24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Jaswanto by Jaswanto
December 27, 2024
in Persona
Haulu dan Kisah Pilu Para Perajin Perahu Kayu dari Pulau Poteran

Haulu, perajin perahu kayu dari Pulau Poteran, Madura, saat istirahat mengerjakan kapal slerek di Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

SEPERTI Nuh, Haulu memotong balok-balok mahoni, membelah dan menjadikannya papan tebal yang banyak. Lalu menyusunnya satu per satu dengan ketekunan dan kesabaran yang terukur. Kemudian, sebentar saja, papan-papan itu membentuk dinding kapal yang kokoh. Ya, pria paruh baya dengan kretek yang tak kunjung padam itu sedang membuat sebuah kapal slerek yang legendaris.

Di pinggir Pantai Ketapang Muara, di wilayah Jembrana, Bali, di ujung setapak di tengah kebun terbengkalai yang penuh lamtoro dan katang-katang, ia dan dua rekannya sibuk menyusun dan melengkungkan papan, membuat pasak, menyerut, dan sesekali memotong kayu menggunakan gergaji mesin. Suara mesin pemotong itu kejar-kejaran dengan debur ombak Samudera Hindia yang ribut.

Pagi itu terik sekali. Dan nyaris tak ada angin berembus. Haulu kini memasah pelipis dinding kapal. Dan di sebelah timur tempatnya memasah, beberapa papan sedang dipanggang dan diberi batu pemberat untuk dilengkungkan. “Itu khusus untuk dinding,” terang Haulu, lamat-lamat, di tengah bising suara alat serut listrik.

Haulu sedang membuat kapal kayu untuk seorang tajir yang namanya beken di Pengambengan, Negara, Jembrana, Bali—kawasan yang mayoritas penduduknya menggantungkan hidup kepada lautan Samudra Hindia. Lemuru (Sardinella longiceps)—ikan bersirip kipas dalam genus Sardinella yang banyak ditemukan di timur Samudera Hindia dan di barat Samudera Pasifik itu—adalah emas bagi penduduk Pengambengan. Mereka “menambangnya” dari perut laut yang dalam sampai jauh ke Jimbaran dan sekitarnya.

“Kira-kira kami sudah mengerjakannya selama satu setengah bulan,” ujar Haulu, atau akrab dipanggil Ulu, dengan logat Madura-nya yang khas, sesaat setelah ia menyalakan sebatang kretek pabrikan. Mereknya cukup terkenal.

Dua bulan ke depan, kata Ulu lagi, kapal slerek pesanan Haji Ali—juragan kapal di Pengambengan—ini bakal rampung. Dengan dimensi panjang 22 meter, lebar 5 meter, dan tinggi 2 meter, perahu setengah jadi—yang dikerjakan satu setengah bulan sebelumnya—itu tinggal finishing di beberapa bagian.

Saduki sedang mengerjakan kapal slerek di Pengambengan | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Kali ini, Ulu dibantu dua karibnya, Ersan dan Saduki. Mereka bertiga seumuran, 50 tahunan atau lebih-kurang sedikit barangkali, dan berasal dari pulau yang sama, Talango. Hanya saja, Saduki lahir di desa yang berbeda dari Ulu dan Ersan. Saduki lahir di Sang; sedangkan Ulu dan Ersan tumbuh dan berkembang di Kombang. Namun, sekali lagi, kedua desa tersebut sama-sama terletak di Kecamatan Talango, Pulau Poteran, Sumenep, Jawa Timur.

Ulu, Saduki, dan Ersan, sama-sama belajar membuat perahu sejak kecil, turun-temurun. Sejak dulu, tanah di mana mereka lahir memang terkenal sebagai lumbung perajin perahu. Maka wajar jika tangan-tangan mereka begitu terampil dan cekatan. Mereka tidak mengenal gambar teknis atau sekadar sketsa sebagai panduan karena semua dibuat berdasarkan ingatan akan ajaran dari orang tua.

Papan kayu mahoni yang tebal, seperti ranting kecil di hadapan mereka. Enak saja mereka membuat lengkungan yang nyaris presisi. “Semua ada ukurannya, rumusnya, dan hitungannya sendiri. Hanya tukang yang tahu itu semua,” terang Saduki sambil membuat pasak—yang banyak.

Benar. Kapal slerek memang minim besi. Paku besi pun jumlahnya tidak lebih banyak daripada pasak kayu. Dan bukti tertulis tertua yang berhubungan dengan penggunaan pasak kayu/bambu dalam pembuatan perahu/kapal di Nusantara berasal dari sumber Portugis awal abad ke-16 Masehi. Dalam sumber itu disebutkan bahwa perahu-perahu niaga orang Melayu dan Jawa yang disebut Jung (berkapasitas lebih dari 500 ton) dibuat tanpa sepotong besipun di dalamnya. Untuk menyambung papan maupun gading-gading hanya digunakan pasak kayu. Cara pembuatan perahu dengan teknik tersebut masih tetap ditemukan di Nusantara, seperti yang terlihat pada perahu-perahu niaga dari Sulawesi dan Madura yang kapasitasnya lebih dari 250 ton.

Pulau Poteran—yang kecil mengambang di Selat Madura dan berbentuk seperti kepala ayam tanpa paruh itu—memang terkenal dengan perajin perahunya. “Khususnya dari Desa Kombang,” ucap Ersan, menegaskan.

Ersan dan Saduki sedang melengkungkan papan mahoni yang akan digunakan sebagai dinding slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Para artigiano perahu-kapal Poteran memiliki garapan yang tak hanya indah dari segi bentuk, pula dipercaya memiliki semacam kemagisan. Perahu atau kapal yang lahir dari tangan mereka, dipercaya dapat membawa keberkahan tersendiri.

“Dari kakek saya mendapat doa khusus sebelum atau saat membuat kapal,” terang Ulu saat istirahat. Ia belajar membuat perahu-kapal dari sang kakek, saat belum lulus SD. Dan sang kakek mewariskan mantra-mantra turun-temurun supaya perahu atau kapal buatannya dapat berlayar sebagaimana mestinya dan membawa keberkahan kepada si pemilik. “Tapi doanya rahasia,” sambungnya sembari tertawa.

Selain di Kombang di Pulau Poteran, Pasongsongan dan sekitarnya juga dikenal sebagai salah satu tempat pembuatan perahu di kawasan pesisir utara Madura. Sedikit ke timur, di daerah Ambunten, juga terdapat lokasi pembuatan perahu tradisional. Titik lain yang dikenal sebagai tempat pembuatan perahu ada di Desa Slopeng, Kecamatan Dasuk, dan juga masih di wilayah Sumenep.

Dunia maritim telah berkibar di kawasan tersebut sejak lama, sebagaimana tergambar dalam bait lagu “Tanduk Majeng” ciptaan R Amirudin Tjitraprawira tahun 1940-an. “… Ngapote wak lajereh etangale/reng majeng lantona lah pade mole/…/Duh monajeling odikna oreng majengan/Aabental ombek sapok angen salanjenggah”, (“…Layar putihnya mulai kelihatan/nelayan tentu sudah pada pulang/…/duh kalau dilihat hidupnya pencari ikan/ berbantal ombak berselimutkan angin selamanya”).

Pasak yang digunakan dalam pembuatan kapal slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Madura terdapat beragam perahu-kapal, dari yang ukurannya besar, hingga yang kecil berupa sampan. Sulaiman BA dalam bukunya Perahu Madura menyebutkan, setidaknya ada 36 jenis perahu di Madura, mulai dari jukung, sampan, hingga perahu. Jukung masih dibedakan lagi dalam beberapa varian, mulai jukung pajangan, gambringan, hingga tengkongan. Sementara sampan ada belasan jenis, di antaranya sampan patetedan, pote, pakesan, dan tambangan. Adapun beberapa perahu, di antaranya padduwang, janggolan, dan lete’ gole’an.

Dan slerek, kapal kayu yang sering digunakan nelayan Pengambengan dan Muncar di Banyuwangi. Di Sumenep, berbahan kayu kutat, camplung, dan mahoni, dilengkapi empat buah mesin, kapal nelayan dengan lambung yang besar itu dibanderol mendekati harga satu unit bus double decker baru, yakni nyaris Rp 1 setengah miliar. Harganya jauh di atas perahu biasa yang hanya puluhan hingga ratusan juta.

“Tapi kalau buat langsung di sini [Pengambengan], untuk tukangnya ini borongan. Kami borong antara 80-125 juta,” Ketut Sumajaya, pengurus kapal Bintang Grup milik Haji Ali Nuri, berkata.

Bintang Grup sering menggunakan jasa Ulu, dkk. Bukan saja karena orang Pengambengan sendiri nyaris tak ada yang bisa membuat kapal slerek (mungkin bisa membuat bentuknya, tapi belum tentu dapat berlayar), pula garapan orang seberang ini dinilai istimewa.

“Kami sering meminta Pak Ulu untuk membuat kapal,” terang Sumajaya sembari melemparkan senyum kepada Ulu yang masih sibuk menyerut dinding slerek menggunakan pasah elektrik. “Garapannya bagus,” sambung pria paruh baya berkacamata itu saat ditanya alasannya meminta Ulu, dkk, membuat kapal-kapal Bintang Grup.

Dengan menyeberangi Selat Madura ke Pelabuhan Kalianget, para seniman perahu-kapal ini mencapai wilayah yang menjorok di pinggiran pesisir Samudra Hindia, Bali bagian barat itu, setelah sebelumnya menempuh perjalanan nyaris 12 jam melewati jalur Pantura. “Mereka sengaja kami datangkan ke sini [Pengambengan], karena kalau membeli kapal langsung dari sana [Sumenep], ongkosnya lebih mahal,” ujar Sumajaya.

Tahun ini Bintang Grup membuat tiga slerek sekaligus. Satu sudah berlayar, satu lagi baru kelihatan bentuknya, dan satu lagi lantainya saja belum tampak, masih sekadar dasaran. Ketiga kapal tersebut dikerjakan pihak yang berbeda, meski semua artigianonya berasal dari Sumenep. Satu kapal yang sudah kelihatan bentuknya, dikerjakan kelompok Haulu. Ia, bersama Ersan dan Saduki, sudah malang-melintang membuat perahu-kapal, khususnya di Jawa Timur dan Bali.

Sebagai Nadi Kehidupan

Meski tampak besar uang yang mereka dapat dalam sekali borongan membuat sebuah slerek, tapi sebenarnya tidak demikian. Katakanlah 125 juta adalah nominal borongan yang diberikan pemilik kapal kepada tukang selama pengerjaan kapal kurang lebih tiga bulanan, setelah kepotong konsumsi, dll, menurut Ulu, mereka hanya mendapat uang 40 ribu per hari. “Kalah sama kuli bangunan,” Ulu berkata sambil tertawa. Padahal, sambungnya, pembuat kapal pekerjaannya lebih berat daripada itu. “Ini kayu berat semua,” lanjutnya.

Jika sedang sepi garapan perahu-kapal (pesanan perahu-kapal kayu sudah tidak banyak), di kampung, Ulu hanya bisa mengais rongsokan (sampah) di pinggir-pinggir pantai. Ia menjadi pemulung, atau kadang ikut tukang bangunan menjadi kuli proyek. Hidup di pulau kecil macam Poteran memang tidak mudah. Tanah yang kering, tandus, dan sempit membuat semuanya tampak sulit.

Dan apa yang dialami Ulu juga tak jauh berbeda dengan Saduki. Di Banyuwangi, tempat tinggalnya sekarang, kalau tidak ada pesanan membuat perahu-kapal, Saduki juga bekerja menjadi kuli bangunan. Barangkali Ersan terlihat lebih beruntung daripada kedua karibnya itu.

Pantai Ketapang Muara, Pengambengan, Jembrana, Bali, tempat pembuatan kapal slerek | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Situbondo, tempat Ersan sekarang tinggal, ia mempunyai perahu. Perahu itu cukup menghasilkan. “Meskipun saya tidak bisa melaut. Saya gampang mabuk,” katanya sembari terkekeh. Perahu Ersan dijalankan orang lain. Ia cukup menunggu pembagian hasilnya saja. Meski demikian, tak jarang hasilnya hanya bisa memenuhi hidup beberapa minggu saja.

Pada kisaran 1982, Ersan dan Saduki sudah bekerja di Bali. Saduki pernah menjadi nelayan di Jimbaran dan Pengambengan. Sedangkan Ersan, dari dulu memilih bekerja di darat—karena memang tidak bisa melaut. Sedangkan Ulu mulai bekerja di Bali sejak 2001. Saat itu ia mendapat pesanan perahu-kapal di Pengambengan. Merantau memang identik dengan Madura, selain Minang, tentu saja.

Tanah pertanian yang kurang subur, sumber makanan yang sedikit, kepadatan penduduk yang tinggi, dan ongkos berlayar yang murah, menjadi beberapa faktor kenapa orang Madura merantau. Dan itu sudah terjadi sejak lama sekali. Pada abad ke-15, orang Madura migrasi ke Melaka, sebuah kerajaan Islam yang berdiri tahun 1400-an dan kini masuk wilayah Malaysia. Pada abad tersebut, perahu-perahu Madura telah berlayar ke Melaka.

“Hidup di Madura itu susah,” Ulu mengeluh. “Mau bertani ndak punya tanah, Dik. Kalaupun punya tanah, itu tanah tandus. Musim hujan baru bisa ditanami jagung,” sambungnya, dengan suara yang lebih pelan.

Beberapa tahun belakangan, Ulu menderita kencing manis. Ia sering merasa lelah dan lemas, tidak seperti dulu. Oleh sebab itu, saat menggarap kapal slerek di Pengambengan, istrinya ikut serta, supaya dapat menjaga dan merawatnya. Sudah lama Ulu hanya makan nasi jagung. Tapi itu sudah biasa sejak kecil, katanya. Dan kalau boleh dikatakan, kecing manis ini begitu mengganggu hidupnya.

“Tapi saya tidak pernah mendapat bantuan [bansos] pemerintah,” terang Ulu. “Malah orang-orang yang punya toko, punya perahu, dapat,” lanjutnya. Ini pengakuan klasik khas Dunia Ketiga.

Bagi Haulu, Saduki, dan Ersan, perahu-kapal kayu adalah nadi kehidupan. Meskipun dalam perkembangannya, perahu-kapal kayu di Madura juga menghadapi tantangan. Salah satunya akibat bahan baku untuk membuat perahu semakin langka dan harganya mahal. Selain jati, galangan perahu Madura lumrah memakai kayu nyamplong (Calophyllum inophylum) atau ulin (Eusideroxylon zwageri). Sedangkan untuk dindingnya biasa menggunakan kayu mahoni (Swietenia mahagoni).

Ulin atau kayu besi yang ada di Kalimantan jumlahnya makin sedikit dan kini masuk apendik II dan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam. Artinya, tidak mudah untuk memanfaatkan kayu-kayu eksotis itu. Sementara mahoni statusnya hampir terancam punah. “Sulit nyari kayu. Nyampolong ini kami dapat dari Lombok, di Bali atau di Sumenep tidak ada,” terang Ulu.

Di Pulau Poteran maupun Pulau Madura jelas sudah tidak ada lagi hutan yang dapat menghasilkan kayu yang diperlukan. Oleh karena itu mereka harus mendapatkannya dari tempat lain yang cukup jauh jaraknya, misalnya dari Pulau Kangean yang pernah disebut sebagai salah satu pulau penghasil kayu jati yang baik kualitasnya. Kalaupun dapat, harga yang harus dibayar cukup tinggi. Tidak mengherankan bila kurangnya modal amat menghambat perolehan kayu itu, dan akibatnya banyak pesanan yang terpaksa tidak dilayani.

Kapal slerek setengah jadi buatan Haulu, Ersan, dan Saduki | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Perkapalan Institut Teknologi 10 Nopember Surabaya Heri Supomo,  keluhan soal bahan baku memang sering dialami perajin perahu di Bangkalan dan daerah lainnya di Madura. Dan itu menyebabkan aktivitas pembuatan perahu dan kapal tradisional menurun. Ini tidak saja terjadi di Madura, tetapi juga daerah lain di Jawa Timur dan Indonesia.

“Mulai 2010, kita lihat perkembangan kapal tradisional, tidak hanya di Jawa Timur, tetapi juga daerah lain di Indonesia mulai menurun kegiatannya, terutama untuk kapal-kapal rakyat. Penyebabnya karena sumber daya, material kayu semakin sulit dan mahal,” kata Heri, sebagaimana dikutip di Kompas.

Menurut Heri, sejauh ini belum ada kebijakan dari pemerintah untuk mengangkat galangan kapal rakyat. Yang ada hanya bantuan perahu nelayan beberapa tahun silam. Bantuan itupun bersifat top down, tidak sesuai dengan kearifan lokal. Perahu bantuan terbuat dari fiberglas, bukan kayu. Jadi, perajin perahu-kapal kayu tak dapat manfaatnya.

Kelangkaan bahan baku dan persaingan perahu-kapal modern, membuat profesi Ulu, dkk, menjadi “terancam” punah. Dan itu mungkin akan lebih menyulitkan hidup mereka. Padahal, sekali lagi, itu merupakan urat nadi hidup mereka.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Mengintip Pembuatan Slerek Pengambengan, Kapal Kayu Warisan Maritim Nusantara
Kisah dari Geladak Perahu Nelayan Pengambengan di Bali Barat
Ikan Bakar Komel Pengambengan: Kelezatan di Balik Kesederhanaan
“Mejunjungan”, Tradisi Unik Guyup Bugis Melayu Pesisir Pengambengan yang Masih Tersisa
Tags: Desa Pengambenganjembranakapal nelayanMaduraslerek
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kalender Adat dan ”Kolenjer” — [Bagian 1]: Panduan Kehidupan Etnis Baduy

Next Post

Unggah-Ungguh Van Java

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails

Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

by I Nyoman Darma Putra
February 26, 2026
0
Mengenal David Stuart Fox, Peneliti Belanda yang Menyumbangkan 30 Koleksi Lontar ke Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Di tengah inisiatif repatriasi artefak atau warisan budaya Indonesia dari Belanda, ada usaha personal seorang peneliti Bali yang tinggal di...

Read moreDetails

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

by Angga Wijaya
February 22, 2026
0
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang,...

Read moreDetails
Next Post
Unggah-Ungguh Van Java

Unggah-Ungguh Van Java

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co