2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 10, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PADA 10 November 1945, peristiwa bersejarah di Surabaya tercatat sebagai momentum penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, ditandai dengan pengorbanan dan keberanian luar biasa dari rakyat Surabaya yang bersatu melawan penjajah. Di tengah gempuran pasukan Belanda yang dipersenjatai secara lengkap, tampil seorang tokoh revolusioner, Bung Tomo, sebagai pemimpin karismatik yang menyatu dengan rakyatnya.

Kepemimpinan Bung Tomo tidak hanya terlihat dari pidatonya yang membangkitkan semangat, tetapi dari keberaniannya turun langsung ke garis depan, berdiri sejajar dengan rakyat, serta merasakan kerasnya medan tempur demi mempertahankan martabat bangsa. Ia bukan sekadar orator ulung, ia adalah simbol keberanian, pemimpin yang tidak hanya piawai menyampaikan kata-kata, melainkan menghadirkan makna mendalam dalam tindakan.

Bung Tomo menginspirasi setiap individu untuk berjuang tanpa takut, mengedepankan kepemimpinan berbasis keberanian dan pengorbanan. Di bawah komando beliau, rakyat Surabaya tidak hanya mendengarkan pidato yang penuh semangat namun mereka merasakannya dalam tiap langkah dan tetesan darah di medan pertempuran.

Kepemimpinan Bung Tomo menampilkan esensi sejati kepemimpinan yaitu bertindak dengan ketulusan, bukan sekadar berbicara dalam konsep. Di sana, ia berada di garis depan bersama rakyat, melawan penjajah, membuktikan bahwa pemimpin sejati lahir dari keberanian yang tak tergoyahkan. Semangat kepemimpinan seperti ini terasa makin jarang terlihat di era kita sekarang.

Banyak pemimpin saat ini terjebak dalam kepentingan politik kekuasaan yang semu. Alih-alih menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama, sebagian besar pemimpin justru lebih fokus untuk mempertahankan kedudukan mereka. Sibuk memperpanjang masa jabatan dan membangun citra diri, sementara permasalahan nyata seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan cenderung terabaikan.

Media sosial yang sejatinya bisa menjadi wadah komunikasi langsung antara pemimpin dan rakyat kini beralih fungsi menjadi alat manipulasi. Banyak pemimpin memanfaatkannya untuk membangun “brand” diri yang tampak sempurna, menyebarkan narasi yang mendistorsi kenyataan demi dukungan publik. Hoaks dan propaganda menjadi senjata digital dalam politik modern, mengalihkan perhatian rakyat dari masalah yang mendasar.

 Di dunia maya, popularitas palsu diraih dengan “likes” dan “followers,” bukan dengan prestasi nyata. Tindakan seperti ini merupakan pengkhianatan terhadap semangat Bung Tomo dan rakyat yang mendambakan kepemimpinan berani, jujur, dan tulus. Di era saat ini, kita sangat membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh mengabdi kepada rakyat, bukan sekadar memperjuangkan kepentingan pribadinya.

Membangkitkan  Semangat Juang Kepemimpinan Era Sekarang

Sudah saatnya kita membuka mata dan melihat dengan jernih, tidak lagi terbuai oleh pencitraan semu yang diciptakan oleh sebagian pemimpin melalui layar kaca dan media sosial. Kita hidup dalam era di mana citra di media sosial dapat dengan mudah mengalihkkan kenyataan, menciptakan ilusi tentang kepemimpinan yang hanya berlandaskan janji kosong dan retorika tanpa makna. Di balik senyum manis dan pidato penuh harapan, kenyataan pahit justru malah melanda rakyat yang semakin dibebani oleh ketimpangan sosial, kemiskinan, dan keadilan yang terasa semakin jauh panggang dari api.

Seorang pemimpin yang sejati bukanlah mereka yang hanya mampu berbicara namun tanpa bertindak, atau yang duduk nyaman di kursi kekuasaan sambil menatap angka di layar komputer. Pemimpin sejati adalah mereka yang berani menyatu dengan rakyat, yang tidak gentar menghadapi realitas di lapangan dan siap terjun langsung melihat kesulitan rakyat.

Bung Tomo adalah teladan semangat ini. Dia tidak hanya berkobar di atas podium, namun berdiri di garis depan bersama rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Kita seharusnya bertanya, di manakah pemimpin seperti itu sekarang?  Mengapa kita masih dipimpin oleh mereka yang lebih sibuk membangun citra daripada memperjuangkan kesejahteraan rakyat?

Ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik yang semakin melebar tak bisa dibiarkan berlanjut. Rakyat semakin terpinggirkan, pendidikan maupun layanan kesehatan semakin tak terjangkau. Namun, sebagian pemimpin lebih memilih sibuk berpolitik identitas, menciptakan perpecahan yang semakin memperburuk keadaan, dan memberikan peluang bagi segelintir elit untuk menguasai ekonomi bangsa ini.

Sudah saatnya kita menuntut pemimpin yang berani bertindak berdasarkan hati nurani, yang siap mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya. Pemimpin seperti Bung Tomo, pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak yang harus dipertahankan demi ambisi pribadi. Hanya dengan sosok yang rela berkorban dan turun langsung mendampingi rakyat, kita bisa mewujudkan bangsa yang adil dan sejahtera.

Menegaskan  Bung Tomo Figur Pemimpin Sejati

Saat ini, mari kita merenung sejenak, apakah semangat perjuangan Bung Tomo masih hidup di antara kita? Apakah kita memiliki pemimpin yang benar-benar siap berjuang bersama rakyat, yang turun langsung ke lapangan, rela berkorban, dan merasakan penderitaan rakyat seperti Bung Tomo? Atau, apakah kita terjebak dalam permainan kekuasaan yang hanya memberi keuntungan bagi segelintir elit?

Peringatan 10 November bukan hanya untuk mengenang sejarah. Sesungguhnya ini adalah momen untuk menyadarkan kita bahwa perjuangan Bung Tomo tak berhenti di tahun 1945. Semangat juangnya harus tetap membara dan tetap kita pelihara. Kita harus menjadikan semangat ini bagian dari setiap langkah dan keputusan kita, termasuk dalam memilih pemimpin.

Jangan biarkan sejarah hanya menjadi narasi masa lalu. Peringatan ini harus menjadi titik tolak bagi kita untuk menuntut kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.  Kepemimpinan yang bukan sekadar wacana, tetapi yang berani mengambil langkah nyata menuju perubahan. Kepemimpinan yang tidak hanya berbicara soal visi besar, tetapi yang gigih berjuang demi kesejahteraan, keadilan, dan kemerdekaan seluruh rakyat. Semangat Bung Tomo adalah energi yang harus terus menggelora, menuntun kita untuk menuntut hadirnya pemimpin sejati, yaitu pemimpin yang berjuang untuk rakyat, bukan untuk ambisi pribadi atau kelompok.

Sebagai rakyat, kita bukan sekadar penonton dalam panggung politik. Kita harus aktif,  harus mengawasi, mengkritisi, dan menuntut pemimpin yang berani bertindak demi kepentingan bersama, bukan demi mempertahankan status quo yang hanya menguntungkan segelintir pihak.  Saatnya kita berani bertanya, berani menuntut, dan berani berdiri untuk apa yang benar, tanpa terpengaruh arus manipulasi di media sosial.

Sebagai warga negara, kita harus menuntut pemimpin yang siap melakukan perubahan nyata. Pemimpin yang tak sekadar pandai berbicara di depan kamera, tetapi yang berani mengambil langkah konkret demi perbaikan nasib rakyat. Pemimpin yang tahu bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak yang harus dipertahankan dengan segala cara.

 Jika kita mendambakan Indonesia yang lebih baik, jika kita menginginkan kemerdekaan yang sejati, maka kita harus memilih pemimpin yang siap mengorbankan segalanya demi rakyat. Seperti Bung Tomo, pemimpin sejati adalah yang tak gentar berjuang bersama rakyat, yang tak takut melawan ketidakadilan, yang paham bahwa kemerdekaan kita belum sepenuhnya terwujud.

Peringatan 10 November harus menjadi momentum bagi kita untuk merenungkan dan bertanya, apakah pemimpin kita benar-benar mengabdi pada rakyat atau hanya memperjuangkan kekuasaan semata? Jangan biarkan kita terus terjebak dalam permainan manipulasi politik yang hanya menguntungkan segelintir  elit, sementara rakyat semakin terpinggirkan. Selamat Hari Pahlawan. Merdeka!! [T]

Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?
Pahlawan Hari ini: Menjadi Relawan untuk Kedaulatan Bangsa
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: Bung TomoHari Pahlawanpahlawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Spektrum of Hope”, Harapan akan Munculnya Kolaborasi Lintas Institusi

Next Post

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co