12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Lagu “Change of Heart” Astera ft. Riri The Dare: Lebih Better dari sebelumnya, tapi…

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
July 31, 2024
in Ulas Musik
Lagu “Change of Heart” Astera ft. Riri The Dare: Lebih Better dari sebelumnya, tapi…

Astera dan Riri The Dare | Foto: Dok. Astera

ASTERA, band indie pop yang baru saja merilis single kolaborasinya bersama Riri dari The Dare. Band yang terbentuk pada tahun 2018 ini sebelumnya sudah pernah merilis sebuah album berjudul “Better Days”. Dalam nomor Change of Heart pada album Better Days adalah salah satu lagu yang mereka sebut sebagai “lagu kunci” milik Astera.

Sebelum projek bersama dengan Riri The Dare, mereka sudah berkolaborasi untuk mengeksplorasi lagu-lagu milik mereka. Pada kolaborasi sebelumnya mereka mengajak Soulfood unit R&B asal Bali untuk menginterpretasi bersama lagu mereka berjudul “Higher”—masih pada album Better Days.

Band yang banyak dipengaruhi grup musik seperti Hippo Campus, Two Door Cinema Club, atau band pop semacam The 1975 dan LANY ini, memiliki nuansa dan karakteristik musikal yang ceria dan penuh warna.

Dengan nuansa musik yang catchy membuat siapa pun yang mendengar dan menyaksikannya secara langsung dapat secara spontan untuk ikut menari. Tidak terkecuali juga karena liriknya yang mudah dimengerti dan banyak menyampaikan pesan kebaikan.

Mendengarkan tiap lagu Astera kita harus siap menerima melodi dan nuansa manis yang terus bisa kita nikmati dari awal hingga akhir. Pernah suatu waktu, ketika saya menyaksikan Astera pertama kali dengan pakaian serba hitam—tentu dengan artwork ala band-band metal, saya merasa salah kostum untuk menyaksikan band ini. Ingin rasanya pulang untuk mengganti pakaian yang penuh warna, lalu kembali menyaksikan mereka dengan euforia yang lebih ceria.

Change of Heart sendiri ditulis langsung oleh personil Astera, Raden Bagus dan Rio—yang sekaligus vokalis dalam band ini. Lagu ini menceritakan tentang perubahan hati seseorang ketika mengalami fase terburuknya dalam menjalani kehidupan.

Dalam fase tersebut, Rio percaya bahwa selalu ada seseorang yang memberikan semangat, motivasi, dan mendorong seseorang agar segera keluar dari zona terburuknya. Lagu ini dianggap sebagai sebuah ucapan terima kasih untuk orang yang sudah selalu ada dalam fase terburuk setiap orang.

Dibungkus dengan nada-nada musikal yang sederhana pada album Better Days membuat kita dengan mudah menerima maksud pada lagu ini. Dan membuat kita kembali ceria menjalani suatu hal.

Dengan karakteristik yang catchy dan ceria khas Astera, kehadiran Riri dari The Dare sebagai kolaborator menambah kesan yang makin lebih dari sebelumnya. Versi alternatif Change of Heart ini, menyajikan hasil modifikasi dari kedua kolaborator di dalamnya, semisal pada struktur vocal verse, menambahkan warna suara feminim khas miliki Riri dari The Dare.

Astera dan Riri The Dare | Foto: Dok. Astera

Dan penguatan harmoni di bagian chorus serta menambah elemen instrumen pada beberapa bagian penting, menghasilkan nuansa musik yang cenderung indie-pop. Cukup menjanjikan dan segar untuk para pendengar setia Astera, dibandingkan pada Change of Heart sebelumnya.

Hal tersebut juga termasuk penambahan pesan penting yang ingin disampaikan Astera kepada pendengar dalam bentuk monolog pada pertengahan lagu. Poin ini juga cukup sangat memberikan kemudahan kita untuk membedakan kedua versi lagu Change of Heart—versi sebelumnya dan versi alternatifnya.

Sedikit Kecacatan

Ketika saya wawancarai secara singkat lewat pesan Whatsapp untuk menanyakan lebih mendalam soal lagu ini, dengan senang hati Rio membagi ceritanya. Saya mulai bertanya dengan, “Apa maksud di balik narasi menginterpretasi ulang kembali karya mereka sebelumnya?”

“Harapannya sih agar lagu-lagu di album Better Days lebih unik dan pesannya tersampaikan dengan maksimal. Terlebih kami jadi berkoneksi lebih serius dengan kolaboratornya,” jawab Rio.

“Lalu untuk menentukan dan mengajak sebuah kolaborator itu gimana? Ada kriteria khusus?” saya mengerjar.

“Penentuan kolaborator sih tentu pemicu utamanya adalah membuat lagu-lagu di Batter Days jadi unik dan berbeda. Untuk kriteria spesifiknya sih, tidak ada. Pokoknya kami lihat bisa memberikan warna berbeda tetapi tetap bisa kawin sama musik kami, itu aja sih,” Rio memberi penjelasan.

“Ada kendala gak sih selama proses rekaman? Kan Riri jauh dan beda pulau, ya?”

“Awalnya kami ada niat untuk rekaman di Lombok, tapi pas kebetulan Riri sendiri ada kegiatan ke Bali. Saat kedatangan dia langsung recording vocal di Rock The Beat studio, Kesiman. Tapi kalau record aransemen musik, kami independen di Bali,” tutup Rio.

Dari percakapan pendek itu kemudian saya menangkap bahwa sebelumnya Astera dan Riri memang sudah punya kedekatan, baik secara pertemuan dan bahasa musik. Sehingga hal itu tidak terlalu susah untuk mereka jalankan dalam kolaboratif ini.

Mungkin malah banyak kemungkinan baru yang Astera temukan pada proses ini. Salah satunya adalah, ego sentris harus dibuang jauh-jauh untuk mendapatkan hasil yang diinginkan.

Astera dan Riri The Dare | Foto: Dok. Astera

Hampir setiap hari saya memutar kedua lagu Change of Heart ini, guna menemukan titik yang mungkin dianggap sebagai upaya memberikan sedikit tanggapan terhadap lagu ini. Atau hanya sekadar aksi reaksi kecil usai mendengarkan ini secara berulang.

Dalam perjalanan saya usai pulang kampung menuju Denpasar dari Singaraja, ada momen saya terus mendengarkan lagu itu—terus berulang. Perjalanan menuju Denpasar memakan waktu kurang lebih 2 jam 30 menit atau 150 menit. Jika lagu mereka masing-masing memiliki durasi kurang lebih 4 menit, artinya saya sudah mendengarkan kurang lebih 37 kali lagu mereka secara bergantian.

Saya merasa cepat untuk langsung hafal bagaimana perbedaan nuansa kedua lagu Change of Heart, terutama melodi gitar yang cukup dominan pada versi alternatif, suara feminim khas Riri dan teks yang dibaca secara monolog.

Pembagian lirik yang adil secara porsi juga tidak membuat lagu pada versi alternatif ini jadi timpang sebelah. Tentu dengan adanya karakter Riri menjadikan lagu ini makin kuat. Hanya saja, menurut saya, ada satu hal yang kurang enak untuk didengar, yaitu pembacaan teks monolog yang terkesan menggelikan. Tapi, sekali lagi, ini menurut saya, sangat sah jika teman-teman sekalian memiliki pandangan lain.

Saya hampir terkecoh, monolog yang ditulis oleh Chandra sekaligus anggota band Astera dan dibacakan oleh orang lain membuat saya mengira itu adalah suara Rio, sang vokalis. Saya mengira itu pyur suara Rio, karena memang sangat mirip.

Awalnya sudah sangat geli mendengar suara monolog yang dibuat begitu melankolis. Saya membayangkan seorang Rio, berlutut di depan saya untuk mengucapkan terima kasih dengan sangat manis. Sungguh menggelikan, merinding jika dibayangkan.

Tapi, setelah saya memastikan ulang dan menanyakan langsung kepada Rio, bahwa benar itu sama sekali bukan suara Rio. Meski begitu saya rasa ada sebuah sedikit kecacatan jika semisal teks monolog itu dibacakan oleh orang lain, dalam konteks membicarakan karya ini di luar kolaborator. Artinya, masih ada kolaborator lain selain Riri dari The Dare.

Padahal, saya membayangkan Change of Heart ini akan lebih manis dan pas, jikalau Riri yang langsung membacakan teksnya, tentu dengan versinya. Dan atau jika tetap ingin ada dialog semacam itu di tengah lagu, akan lebih menarik juga misalnya dibuatkan semacam dialog pendek antara Rio dan Riri, untuk menegaskan isi dari lagu tersebut.

Butuh Pemaknaan Lebih

Kemudian untuk memperluas proyeksi saya terhadap karya kolaboratif ini, saya menghubungi langsung Riri dari The Dare, untuk sekadar bertanya singkat soal proses kreatif lagu ini.

Sebelumnya saya mengetahui Riri selain anggota The Dare, dia adalah wanita ceria yang saya follow di akun media sosial Twitter yang kini berganti menjadi X. Wanita ceria, penuh tawa dan canda dengan pendekatan yang sangat Gen Z sekali. Orang-orang sering memanggilnya, bunda.

Percakapan pembuka basa-basi busuk sekaligus memperkenalkan diri dengan siapa dan mau apa saya menghubunginya saya lakukan dengan sangat spontan. “Uhuuuy!”.

“Mungkin supaya gak terlalu lama buang-buang waktu Kak Riri, boleh saya langsung bertanya. Ada gak sih kendala untuk masuk ke karakter musik Astera pada projek Change of Heart versi alternatif ini?” saya langsung saja bertanya.

“Langsung dijawab, ya. Banyak banget sih, karena memang karakternya beda banget dari lagu yang biasa aku nyanyikan. Dan kolaborasi bareng Astera ini, adalah lagu pertama yang aku nyanyikan di luar The Dare,” ujar Riri dari The Dare.

“Kalau secara teknis?”

Astera dan Riri The Dare | Foto: Dok. Astera

“Kalau teknisnya sih, lebih ke range nada aja, karena Astera range nadanya itu cowok banget. So far, nyaman dan seru sih,” tutupnya.

Dari tadi ketika saya membayangkan sebuah nama “Astera”, saya membayangkan band tersebut adalah band yang lekat dengan penggemarnya yang penuh oleh wanita. Karena karakteristik yang saya bayangkan begitu manis dan feminim, sehingga sangat cocok untuk kaum hawa ini berdansa manis.

Tapi setelah mendengar dan tahu langsung dari pernyataan Riri bahwa baginya Astera adalah musik yang cowok banget, saya mulai berpikir ulang soal pemaknaan musik terhadap sebuah gender.

Sepertinya saya harus mendengarkan berulang-ulang lagu Change of Heart karya kolaboratif ini untuk memaknai lagi lebih dalam ke mana karya ini bisa dibedah secara luas. Tapi, jika teman-teman pendengar memiliki interpretasi yang berbeda dengan saya, itulah musik.

Kita bisa mengartikannya ke mana saja. Bahkan bisa tidak memiliki arti sekalipun, tergantung bagaimana kita melakukan pembacaan terhadap sebuah karya. Mungkin saat pembacaan monolog, volume akan saya hilangkan agar tidak membayangkan adegan Rio berlutut di depan saya itu kembali terbayangkan.

Satu karya kolaboratif yang sangat patut didengarkan belakangan ini untuk menghiasi hari menuju “Better Days”.

Karya ini adalah proyek Astera untuk menuju kampanye mereka, “Better Days With Us”. Dalam proses penggarapannya didukung oleh berbagai pihak. Elmo Ramadhan menjabat sebagai mixing dan mastering engineer.

Nama-nama seperti Fendy Rizky, Noriz Kiki, dan Aji Nurcahyo dari Taman Bermain Nosstress membantu proses perekaman audio drum. Sektor vokal direkam bersama Dadang Pranoto dan Kristian Dharma dari Pohon Tua Creatorium, hingga mantan personil mereka Raden Bagus turut hadir untuk penggarapan Artwork.

Dari sini kita bisa melihat juga bahwa Raden Bagus tidak sepenuhnya keluar dan masih terlibat di Astera, buktinya eksistensi dan keberadaannya masih ada. Sangat patut untuk dinantikan setelah ini, akan ada cerita baru apa lagi. LFG Astera![T]

BACA artikel lain dari penulis AGUS NOVAL RIVALDI

Menghidupkan dan Merayakan Puisi lewat Musik dalam “Tapssu: Tribute to Jokpin”
Empat Detik Sebelum Tidur dan Obrolan di Belakang Panggung Tentang Lagu dan Singaraja
“Kepus Pungsed” dan Penciptaan Ruang Presentasi | Catatan Seorang Penonton
Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja
Tags: Asteramusikmusik balimusik indieThe Dare
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Integrasi Dharma Pawayangan dan Kreativitas Dalang: Manifestasi Seni Yang Sakral dan Mendalam

Next Post

“Set – Jetting”: Wisata Napak Tilas Film

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

“Set – Jetting”: Wisata Napak Tilas Film

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co