24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus by Didin Tulus
October 30, 2024
in Tualang
Menaklukkan Bali: Memoar Perjalanan Tanpa Peta

Didin Tulus

JAM menunjukkan pukul 05.45 Waktu Indonesia bagian Tengah ketika saya tiba di terminal Ubung, Denpasarm Bali. Rasanya seperti mimpi, akhirnya saya menginjakkan kaki di pulau ini.

Ini untuk pertama kali saya ke Bali. Saya senang bukan main. Saya merasa sudah sampai pada tujuan.  

Namun ternyata perjalanan baru saja dimulai. Dengan jantung berdebar, saya segera mengirim pesan singkat ke Kang Sigit, kenalan sekaligus mentor yang tahu seluk-beluk Bali.

“Kang, saya sudah sampai Denpasar!” tulis saya dengan antusiasme yang nyaris tak tertahan.

Tak butuh waktu lama, telepon dari Kang Sigit berdering, suaranya terdengar penuh tanya, “Kamu di mana? Mau ke mana? Sama siapa?”

Pertanyaan bertubi-tubi itu hanya bisa saya jawab singkat, “Sendirian, Kang.” Lalu telepon terputus.

Kang Sigit adalah panggilan saya untuk Sigit Susanto. Ia penulis buku yang memang sudah terbiasa berada di Bali. Ia tinggal di wilayah Batubulan, Gianyar.

Beberapa detik kemudian telepon berdering lagi. “Kamu beneran di Denpasar? Mau ke mana?” lanjutnya, masih terkesan ragu.

Saya memberanikan diri menjawab, “Ke Buleleng, Kang. Ada acara bedah buku di sana!” Namun jawaban Kang Sigit seketika membuat saya bingung, “Din, Buleleng itu jauh, Din!”

Saya terhenyak sekilas. Saya pikir jarak Buleleng tidak begitu jauh dari Denpasar.

Saya menghela napas dalam-dalam, berpikir, “Wah, ini sudah terlanjur nekat!”

Kang Sigit pun cepat-cepat memberi instruksi, “Kamu turun saja dulu. Nanti saya jemput. Jangan ke mana-mana!”

Sebetulnya saat itu saya sudah berada di dalam mobil Elf yang baru saja berjalan sekitar 20 menit. Saya sudah bayar ongkos Rp 20.000, tetapi demi memastikan ada yang menjemput, akhirnya saya turun dan merelakan ongkos yang tak kembali.

Dengan langkah pasrah, saya duduk di atas rumput di pinggir jalan, menyaksikan hiruk-pikuk Denpasar yang tak jauh beda dengan keramaian Bandung, tempat saya tinggal.

Bali memang jauh dari rumah, tapi kedatangan saya ke sini bukan sekadar mimpi atau dongeng. Rasanya, saya benar-benar ingin hadir di acara bedah buku di Buleleng itu dan membuktikan bahwa saya bisa menaklukkan Bali, meski tanpa arah yang pasti.

***

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya jemputan tiba. Bukan Kang Sigit langsung yang datang, tetapi seorang teman yang diutusnya, membawa motor. Saya akhirnya dibawa ke rumah Kang Sigit di Batubulan.

Begitu bertemu, ia hanya tertawa terbahak-bahak mendengar cerita perjalanan saya. “Saya kira kamu bercanda, Din, ternyata beneran datang ke Bali,” katanya sambil tertawa puas.

Berfoto di depan Pura Tanah Lot di Bali | Foto: Dok. Didin

Beberapa minggu kemudian, setelah saya kembali ke Bandung, pesan dari Kang Sigit mampir lagi di ponsel saya. “Hai Didin, Sang Penakluk Bali, apa kabar?”

Hah, disebut “penakluk Bali” memang terdengar lucu, namun dalam hati saya merasa sedikit bangga. Perjalanan penuh nekat itu ternyata punya kisah yang bakal selalu saya kenang.

***

Sore itu, dari rumah Kang Sigit saya diajak jalan-jalan ke wilayah Batubulan dan sekitarnya. Kami sempat mampir ke warung sirup yang menyegarkan di tengah cuaca panas. Rasa manis sirup itu memang mengobati haus, namun perjalanan tak berhenti sampai di situ.

Kami melanjutkan perjalanan melewati sawah-sawah yang hijau, namun suasana mendadak mencekam saat gerombolan anjing liar mulai menggonggong keras di sekitar kami.

Saya merasa jantung ini hampir saja loncat keluar saking takutnya, apalagi ketika beberapa anjing semakin mendekat. “Tenang saja, nggak apa-apa,” kata Kang Sigit berusaha menenangkan.

Namun hati saya tetap berdebar kencang, walaupun akhirnya gerombolan anjing itu hanya menggonggong dan tak menyerang.

Di rumah Kang Sigit, ketakutan belum juga reda. Di halaman, dua anjing besar menyambut dengan gonggongan keras. Saya refleks berlari ke dalam rumah, nyaris menabrak seseorang yang kebetulan sedang lewat di lorong. Sesampainya di lantai atas, akhirnya anjing-anjing itu berhenti menggonggong, dan saya duduk berusaha menenangkan diri sambil mengusap keringat dingin.

Pengalaman itu sungguh menegangkan, namun kini terasa lucu saat diingat kembali.

Saya akhirnya bisa beristirahat dengan nyaman di rumah Kang Sigit, mengobrol santai sambil menyeruput kopi hangat. Kami berbincang tentang berbagai hal, termasuk kejadian-kejadian kocak dalam perjalanan.

Saya menceritakan kisah tentang tas yang tertinggal di bis Damri ketika pertama kali sampai di Bali. Kang Sigit tertawa lepas mendengar cerita itu.

Keesokan paginya, seorang tokoh yang cukup saya kagumi, Puthut Ea, datang. Kang Puthut dikenal sebagai Kepala Suku Mojok di Yogyakarta. Ia seorang penulis dan editor yang telah menghasilkan banyak buku.

Ia mengajak kami melakukan yoga pagi di halaman. Melihat Kang Puthut, saya merasakan semangat baru dalam diri untuk terus menulis dan menyelami dunia literasi.

***

Perjalanan ini, meski penuh tantangan dan rasa takut, membentuk cerita tak terlupakan. Dari tersasar di terminal hingga ketakutan dikejar anjing, semuanya terbungkus dalam pengalaman manis yang kini saya kenang sebagai bagian dari perjalanan hidup.

“Sang Penakluk Bali” memang julukan yang lucu, tetapi dalam hati saya merasa puas—bukan karena berhasil sampai di tujuan, melainkan karena berani mengambil langkah pertama untuk menaklukkan diri sendiri.

Foto kenangan di Bali bersama Kang Sigit | Foto: Dok. Didin

Bali tak lagi sekadar dongeng atau mimpi bagi saya. Bali telah menjadi nyata, bersama semua cerita yang saya bawa kembali ke Bandung.

***

Oh, ya. Perjalanan itu saa lakukan tahun 2008. Saat itu saya menghadiri acara bedah buku tentang sastrawan besar AA Pandji Tisna di tempat kelahiran sang sastrawan di Puri Buleleng.

Saya ke Buleleng bersama Puthut EA dan sungguh terkesan dengan Buleleng, sebuah wilayah di sisi utara pulau Bali.

Kali kedua saya ke Buleleng naik bus, saya sudah tahu bahwa tak harus turun di Denpasar untuk menuju Buleleng. Setelah menyeberang di Pelabuhan Gilimanuk, saya turun di sebuah pertigaan. Dari situ saya dibawa mobil travel, belok kiri, langsung menuju kota Singaraja di Buleleng, tanpa harus melihat Denpasar terlebih dahulu. [T]

Surga Tersembunyi Bagi Pemancing Itu Bernama Pulau Tempurung
Desa Tajun Buka Destinasi Wisata Buah | Ayo, Berpesta Durian di Bawah Pohonnya…
5 Destinasi Asyik untuk Nongkrong dan Pacaran Anak Muda Singaraja Bali
Merasakan Sensasi Berbeda di Hanoi Train Street Vietnam
Trekking di Cat Cat Village, Vietnam, Sambil Merenungkan Bali
Menonton Thang Long Water Puppet Theatre di Kota Hanoi
Di Hanoi, Vietnam, yang Tradisional yang Menjadi Andalan
Harapan Pariwisata Indonesia di Tangan Prabowo-Gibran
Tags: balibulelengpariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Wisata Halal, untuk Siapa?

Next Post

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Didin Tulus

Didin Tulus

Pembaca karya Ajip Rosidi. Koleksi karya Ajip sudah 150 judul belum termasuk tulisan pengantar buku yang ditulis oleh Ajip. Penulis juga aktif mengelola perpustakaan Rumah Baca Ajip Rosidi.

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Menyaksikan Wujud Neoliberalisme Ekonomi melalui Perkembangan Arsitektur di Bali: Sebuah Autokritik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co