakrawala Sastra Indonesia”. Selain pentas...

Read moreDetails

Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

by Fani Yudistira
April 23, 2025
0
Benarkah Puisi “Pagar Bambu dan Pasar yang Bergejolak” Membawa Pembaca “Sampai ke Seberang”?

PADA pukul 21.47, Rabu 16 April 2025, pengumuman juara LCP (Lomba Cipta Puisi) Piala Kebangsaan bertema Pagar Laut diumumkan. Dalam...

Read moreDetails
Next Post
Atmakusumah Astraatmadja dan Jurnalisme Berkualitas

Atmakusumah Astraatmadja dan Jurnalisme Berkualitas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co