23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Hadiah Kematian dalam Perayaan Hidup

Krisna Aji by Krisna Aji
June 27, 2024
in Esai
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Krisna Aji | Foto diolah oleh tatkala.co

KETAKUTAN manusia akan kematian dapat dijabarkan dengan pandangan sains mengenai dorongan insting dasar makhluk hidup. Sains mengatakan bahwa salah satu kepentingan dasar makhluk hidup, selain mempertahankan informasi melalui genetik yang diturunkan, adalah  memperpanjang usia selama mungkin. Dorongan ini juga yang membuat berbagai makhluk hidup–dari sekian banyak yang pernah ada di muka bumi–bisa lolos dari seleksi alam dan tetap lestari hingga saat ini.

Jika menilik ke belakang, upaya menghindari kematian sudah terjadi sejak awal manusia ada. Upaya penghindaran terhadap maut pada akhirnya tetap berujung pada realita bahwa segala sesuatu yang pernah lahir pada akhirnya akan mati.

Harapan yang tidak sesuai dengan realita membuat kecemasan dan ketakutan. Hal tersebut membuat kematian menjadi objek diskursus yang serius sejak zaman awal serta menimbulkan berbagai kepercayaan akan kematian yang menentramkan.

Pada perkembangan peradaban, usaha manusia tidak hanya dilakukan secara psikologis untuk menguatkan diri dalam menghadapi kematian yang pasti tapi tak jelas waktunya. Usaha-usaha rasional, logis, dan saintifik juga terus dilakukan untuk menjawab akar masalah utama: hidup sepanjang mungkin. Kalau bisa, abadi!

Usaha tersebut mencangkup penelitian-penelitian terapi terbaru pada segala jenis penyakit, teknologi anti penuaan sel, rekayasa pengganti organ-organ manusia, dan masih banyak lagi.

Walaupun masih dalam perjalanan dan memiliki ujung yang belum terlihat, sains dan teknologi yang percepatannya makin berlipat sangat mungkin menghadirkan jawaban yang tidak dapat dicerna logika kita di masa kini: masa depan manusia yang bebas dari kematian.

Jika boleh berimajinasi, seperti di film Chappie, saat tubuh organik ini memang tidak bisa bertahan permanen, kesadaran manusia yang terletak di otak bisa saja dapat dipindahkan ke tubuh buatan yang baru. Seperti menganti baju lama tak layak pakai dengan baju baru yang masih bagus. Siapa yang tahu?

Mari berandai-andai. Jika seandainya kehidupan abadi tercapai, apakah jawaban akan pertanyaan besar manusia terhadap kematian dapat selesai? Jika masih belum terbayang, bagaimana kalau kita menggunakan film Bicentinneal Man sebagai objek metafora untuk membahas ini?

Pada film Bicentinneal Man, tokoh utama bukanlah manusia. Bahkan, tokoh utama dan berputarnya semesta utama pada film ini adalah robot yang tidak bisa mati dan berada di titik paradoks dari kekurangan manusia.

Andrew Martin, sebagai tokoh utama dalam film Bicentinneal Man, adalah robot rumah tangga dengan artificial intelligence yang mampu belajar menyerupai manusia dari sisi pengembangan emosi dan kesadaran diri. Kemampuan mengembangkan kesadaran diri ini yang membuat ia lebih menyerupai manusia dibandingkan robot-robot lainnya.

Kemampuan mengembangkan kesadaran diri pada akhirnya membuat Andrew dapat memiliki perasaan serta pikiran yang subjektif, unik, dan otentik yang menyerupai manusia sebagai individu. Tetapi, Andrew tidak puas dengan sampai menyerupai manusia saja. Ia masih ingin menjadi manusia seutuhnya.

Andrew mengawali usahanya dengan memperbaharui tubuh robotnya agar bisa hidup lebih lama–di cerita ini, robot juga bisa mati jika suku cadangnya rusak dan menyebabkan kesadaran hilang–agar memiliki waktu yang lama untuk mencari identitas “manusia sejati”. Pada usianya yang cukup lama jika dibandingkan ukuran usia manusia, Andrew sudah mengalami semua tahapan manusia, dari kanak – kanak, dewasa, hingga merasakan cinta.

Andrew melewati beberapa kali jatuh cinta pada manusia. Kebetulan, perempuan yang dicintai adalah keturunan dari majikannya dahulu. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya Andrew berhasil menjalin hubungan percintaan dan hendak mendaftarkan pernikahan ke pemerintah. Usulan tersebut pada awalnya tidak disetujui oleh pemerintah akibat pernikahan harus dilakukan oleh dua orang manusia. Dan syarat dari menjadi manusia adalah: hidup!

Lalu apakah Andrew tidak hidup? Bukankah ia memiliki kesadaran dan berfungsi seperti layaknya manusia biasa? Sanggahan yang muncul adalah: bagaimana sesuatu dikatakan “hidup” jika ia tidak akan mati?

Pesan filosofis pada film ini sejalan dengan pandangan “hidup menjadi nyata dengan hadirnya kematian” oleh Heidegger yang dipaparkan kembali oleh Budi Hardiman pada buku yang berjudul Filsafat Maut. Akar dari pandangan ini adalah kematian yang merupakan pengalaman yang sangat subjektif dan tidak bisa digantikan oleh orang lain.

Seseorang bisa saja meraba-merasakan adanya kematian saat maut datang pada orang lain. Tetapi, orang tersebut hanya mengasumsikan pengalaman kematian karena ia sendiri belum mengalaminya secara langsung.

Perabaan akan kematian saat seseorang masih hidup pada akhirnya membuat seseorang memahami bahwa hidup memiliki batas waktu yang pasti tapi entah di mana. Batasan inilah yang akan membuat kehidupan menjadi nyata; kehidupan menjadi ada saat kematian merupakan sebuah kepastian.

Cara pandang serupa juga dilakukan oleh kaum samurai. Mengutip buku yang sama dan dijabarkan oleh Lili Tjahjadi, para samurai mendapatkan makna dalam menjalani kehidupannya saat mereka sadar penuh bahwa setiap detik kehidupan selalu beririsan dengan kematian.

Seperti yang disampaikan oleh Yamamoto Tsunemoto dalam Hagakure: “Jalan sang bushi ditemukan dalam kematian.” Pandangan ini membuat keberanian dan suka-cita samurai untuk mati dalam tugas adalah hal yang tidak dapat dinego.

Bahkan, saat periode tenang dan minim konflik di jaman dinasti Tokugawa, samurai yang meninggalkan pedang dan berganti profesi keseharian menjadi pegawai serta mengurusi administrasi harus tetap merenungi kematian setiap pagi. Hal tersebut bertujuan sama: untuk merasakan makna hidup.

Makna hidup yang muncul dengan adanya kematian setidaknya dapat memberikan pandangan baru mengenai maut yang ditakuti. Akan tetapi, cobalah untuk hati-hati dalam mencerna pandangan tersebut, terutama pada sikap samurai terhadap kematian. Apalagi, jika didalami lebih lanjut, jalan pedang yang diambil samurai akan membuat mereka dengan mudah melakukan seppuku untuk mengakhiri hidup dengan tangan sendiri demi memperbaiki martabat yang ternoda. Karena hilangnya martabat sama artinya dengan hilangnya makna hidup.

Tetap bernapas tanpa memiliki makna hidup sama seperti mayat hidup. Dengan kematian, berhenti menjadi mayat hidup serta meraih kembali makna hidup yang hilang akan dapat tercapai. Dari sini saja dapat dilihat bahwa pandangan tersebut akan sangat fatal jika tidak dipahami dengan bijak. Jadi, jangan telan mentah – mentah.

Padangan tersebut sama sekali tidak mendukung pembaca untuk melegalkan bunuh diri akibat frustrasi dengan kehidupan. Kehidupan yang berantakan tidak dapat diubah menjadi bermakna dengan cara mati.

Saat kematian adalah hal yang pasti dan akhirnya membuat hidup menjadi utuh, kehidupan yang selalu berjalan mengarah ke garis akhir tetap perlu diisi dengan perjuangan dan suka cita. Suka cita inilah yang akan membuat manusia mendapatkan makna di setiap detik hidupnya.

Menikmati dan merayakan hidup sepenuhnya sampai senyuman maut datang dengan sendirinya. Seperti sysipus yang merayakan takdirnya untuk mendorong batu ke atas bukit seumur hidup, walau ia tahu bahwa batu tersebut akan selalu kembali menggelinding ke bawah.

Fatum Brutum Amor fati![T]

Pikiran Salah terhadap Depresi
Masalah dan Solusi Pada Pendampingan Orang Dengan Gangguan Jiwa
Cara Manusia Menyimpulkan Sesuatu dan Bagaimana Memanfaatkannya
Tags: kematianrenungan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Meninggalkan “Ngayah”, Melupakan Identitas

Next Post

Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik

Krisna Aji

Krisna Aji

Psikiater dan penulis lepas

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik

Putu Dian Ujiana, Kapal Pesiar, dan Komik Beluluk yang Ikonik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co