2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menghidupkan dan Merayakan Puisi lewat Musik dalam “Tapssu: Tribute to Jokpin”

Aqilah Mumtaza by Aqilah Mumtaza
July 27, 2024
in Ulas Musik
Menghidupkan dan Merayakan Puisi lewat Musik dalam “Tapssu: Tribute to Jokpin”

Menghidupkan dan Merayakan Puisi lewat Musik dalam “Tapssu: Tribute to Jokpin”

UPAYA alihwahana puisi ke medium seni pertunjukan sudah sangat beragam bentuknya, mulai dari musik, drama, tarian, dan sebagainya. Diusungnya puisi pada panggung pertunjukan barangkali juga merupakan sebuah selebrasi atau perayaan terhadap karya yang telah diciptakan oleh seorang penyair.

Dari banyaknya pilihan, musik menjadi bentuk yang paling familiar dan paling mudah ditangkap oleh khalayak umum. Melalui nada-nada yang silang sengkarut menjadi melodi dan harmoni, puisi yang berupa kumpulan kata tak bersuara tersebut dihidupkan untuk memenuhi esensi keberadaannya, yakni menyampaikan sebuah pesan.

Gambar 1. Para penampil dalam Tapssu: Tribute to Jokpin

Panggung Tapssu: Tribute to Jokpin yang diadakan pada 21 Juli 2024 di Sekretariat Jejak Imaji, Yogyakarta, menjadi momentum untuk menghidupkan spirit seorang sastrawan yang telah berpulang pada 27 April lalu, yakni Joko Pinurbo.

Meski raganya sudah tiada, karya-karya Jokpin masih selalu hidup dengan terus dan selalu dibacakan dalam berbagai medium. Tak hanya menghidupkan, para penampil dan penonton yang hadir juga merayakan karya beliau dengan suasana hangat pada malam itu, bahwa Jokpin akan dikenal sebagai pembawa pelipur lara dalam karya-karyanya. Terlebih lagi, acara itu diadakan dan menjadi bagian dari rangkaian perayaan kesepuluh tahun kelompok belajar sastra Jejak Imaji dengan tajuk Langgeng: Perayaan 1 Dekade Jejak Imaji.

Tapssu sendiri merupakan sebuah program musik terbitan media alternatif Hiruk Pikuk yang selalu berusaha mengeksplorasi pembawaan puisi melalui musik oleh sejumlah musisi ataupun kelompok musik dengan berbagai karakter dan warna musik.

Tapssu: Tribute to Jokpin merupakan edisi ketiga dari penyelenggaraan program tersebut, setelah sebelumnya sukses dengan edisi yang pertama dan kedua. Tahun ini, Hiruk Pikuk berkolaborasi dengan Jejak Imaji dalam penyelenggaraannya dengan mengundang tiga kelompok musik, yaitu Musik Kemarin Siang, Vero BK & Tumbleboys, dan More on Mumbles.

Alunan musik folk, balada, bercampur dengan instrumen etnik yang dibawakan Musik Kemarin Siang menyapa telinga penonton. Pembentukan grup musik duo pada tahun 2020 yang digawangi oleh Farid dan Nata tersebut dapat dibilang unik dan dadakan.

“Besok pentas, siang hari sebelumnya bikin lagu, makanya diberi nama, Musik Kemarin Siang,” kata Nata.

Mereka membawakan sejumlah repertoar, di antaranya “Juni”, “Terjang”, “Lagu Bersyukur”, “Lauke Bekesah” (kalau tak salah dengar), serta musikalisasi dari puisi Jokpin berjudul “Pulang Malam”. Lagu-lagu tersebut dibawakan oleh Farid dengan genjrengan gitarnya dan Nata oleh instrumen etnisnya, seperti sampe dan seruling, beserta vokal dari keduanya yang memiliki ketinggian suara sedang.

Gambar 2. Musik Kemarin Siang | Dok. Jejak Imaji

Puisi “Pulang Malam” karya Joko Pinurbo yang memiliki lirik suram dibawakan dengan tempo lambat ber-ritme 4/4. Suasana yang dihadirkan dari warna musik folk, balada akustik tersebut sedikit mengingatkan  pada lagu-lagu aktivisme karya Fajar Merah. Elemen musik yang dibawakan cenderung lembut, tetapi membawa pesan yang kuat untuk direnungkan.

Melalui lirik “Di atas puing-puing mimpi dan reruntuhan waktu// tubuh kami hangus dan membangkai// dan api siap melumatnya menjadi asap dan abu” menggambarkan tentang ketidakkekalan dan kesementaraan. Begitu pula lirik “kami sepasang mayat// ingin kekal berpelukan dan tidur damai// dalam dekapan ranjang” terasa begitu magis dan membuat bulukuduk meremang.

Genjrengan gitar pun berkelindan dengan petikan sampe, membuat suatu warna musik yang kaya dan saling melengkapi antara musik folk, balada, dan irama etnis Kalimantan.

Setelah ditimang oleh musik yang menenangkan dari Musik Kemarin Siang, penampil kedua pun masuk dan mengubah suasana panggung. Penonton yang tadinya menikmati sajian musik sambil duduk santai, diajak untuk berdiri dan berjingkrak ria oleh Vero BK & Tumbleboys dengan musik country dan rockabilly-nya. Dibuka dengan permainan gitar dan irama mars bertempo lambat oleh snare drum, memunculkan bayangan sebuah latar gurun pasir dan seorang koboi dengan kudanya yang gagah.

Image koboi pun diperkuat oleh kostum para penampil yang mengenakan topi khas koboi. Melodi gitar semakin lincah diikuti ritme drum 2/4 bertempo cepat, anggukan kepala penonton pun tidak terhindarkan. Beberapa repertoar yang dibawakan yaitu “Love No More”, “Love Me More”, “Settle Down”, “Don’t Fence In” karya Bing Crosby, “Nurlela” karya Bing Slamet, dan “Honey Money You’ll Never Can Be” . Pada penampilannya kali ini, Vero BK & Tumbleboys mengajak vokalis dari band Kopi Loewak, yaitu Jack Aditya.

Gambar 3. Vero BK & Tumbleboys | Dok. Jejak Imaji

Tidak seperti penampil sebelumnya yang memusikalisasi puisi Jokpin menjadi satu lagu yang utuh, Vero BK & Tumbleboys menyelipkan puisi “Cita-Cita” karya Jokpin dalam lagu “Don’t Fence Me In” karya Bing Crosby yang diaransemen dengan gaya mereka. Puisi tersebut dibacakan oleh Vero BK pada pertengahan lagu.

Sebagaimana puisi tersebut diinterpretasikan oleh Vero sebagai keadaan seseorang yang terkekang oleh keseharian dan kesibukannya, ia pun membacakannya dengan nada menggerutu. Dua bait puisi dibacakan, lirik “Don’t Fence Me In” menyahut, lalu dibacakannya satu bait terakhir, dan kembali disambung oleh lagu. Sambung menyambung lagu dan puisi tersebut dijalin dengan sangat mulus dan halus, sehingga penonton dapat menikmati kedua karya tanpa terputus.

Setelah para koboi menunaikan misinya, tibalah para penampil terakhir yang mengambil alih kendali panggung. More on Mumbles, begitu sebutannya, merupakan kelompok musik duo yang terdiri dari sepasang suami istri, yaitu Ikhwan Hastanto dan Lintang Larasati. Mereka baru saja meluncurkan album musik berjudul (Masih) Kalah di bawah naungan Sony Music pada tahun 2024 ini.

Beberapa lagu dalam album musik tersebut pun menjadi sajian yang mereka suguhkan pada acara malam itu, di antaranya “Berdalih”, “Good For You”, “Such Is Life”, “Aku dan Ingatan”, “Siapa yang Salah”, dan “Lagu Lama”. Mereka juga menampilkan satu lagu tambahan yang secara khusus diciptakan untuk acara ini dan berangkat dari puisi Jokpin berjudul “Doa Seorang Pesolek”.

Dengan mengajak dua teman mereka untuk mengisi keyboard dan gitar elektrik, More on Mumbles membawakan musik mereka secara minimalis dan ambient yang lebih tenang, sehingga semakin terasa keintiman dengan penonton yang berjarak tidak jauh tersebut

Gambar 4. More on Mumbles | Dok. Jejak Imaji

Meski berusaha tampil lebih kalem, rupanya limpahan energi para penonton yang diterima menjadi pemantik bagi mereka untuk “tantrum” pada lagu-lagu berikutnya. Alunan musik yang dreamy tersebut kemudian semakin membaur dengan antusias penonton yang ikut bernyanyi bersama, menciptakan suasana begitu hangat dan lekat. Puisi “Doa Seorang Pesolek” karya Joko Pinurbo pun disulap menjadi musik pop yang sederhana, tetapi manis.

Piano dan gitar mengalun lembut dan lambat dengan nuansa Lo-Fi yang lagi-lagi, terasa begitu dreamy. Rupanya pemenggalan kata dari puisi tersebut sudah mengalami penyesuaian supaya pas pada ritme lagu yang dinyanyikan.

Kalimat “Semoga kecantikanku tak lekas usai dan cepat luntur seperti pupur” disingkat menjadi “semoga cantikku, tak lekas usai, tak cepat luntur”. Begitu pula pada kalimat “Semoga masih bisa kunikmati hasrat yang merambat pelan menghangatkanku” menjadi lirik yang berbunyi “Semoga masih kurasakan hasrat, perlahan hangat”. Seorang pesolek dalam puisi tersebut dihidupkan dengan karakter yang centil oleh Lintang Larasati, sebagaimana ia merayu Tuhan dan minta ditemani untuk menyepi di rimba kosmetiknya dengan memanggil Tuhan yang cantik.

Kecantikan penampilan More on Mumble ditutup oleh “Lagu Lama” yang identik pula dengan kata cantik-nya. Acara malam itu berakhir sudah. Puisi-puisi Jokpin berhasil dihidupkan dengan emosi yang beragam layaknya suasana hati manusia yang berubah-ubah, mulai dari sedih, jengkel, dan centil.

Tak hanya menjadi hidup yang biasa, puisi-puisi tersebut menjelma menjadi simbol kehidupan yang dirayakan. Bahwa berbagai emosi yang dirasakan tidak perlu disangkal adanya, mereka hadir sebagai legitimasi bahwa kita merupakan seorang manusia dengan belukar perasaannya yang pelik.

Berbagai ekspresi yang hadir oleh para penampil dalam merespon puisi Jokpin juga menjadi sebuah gebrakan untuk mendobrak pakem-pakem yang sudah ada. Memang dalam sebuah perlombaan musikalisasi puisi, aturan-aturan yang dibuat terasa begitu ketat dan mengekang. Pada aturan tersebut, karakter musik yang harus mengikuti puisi dan tidak boleh ada yang berubah, bertambah, ataupun berkurang dari setiap kata yang berada di dalam puisi.

Namun, praktek di luar itu tidak harus sekaku dan serumit itu. Buktinya dengan karakter musik yang berwarna dari setiap penampil pada acara Tapssu: Tribute to Jokpin tersebut, puisi tidak kehilangan jati dirinya dan dapat diterima dengan baik oleh penonton. Esensi dari keberadaan puisi, yakni menyampaikan pesan, pun berhasil tertunaikan. [T]

BACA artikel lain dari penulis AQILAH MUMTAZA

Yogyakarta dan Musik Puisi yang Tak Pernah Kehilangan Tempat
Menyimak Bunyi-bunyian Karya Manusia dan Kecerdasan Buatan dalam konser Artificial Intelligence
Opera Ikan Asin: Kisah Si Raja Bandit dan Potret Hukum yang Bisa Dibeli
Tags: Jejak Imaji YogyakartaJoko Pinurbomusik puisimusikalisasi puisipuisi musikYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih di Jembrana Kini Menjaga Penyu dengan “Adopt Nest Technology”

Next Post

Isi Otak dengan Bacaan, Itu Perlu, Sebelum Anda Ditipu Dukun Palsu

Aqilah Mumtaza

Aqilah Mumtaza

Lahir di Cilacap, tumbuh dan besar di Yogyakarta. Lulusan prodi S-1 Musik di ISI Yogyakarta. Pernah bergabung dalam beberapa organisasi jurnalistik di kampus. Dapat disapa melalui Instagram @aqilahmumtaz

Related Posts

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
0
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

Read moreDetails

Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

by Ahmad Sihabudin
September 20, 2026
0
Ketika Logika Mengaburkan Jati Diri – [Refleksi Lagu ”The Logical Song” karya Supertramp]

ADA suatu fase dalam kehidupan manusia ketika dunia terasa sederhana dan penuh makna. Masa kecil adalah ruang di mana pengalaman...

Read moreDetails

Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

by I Made Kartawan
August 16, 2026
0
Eksplorasi Musikal Gong Gede dalam Cipta Pagelaran Intermedium Ranu

GONG Gede memiliki karakter bunyi yang kuat. Kesan agung, monumental, dan berwibawa menjadi salah satu cirinya. Namun, di balik karakter...

Read moreDetails

Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

by Mahesa Putra
August 13, 2026
0
Filosofi Sabun Ala Umar Haen: Semakin Dikucek, Semakin Perih

“Mitos tentang Jogja, hantui orang tua lepas anaknya jadi mahasiswa.” PERKENALAN pertamaku dengan Umar Haen adalah pada lagu “Di Jogja...

Read moreDetails

Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

by Wayan Diana Putra
August 5, 2026
0
Tabuh Pategak Saraswati: Lahir Dari Pengetahuan Audial Tabuh Pat Parianom Desa Adat Batur

SENIN tanggal 3 Agustus 2026 Institut Seni Indonesia (ISI) BALI melalui program Diseminasi Penelitian, Penciptaan, dan Diseminasi Seni-Desain (P2DSD) tahun...

Read moreDetails

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
0
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

Read moreDetails

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

by Mahesa Putra
August 2, 2026
0
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

Read moreDetails

Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

by Ahmad Sihabudin
July 20, 2026
0
Anak Sang Zaman —[Tafsir ‘Child in Time’ dari Deep Purple]

DALAM musik rock, ada lagu-lagu yang tidak hanya didengar, tetapi direnungkan. Salah satunya adalah Child in Time dari band legendaris...

Read moreDetails

Ketika Waktu Berpindah Tangan

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
0
Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

Read moreDetails

Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

by Pasek Agung Wicaksana
June 28, 2026
0
Praticaya, Ketika Sang Dasamuka Berbalik Menatap Kita  —Catatan Baleganjur Duta Karangasem di Pesta Kesenian Bali 2026

RAHWANA adalah nama yang kerap kali tidak membutuhkan pengantar. Ia hadir lebih dulu dari ceritanya; datang sebagai prasangka sebelum sempat...

Read moreDetails
Next Post
Isi Otak dengan Bacaan, Itu Perlu, Sebelum Anda Ditipu Dukun Palsu

Isi Otak dengan Bacaan, Itu Perlu, Sebelum Anda Ditipu Dukun Palsu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co