24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati by Petrus Imam Prawoto Jati
November 10, 2024
in Esai
Refleksi Semangat Juang Bung Tomo dan Kepemimpinan Masa Kini

Petrus Imam Prawoto Jati

PADA 10 November 1945, peristiwa bersejarah di Surabaya tercatat sebagai momentum penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, ditandai dengan pengorbanan dan keberanian luar biasa dari rakyat Surabaya yang bersatu melawan penjajah. Di tengah gempuran pasukan Belanda yang dipersenjatai secara lengkap, tampil seorang tokoh revolusioner, Bung Tomo, sebagai pemimpin karismatik yang menyatu dengan rakyatnya.

Kepemimpinan Bung Tomo tidak hanya terlihat dari pidatonya yang membangkitkan semangat, tetapi dari keberaniannya turun langsung ke garis depan, berdiri sejajar dengan rakyat, serta merasakan kerasnya medan tempur demi mempertahankan martabat bangsa. Ia bukan sekadar orator ulung, ia adalah simbol keberanian, pemimpin yang tidak hanya piawai menyampaikan kata-kata, melainkan menghadirkan makna mendalam dalam tindakan.

Bung Tomo menginspirasi setiap individu untuk berjuang tanpa takut, mengedepankan kepemimpinan berbasis keberanian dan pengorbanan. Di bawah komando beliau, rakyat Surabaya tidak hanya mendengarkan pidato yang penuh semangat namun mereka merasakannya dalam tiap langkah dan tetesan darah di medan pertempuran.

Kepemimpinan Bung Tomo menampilkan esensi sejati kepemimpinan yaitu bertindak dengan ketulusan, bukan sekadar berbicara dalam konsep. Di sana, ia berada di garis depan bersama rakyat, melawan penjajah, membuktikan bahwa pemimpin sejati lahir dari keberanian yang tak tergoyahkan. Semangat kepemimpinan seperti ini terasa makin jarang terlihat di era kita sekarang.

Banyak pemimpin saat ini terjebak dalam kepentingan politik kekuasaan yang semu. Alih-alih menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai tujuan utama, sebagian besar pemimpin justru lebih fokus untuk mempertahankan kedudukan mereka. Sibuk memperpanjang masa jabatan dan membangun citra diri, sementara permasalahan nyata seperti kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan cenderung terabaikan.

Media sosial yang sejatinya bisa menjadi wadah komunikasi langsung antara pemimpin dan rakyat kini beralih fungsi menjadi alat manipulasi. Banyak pemimpin memanfaatkannya untuk membangun “brand” diri yang tampak sempurna, menyebarkan narasi yang mendistorsi kenyataan demi dukungan publik. Hoaks dan propaganda menjadi senjata digital dalam politik modern, mengalihkan perhatian rakyat dari masalah yang mendasar.

 Di dunia maya, popularitas palsu diraih dengan “likes” dan “followers,” bukan dengan prestasi nyata. Tindakan seperti ini merupakan pengkhianatan terhadap semangat Bung Tomo dan rakyat yang mendambakan kepemimpinan berani, jujur, dan tulus. Di era saat ini, kita sangat membutuhkan pemimpin yang sungguh-sungguh mengabdi kepada rakyat, bukan sekadar memperjuangkan kepentingan pribadinya.

Membangkitkan  Semangat Juang Kepemimpinan Era Sekarang

Sudah saatnya kita membuka mata dan melihat dengan jernih, tidak lagi terbuai oleh pencitraan semu yang diciptakan oleh sebagian pemimpin melalui layar kaca dan media sosial. Kita hidup dalam era di mana citra di media sosial dapat dengan mudah mengalihkkan kenyataan, menciptakan ilusi tentang kepemimpinan yang hanya berlandaskan janji kosong dan retorika tanpa makna. Di balik senyum manis dan pidato penuh harapan, kenyataan pahit justru malah melanda rakyat yang semakin dibebani oleh ketimpangan sosial, kemiskinan, dan keadilan yang terasa semakin jauh panggang dari api.

Seorang pemimpin yang sejati bukanlah mereka yang hanya mampu berbicara namun tanpa bertindak, atau yang duduk nyaman di kursi kekuasaan sambil menatap angka di layar komputer. Pemimpin sejati adalah mereka yang berani menyatu dengan rakyat, yang tidak gentar menghadapi realitas di lapangan dan siap terjun langsung melihat kesulitan rakyat.

Bung Tomo adalah teladan semangat ini. Dia tidak hanya berkobar di atas podium, namun berdiri di garis depan bersama rakyat untuk memperjuangkan kemerdekaan bangsa. Kita seharusnya bertanya, di manakah pemimpin seperti itu sekarang?  Mengapa kita masih dipimpin oleh mereka yang lebih sibuk membangun citra daripada memperjuangkan kesejahteraan rakyat?

Ketimpangan sosial, ekonomi, dan politik yang semakin melebar tak bisa dibiarkan berlanjut. Rakyat semakin terpinggirkan, pendidikan maupun layanan kesehatan semakin tak terjangkau. Namun, sebagian pemimpin lebih memilih sibuk berpolitik identitas, menciptakan perpecahan yang semakin memperburuk keadaan, dan memberikan peluang bagi segelintir elit untuk menguasai ekonomi bangsa ini.

Sudah saatnya kita menuntut pemimpin yang berani bertindak berdasarkan hati nurani, yang siap mengutamakan kepentingan rakyat di atas segalanya. Pemimpin seperti Bung Tomo, pemimpin yang memahami bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak yang harus dipertahankan demi ambisi pribadi. Hanya dengan sosok yang rela berkorban dan turun langsung mendampingi rakyat, kita bisa mewujudkan bangsa yang adil dan sejahtera.

Menegaskan  Bung Tomo Figur Pemimpin Sejati

Saat ini, mari kita merenung sejenak, apakah semangat perjuangan Bung Tomo masih hidup di antara kita? Apakah kita memiliki pemimpin yang benar-benar siap berjuang bersama rakyat, yang turun langsung ke lapangan, rela berkorban, dan merasakan penderitaan rakyat seperti Bung Tomo? Atau, apakah kita terjebak dalam permainan kekuasaan yang hanya memberi keuntungan bagi segelintir elit?

Peringatan 10 November bukan hanya untuk mengenang sejarah. Sesungguhnya ini adalah momen untuk menyadarkan kita bahwa perjuangan Bung Tomo tak berhenti di tahun 1945. Semangat juangnya harus tetap membara dan tetap kita pelihara. Kita harus menjadikan semangat ini bagian dari setiap langkah dan keputusan kita, termasuk dalam memilih pemimpin.

Jangan biarkan sejarah hanya menjadi narasi masa lalu. Peringatan ini harus menjadi titik tolak bagi kita untuk menuntut kepemimpinan yang berpihak kepada rakyat.  Kepemimpinan yang bukan sekadar wacana, tetapi yang berani mengambil langkah nyata menuju perubahan. Kepemimpinan yang tidak hanya berbicara soal visi besar, tetapi yang gigih berjuang demi kesejahteraan, keadilan, dan kemerdekaan seluruh rakyat. Semangat Bung Tomo adalah energi yang harus terus menggelora, menuntun kita untuk menuntut hadirnya pemimpin sejati, yaitu pemimpin yang berjuang untuk rakyat, bukan untuk ambisi pribadi atau kelompok.

Sebagai rakyat, kita bukan sekadar penonton dalam panggung politik. Kita harus aktif,  harus mengawasi, mengkritisi, dan menuntut pemimpin yang berani bertindak demi kepentingan bersama, bukan demi mempertahankan status quo yang hanya menguntungkan segelintir pihak.  Saatnya kita berani bertanya, berani menuntut, dan berani berdiri untuk apa yang benar, tanpa terpengaruh arus manipulasi di media sosial.

Sebagai warga negara, kita harus menuntut pemimpin yang siap melakukan perubahan nyata. Pemimpin yang tak sekadar pandai berbicara di depan kamera, tetapi yang berani mengambil langkah konkret demi perbaikan nasib rakyat. Pemimpin yang tahu bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan hak yang harus dipertahankan dengan segala cara.

 Jika kita mendambakan Indonesia yang lebih baik, jika kita menginginkan kemerdekaan yang sejati, maka kita harus memilih pemimpin yang siap mengorbankan segalanya demi rakyat. Seperti Bung Tomo, pemimpin sejati adalah yang tak gentar berjuang bersama rakyat, yang tak takut melawan ketidakadilan, yang paham bahwa kemerdekaan kita belum sepenuhnya terwujud.

Peringatan 10 November harus menjadi momentum bagi kita untuk merenungkan dan bertanya, apakah pemimpin kita benar-benar mengabdi pada rakyat atau hanya memperjuangkan kekuasaan semata? Jangan biarkan kita terus terjebak dalam permainan manipulasi politik yang hanya menguntungkan segelintir  elit, sementara rakyat semakin terpinggirkan. Selamat Hari Pahlawan. Merdeka!! [T]

Sudut Pandang Pahlawan: Adakah Hal yang Tidak Biasa?
Pahlawan Hari ini: Menjadi Relawan untuk Kedaulatan Bangsa
Transformasi Radio: Menolak Mati dalam Gelombang Digitalisasi
Tags: Bung TomoHari Pahlawanpahlawan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

 “Spektrum of Hope”, Harapan akan Munculnya Kolaborasi Lintas Institusi

Next Post

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Petrus Imam Prawoto Jati

Petrus Imam Prawoto Jati

Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Belajar Vokasi ke Universitas Indonesia : Mewujudkan Cita-Cita Pahlawan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co