6 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Jaswanto by Jaswanto
November 11, 2024
in Khas
Ada Lelakut di Subak Spirit Festival 2024

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

“SEBENTAR lagi mulai, Bu. Ini masih persiapan,” seorang lelaki paruh baya menjawab pertanyaan perempuan yang usianya tampak lebih muda darinya. Meski demikian, lelaki itu tetap memanggilnya “ibu”. Semacam ada relasi “kasta” di sana. Siapa yang memerintah dan siapa yang diperintah. Lelaki berusia setengah abad yang mengenakan kamen dan udeng itu kini sedang menancapkan bambu dengan panjang semeteran lebih di pinggir pematang sawah berjenjang.

Hari semakin terik. Sebutir-dua butir keringat merembes dari pelipisnya. Ia menyekanya dengan kasar. Merasa bambu yang ditancapkannya sudah sesuai dengan yang ia inginkan, lelaki itu berpindah ke seikat ilalang dan beberapa butir kelapa yang sudah dibentuk sedemikian rupa.

Sementara lelaki itu sibuk melepas ikatan-ikatan padang kering itu dan mulai menyusunnya di kerangka salib—yang belakangan dilengkapi dengan sepasang tangan, kaki, dan kepala—yang ia satukan dengan balok yang ia tancapkan, di sekitarnya orang-orang tak henti-henti memotretnya. Seolah model sebuah produk, beberapa kali ia juga diarahkan—jika bukan disuruh-suruh.

Nengah Darmika Yasa saat menancapkan bambu di pinggir pematang di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Lelaki itu melempar senyum kepada setiap orang yang hendak mengambil gambarnya. Dan kini keringatnya sudah benar-benar membasahi wajahnya yang ramah. Sedangkan tepat di depannya, di seberang sawah tempatnya berdiri, orang-orang datang tak putus-putus. Mereka seperti laron yang obral saat musim hujan. Di sana, selain sekadar bergerombol-ngobrol-dan merokok, beberapa orang memilih duduk sambil menikmati kudapan yang dijajakan di stand-stand kecil beratap ilalang.

Tak lama berselang, sekelompok remaja (laki-perempuan) menghampiri lelaki paruh baya yang sibuk membuat orang jadi-jadian itu. Ia hampir selesai. Tangan dan kaki sudah ia bereskan. Kini tinggal menancapkan kepala di tempat semestinya.

“Bikin apa, Pak?” tanya salah seorang remaja yang mengenakan baju olahraga sekolahnya. Di pinggung bocah-bocah itu terpacak tulisan SMP N 6 Abang, Karangasem.

“Lelakut. Sini bantu bapak. Sekalian kalian belajar membuatnya!” seru lelaki itu.

Jadilah mereka membuat lelakut atau petakut (istilah rakyat Bali yang populer untuk orang-orangan sawah—atau weden dalam bahasa Jawa) bersama. Dan memang begitulah seharusnya. Sebab, ini bukan sekadar pertunjukan, tapi juga lokakarya membuat sosok manusia jadi-jadian yang berfungsi menakut-nakuti burung di masa padi menjelang panen itu.

Nengah Darmika Yasa sedang mengajari siswa-siswi membuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ya, lokakarya tersebut dipandu Nengah Darmika Yasa, lelaki yang berusia setengah abad itu. Pelatihan yang singkat tersebut merupakan bagian dari Subak Spirit Festival 2024 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, dari 9 sampai 10 November 2024.

Nengah Darmika Yasa, atau yang akrab dipanggil Pak Bobong, adalah seorang petani Jatiluwih yang masih membuat dan memanfaatkan lelakut—untuk mengusir burung—di sawah miliknya. Alih-alih membuat ala kadarnya—sekadar kerangka kayu yang dibungkus baju bekas sebagaimana kerap kita temui di sawah-sawah lainnya—Bobong perlu sedikit repot dengan membentuk sebutir kelapa menyerupai wajah manusia, lengkap dengan mata, hidung, dan mulutnya. Bahkan ia enggan membungkus orang-orangan sawahnya dengan baju bekas. Ia memilih menyusun padang ilalang kering sebagai badan lelakut-lelakut-nya.

“Ilalang ini saya beli di pengepul, di Tabanan sana. Katanya si didatangkan dari Lombok,” terang Bobong kepada tatkala.co sesaat setelah mengajari anak-anak sekolah menengah pertama itu meyusun ilalang kering kemudian mengikatnya dengan baik dan benar, Minggu (10/11/2024) siang.

Bobong mengaku, untuk membuat satu lelakut lengkap dengan—meminjam bahasa yang ia gunakan—“tapelnya”, ia tak sampai membutuhkan waktu berhari-hari. “Dua hari saja selesai,” ujarnya, penuh rasa percaya diri. Di sawah miliknya, katanya, lelakut masih cukup efektif dalam bertugas. Mahluk kecil bersayap macam pingai, pipi, gelatik, dan branjangan, atau sejenisnya, tak berani menginjakkan kaki di tangkai-tangkai padi milik Bobong. “Tapi saya memasang lelakut di hari baik. Saya percaya itu,” kata Bobong.

Lelakut buatan Nengah Darmika Yasa di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Di Jatiluwih, yang sawahnya berjenjang (terasering) seperti lukisan Hindia Molek itu, petani tidak pernah menggunakan alat-alat yang aneh-aneh untuk mengusir burung, sebagaimana petani di beberapa daerah di Jawa—mereka juga tidak mengenakan senapan atau meriam-meriam karbit-spirtus yang berbunyi menggelegar.

“Cukup pakai lelakut atau tarikan [tali yang dibentangkan di sawah, yang kadang digantungi kaleng-kaleng bekas]. Kadang juga pakai kepuakan [alat pengusir burung lainnya yang terbuat dari bambu],” terang Bobong.

Apa yang dilakukan petani Jatiluwih dapat kita lihat dari dua sudut pandang. Pertama karena ingin melestarikan alat-alat pertanian tradisional; kedua oleh sebab desa tersebut termasuk tujuan wisata yang populer di Bali. Oh, atau bahkan keduanya memang saling berhubungan. Karena tempat tujuan wisata, maka sawah-sawah di Jatiluwih harus dihias pakai lelakut, sunari, dan haram hukumnya petani membunyikan meriam karbit atau spirtus seperti kebanyakan petani di Jawa.

Tapi tak banyak petani Jatiluwih yang membuat lelakut seperti yang dibikin oleh Bobong. Mereka tak mau ribet. Mereka mau yang praktis-praktis saja, sekadar membuat kerangka kayu kemudian membungkusnya menggunakan baju dan celana bekas. Cukup. Meski tak terlihat estetik dan eksotis. Toh bukan itu tujuan utamanya. Tapi bukankah turis-turis suka yang estetik dan eksotis?

Bobong bersama siswa-siswi dari SMPN 6 Abang dan SMA Hindu Utama Widyalaya Astika Dharma berhasil merampungkan satu lelakut yang tampan—dengan topi pandan yang nangkring di kepala kelapanya. Mereka bersorak dan bertepuk tangan.

Lelakut, Bagian dari Lanskap Budaya

Burung liar selalu menjadi ancaman bagi padi petani. Oleh karena itulah, petani padi di seluruh dunia melahirkan orang-orangan sawah—atau apalah sebutannya—sebagai alat pengusir burung-burung. Mengenai penggunaan boneka sebagai alat pengusir binatang liar, laporan tertulis pertama berasal dari zaman kuno. Sejak 2500 tahun yang lalu, orang-orang Yunani menyembah Priapus, dewa yang dipercaya melindungi ladang gandum dan anggur mereka—pun alat kelamin laki-laki.

Priapus adalah model untuk boneka pertama yang ditempatkan di antara tanaman pangan untuk mengusir hama. Pengusiran burung juga dilakukan di Mesir lebih dari 3000 tahun yang lalu. Boneka yang menyerupai manusia ditempatkan di tepi Sungai Nil untuk melindungi tanaman pangan dari burung. Dokumen-dokumen Jepang sebelum 2500 tahun juga menggambarkan kebiasaan mengusir binatang dengan boneka yang dibuat menyerupai manusia.

Orang-orangan sawah atau lelakut dalam konteks Bali, dulu memiliki tempat di lanskap pedesaan di daerah-daerah di Indonesia dan cukup umum ditemukan di hampir setiap sawah. Tak jarang mereka ditempatkan di kebun belakang rumah, ladang pertanian, dekat jalan, di kebun buah, atau dekat petak sayuran.

Sebagaimana telah disinggung di atas, pekerjaan lelakut adalah untuk menakut-nakuti binatang liar, termasuk babi hutan, rusa, dan unggas. Menurut kronik rakyat, ‘banyak orang-orangan sawah berdiri di ladang. Masing-masing lebih pintar dari yang lain. Terkadang, sulit untuk mengatakan, apakah itu petani yang sedang meluruskan kakinya atau orang-orangan sawah yang berjaga di posnya’.

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Ya, bentuk tubuh lelakut harus menyerupai petani. Maka, orang-orangan sawah itu dibuat dari dua batang kayu yang disilangkan. Pada masa kejayaannya, batang-batang kayu itu ditutupi dengan jerami atau ilalang kering lengkap dengan aksesorisnya—bisa caping, topi, atau semacamnya—yang membuatnya menyerupai petani. Bobong melakukan itu.

Dalam khazanah Bali, lelakut menggabungkan dua realitas yang saling bertentangan. Di satu sisi, orang-orangan sawah itu bisa terlihat kumuh, berbahaya, atau bahkan menakutkan di malam hari. Di sisi lain, sosok orang jadi-jadian itu terkadang terlihat baik hati, yang membawa konotasi positif berupa “roh yang baik”, pelindung, dan pembantu. Oleh karena itu, orang-orangan sawah bisa terlihat jahat dan baik hati. Tapi, terlepas dari anggapan tersebut, lelakut sepertinya adalah lambang budaya pertanian rakyat dan harapan petani untuk hasil panen yang baik.

Namun, meski demikian, lelakut juga sering kali memberi kesan dilupakan, ditinggalkan, dan dibiarkan sendiri. Pun alam tidak memiliki belas kasihan untuknya. Sebagian besar lelakut itu memudar karena sinar matahari, terbakar matahari, dan hampir runtuh. Dan kini, barangkali makna budaya dari orang-orangan sawah telah hilang, dilupakan, seiring terus berkurangnya jumlah petani dan lahan pertanian karena alihfungsi lahan.

Nengah Darmika Yasa sedang mmembuat lelakut di Subak Spirit Festival 2024 | Foto: tatkala.co/Jaswanto

Dulu, lelakut dibuat dengan hati-hati—sekali lagi, seperti yang dilakukan Bobong di Jatiluwih—untuk mewakili petani dan membuat mereka bangga atas tugasnya. Orang-orangan sawah memang mulia. Mereka “bernasib baik”—”tuan tanah” yang sebenarnya. Tapi saat ini, di tengah zaman yang bergerak lebih cepat dari kepak pipit terbang, lelakut pelan-pelan dilupakan. Hampir tidak ada orang yang mau repot-repot membuatnya dengan hati-hati dan penuh perhatian.

Mungkin aliran waktu telah merusak reputasi orang-orangan sawah. Hama padi tak hanya burung-burung. Dan burung-burung tampaknya tak lagi takut dengan lelakut. Mungkinkah karena ia kini tidak lagi terlihat seperti petani sebenarnya? Tapi siapa yang akan menghormati—atau bahkan takut—“kain tua di atas tongkat”?

Kini, orang-orangan sawah itu sendiri hanyalah gombal lusuh yang dibuat dengan lebih atau kurang hati-hati, sekadarnya, penuh kecerobohan. Oleh karena itu, bagi sebagian orang, lelakut adalah “kain lap pada tongkat”, sementara bagi yang lain, “karakter misterius yang mistis”.

Tapi perkembangan teknologi dan pertumbuhan budaya digital telah menghilangkan sifat mistis, menyeramkan, dan orang-orangan sawah (lelakut) sebagian besar atau bahkan seluruhnya, dalam budaya populer, menjelma hiasan di festival-festival yang berkaitan dengan sawah, pertanian, atau hanya sekadar ingatan masa lalu yang lamat-lamat terdengar—meskipun lelakut sebagai bagian dari lanskap budaya Bali.[T]

Reporter/Penulis: Jaswanto
Editor: Made Adnyana

Subak Spirit Festival 2024: Merayakan Subak, Menjaga Entitas dan Identitas Masyarakat Bali
Subak Spirit Festival 2024, Pesta Rakyat, dan Usaha Pemuliaan Air
Tags: baliJatiuwihKementerian KebudayaanlelakutSubak Spirit Festival
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Garis-garis Puitika Karya-karya Made Kaek

Next Post

Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails
Next Post
Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Pertukaran Budaya Indonesia-Korea: Menyatukan Cita Rasa dan Tradisi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Monyet Cerdik dan Babi Hutan | Dongeng dari Jepang

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi
Ulas Film

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

by Made Adnyana
May 6, 2026
Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika
Bahasa

Bukan Hanya Salah Kaprah, “Sepakat 1.000%” Juga Cacat Logika

PERNAHKAH Anda mendengar orang mengatakansepakat seribu persen? Saya sendiri kerap mendengar pejabat, figur publik, atau teman sendiri berteriak sepakat seribu...

by I Made Sudiana
May 5, 2026
Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri
Esai

Menjual Sepi: Ketika ‘Healing’ di Bali Berubah Menjadi Industri

- Sebuah Refleksi tentang Komodifikasi Kesunyian dan Pergeseran Makna Ruang Sakral BALI kini tengah menjual sesuatu yang paling mahal di...

by Nur Kamilia
May 5, 2026
Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur
Budaya

Desa Adat Batur Bangun ‘Cihna’ di Titik Nol Batur Let —Songsong Seratus Tahun Rarud Batur

DESA Adat Batur melaksanakan upacara ngruwak sebagai langkah awal pembangunan Cihna (tanda) Titik Nol Batur Let (pusat permukiman Desa Adat...

by Nyoman Budarsana
May 4, 2026
Aoroville: Kota Eksperimental
Esai

Aoroville: Kota Eksperimental

Pertemuan yang Mengubah Arah: Mirra Alfassa dan Sri Aurobindo Ada pertemuan-pertemuan dalam sejarah yang tidak sekadar mempertemukan dua individu, tetapi...

by Agung Sudarsa
May 4, 2026
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh
Persona

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas
Panggung

Lomba Tapel Ogoh-ogoh di UPMI Bali: Menumbuhkan Kreativitas Tanpa Batas

“Ogoh-ogoh itu bukan lagi kesenian musiman. Tetapi kesenian yang dikerjakan sepanjang masa.” Kalimat pembuka itu meluncur dari Dr. I Made...

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant
Gaya

Antara Proses dan Hasil: Cara Pemain Menentukan Nilai Akun di Valorant

TIDAK semua pemain menikmati perjalanan yang sama dalam game. Ada yang menghargai setiap tahap perkembangan, ada juga yang lebih fokus...

by tatkala
May 4, 2026
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan
Ulas Rupa

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

by Made Chandra
May 4, 2026
Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial
Esai

Hidup Ini Sederhana, yang Rumit Hanya Tafsir di Media Sosial

SAYA perlu memulai tulisan ini dengan satu catatan kecil. Saya meminjam sebuah gagasan dari Pramoedya Ananta Toer, bukan sebagai hiasan...

by Angga Wijaya
May 4, 2026
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari
Cerpen

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

by Kadek Windari
May 4, 2026
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo
Puisi

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

by Kim Young Soo
May 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co