27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serba-serbi Piala Citra FFI 2024: Dari Dominasi “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” Hingga “Politik Dinasti” Garin Nugroho

Jaswanto by Jaswanto
November 21, 2024
in Khas
Serba-serbi Piala Citra FFI 2024: Dari Dominasi “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” Hingga “Politik Dinasti” Garin Nugroho

Adegan dalam film " Jatuh Cinta Seperti di Film-film" | Foto: tangkap layar youtube/akun CINEMA 21

MALAM Anugerah Piala Citra ke-44 Festival Film Indonesia (FFI) 2024 telah berlalu dengan warna-warna baru. Penyerahan piala penghargaan bagi insan film yang prestisius di Tanah Air itu digelar di Nusantara Hall ICE BSD City, Tangerang, Rabu (20/11/2024) malam.

Dalam festival yang mengusung tema “Merandai Cakrawala Sinema Indonesia” ini, ada enam film dengan enam kategori yang menyandang gelar terbaik, yakni Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023) karya Ernest Prakasa dan Suryana Paramita untuk kategori Film Cerita Panjang Terbaik, Suintrah (2024) karya Ayesha Alma Almera kategori Film Pendek Terbaik, sedangkan Film Dokumenter Pendek Terbaik diraih oleh My Therapist Said, I Am Full of Sadness (2024) karya Monica Vanesa Tedja.

Dan untuk Film Dokumenter Panjang Terbaik diberikan kepada Under the Moonlight (Nur) (2023) karya Tonny Trimarsanto. Selanjutnya, Cangkir Profesor karya Yudhatama dinobatkan sebagai Film Animasi Pendek Terbaik. Sementara Si Juki the Movie: Harta Pulau Monyet (2024) garapan Faza Meonk sebagai Film Animasi Panjang Terbaik.

Tak hanya film, sebagaimana tahun-tahun yang lalu, FFI 2024 juga terdapat beberapa kategori lainnya, seperti Pemeran Utama Pria Terbaik, Pemeran Utama Perempuan Terbaik, Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, Pengarah Sinematografi Terbaik, Penyunting Gambar Terbaik, Penata Efek Visual Terbaik, hingga Penghargaan Seumur Hidup.

Tahun ini, Ringgo Agus Rahman dinobatkan sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik dalam Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Sedangkan Pemeran Utama Perempuan Terbaik jatuh kepda Nirina Zubir dalam film yang sama. Untuk Pemeran Pendukung Pria Terbaik dimenangkan oleh Alex Abbad masih di film yang sama. Dan Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik diberikan kepada Sheila Dara Aisha, sekali lagi, dalam film yang sama—Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.

Namun, meski demikian, Ernest Prakasa dan Suryana Paramita—sutradara Jatuh Cinta Seperti di Film-Film—belum mampu mencatatkan diri mereka sebagai Sutradara Terbaik. Sebab, kategori ini diberikan kepada Garin Nugroho untuk film Samsara (2024). Tapi Penulis Skenario Asli Terbaik diraih oleh Yandy Laurens untuk penulisan Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.

Sementara itu, Penulis Skenario Adaptasi Terbaik diberikan kepada empat sosok kawakan dalam sinema Indonesia, Jujur Prananto, Mira Lesmana, Riri Riza, dan Virania Munaf untuk film Petualangan Sherina 2 (2023).

Dalam hal-hal teknis, Pengarah Sinematografi Terbaik jatuh kepada Batara Goempar, I.C.S. (Samsara), Penyunting Gambar Terbaik: Wawan I. Wibowo (Ipar Adalah Maut), Penata Efek Visual Terbaik: Lumine Studio (Kabut Berduri), Penata Suara Terbaik: Mohamad Ikhsan dan Anhar Moha (Siksa Kubur), dan Penata Musik Terbaik: Wayan Sudirana dan Kasimyn (Samsara).

Sedangkan Pencipta Lagu Tema Terbaik diraih oleh Donne Maulana (“Bercinta Lewat Kata” untuk film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film), Pengarah Artistik Terbaik: Menfo Tantono dan Guntur Mupak (Kabut Berduri), Penata Busana Terbaik: Retno Ratih Damayanti (Samsara), dan Penata Rias Terbaik: Cherry Wirawan (Kabut Berduri).

Untuk Karya Kritik Film Terbaik tahun ini, jatuh kepada Reza Mardian dengan karya yang berjudul “Jagat Yang Sempit dan Determinasi Diri dalam Film Yuni (2021)” yang dipublikasikan di akun TikTok @kelitikfilm.

Dan Film Pilihan Penonton (Piala Nya’ Abbas Akup) jatuh kepada Siksa Kubur (2024) garapan Joko Anwar. Untuk Aktor Pilihan Penonton (Piala Rachmat Hidajat) diberikan Afrian Arisandy dalam film Siksa Kubur. Sedangkan Aktris Pilihan Penonton (Piala Mieke Widjaja) diraih oleh Prilly Latuconsina dalam film Puspa Indah Taman Hati. Sementara itu, Piala Antemas atau penghargaan khusus untuk film Indonesia terlaris diberikan kepada Agak Laen (2024) yang disutradarai dan ditulis oleh Muhadkly Acho yang mendulang 9,1 jutaan penonton.

Selanjutnya, Penghargaan Seumur Hidup atau Lifetime Achievement—penghargaan khusus bagi insan film yang mengabdikan sepanjang hidupnya untuk kemajuan sinema Tanah Air—diberikan kepada kedua sosok legenda dalam dunia perfilman Indonesia, Imam Tantowi dan Gope T. Samtani. Mereka berdua merupakan sosok dengan dedikasi tinggi kepada sinema Tanah Air dan telah turut merajut benang merah penting sebelum akhirnya film Indonesia sampai pada posisinya saat ini.

Gope T Samtani adalah pemilik rumah produksi Rapi Films yang banyak merilis judul-judul blockbuster, seperti Sang Kiai (2013), Pengabdi Setan (2017), sampai Ratu Ilmu Hitam (2019). Pada 1970, produksi Rapi Film yang pertama langsung sukses di pasaran dengan judul Air Mata Kekasih. Setelahnya adalah sejarah. Rapi Films rata-rata memproduksi tiga film per tahun setelah karya pertamanya sukses. Dengan demikian, sampai awal 1985 saja, filmnya yang sudah dihasilkan mencapai 45-an judul.

Sementara itu, Imam Tantowi adalah sutradara dengan banyak judul Hit, seperti 7 Manusia Harimau (1986), Carok (1958), Saur Sepuh (1980-an), sampai Lebak Membara (1983). Film-film yang disutradarai sineas asal Tegal ini pada umumnya bergenre laga. Pada masanya, Imam pernah berhasil menyabet Piala Citra untuk penulis cerita asli terbaik dalam film Si Badung dalam ajang FFI di Jakarta tahun 1989.

Pada medio 1990-an, Imam mulai merambah ke sinetron. Karyanya yang berjudul Bang Jagur dan Maha Kasih, dengan sebuah episodenya yang fenomenal, yaitu Tukang Bubur Naik Haji, langsung menduduki rating pertama pada tayangan perdananya. Saking fenomenalnya, pada 2012, tayangan tersebut dibuat berseri dengan judul Tukang Bubur Naik Haji The Series.

Dominasi JESEDEF

Sebagaimana telah disinggung di atas, film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (JESEDEF), katakanlah, memborong penghargaan FFI 2024. Film tersebut mendominasi raihan Piala Citra tahun ini dengan tujuh penghargaan dari total 11 nominasi, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik. Sutradara Yandy Laurens turut dianugerahi Penulis Skenario Asli Terbaik, sementara Donne Maula membawa pulang Pencipta Lagu Terbaik.

Di kategori akting, dengan gagah film ini meraih beberapa penghargaan utama, di antaranya: Pemeran Utama Pria Terbaik untuk Ringgo Agus Rahman, Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Nirina Zubir, Pemeran Pendukung Perempuan Terbaik untuk Sheila Dara Aisha, dan Pemeran Pendukung Pria Terbaik untuk Alex Abbad.

“Kami banyak sekali berdoa untuk membuat film ini terjadi,” kata Suryana Paramita, selaku produser film tersebut—sebagaimana banyak dikutip media pada 20 November 2024.

Menurut Suryana, proses film ini membuatnya belajar bahwa yang paling mahal di dunia ini adalah dipercaya dan diberi kesempatan. Sementara itu, Ernest Prakasa, selaku sutadara sekaligus berperan sebagai produser dalam proyek ini, mempersembahkan piala tersebut kepada semua kru film di Indonesia.

Ia menekankan pentingnya kesejahteraan kru film. “Semua piala dan jumlah penonton yang glamor ini nggak ada gunanya kalau kita nggak bisa memberikannya kembali kepada denyut jantung perfilman kita, yaitu semua kru perfilman Indonesia,” kata Ernest, yang juga komika kenamaan di Indonesia.

Jatuh Cinta Seperti di Film-Film bercerita tentang Bagus (Ringgo Agus Rahman), seorang penulis skenario yang diam-diam menulis kisah cintanya dengan Hana (Nirina Zubir), teman SMA-nya, dulu, yang baru saja menjanda. Format hitam putih yang mendominasi 80 persen film ini memberikan nuansa klasik yang memperkuat konflik emosional antara dua tokoh utama.

Chemistry antara Nirina dan Ringgo—yang sebelumnya pernah beradu akting di beberapa film, seperti Kamulah Satu-Satunya (2007), Get Married (2007), Keluarga Cemara 1 (2018), Keluarga Cemara 2 (2022), dan Sepuluh Meter (2020)—berhasil menciptakan hubungan emosional yang autentik. Sebelum meraih sukses besar di Piala Citra, Jatuh Cinta Seperti di Film-Film sudah mencuri perhatian sejak gala premiere di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2023.

Sambutan luar biasa, termasuk standing ovation dari para penonton, mengiringi penayangannya di bioskop pada 30 November 2023 yang lalu. Hingga resmi pamit dari layar lebar, film ini telah ditonton oleh 651.074 penonton dalam dua bulan penayangan.

Aktris Nirina Zubir, setelah sekian lama bertungkus lumus di sinema Indonesia, akhirnya kembali berhasil meraih Piala Citra 2024 untuk kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-Film. Ini Piala Citra keduanya untuk kategori yang sama. Pada 2006, Nirina juga mendapatkan penghargaan tersebut untuk film Heart (2006) garapan Hanny R. Saputra.

“Tapi ini semua berkat kolaborasi yang luar biasa. Thank you,” ungkap Nirina sambil menahan tangis. Ia juga mengapresiasi sutradara Yandy Laurens atas kepercayaan besar yang diberikan kepadanya dan lawan mainnya, aktor Ringgo Agus Rahman.

Dalam pidatonya, aktris kelahiran 1980 itu melanjutkan, “Kenapa Nirina nangis? Karena Nirina tahu banget film ini perjuangannya luar biasa.” Ia menilai, film ini membutuhkan pendewasaan dalam setiap adegan, dan pendalaman karakternya yang penuh perjuangan.

Nirina kemudian mengajak para pembuat film Tanah Air untuk lebih berani mengeksplorasi genre baru. “Ayo pembuat film Indonesia, bikinlah film dengan genre yang berbeda-beda. Keluarkan imajinasi Anda,” tuturnya.

Nirina Zubir berhasil unggul dari aktris hebat lain di kategori Pemeran Utama Perempuan Terbaik. Ia mengalahakan Aghniny Haque di film Tuhan, Izinkan Aku Berdosa (2023). Pun unggul dari Faradina Mufti di film Siksa Kubur. Lalu ada pula Laura Basuki untuk film Heartbreak Motel (2024), serta Marissa Anita  dalam film Crocodile Tears (2024).

Garin dan “Politik Dinasti”

Sedangkan, melalui film Samsara-nya, Garin Nugroho berhasil meraih penghargaan Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2024. “Saya takut dikira [ini sebagai] politik dinasti,” katanya dalam pidato penghargaan yang dia terima pada 21 November 2024.

Ungkapan Garin tampaknya hanya gurauan semata. Tapi bisa saja itu adalah pengakuannya secara terang-terangan. Malam itu, orang yang membacakan pengumuman kemenangannya di panggung FFI 2024 adalah Ifa Ifansyah, menantunya sendiri. Dan anaknya, Kamila Andini, istri Ifa, sekarang jadi Duta FFI 2024.

Sedangkan kita tahu bahwa Ario Bayu—yang notabene aktor sekaligus produser eksekutif film Samsara—merupakan Ketua Komite FFI saat ini (periode 2024-2026), yang menggantikan Reza Rahadian sejak 30 Maret 2024.

Tak pelak, perkataan Garin membuat para hadirin ajang tahunan itu tertawa. Kemudian ia mengklaim bahwa penghargaannya itu tidak ada hubunganya dengan Undang-Undang Negara, atau Keputusan Hukum serta politik lainnya. “Jadi, ini bukan politik dinasti ya,” katanya tersenyum. Belakangan, politik dinasti atau dinasti politik menjadi salah satu ungkapan yang populer di dunia politik di Indonesia, memang.

Garin Nugroho berhasil unggul dari 4 sutradara lain di nominasi yang sama. Mereka adalah Edwin dengan film Kabut Berduri, Joko Anwar dengan karya Siksa Kubur, Tumpal Tampubolon dengan film Crocodile Tears, dan Yandy Laurens dalam film Jatuh Cinta Seperti di Film-film.

Samsara, yang mengantarkan Garin meraih anugerah Sutradara Terbaik, merupakan film bisu yang dirilis pada 2024. Film ini bergenre drama dan musik dan dibintangi oleh Ario Bayu, Juliet Burnett, I Putu Bagus Bang Sada Graha Saputra, dan Valentine Payen-Wicaksono.

Film tersebut mengisahkan seorang laki-laki bernama Darta (Ario Bayu) yang berasal dari keluarga miskin di Bali pada era 1930-an. Darta jatuh cinta dengan seorang perempuan bernama Sinta. Setelah menjalin kasih, Darta berusaha melamar kekasihnya itu. Namun, lamarannya ditolak oleh orang tua kekasihnya yang berasal dari keluarga kaya raya.

Ia kemudian mencari jalan pintas agar bisa mendapatkan restu dari orang tua Sinta. Darta melakukan perjanjian gelap dengan Raja Monyet dan melakukan ritual gelap agar diberi kekayaan dan pada akhirnya diterima oleh keluarga Sinta. Namun, seperti yang sudah pasaran dalam film-film lainnya, perjanjian dan ritual itu memiliki konsekuensi yang bakal berpengaruh pada nasib istri dan anaknya, menyebabkan penderitaan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Samsara begitu eksotis. Ia menempelkan kekayaan elemen kebudayaan Bali, seperti orkestra gamelan yang dibawakan oleh Wayan Sudirana, seorang komposer musik dan etnomusikologi lulusan University of British Columbia, Kanada; tarian klasik tradisional; pertunjukan topeng dan wayang; dipadukan dengan musik elektronik digital yang dibawakan oleh grup musik Gabber Modus Operandi. Oleh sebab dinilai bernuansa kebudayaan, membuat film ini mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia.

Tak banyak kritikus film yang menanggapi Samsara. Tapi dalam banyak puja-puji, film ini disebut  bukan sekadar film, tetapi juga sebuah pengalaman budaya yang mendalam dan menyentuh. Apakah benar demikian? Silakan Anda nilai sendiri.[T]

Sumber: Berbagai media
Penulis: Jaswanto
Editor: Adnyana Ole

Suitcase (2023) dan Suku Kurdi yang Masih Terdiskriminasi
Tertawa Bersama Phone Call Man Woman
Europe by Bidon (2022): Nasib Baik Tak Ada yang Tahu
Utopia di Padang Beton dalam Fantasy Is a Concrete Jungle
In the Shadow of the Cypress (2023) dan Post-Traumatic Stress Disorder
Black Rain in My Eyes (2023): “Kebohongan” Seorang Penyair kepada Putrinya yang Buta
Tags: Festival Film IndonesiafilmFilm Jatuh Cinta Seperti di Film-filmFilm SamsaraGarin Nugroho
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dalang Dalam Sekat Gaya dan Style: Kreativitas yang Terkungkung atau Tradisi yang Dimuliakan?

Next Post

Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Bahasa Isyarat yang Humanis dan Bahasa Ekspresif yang Di-off-kan dalam Debat Final Paslon Pilkada Buleleng

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

by Isran Kamal
April 27, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

by Sugi Lanus
April 27, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co