23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KKN: Belajar Jadi Manusia, Belajar dari Figur Kades, dan Awas Ada Hantu LDR…

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Kepala Desa Sampalan Tengah Wayan Mudiarta dan mahasiswa KKN Undiksha

SELAIN sebagai mata kuliah wajib dan harus diikuti, Kuliah Kerja Nyata (KKN) bisa jadi merupakan ajang belajar mahasiswa untuk belajar hidup berkemanusiaan. Tujuan resmi KKN untuk mengabdi kepada masyarakat sehingga mahasiswa harus diterjunkan langsung ke lingkungan masyarakat untuk membantu perkembangan desa menuju sebuah perbaikan hidup yang meliputi sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan sanitasi kesehatan.

Namun saat mengabdi itulah mahasiswa punya kesempatan belajar juga. Mahasiswa biasanya dapat mengetahui secara langsung sebuah interaksi dalam bermasyarakat hingga seluk-beluk desa yang mereka kembangkan.

Untuk menjalankan visi-misinya yakni pengabdian pada masyarakat biasanya mahasiswa memiliki program kerja yang sesuai dengan kebutuhan desa, semisal program kerja tersebut mampu menyelesaikan permasalahan yang ada di desa. Sehingga desa dapat terbantu dengan adanya kegiatan KKN dari mahasiswa bahkan jika perlu program KKN tersebut dapat berkelanjutan artinya mampu diterapkan selamanya oleh masyarakat untuk kemajuan desa tersebut.

Dari program yang dibuat, mahasiswa ber-KKN harus dapat berbaur, berinteraksi  dengan masyarakat hingga pengetahuan yang sudah mahasiswa dapat  di perguruan tinggi bisa disampaikan (explorasi) pada masyarakat dengan baik. Dari situ mahasiswa belajar juga memahami pola pikir masyarakat, cara bergaul dengan masyarakat, serta cara ampuh untuk menyuntikkan ide-ide kepada masyarakat.

Misalnya interaksi sosial antara masyarakat dan Mahasiswa KKN di Desa Sampalan Tengah – Klungkung. Di desa ini mahasiswa mampu berbaur berinteraksi dengan masyarakat dalam hal bergotong royong hingga memberikan pemahaman terkait pentingnya budaya gotong royong, dalam hal sosialisasi mahasiswa mampu bekerja sama dengan lembaga-lembaga seperti dinas kesehatan untuk penyuluhan pada masyarakat tentang bahaya HIV/AIDS hingga kepedulian terhadap lansia dengan program KKN senam sehat dan cek-up gratis.

Dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang telah diamanatkan oleh preambule alinea VI UUD 1945 mahasiswa KKN membuka rumah belajar bagi anak-anak masyarakat desa sehingga menambah pengetahuan bagi mereka. Semangat juang ini harus terus diterapkan dalam setiap realitas sosial sehingga label mahasiswa apatis yang menjadi sisi buruk mahasiswa hari ini, akan mampu dijawab dengan kegiatan-kegiatan kemanusiaan pada masyarakat dan tak hanya dalam bentuk program KKN.

Sisi kemanusiaan mahasiswa sejatinya memang harus kembali pada masyarakat, membela rakyat dan mengabdi secara ikhlas untuk kemanusian dan peradaban suatu bangsa. Maka mahasiswa dalam hal ini, menyandang kaum elite intelektual yang memiliki tupoksi sebagai, agent of change, agent of social change bahkan moral force maka tidak salah pendapat yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo dalam Kongres PMII bahwa mahasiswa jangan hanya sebatas demo sebagai kontrol sosial namun juga harus mengabdi secara nyata pada masyarakat luas.

Hantu LDR ber-KKN

Setiap manusia memiliki cinta dan kasih maka hal itu yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya, Cinta semacam perasaan suka, senang, bahagia yang bersangkutan dengan lawan jenis dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) biasanya disebut berkasih-kasihan (Asmara).

Kaum Intelektual biasanya bergelut dengan hal ini “Perempuan yang dikasihi” atau “Lelaki yang disayangi” seperti itu kira-kira dalam kajian humanistik Antropologi bab VII Cinta dan Kasih. Lalu bagaimana dengan cinta yang hidup dalam rentangan jarak dan waktu ? Pertanyaan ini biasanya sering dialami oleh mahasiswa yang sedang menjalani semangat juang menempuh perkuliahan untuk menuju skripsi dengan melewati hadangan Kuliah kerja Nyata (KKN) terlebih dahulu.

Long Distance Relationship (LDR)  istilah yang popular dewasa ini dikalangan muda-mudi kalau dikaitkan dengan pertanyaaan itu, pengertiannya sendiri merupakan hubungan jarak jauh, ketika kita dan pasangan kita sedang menjani hubungan namun terpisah oleh jarak dan perbedaan waktu. Cinta memang tak kenal tempat dan waktu dimana saja perasaan itu bisa bersemi meskipun dipisahkan lautan, gunung, sungai, hingga benua. Pada masa-masa ini sulit untuk kita mematerialkan apa itu cinta, yang hanya bisa dilakukan sebatas Video call di sosial media yang mengobati gejala rindu dan gelisah pada tawa, canda, tangis, gembira dan bahagia.

Apalagi kalangan mahasiswa yang sedang menjalani tugas perkuliahan di perguruan tinggi dengan melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di suatu daerah sehingga “mau tidak mau” harus terpisah dengan kekasihnya ada suasana berbeda kisah yang berbeda tanpa kebersamaan diantara keduanya. Banyak cobaan dalam kisah ini bahkan di tatkala.co ada artikel mengatakan “Habis KKN Terbitlah Cinta Segitiga” lalu artikel lain di media lain ada yang mengatakan “KKN itu ajang kita nyari Selingkuhan”. Bagaimana tidak mengerikan, macam hantu yang menakutkan bagi manusia.

Ber-KKN tentunya rawan terjadi konflik dalam setiap hubungan cinta dan kasih, apalagi diantara kedunya tidak ada rasa saling percaya dan komitmen tinggi, sehingga timbul prasangka negatif dan saling curiga. Idealnya ber-KKN ialah mengabdi kepada masyarakat namun mahasiswa ber-KKN terkadang terkena virus Cinta Lokasi dengan sesama peserta KKN, banyak hantu-hantu LDR dalam menguji kesetian hubungan itu. Dan bahkan kita bisa saja berpaling untuk memilih kembang-kembang desa yang bertaburan disetiap hari yang mahasiswa jalani.

Situasi di posko merupakan sebuah kisah dimana antara mereka saling memperhatikan memberi perhatian, melihatnya Bangun pagi, melihatnya habis mandi, melihatnya saat makan hingga sekedar basa-basi untuk menikmati kopi pada setiap malam yang syahdu. Terlintaskah kekasih kita di rumah? Apakah kita lupa ataukah mahasiswa ber-KKN hanya butuh hiburan dalam aktivitas KKN-nya sebagai penyemangat lalui petualangannya?

Tentu setiap mahasiswa punya prinsip dan rasa yang berbeda-beda, ada yang memilih dengan hidup dalam cinta segitiga, ada yang hidup dalam angan-angan bersamanya melalui perantara cinta lokasi, bahkan ada jalur komparasi antara si dia dan kekasihnya.

Ini bukan berbicara soal manifesto komunis yang dalam pembukaannya “ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu itu bernama Komunisme” namun dalam tulisan ini sedikit saya ubah redaksi dan maknanya “Ada hantu berkeliaran dalam kegiatan KKN, hantu itu bernama Hantu LDR” kira-kira begitu yang tertulis dalam harian pribadi penulis.

Hantu LDR berupa Cinta segitiga, Cinta Lokasi, Pandangan Pertama dapat dinetralisir dengan rasa saling percaya dan komitmen pada suatu hubungan, menghargai perjalanan kisah kasih dengannya dan komitmen pada hubungan cinta kasih yang serius. Maka mahasiswa yang hidup pada tahapan ini tidak akan dihantui konflik yang membawa pada hancurnya sebuah hubungan.

Pak Kades Sosok Tegas dan Disiplin Waktu

Jika kita kembali mengingat sosok pemimpin pemberani, tegas dan disiplin tentu yang terlintas dalam benak kita adalah sosok Ir. Soekarno dan Jenderal Soeharto yang sangat tepat dengan ciri-ciri tersebut. Ada beberapa sifat pemimpin yang sudah banyak kita ketahui dalam sekup para pemimpin yang pernah menjabat presiden republik Indonesia semisal BJ Habibie yang cerdas dan polos, ada Gus Dur yang Easy Going dengan menganggap semua masalah gampang diselesaikan dengan lelucon khasnya “gitu aja kok repot” bahkan Presiden kita hari ini Ir. Joko Widodo yang sangat penyabar dan lemah lembut dengan karakternya yang blusukan. Tentu tujuan dalam penulisan ini adalah menggabarkan karakter sosok pemimpin.

Pemimpin sejatinya adalah melayani tak hanya sekedar memerintah, seperti itu kira-kira Bahasa dalam esai-esai yang ditulis oleh Alfan Alfian. Berbeda lagi dengan pengertiannya secara modern Dictionary of sociology pemimpin atau Leader ialah seseorang yang mempunyai peran sentral dan mempunyai pengaruh dalam suatu kelompok yang disebut masyarakat.

Pemimpin di Indonesia dalam sekup pemerintahan dan kewenangan kedaerahan mempunyai banyak tingkatan mulai dari presiden yang memimpin negara hingga kepala desa yang memimpin desa. Dalam tulisan ini akan menggambarkan figure kepala desa yang memiliki sifat tegas, berani dan disiplin yakni Bapak Wayan Mudiarta.

Berbicara kedisiplinan sosok kepala Desa Sampalan Tengah mengajarkan kepada setiap yang dipimpin tentang pentingnya menghargai waktu. Makna yang dapat kita petik dari pesan moral kepala desa.

“Soal waktu, soal kedisiplinan hidup. Siapa yang tidak menghargai waktu ialah yang lalai dalam hidupnya. Waktu tidak bisa di negogosiasi jika datang pada waktunya apa yang harus kita kerjakan ya harus kita kerjakan. Tidak ada ruang waktu kosong bagi kita yang masih muda untuk tidak memanfaatkan waktu. Gunakan waktu yang kita punya untuk bekerja keras. Nanti kelak kita tua,giliran kita akan santai menikmati waktu yang kita punya dan menikmati hasil kerja keras kita yang kita lakukan untuk menghindari Bom waktu”.

Petuah ini tidak hanya menjadi suratan atau kiasan yang disampaikan kata perkata oleh beliau namun tampak terlihat dalam realitas bagaimana saat mahasiswa KKN lalai akan waktu yang sudah diagendakan untuk berkegiatan. Kepala desa tak segan untuk menegur secara terbuka dan ketegasannya sebagai pemimpin sudah terlihat.

Soal ketegasan hal yang kita lihat dari sosok kepala desa yakni beliau tegas namun bernurani di sela-sela ketegasannya tersimpan canda dan tawa hingga sosoknya mampu menyesuaikan diri dalam setiap suasana. Kita tarik benang merahnya bahwa pemimpin harus menjadi sosok teladan dan patron sebuah perubahan. ada keunikan dalam setiap tingkah laku dan gagasannya hingga kita dapat menyimpulkan sendiri makna kepemimpinan yang dapat kita pelajari dari sosok kepala desa tersebut. (T)

Tags: cintadesaKKNKlungkungmahasiswaUndiksha
Share10TweetSendShareSend
Previous Post

Gema Cinta Bangsa dan Tepuk Indonesia – Catatan KKN Undiksha dari Tulamben

Next Post

Iwan Setiawan# Laila O Laila, Kita Masih Sepasang Bocah

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Iwan Setiawan# Laila O Laila, Kita Masih Sepasang Bocah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co