4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 22, 2026
in Persona
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

Maya Angelika Praba Astuti | Foto-foto: Angga Wijaya

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang, mendengar potongan percakapan asing, dan membiarkan pikiran berjalan tanpa tergesa. Sabtu siang, 21 Februari 2026, Denpasar terasa hangat namun tidak melelahkan. Di sebuah warung jaje Bali yang bentuknya lebih mirip kafe, saya memilih meja panjang di halaman belakang.

Tempat itu luas dan terang. Meja-meja kayu besar tersusun rapi, kursinya empuk, membuat orang seolah diizinkan berlama-lama tanpa rasa bersalah. Di etalase depan, jaje tradisional tertata seperti ingatan masa kecil. Laklak hijau dengan taburan kelapa parut, pisang rai yang masih mengepul, dan klepon yang tampak sederhana tetapi selalu berhasil mengembalikan seseorang pada rumah.

Aroma kopi Bali bercampur gula merah memenuhi ruangan. Beberapa pengunjung bekerja dengan laptop terbuka, sebagian lagi berbincang santai. Tidak ada yang terburu-buru. Waktu berjalan pelan, seperti sengaja memberi ruang bagi percakapan yang akan terjadi.

Saya menunggu Maya Angelika Praba Astuti.

Ia datang bersama temannya, Inge, sambil sedikit tergesa namun tetap tersenyum. Keduanya mahasiswi tingkat akhir Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ransel di punggung mereka tampak berat, mungkin berisi buku, laptop, dan kegelisahan yang hanya dimengerti mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi.

Kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Januari lalu, dalam kegiatan peer support group Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia simpul Bali di Peguyangan, Denpasar. Saat itu saya hadir sebagai penyintas skizofrenia yang berbagi pengalaman pemulihan. Maya hadir sebagai mahasiswa yang belajar mendengar tanpa menghakimi.

Sesuatu Berharga dalam Wawancara

Hari itu, ia datang untuk mewawancarai saya. Dan tanpa saya duga, pertemuan itu justru menjadi awal percakapan lain yang jauh lebih menarik. Percakapan tentang tubuh, tentang tabu, tentang perempuan Bali yang berani menulis Tantra.

Wawancara berjalan tenang. Maya bertanya dengan ritme pelan, tidak tergesa, seperti seseorang yang memahami bahwa pengalaman manusia tidak bisa dipaksa keluar dengan cepat. Ia lebih sering mendengar daripada berbicara. Sesekali ia mengangguk, mencatat, lalu memberi jeda sebelum pertanyaan berikutnya.

Maya Angelika Praba Astuti (kiri) bersama temannya, Inge

Setelah wawancara selesai, suasana berubah. Percakapan menjadi cair. Kami tidak lagi berada dalam posisi peneliti dan responden. Saya kemudian mengetahui bahwa Maya aktif menulis. Beberapa esainya dimuat di Balebengong.id, media daring yang dikenal memberi ruang bagi jurnalisme warga di Bali.

Saya sudah membaca beberapa tulisannya sebelumnya. Ada keberanian yang jarang dimiliki penulis muda, terutama ketika berbicara tentang tubuh dan pengalaman perempuan.

Seusai ia mewawancarai saya, giliran saya yang bertanya. Kali ini saya tidak berbicara sebagai orang dengan skizofrenia. Saya kembali pada identitas lama yang selalu saya kenal. Penulis dan jurnalis.

Saya bertanya tentang esainya yang berjudul Tantra, Tubuh, dan Tabu: Psikoseksual Perempuan Bali. Maya tersenyum kecil, mungkin sedikit canggung ketika dirinya menjadi narasumber.

“Selama ini perempuan sering dilihat sebagai pihak yang pasif dalam seksualitas. Laki-laki dianggap punya kuasa, terutama dalam urusan kasur. Padahal dalam banyak aspek sosial dan psikologis, perempuan justru berada di posisi subordinat,” katanya.  Kalimat itu diucapkannya tanpa nada marah. Justru terdengar seperti hasil perenungan panjang.

Menulis tentang Tantra, terutama oleh perempuan muda Bali, bagi saya adalah sesuatu yang luar biasa. Tantra selama ini identik dengan seks, dengan praktik mistik, bahkan sering disalahpahami sebagai ajaran yang cabul. Lebih jauh lagi, diskursus tentang Tantra hampir selalu ditulis oleh laki-laki.

Akibatnya, tubuh perempuan sering hadir sebagai objek penjelasan, bukan subjek pengalaman. Narasi menjadi timpang. Maya menyadari hal itu sejak awal. Ia melihat bagaimana Tantra kerap direduksi hanya menjadi seksualitas ekstrem, sementara filosofi keseimbangannya justru dilupakan.

“Padahal inti Tantra itu keseimbangan. Purusa dan pradhana, maskulin dan feminin, itu setara. Mereka saling melengkapi,” ujarnya.

Ia lalu menjelaskan bagaimana dalam tradisi Hindu Bali dikenal konsep Ardhanariswara, representasi kesatuan Siwa dan Parwati dalam satu tubuh spiritual. Maskulin dan feminin bukan dua kekuatan yang saling mengalahkan, melainkan saling menghidupkan. Namun ironi muncul dalam praktik sosial.

“Kita memuja dewa-dewi secara spiritual. Tapi dalam kehidupan nyata perempuan masih sering ditekan,” kata Maya.  Kalimat itu menggantung di udara, seperti pertanyaan yang sebenarnya ditujukan kepada kita semua.

‘Sing Beling Sing Nganten’ dan Tubuh Perempuan

Dalam esainya, Maya menyinggung praktik sosial yang dikenal luas di Bali dengan ungkapan sing beling sing nganten, tidak hamil tidak menikah. Sebuah tekanan sosial yang secara halus menempatkan perempuan sebagai tubuh reproduksi. Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan bagaimana perempuan sering hanya dilihat sebagai wadah biologis.

“Perempuan sering dipandang sebagai penghasil anak saja, Bukan sebagai manusia yang setara,” ujar Maya singkat.

Bagi saya, kritik ini penting. Karena ia tidak datang dari aktivis yang berdiri di luar budaya, melainkan dari perempuan Bali sendiri yang tumbuh di dalam sistem nilai itu. Tulisan Maya tidak menyerang tradisi. Ia justru mengajak kembali pada filosofi leluhur yang lebih setara. Ia seperti mengingatkan bahwa patriarki modern justru bisa jadi adalah penyimpangan dari kebijaksanaan lama.

Percakapan kami kemudian bergerak pada isu domestik. Tentang ibu bekerja, pengasuhan anak, dan ekspektasi sosial terhadap perempuan. Maya tidak menolak perempuan bekerja. Namun ia menekankan pentingnya pembagian peran.

“Pekerjaan rumah tangga itu bukan hanya tugas Perempuan. Kalau suami ikut terlibat, beban itu jadi lebih ringan. Mengurus anak juga tanggung jawab Bersama,” sebutnya.

Baginya, kesetaraan tidak berhenti pada wacana publik seperti karier atau pendidikan. Kesetaraan justru diuji di ruang paling kecil bernama rumah. Ia juga menyinggung soal keamanan perempuan di ruang publik, kesenjangan gaji, serta diskriminasi yang masih terjadi.

“Perempuan dan laki-laki sama-sama harus belajar memahami perannya,” ujarnya. Tidak ada nada permusuhan dalam kalimatnya. Yang ada justru ajakan untuk memahami.

Perempuan Muda dan Kesadaran Baru

Saya bertanya bagaimana ia melihat perempuan muda Bali hari ini. Maya tampak lebih optimistis.

Menurutnya, generasi sekarang mulai memahami isu patriarki melalui media sosial dan diskursus publik. Banyak perempuan seusianya mulai mengenali ketidaksetaraan gender yang sebelumnya dianggap normal. Namun ia juga memberi catatan penting.

“Perempuan juga perlu refleksi diri, Melawan itu penting, tapi kita juga tetap punya tanggung jawab sosial dan keluarga,” tukasnya.

Ia tidak sedang menarik perempuan kembali ke ruang domestik. Ia justru berbicara tentang keseimbangan. Sebuah kata yang kembali membawa kami pada Tantra. Ketika membicarakan pilihan hidup perempuan Bali setelah lulus kuliah, Maya melihat pendidikan sebagai kunci kemandirian.

Banyak perempuan, katanya, kini ingin melanjutkan studi agar tidak bergantung secara ekonomi pada laki-laki. “Supaya hubungan rumah tangga nanti bisa lebih setara,” ujarnya. Namun ia juga menghormati pilihan perempuan yang memilih menikah lebih awal.

Maya Angelika Praba Astuti

“Selama itu pilihan pribadi dan tanpa paksaan, menurut saya tetap benar.” Kalimat itu sederhana, tetapi penting. Ia menolak penghakiman, baik terhadap perempuan yang bekerja maupun yang memilih rumah tangga.

Ketika saya bertanya mengapa ia memilih psikologi, jawabannya terdengar sangat personal. “Saya suka belajar tentang manusia,” katanya. Awalnya ia diterima di jurusan sejarah, tetapi akhirnya memilih psikologi karena ingin memahami manusia dari dalam terlebih dahulu sebelum melihat dunia luar. Baginya, psikologi adalah latihan kejujuran terhadap diri sendiri.

Ia berencana melanjutkan pendidikan profesi dan suatu hari ingin menjadi dosen. Mengajar, katanya, adalah cara berbagi ilmu kepada lebih banyak orang. Saya melihat keseriusan di matanya saat mengatakan itu.

Menulis sebagai Tindakan Berani

Percakapan kami berakhir hampir tanpa terasa. Kopi sudah lama habis. Suasana kafe mulai lebih ramai. Sore perlahan turun di Denpasar. Saya pulang dengan satu pikiran yang terus tinggal.

Menulis tentang Tantra bagi perempuan muda Bali bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah tindakan keberanian. Selama ini tubuh perempuan terlalu sering dijelaskan oleh orang lain. Terlalu sering ditafsirkan dari luar. Terlalu lama menjadi objek wacana.

Maya, melalui tulisannya, mencoba mengambil kembali suara itu. Ia tidak menulis Tantra sebagai sensasi seksual. Ia menulisnya sebagai filsafat keseimbangan, sebagai cara membaca ulang hubungan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, di situ lah letak pentingnya. Ketika seorang perempuan Bali menulis tentang tubuhnya sendiri, tentang spiritualitasnya sendiri, tentang pengalaman sosialnya sendiri, ia sedang membuka ruang baru bagi generasinya.

Bukan untuk melawan budaya. Melainkan untuk mengingatkan bahwa sejak awal, budaya itu sebenarnya telah mengajarkan kesetaraan.

Kita saja yang perlahan lupa. Di tengah masyarakat yang masih sering mengukur perempuan dari status menikah atau kemampuan melahirkan, tulisan Maya terasa seperti penolakan yang sunyi namun tegas terhadap tren sing beling sing nganten. Ia tidak berteriak. Ia menulis. Dan kadang, perubahan memang selalu dimulai dari seseorang yang berani menulis hal yang dulu dianggap tabu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PerempuanPerempuan BaliTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

Next Post

‘Swasthi Yuva Naya’: Cerita Tentang Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
0
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

Read moreDetails

Rumah Kata di Jalan Nangka

by Angga Wijaya
July 9, 2026
0
Rumah Kata di Jalan Nangka

SIANG itu, rolling door Pustaka Bali Seni di Jalan Nangka No. 103,  Denpasar, Bali, terbuka lebar. Dari luar, tempat itu...

Read moreDetails

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

by Jaswanto
June 24, 2026
0
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

Read moreDetails

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails
Next Post
‘Swasthi Yuva Naya’: Cerita Tentang Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026

‘Swasthi Yuva Naya’: Cerita Tentang Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co