7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
November 16, 2024
in Cerpen
Toh Langkir dan Perang Itu | Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co

PENGADUKAN lautan susu, Ksirarnawa oleh para dewa dan raksasa dimaksudkan untuk mendapatkan tirta amrta yang berarti tidak mati atau abadi.

Raka Swari dan Adhi Swara pemilik panggung Ksirarnawa, kembali memainkan lakon pengadukan lautan susu.

Gunung Agung di pakai sebagai pusat adukan. Tak bisa kukenali mana kelompok dewa dan kelompok raksasa, semuanya sama, sama-sama memutar searah jarum jam.

“Hei kalian putar ke kiri, ” teriak Adhi Swara.

“Ya ya harus ada yang mau memutar ke kiri saling bertentangan agar terperas air susunya, baru akan mendapatkan amrta, ” Raka Swara berusaha memberi pengertian.

“Kami harus memutar ke kanan, karena kami orang-orang baik, kami orang-orang suci, ” kata sekelompok orang.

“Kamilah yang memutar ke kanan, kami serupa dewa-dewa bukan raksasa, ” teriak kelompok lain bergemuruh.

Adhi Swara dan Raka Swari saling pandang, lalu keduanya menjadi satu. Membuat goncangan hebat pada Gunung Agung, Hyang Tohlakir.

Orang-orang terkesima, melepas tali-tali yang dipegangnya. Beberapa diantaranya mulai berkonsentrasi, berdoa, mengerahkan segala kekuatannya. Ada yang menjadi besar dan sangat besar, ada yang menjadi tinggi dan sangat tinggi, menjadi manusia bertanduk, ada yang menjadi mahluk bersayap, ada yang tubuhnya menyala, dengan energi petir yang menyambar-nyambar.

“Sebagai wartawan tugasmu mencatat dan memotret”, kurasa suara Raka Swari di hatiku. Dan anehnya, seperangkat kamera dan alat tulis telah ada di tanganku.

Kulihat dengan jelas,kupotret dengan cepat, energi-energi api yang dikeluarkan orang-orang itu. Api-api itu,  kecil, besar, sangat besar, warna merah muda jinga, merang tua Semuanya  membentuk tali-tali halus sangat halus berwarna merah menyala. Tali-tali itu kita terlihat jelas mengikat Gunung Agung.

“Kau lihat tali-tali merah itu kan, perhatikan dan catat, dari foto-foto itu akan kau belajar mengenali warna dan bentuk energi ” bisik Adhi Swara di telingaku

“Sejak dahulu telah terjadi perebutan gelar “pendeta” utama di Gunung Agung. Menjadi pendeta utama di Gunung Agung seolah-olah menjadi orang yang paling suci di Bali, sehingga sering diperebutkan dan diributkan, justru oleh orang-orang yang katanya suci dan membela kesucian, ” jelas Raka Swari.

Ya, aku ingat kasus perpecahan lembaga umat Hindu Parisadha Bali tahun 1998 yang menjadi Parisadha kelompok Besakih dan Parisadha kelompok Campuhan. Aku melihat, mencatat, memotret, kengototan pengurus lama, cekcok, intimidasi dan stategi sekelompok lain yang ingin perubahan.

Raka Swari tersenyum, sambil menunjukkan foto-foto dan catatan lama saat aku sebagai wartawan yang bisa masuk kemana saja.

Kini perebutan itu mulai gencar dilakukan, terutama oleh pendeta-pendeta yang berasal  dari luar keluarga Ida Bagus.

“Kenapa bukan kita yang menjadi pendeta utama di Gunung Agung, ini jaman Republik bukan jaman kerajaan. Kenapa harus dari klain yang mengaku bramana. Kita juga brahmama. Para Ida Bagus  disebut berkasta brahmana oleh Belanda, oleh penjajah yang mau memecah belah bangsa, ” kata salah seorang pimpinan pendeta berapi-api. Para pendeta yang lain mulai berani mengeluarkan uneg-unegnya.

“Kalau masalah kesucian, pengetahuan Weda, pendeta klain lain juga tak kalah hebat, ” tambah pendeta muda yang tampan.

“Ritual itu suci, seharusnya juga tulus, adil, tidak memberatkan  dan mengikuti perkembangan jaman, ” kata pendeta muda yang terlihat agak pendiam.

Para pendeta yang lain menoleh padanya, mengangguk-angguk dan mulai agak riuh.

Pertemuan para pendeta itu sebenarnya juga didengar para pendeta keluarga Ida Bagus dan keluarga mereka. Tapi mereka tak terlalu khawatir, karena mereka sangat yakin dengan anugrah Bhatara Lelangit di Toh Langkir yang memang menugaskan klain mereka sebagai pemegang ajaran kependetaan di Bali. Selain itu mereka juga sudah menyiapkan struktur dan sistem pewarisan ajaran pada generasi penerus dalam sebuah organisasi klain yang solid yang dipimpin seorang walaka yang ahli sastra, dosen, sakti, sekaligus politikus andal.

Yang bergerak aktif dan kreatif menguasai, yang tak bisa dikuasai, ahli telikung, dan pencuri handal pusaka-pusaka suci demi misi suci. Katanya.

Perang antar para pendeta berbeda klain itu terus berlangsung, dalam kehidupan kasat mata dan yang tak kasad mata.

Raka Swari dan Adhi Swara melirikku.

“Tidakkah kau lihat tali-tali yang mengikat Gunung Agung dari arah yang berlawanan itu. Coba perhatikan baik-baik, lihat saja, jangan difotret, tak akan terlihat, hanya bisa kau rasakan di hatimu,” bisik Raka Swari begitu dekat di jantungku.

Seketika jantungku seperti berhenti berdetak.

Adhi Swara seperti masuk ke dalam rongga jantungku, bersatu dengan Raka Swari, lalu perlahan jantungku berdetak kembali, pelan, makin lama makin cepat. Gunung Agung bergetar hebat.

Tubuhku seperti menjadi Gunung Agung yang diputar dengan tali-tali halus merah dan putih, sambil memotret dan mencatat semua yang terjadi.

Pendeta Utama menghadap Dewa Wisnu meminta agar Gunung Agung tidak meletus. Tetapi Dewa Wisnu tidak berkenan dan tetap akan meletuskan Gunung Agung. Terjadi silang pendapat diantara para Dewa, ada yang tidak setuju. Ya, Naga Basuki tidak setuju, ia sedang menikmati penyerahan diri seorang pendeta perempuan penguasa esensi air yang bersedia melayaninya asal Gunung Agung tidak meletus.

“Saya bersedia melayan Tuanku, menjadi pendamping Tuanku, asal Gunung Agung tidak meletus, Tolonglah Tuanku, ini demi Bali, demi Pariwisata Bali. Tolonglah hamba, tolonglah Bali, tolonglah Pariwisata Bali, tolonglah rakyat Bali yang menggantungkan hidupnya dari pariwisata, ” pendeta itu memohon.

Aku kasihan pada Pendeta itu,  yang telah berbohong, yang memuja Naga Basuki atas permintaan gubernur yang tak takut kunjungan pemimpin negara besar asing gagal. Tindakannya didorong oleh banyaknya uang yang diberikan dan rasa kecewa pada kekasihnya ingkar janji,

Dewa Wisnu marah, memutus ikatan tali-tali nafsu Naga Basuki. Naga Basuki berteriak, dan lemas.

Pendeta Perempuan itu juga dihukum, diambil kemampuannya menguasai esensi air. Pendeta muda itu menangis, memohon ampun, tapi Dewa Wisnu tak bergeming. Sebenarnya beliau kasihan pada kesayangannya itu, tapi uang dan rasa kecewa telah menggodanya.

Aku prihatin dengan pendeta perempuan itu. Kemudaan membuatkannya kurang bijak sebagai pendeta, sehingga mudah tergoda iming-iming keduniawian.

Pendeta muda itu sesungguhnya sangat istimewa, mempunyai anugrah penyembuhan cepat dengan media air. Puja puji menjeratnya pada percintaan yang rumit. Mematangkan karmanya.

Upaya pendeta utama, memperalat pendeta perempuan muda gagal.

“Pokoknya Gunung Agung tak boleh meletus, ” begitu kesimpulan rapat para pendeta keluarga Ida Bagus. Kesimpulan itu sesungguhnya berisi banyak pengecualian yang tak boleh ketahui umum.

Hentah dengan strategi apa, atau karena ada kepentingan yang sama agar Gunung Agung tidak meletus. Tiba-tiba para pendeta bersatu, tak ada perbedaan klain lagi.

Semuanya ke langit berdemo. Mereka tidak mau menghadap Dewa Brahma, Dewa Wisnu atau Dewa Siwa. Mereka hanya mau bertemu Sang Hyang Acintya.

Gerbang Sang Hyang Acintya berwarna cahya putih keperakan. Saat gerbang terbuka, cahya putih berkilat memantul ke tubuh para pendeta-pendeta itu. Memperlihatkan gambaran seperti film perbuatan dan dosa-dosa yang mereka telah lakukan.

Para pendeta itu bubar seperti merasa malu pada dirinya sendiri. Hanya ada 10 pendeta yang bercahaya bening, laki-laki dan perempuan, termasuk yang sudah dikatakan meninggal dunia.

Para pendeta itu masih berusaha dengan segala macam cara agar Gunung Agung tidak meletus.

Masing-masing pendeta dan kelompok punya alasan sendiri-sendiri, yang dikatakan ataupun yang dirahasiakan.

Pendeta keluarga Ida Bagus menduga meletusnya Gunung Agung sebagai pertanda berakhirnya era kepemimpinan spiritual klain mereka, juga sebagai bagian dari kutukan kematian dari Dewa Brahma yang telah mereka laksanakan dengan penggelar upacara dan puja di pura-pura yang menjadi petilasan Hyang Lelangit.

Perang tak kasat mata terus terjadi antara orang-orang sakti yang menjadi anak buah para pendeta.

Seorang pendeta kelompok baru yang vokal dan digadang-gadang untuk memimpin kelompok baru dikroyok, berlari, bersembunyi dan berlindung ke Gunung Agung, ia tidak ikut berupaya agar Gunung Agung tidak meletus. Pendeta yang juga dosen itu hanya memasrahkan dirinya pada Hyang Tolangkir

Kelompok pendeta yang lain,    bertujuan meraih kepercayaan penguasa, menjaga Bali dari bencana, menunjukkan eksistensinya. Ada juga melakukannya dengan kepentingan sendiri-sendiri, misalnya agar rumah, keluarga dan artha bendanya selamat.

Pendeta sakti itu, bergerak sendiri, membuat lubang-lubang energi yang mengelilingi kaki gunung menebus ke pusat magna Gunung Agung.

Berhari-hari dia lakukan sendiri demi desanya yang menjadi jalan aliran lahar, demi keluarga, sanak saudara dan artha bendanya. Ia berperang dengan keinginan duniawinya, sampai Hyang Tolangkir menegur dan mengambil kesaktianya.

Ada juga pendeta yang hanya menjadi pengontrol aktivitas Gunung Agung dan para sakti yang mendekatinya untuk dilaporkan kepada kelompoknya.

Kadang mereka berkerja sama dengan alasan sendiri-sendiri untuk membuat Gunung Agung tidak meletus.

Maha Kuasa Tuhan yang mengatur segalanya, Gunung Agung tidak meletus hebat seperti yang ditakutkan. Hentah apa sebabnya, tetapi semua yang terlibat tak lepas dari karmanya, atau memang sudah menjadi bagian dari perjalanan karmanya.

Para pendeta-pendeta muda sakti yang masih labil seringkali dipakai sebagai tameng untuk menyerang pihak lain. Pendeta-pendeta muda itu sangat mudah dimainkan psikologinya oleh pendeta-pendeta senior. Jadilah kependetaannya berguguran.

Perang antara pendeta kelompok lama dan kelompok baru masih saja terjadi menjatuhkan korban, pendeta-pendeta yang tak tahu apa-apa, atau anak istri dan sanak saudara yang diharapkan.

Sebagai pencatat dan pemotret seringkali emosiku terlibat. Merasa sakit yang teramat sakit, luka-luka itu bahkan menembus kulitku. Tapi syukurnya Adhi Swara maupun Raka Swari selalu mengingatkan tugasku sebagai penulis dan juru foto.

“Gunung Agung telah menjalankan fungsinya, memutar lautan susu. Pendeta-pendeta itu orang-orang itu telah melakukan tugasnya, menarik dengan kuat tali-tali pengikat gunung. Tali warna merah energi dari nafsu, keserakahan, keduniawian. Tali yang tak bisa kau lihat, yang hitam adalah energi ketulusan dan kepasrahan, yang hanya bisa kau rasakan. Merah dan hitam bukan baju, bukan nama, bukan gelar, hanya warna, proses menjadi putih dan kuning.”

Lalu, Amerta? [T]

  • BACA cerpen lain di tatkala.co
Dunia Jero Sekarini | Cerpen I Made Ariyana
Maling Pratima | Cerpen I Made Ariyana
Toleransi 2 Hari | Cerpen I Made Ariyana
Made Merta dan Kisahnya Menabung
Rumah Tusuk Sate | Cerpen Putri Santiadi
Cintaku dan Cinta Kawanku | Cerpen Kadek Susila Priangga
Untuk Mamah dan Nenek | Cerpen Alfiansyah Bayu Wardhana
Tumbal Politik | Cerpen I Made Sugianto
Hyang Ibu
Jerit Padi Luka Pesisir | Cerpen Gede Aries Pidrawan
Arus Pelayaran | Cerpen Karisma Nur Fitria
Sejak Itu Samsu Berubah | Cerpen Khairul A. El Maliky

Sumbi Tak Mengandung Anak Tumang | Cerpen Amina Gaylene
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kilian Surya | Balada Buruh Kecil

Next Post

Program Gelis Diksi Toska, Usaha Merawat Pohon Literasi

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
0
Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

Read moreDetails

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails
Next Post
Program Gelis Diksi Toska, Usaha Merawat Pohon Literasi

Program Gelis Diksi Toska, Usaha Merawat Pohon Literasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co