25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Budaya Populer di Kalangan Mahasiswa: Membaca Buku atau Belanja Terus Sampai Mati

Hidayat by Hidayat
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

 

Selama toko buku ada, pustaka dapat dibentuk kembali. kalau perlu dan memang perlu, makanan dan pakaian dikurangi. ~Tan Malaka~

Saat kita memasuki kampus, pemandangan yang disuguhkan adalah penampilan molek mahasiswa-mahasiswi yang begitu wah, membuat siapapun terkagum-kagum. berpenampilan dengan produk-produk yang dikenakan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah cerminan seberapa besar keterlibatan pada konsumsi massa. Jarang ditemui pemandangan berupa aktivitas mahasiswa yang sedang asik membaca buku di bawah pohon yang rindang. Pun kita akan jarang menemui sekelompok mahasiswa yang sedang diskusi, katakanlah membahas buku.

Zaman mendorong kita mengikuti perubahan yang diciptakan sebagai upaya pemenuhan-pemenuhan kebutuhan hidup. Segala hal yang dicipta tak lain adalah untuk memudahkan terpenuhinya kebutuhan hidup manusia itu sendiri. Produksi yang terus bertambah berbanding lurus dengan konsumsi massa. Konsumsi menjadi iman baru, agama baru. Dan industri adalah setan penggoda yang manis, menggoda dengan manja dan tak terkira. Industri hadir seolah menjadi Tuhan. Menjadi penolong kesenangan dan kepuasan sesaat.

Kebiasaan konsumsi di Abad 21 ini berlangsung karena media, baik cetak maupun elektronik. Kebiasaan suatu masyarakat disetir oleh media masa. Lewat majalah atau koran yang dengan sengaja menawarkan gambar-gambar artis cantik untuk memamerkan nilai jual produk membuat masyarakat tersihir dan berfantasi terhadap produk tersebutTayangan-tayangan iklan pun demikian. Kemudian, konsumsi seperti pakaian, handphone, alat transportasi, dan lain-lain menjadi kebutuhan yang tak terbantahkan dan penting untuk di-update. Media masa menjembatani apa yang dikehendaki oleh industri.

Menurut Jean Paul Baudrillard, Konsumsi adalah sebuah perilaku aktif dan kolektif, ia merupakan sebuah paksaan, sebuah moral. Maka, dapat disimpulkan bahwa konsumsi merupakan sebuah sistem yang memaksa masyarakat untuk tunduk terhadap kebiasaan umum (konvensional).

Sebagai mahasiswa, kebutuhan hidup barangkali menjadi penting. Mau tak mau harus tunduk pada sistem. Terlebih kebutuhan akan konsumsi buku, smartphone, laptop, pakaian, dan lain-lain. Hal-hal yang sama pentingnya tersebut mau tak mau harus dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan sebagaimana mahasiswa. Mahasiswa butuh buku sebagai acuan belajar dan rekreasi.

Dibutuhkannya smartphone tak lain untuk menunjang kemudahan komunikasi yang cepat dan instan. Laptop sebagai kebutuhan akan tugas-tugas yang serba digital. Biasanya diketik dengan rapi lewat microsoft word. Terdapat celah-celah yang memunculkan niat nakal mahasiswa. Fenomena copy-paste adalah bentuk perlawanan terhadap tingkat kesulitan tugas yang diberikan. Mahasiswa yang malas akan mengambil jalan pintas dengan cara demikian. Fenomena tersebut merupakan akibat dari rendahnya minat literasi dan tingginya kepuasaan konsumsi terhadap teknologi.

Teknologi penting namun dapat merusak tatanan literasi masyarakat terlebih mahasiswa jika tidak dipergunakan dengan bijak. Yang paling dikhawatirkan adalah rusaknya insan cendekia (baca:mahasiswa). Mahasiswa tak bisa lepas dari smartphone yang menjadi alat komunikasi. Kemudahan akses internet lewat perangkat digital memudahkan mahasiswa menelusuri berita di seluruh dunia serta berbagai macam literasi. Sehingga buku di perpustakaan dan toko-toko buku menjamur tak terbeli. Hal yang wajar dari konsekuensi meluasnya budaya populer.

Budaya populer terdiri dari dua kata yaitu “Budaya” dan “Populer”. Menurut Williams, budaya diartikan sebagai segala sesuatu yang mengacu pada suatu proses umum perkembangan intelektual, spiritual, dan estetis. Sedangkan populer, Williams memberikan empat makna yang mengandung pengertian yakni : (1) banyak disukai orang; (2) jenis kerja rendahan; (3) karya yang dilakukan untuk menyenangkan orang (4) budaya yang memang dibuat oleh orang untuk dirinya sendiri.

Pengertian dapat didefinisikan bahwa budaya pupuler merupakan kehendak yang diciptakan atas kelanjutan dari budaya sebelumnya. Dalam hal ini, terdapat ketidakpuasan terhadap hasil dari kebudayaan, sehingga muncullah usaha-usaha baru yang dirasa perlu untuk kesenangan.

Berdasar pengertian pribadi, maka buku termasuk produk budaya. Suatu produk kebudayaan yang dihasilkan elit cendekiawan. Sekalipun buku diperuntukkan untuk kalangan luas, namun lebih dekat dengan cendekiawan (baca:mahasiswa). Di tengah memuncaknya budaya populer, buku seolah menjadi tidak penting. Buku menjadi terpinggir karena perannya diambil alih oleh kemudahan teknologi. Budaya populer membuat buku-buku semakin menjamur dan tak lagi memiliki kemuliaan.

Teknologi lebih mulia dari buku. Demikianlah kenyataan saat ini. Kemudahan yang ditawarkan teknologi lebih diminati dari apapun. Diterimanya teknologi internet di kalangan akademisi tak lain adalah untuk memudahkan akses literasi dari berbagai dunia (misalnya Google). “Dunia dalam genggaman”, kata salah satu pelaku industri digital.

Di zaman serba digital, berbagai literasi tak bisa lepas dari Internet memang. Pengetahuan seperti: agama, filsafat, biologi, hukum, fisika, dan ilmu-ilmu lain begitu mudah diakses. Di era teknologi, banyak pula buku-buku yang tersebar secara digital, katakanlah e-book.Serta, semua orang baik elit cendekiawan maupun bukan bisa secara bebas mempublikasikan tulisan dan membaca tulisan orang lain, dengan melalui blog pribadi, situs komersial, maupun di media sosial.

Namun adanya media sosial seperti instagram, twitter, line, snapchat, bigolive, facebook dan sejenisnya membuat mahasiswa/i kian asik dan nyaman bermanstrubasi dengan produk kecantikan, pakaian bermerek, akasesoris, dan idola masing-masing. Lihat bagaimana mahasiswa di kampusnya berdandan sedimikian rupa. Seolah kampus adalah tempat untuk berlomba memamerkan eksistensi. Mahasiswa maupun mahasiswi memakai pakaian sedemikian sama, baju, celana, sepatu, hingga alat-alat kecantikan. Hal ini tak lain adalah perilaku meniru idola yang dipertontonkan lewat iklan di media massa.

Hal tersebut disindir Efek Rumah Kaca lewat lagu “Belanja Terus Sampai Mati”. “akhir dari sebuah perjalanan/mendarat di sudut pertokoan/buang kepenatan. . .atas bujukan setan hasrat yang dijebak zaman/kita belanja terus sampai mati. . . dst. “Belanja Terus Sampai Mati. Sebuah judul yang menyindir orang-orang yang memiliki kebiasaan konsumsi (baca: belanja). Seolah belanja tak pernah akan berhenti, dan hanya berhenti ketika sudah mati.

Juga lewat lagu “Kenakalan Remaja di Era Informatika” yang menggambarkan bagaimana perilaku remaja di media sosial. “Senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang/padahal halnya iseng belaka/ketika birahi yang juara/etika menguap entah ke mana. . .dst. Generasi muda, katakanlah mahasiswa/mahasiswi begitu narsis di media sosial. Mengunggah apa saja, mulai dari keluhan dan kebagaian kehidupan pribadi, berduaan bersama pacar, aktifitas sehari-hari, bahkan sampai foto-foto yang senonoh. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya populer begitu menyenangkan dan menyegarkan. Senang pamer apa saja untuk menunjang eksistensi.

Sebuah masyarakat yang (katanya) intelektual (baca: mahasiswa) begitu mudahnya terpengaruh dan cenderung meniru. Keadaan demikian tentu tidak salah, itu adalah konsekuensi yang harus diterima dengan lapang dada. Media telah membuat realitas semu yang seolah nyata. Media elektronik, baik internet maupun televisi telah mereduksi peran generasi muda.

Kita semua tahu dan sadar, minat di indonesia cenderung rendah. Budaya populer yang digandrungi sebagai gaya hidup kekinian membuat buku-buku menjamur dan mutu literasi yang rendah.

Survei Perpustakaan Nasional Indonesia pada 2015 lalu mendapatkan temuan : “90 persen penduduk Indonesia gemar menonton televisi dan tidak suka membaca”, ujar Kepala Kantor Perpustakaan Nasional Sri Sularsih dalam acara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Yogyakarta, Oktober 2015 lalu. Objek survei tersebut memang bukan mahasiswa saja. Namun, hal tersebut perlu sebagai perenungan. Tak lain, rendahnya minat baca adalah pengaruh media massa (baca:media elektronik).

Pengaruh yang sedemikian besar dan nyaris tak terbendung, minat baca menjadi penting untuk dipertanyakan kembali. Sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, teknologi internet tak bisa ditolak. Hadirnya teknologi internet memang mendorong munculnya buku-buku digital yang dapat dipergunakan sebagai bahan belajar. Tak dapat dipungkiri bahwa nantinya akan banyak buku-buku digital.

Beruntung, hadirnya media sosial ternyata dapat difungsikan sebagai media promosi dan motivasi untuk menumbuhkan kesadaran literasi. Di instagram, akun-akun seperti : berdikaribook, bukuakik, sabdaperubahan dan lain-lain secara getol mempromosikan buku dan mengunggah kata-kata motivasi dari kalangan filsuf, akademisi, sastrawan dari berbagai negara.

Kesadaran akan literasi adalah kewajiban bagi mahasiswa. Aktifitas membaca dan menulis tidak boleh macet di tengah jalan. Boleh ngopi namun jangan lupa membaca. Boleh beraktifitas di organisasi, kesenian dan sebagainya namun jangan lupa membaca dan menulis. Bergaya seperti artis idaman juga boleh, tapi sekali lagi : jangan lupa literasi. Kunjungi perpustakaan dan toko-toko buku. (T)

Tags: BudayaBukumahasiswapopuler
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Masa Kini: Mahasiswa Fasilitas, Mahasiswa Gajian, Mahasiswa Populer

Next Post

Bencana Gunung Agung, Berkaca dari Yogya

Hidayat

Hidayat

Berasal dari ujung timur pulau Jawa alias Banyuwangi. Sedang terdampar di sisi utara Pulau Dewata. Bercita-cita memiliki kedai kopi lengkap dengan perpus, tempat nonton film serta tempat diskusi. Bisa dijumpai di akun inatagram : cethe21

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Bencana Gunung Agung, Berkaca dari Yogya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co