14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Agus Noval Rivaldi by Agus Noval Rivaldi
September 7, 2022
in Ulas Musik
Keresahan, Regenerasi dan Ruang | Catatan “Rock Tour” Pertama di Danke Café Singaraja

Rock Tour di Danke Cafe Singaraja | Foto-foto Nocash

Pada tanggal 25 Agustus lalu, ada konser music bertajuk “Rock Tour” yang diinisiasi oleh tiga band bergendre rock asal kota Singaraja. Ketiga band tersebut di antaranya; AA Rock N Roll, No Cash dan The Pandors. Mereka menginisiasi acara konser musik ini dalam rangka menjadi pembukaan pada agenda tour mereka ke beberapa titik lokasi yang sudah mereka sepakati.

Pada agenda pertama mereka, Singaraja sebagai kota mereka tumbuh menjadi pijakan mereka untuk memulai perjalanan tour mereka ini. Titik tour mereka pertama diselenggarakan di Danke Café, Singaraja. Saya kebetulan datang menyaksikan langsung pertunjukan musik ini. Kebetulan waktu itu juga ada band Karmilah yang ikut meramaikan acara tersebut sebagai band pembuka.

Pada malam diselenggarakan acara musik tersebut, Danke Café tidak terlihat seperti biasanya. Saya merasa tertarik datang karena penasaran, bagaimana tempat yang di bayangan saya sebagai tempat untuk menikmati kopi dengan santai kini diubah menjadi panggung dadakan dengan hentakan musik bergendre rock.

Memang ini bukan pertama kalinya Danke menjadi sebuah ruang alternatife untuk dijadikan menjadi venue penyelenggaraan pertunjukan musik. Hanya saja pada sebelum-sebelumnya pertunjukan musik yang diadakan tidak sekeras yang disajikan oleh band-band yang tergabung dalam “Rock Tour” ini.

Saya juga tidak menyangka bahwa ruang sekecil itu bisa didekontruksi menjadi panggung yang lumayan menarik untuk dilihat. Danke di pikiran saya saat itu bisa menjadi ruang terbuka yang bisa dieksplorasi untuk menjadi salah satu venue yang apik untuk diperhitungkan di Singaraja. Karena dari obrolan-obrolan yang saya tangkap ketika berbicara dengan salah satu penyelenggara “Rock Tour”, memang sangat susah mencari ruang alternatife yang bisa dijadikan sebagai panggung dadakan dengan cuma-cuma.

Tidak banyak coffe shop atau ruang terbuka fasilitas kota yang mau mengizinkan dan menerima tempatnya dijadikan menjadi ruang pertunjukan musik. Akhirnya lintas jaringan pertemanan yang mungkin bisa menjadi tanda peminta pertama untuk sekiranya si punya tempat bisa mengizinkan tempatnya dijadikan panggung.

Ini juga mungkin adalah salah satu masalah yang sering seliweran di telinga saya ketika bertemu dengan teman-teman pegiat musik di Singaraja. Tapi selalu saja ada celah kecil yang bisa dimanfaatkan menjadi kesempatan unjuk gigi untuk menampilkan karya dan skill mereka dalam bidang musik. Ditambah juga ada banyak komunitas yang sering berkutat pada pergerakan wacana sekitar perkembangan musik khususnya Singarja. Itu juga menjadi salah satu organisasi yang sering menolong dan membuatkan panggung untuk para band dan musisi.

Wacana Menarik

Terlepas dari masalah kurangnya ruang yang bisa dijadikan panggung, “Rock Tour” juga punya wacana yang menarik untuk disimak atau mungkin bisa menjadi pembuka ruang diskusi untuk membicarakan seputar ekosistem musik khususnya Singaraja.

Terlaksananya “Rock Tour” tentu saja tidak hadir sebagai hal yang tiba-tiba, punya ide langsung jalan. Tidak, mereka juga punya keresahan tersendiri terutama dalam perkembangan sub genre rock yang berkembang dalam lingkup Singaraja.

Sub genre rock yang semestinya dekat dengan telinga pecinta musik seharusnya banyak yang menggeluti dan menciptakan karya dalam ranah genre ini. Tapi pada kenyataannya di kota mereka tinggal, itu tidak terjadi sebaik itu. Regenerasi dirasa tidak berjalan dengan baik, ada ketimpangan  umur yang begitu jauh di antara sesama pegiat musik bergenre rock tersebut.

Misal seperti ketiga band yang menginisiasi “Rock Tour” ini, satu band dengan band lainnya itu memiliki angkatan yang jauh berbeda jika diukur lewat angka umur. Hampir tiap band memiliki selang lima tahun lompatan jarak di antaranya. Itu bisa menjadi gambaran bagaimana genre rock di kota Singaraja tidak begitu banyak pegiatnya, padahal banyak sekali yang antusias mendengarkan genre rock ini.

Akhirnya lewat keresahan itu mereka membuat “Rock Tour” ini yang rencananya akan menyambangi beberapa titik lintas kecamatan pada lingkup kabupaten Buleleng saja. Di antaranya daerah yang bakal mereka singgahi ada lima titik, yaitu; Kota Singaraja, Desa Les di Buleleng timur, Kecamatan Seririt, Desa Pancasari dan titik terakhir kembali di Kota Singaraja.

Pemilihan untuk mengambil tour dalam lingkup kabupaten juga menjadi hal yang unik bagi saya. Karena biasanya yang saya jumpai tiap kali sebuah band menyelenggrakan tour selalu mengambil ranah minimal lintas kabupaten atau skala provinsi, atau bahkan bisa antar pulau. Pemilihan mengambil titik hanya antar kecamatan seperti yang dilakukan “Rock Tour” juga bukan semata-mata dilakukan tanpa pembacaan.

Mereka banyak menimbangkan hal-hal yang lain seperti waktu, tempat, materi dan tenaga. Karena agenda ini dilakukan secara mandiri jadi mereka memilih yang sekiranya bisa dilakukan secara maksimal dalam keterbatasan yang mereka punya. Pun sebenarnya tujuan mereka adalah ingin mempopulerkan atau memperkenalkan musik rock khususnya di Buleleng.

Maka mereka tidak ingin terburu-buru dalam mengambil Langkah untuk tour terlalu jauh, karena mereka juga berpikir bahwa belum selesai melakukan pembacaan di rumah mereka sendiri. Apalagi ketika melakukan tour terlalu jauh, tentu akan banyak orang yang akan dilibatkan termasuk komunitas di daerah tertentu. Hal seperti itu pasti memerlukan jaringan koneksi lintas komunitas untuk membantu. Mungkin juga faktor itu yang masih sedang mereka bangun untuk memperluas lagi jangkauan sayap mereka.

Kesadaran itulah yang saya tangkap dan berusaha saya sampaikan di catatan ini untuk membantu mereka, syukur-syukur misalnya catatan ini bisa menjadi arsip perjalan agenda tour mereka. Atau mungkin tenggelam begitu saja seperti yang sudah-sudah.

Banyak hal yang kemudian hadir menjadi pembicaraan saya bersama teman-teman penyelenggara “Rock Tour” ini. Begitu banyak keresahan yang mereka sampaikan dan kebetulan saya juga merasakannya karena mungkin ada kesamaan yang sama kita lakukan dalam membangun ekosistem industri kreatif. Mesikipun saya bukan siapa-siapa di kota Singaraja, sepertinya pengalaman saya ketika merantau dan bergabung di komunitas-komunitas ketika masih di Denpasar bisa menjadi referensi saya untuk nyambung ketika mengobrol dengan beberapa dari mereka.

BACA JUGA:

  • REIM Space dan Upaya-upaya Membangun Ekosistem Bermusik di Kota Singaraja | Ekosistem Seperti Apa?
  • Romantisme Musik Underground Singaraja | Jejak Langkah yang Memudar dalam Skena

Begitu banyak hal yang kompleks dan menjadi PR bersama untuk membentuk ekosistem ruang kreatif yang mapan di Singaraja. Karena banyak hal utama yang dibutuhkan oleh pegiat musik di Singaraja tetapi masih susah untuk memfasilitasi hal kekurangan tersebut, sesederhana ruang panggung atau hal lainnya yang berkaitan dengan keberlangsungan kebutuhan pemanggungan.

Tour ini juga mereka harapkan menjadi salah satu sumbu bakar untuk beberapa anak muda yang senang bermusik untuk ikut meramaikan genre rock di kota Singaraja. Agar nantinya diharapkan makin banyak varian alternatife untuk didengarkan, sekaligus bisa menjadi penyemangat teman band yang lainnya untuk berlomba dalam menciptakan karya dan bertukar wacana. Tour ini pula dimaksudkan sebagai penyampai keresahan mereka untuk menciptakan panggung sendiri, karena sering kali tidak mendapat bagian panggung di rumah mereka sendiri.

Karena tour ini mereka lakukan benar-benar secara mandiri, dari konsep acara dan konsep panggung. Meskipun mereka juga dibantu oleh REIM Space sebagai organize acara dan teknis persipan. Hal itu yang kemudian membuat mereka lebih menekankan pada nilai demokrasi tiap band. Termasuk dari kesepakatan pemilihan tanggal, kesepakatan pemilihan urutan band yang main terlebih dahulu. Mereka seberusaha mungkin ingin mengaburkan istilah senioritas dalam agenda mereka ini.

Demokrasi menjadi pondasi mereka untuk sama-sama belajar bagaimana menyikapi keterbatasan yang mereka punya. Apalagi adanya keterjarakan umur yang begitu jauh, itu adalah faktor yang kadang bisa menjadi hal yang sangat rentan menjadi keributan. Tapi pada penyelenggaraan pertama kemarin hal itu tidak terjadi, bahkan mereka sangat menikmati berjalannya acara tersebut. Jadi suasana pertunjukan yang mereka sajikan tidak terlihat mati dan membosankan.

Pengalaman saya menonton pertunjukan musik juga akhirnya menjadi berbeda, dibanding ketika saya menonton pertunjukan musik yang hanya menyaksikan saja pertunjukan berlangsung begitu saja hingga selesai lalu setelah itu pulang tanpa membawa hal baru.

Pada “Rock Tour” pertama kemarin saya banyak ngobrol dengan teman-teman dari penyelenggara, meskipun tidak memulu membicarakan soal ekosistem musik saja sesekali diselingi dengan bercandaan atau gossip-gosip seputar dunia permusikan.

Maka keberhasilan acara tersebut tentu tidak luput dari orang belakang panggung yang membantu mereka, orang yang sudah memberikan sponsor ke mereka tentu juga orang yang sudah mengizinkan tempatnya untuk dijadikan sebagai ruang panggung. Tentu saja juga teman-teman yang datang dan mengapresiasi mereka dengan banyak cara.

Saya rasa apa yang mereka lakukan patut untuk dilihat dan diikuti, bagaimana keresahan di antara mereka kini berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan soal intensitas semangat mereka. Bagaimana mereka bisa membangun sedikit demi sedikit keinginan mereka untuk menyemarakan sub genre yang mereka mainkan.

Tentu itu tidak bisa mereka lakukan sendiri begitu saja, perlu banyak campur tangan dari teman-teman di luar meskipun itu bukan dari pegiat musik sekalipun. Siapa bilang ngeband hanya berbicara soal nada, lirik lagu dan alat musik saja? Ada banyak lapisan-lapisan yang mesti disadari keberadaannya lalu diisi kekosongannya. Lalu, menjadi apakah kita hari ini dan esok pada pusaran ini? Salam. [T]

BACA JUGA:

  • Mendengar “Haunted Psycho Notes” dari Kanekuro | Dari Kesehatan Mental ke Kesehatan yang Lain
  • Tirtour Yatour Edisi Bangli | Bukan Hanya Sekadar Gigs Gradag-Grudug

Tags: musikRock Tour SingarajaSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sepatu Baru MC dan Pilot Naik Panggung | Catatan Belakang Layar Teater Legenda Rasa

Next Post

Ternyata Stres Berguna Juga

Agus Noval Rivaldi

Agus Noval Rivaldi

Adalah penulis yang suka menulis budaya dan musik dari tahun 2018. Tulisannya bisa dibaca di media seperti: Pop Hari Ini, Jurnal Musik, Tatkala dan Sudut Kantin Project. Beberapa tulisannya juga dimuat dalam bentuk zine dan dipublish oleh beberapa kolektif lokal di Bali.

Related Posts

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails

Melepas Dunia, Mengetuk Langit

by Ahmad Sihabudin
June 27, 2026
0
Melepas Dunia, Mengetuk Langit

DALAM sejarah musik populer abad ke-20, sedikit lagu yang mampu merangkum pengalaman eksistensial manusia dalam lirik sesederhana “Knockin’ on Heaven’s...

Read moreDetails

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
0
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

Read moreDetails

’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

by Ahmad Sihabudin
June 21, 2026
0
’A Salty Dog’, Pelayaran Terakhir di Cakrawala Sunyi

LAGU “A Salty Dog” oleh Procol Harum (1969), dengan lirik karya Keith Reid, adalah elegi tentang pelayaran terakhir, tentang manusia...

Read moreDetails

‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

by Ahmad Sihabudin
June 13, 2026
0
‘Brown Sugar’ dari The Rolling Stones dan Ingatan Perbudakan

MUSIK populer kerap dipahami sebagai hiburan ringan, namun sejarah menunjukkan bahwa ia sering kali menjadi medium artikulasi pengalaman sosial yang...

Read moreDetails

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
0
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

Read moreDetails

Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

by Wahyu Thoyyib Pambayun
May 25, 2026
0
Eksplorasi Tradisi dan Kegelisahan Urban —Catatan Forum Bukan Musik Biasa #111

FORUM Bukan Musik Biasa (BMB) #111 dilaksanakan Rabu, 20 Mei 2026 di Pendapa Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT)...

Read moreDetails

Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

by Ahmad Sihabudin
May 22, 2026
0
Hermeneutika ’The Park’ Karya Uriah Heep dalam Lanskap Budaya Nusantara

LAGU “The Park” dari album Salisbury karya Uriah Heep sering dipahami sebagai balada progresif yang kontemplatif dan melankolis. Dengan vokal...

Read moreDetails

Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

by Ida Ayu Made Dwi Antari
May 20, 2026
0
Dialektika Sastra Bali dan Kesehatan Mental : Membedah Estetika ‘Tresna Ngatos Mati’ lewat Filosofi Smaradhana

Citta-Vrittis dan Fenomena 'Sending' Dalam Psikologi Kognitif dan Filosofi Hindu, gejolak pikiran yang tak menentu disebut sebagai Citta-Vrittis. Fenomena sending...

Read moreDetails
Next Post
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran

Ternyata Stres Berguna Juga

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co