15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

Angga Wijaya by Angga Wijaya
February 22, 2026
in Persona
Maya Menulis Tantra  —Percakapan Tentang Tubuh dan Tabu

Maya Angelika Praba Astuti | Foto-foto: Angga Wijaya

SAYA datang lebih dulu, seperti kebiasaan lama yang sulit hilang sejak menjadi wartawan. Duduk sendirian memberi waktu untuk mengamati orang-orang, mendengar potongan percakapan asing, dan membiarkan pikiran berjalan tanpa tergesa. Sabtu siang, 21 Februari 2026, Denpasar terasa hangat namun tidak melelahkan. Di sebuah warung jaje Bali yang bentuknya lebih mirip kafe, saya memilih meja panjang di halaman belakang.

Tempat itu luas dan terang. Meja-meja kayu besar tersusun rapi, kursinya empuk, membuat orang seolah diizinkan berlama-lama tanpa rasa bersalah. Di etalase depan, jaje tradisional tertata seperti ingatan masa kecil. Laklak hijau dengan taburan kelapa parut, pisang rai yang masih mengepul, dan klepon yang tampak sederhana tetapi selalu berhasil mengembalikan seseorang pada rumah.

Aroma kopi Bali bercampur gula merah memenuhi ruangan. Beberapa pengunjung bekerja dengan laptop terbuka, sebagian lagi berbincang santai. Tidak ada yang terburu-buru. Waktu berjalan pelan, seperti sengaja memberi ruang bagi percakapan yang akan terjadi.

Saya menunggu Maya Angelika Praba Astuti.

Ia datang bersama temannya, Inge, sambil sedikit tergesa namun tetap tersenyum. Keduanya mahasiswi tingkat akhir Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Ransel di punggung mereka tampak berat, mungkin berisi buku, laptop, dan kegelisahan yang hanya dimengerti mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi.

Kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Januari lalu, dalam kegiatan peer support group Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia simpul Bali di Peguyangan, Denpasar. Saat itu saya hadir sebagai penyintas skizofrenia yang berbagi pengalaman pemulihan. Maya hadir sebagai mahasiswa yang belajar mendengar tanpa menghakimi.

Sesuatu Berharga dalam Wawancara

Hari itu, ia datang untuk mewawancarai saya. Dan tanpa saya duga, pertemuan itu justru menjadi awal percakapan lain yang jauh lebih menarik. Percakapan tentang tubuh, tentang tabu, tentang perempuan Bali yang berani menulis Tantra.

Wawancara berjalan tenang. Maya bertanya dengan ritme pelan, tidak tergesa, seperti seseorang yang memahami bahwa pengalaman manusia tidak bisa dipaksa keluar dengan cepat. Ia lebih sering mendengar daripada berbicara. Sesekali ia mengangguk, mencatat, lalu memberi jeda sebelum pertanyaan berikutnya.

Maya Angelika Praba Astuti (kiri) bersama temannya, Inge

Setelah wawancara selesai, suasana berubah. Percakapan menjadi cair. Kami tidak lagi berada dalam posisi peneliti dan responden. Saya kemudian mengetahui bahwa Maya aktif menulis. Beberapa esainya dimuat di Balebengong.id, media daring yang dikenal memberi ruang bagi jurnalisme warga di Bali.

Saya sudah membaca beberapa tulisannya sebelumnya. Ada keberanian yang jarang dimiliki penulis muda, terutama ketika berbicara tentang tubuh dan pengalaman perempuan.

Seusai ia mewawancarai saya, giliran saya yang bertanya. Kali ini saya tidak berbicara sebagai orang dengan skizofrenia. Saya kembali pada identitas lama yang selalu saya kenal. Penulis dan jurnalis.

Saya bertanya tentang esainya yang berjudul Tantra, Tubuh, dan Tabu: Psikoseksual Perempuan Bali. Maya tersenyum kecil, mungkin sedikit canggung ketika dirinya menjadi narasumber.

“Selama ini perempuan sering dilihat sebagai pihak yang pasif dalam seksualitas. Laki-laki dianggap punya kuasa, terutama dalam urusan kasur. Padahal dalam banyak aspek sosial dan psikologis, perempuan justru berada di posisi subordinat,” katanya.  Kalimat itu diucapkannya tanpa nada marah. Justru terdengar seperti hasil perenungan panjang.

Menulis tentang Tantra, terutama oleh perempuan muda Bali, bagi saya adalah sesuatu yang luar biasa. Tantra selama ini identik dengan seks, dengan praktik mistik, bahkan sering disalahpahami sebagai ajaran yang cabul. Lebih jauh lagi, diskursus tentang Tantra hampir selalu ditulis oleh laki-laki.

Akibatnya, tubuh perempuan sering hadir sebagai objek penjelasan, bukan subjek pengalaman. Narasi menjadi timpang. Maya menyadari hal itu sejak awal. Ia melihat bagaimana Tantra kerap direduksi hanya menjadi seksualitas ekstrem, sementara filosofi keseimbangannya justru dilupakan.

“Padahal inti Tantra itu keseimbangan. Purusa dan pradhana, maskulin dan feminin, itu setara. Mereka saling melengkapi,” ujarnya.

Ia lalu menjelaskan bagaimana dalam tradisi Hindu Bali dikenal konsep Ardhanariswara, representasi kesatuan Siwa dan Parwati dalam satu tubuh spiritual. Maskulin dan feminin bukan dua kekuatan yang saling mengalahkan, melainkan saling menghidupkan. Namun ironi muncul dalam praktik sosial.

“Kita memuja dewa-dewi secara spiritual. Tapi dalam kehidupan nyata perempuan masih sering ditekan,” kata Maya.  Kalimat itu menggantung di udara, seperti pertanyaan yang sebenarnya ditujukan kepada kita semua.

‘Sing Beling Sing Nganten’ dan Tubuh Perempuan

Dalam esainya, Maya menyinggung praktik sosial yang dikenal luas di Bali dengan ungkapan sing beling sing nganten, tidak hamil tidak menikah. Sebuah tekanan sosial yang secara halus menempatkan perempuan sebagai tubuh reproduksi. Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan bagaimana perempuan sering hanya dilihat sebagai wadah biologis.

“Perempuan sering dipandang sebagai penghasil anak saja, Bukan sebagai manusia yang setara,” ujar Maya singkat.

Bagi saya, kritik ini penting. Karena ia tidak datang dari aktivis yang berdiri di luar budaya, melainkan dari perempuan Bali sendiri yang tumbuh di dalam sistem nilai itu. Tulisan Maya tidak menyerang tradisi. Ia justru mengajak kembali pada filosofi leluhur yang lebih setara. Ia seperti mengingatkan bahwa patriarki modern justru bisa jadi adalah penyimpangan dari kebijaksanaan lama.

Percakapan kami kemudian bergerak pada isu domestik. Tentang ibu bekerja, pengasuhan anak, dan ekspektasi sosial terhadap perempuan. Maya tidak menolak perempuan bekerja. Namun ia menekankan pentingnya pembagian peran.

“Pekerjaan rumah tangga itu bukan hanya tugas Perempuan. Kalau suami ikut terlibat, beban itu jadi lebih ringan. Mengurus anak juga tanggung jawab Bersama,” sebutnya.

Baginya, kesetaraan tidak berhenti pada wacana publik seperti karier atau pendidikan. Kesetaraan justru diuji di ruang paling kecil bernama rumah. Ia juga menyinggung soal keamanan perempuan di ruang publik, kesenjangan gaji, serta diskriminasi yang masih terjadi.

“Perempuan dan laki-laki sama-sama harus belajar memahami perannya,” ujarnya. Tidak ada nada permusuhan dalam kalimatnya. Yang ada justru ajakan untuk memahami.

Perempuan Muda dan Kesadaran Baru

Saya bertanya bagaimana ia melihat perempuan muda Bali hari ini. Maya tampak lebih optimistis.

Menurutnya, generasi sekarang mulai memahami isu patriarki melalui media sosial dan diskursus publik. Banyak perempuan seusianya mulai mengenali ketidaksetaraan gender yang sebelumnya dianggap normal. Namun ia juga memberi catatan penting.

“Perempuan juga perlu refleksi diri, Melawan itu penting, tapi kita juga tetap punya tanggung jawab sosial dan keluarga,” tukasnya.

Ia tidak sedang menarik perempuan kembali ke ruang domestik. Ia justru berbicara tentang keseimbangan. Sebuah kata yang kembali membawa kami pada Tantra. Ketika membicarakan pilihan hidup perempuan Bali setelah lulus kuliah, Maya melihat pendidikan sebagai kunci kemandirian.

Banyak perempuan, katanya, kini ingin melanjutkan studi agar tidak bergantung secara ekonomi pada laki-laki. “Supaya hubungan rumah tangga nanti bisa lebih setara,” ujarnya. Namun ia juga menghormati pilihan perempuan yang memilih menikah lebih awal.

Maya Angelika Praba Astuti

“Selama itu pilihan pribadi dan tanpa paksaan, menurut saya tetap benar.” Kalimat itu sederhana, tetapi penting. Ia menolak penghakiman, baik terhadap perempuan yang bekerja maupun yang memilih rumah tangga.

Ketika saya bertanya mengapa ia memilih psikologi, jawabannya terdengar sangat personal. “Saya suka belajar tentang manusia,” katanya. Awalnya ia diterima di jurusan sejarah, tetapi akhirnya memilih psikologi karena ingin memahami manusia dari dalam terlebih dahulu sebelum melihat dunia luar. Baginya, psikologi adalah latihan kejujuran terhadap diri sendiri.

Ia berencana melanjutkan pendidikan profesi dan suatu hari ingin menjadi dosen. Mengajar, katanya, adalah cara berbagi ilmu kepada lebih banyak orang. Saya melihat keseriusan di matanya saat mengatakan itu.

Menulis sebagai Tindakan Berani

Percakapan kami berakhir hampir tanpa terasa. Kopi sudah lama habis. Suasana kafe mulai lebih ramai. Sore perlahan turun di Denpasar. Saya pulang dengan satu pikiran yang terus tinggal.

Menulis tentang Tantra bagi perempuan muda Bali bukan sekadar aktivitas intelektual. Ia adalah tindakan keberanian. Selama ini tubuh perempuan terlalu sering dijelaskan oleh orang lain. Terlalu sering ditafsirkan dari luar. Terlalu lama menjadi objek wacana.

Maya, melalui tulisannya, mencoba mengambil kembali suara itu. Ia tidak menulis Tantra sebagai sensasi seksual. Ia menulisnya sebagai filsafat keseimbangan, sebagai cara membaca ulang hubungan perempuan dan laki-laki dalam kehidupan sehari-hari.

Dan mungkin, di situ lah letak pentingnya. Ketika seorang perempuan Bali menulis tentang tubuhnya sendiri, tentang spiritualitasnya sendiri, tentang pengalaman sosialnya sendiri, ia sedang membuka ruang baru bagi generasinya.

Bukan untuk melawan budaya. Melainkan untuk mengingatkan bahwa sejak awal, budaya itu sebenarnya telah mengajarkan kesetaraan.

Kita saja yang perlahan lupa. Di tengah masyarakat yang masih sering mengukur perempuan dari status menikah atau kemampuan melahirkan, tulisan Maya terasa seperti penolakan yang sunyi namun tegas terhadap tren sing beling sing nganten. Ia tidak berteriak. Ia menulis. Dan kadang, perubahan memang selalu dimulai dari seseorang yang berani menulis hal yang dulu dianggap tabu. [T]

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: PerempuanPerempuan BaliTubuh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menanam Pohon Sebelum Berlari —Catatan Menuju Alumni SMANSA Charity Fun Run 2026

Next Post

‘Swasthi Yuva Naya’: Cerita Tentang Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
‘Swasthi Yuva Naya’: Cerita Tentang Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026

‘Swasthi Yuva Naya’: Cerita Tentang Grand Final Pemilihan Duta Kesehatan Kesbam 2026

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co