23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
May 16, 2024
in Esai
Harbuknas, Momentum Refleksi Gerakan Literasi 

Foto ilustrasi: tatkala.co

MEI adalah bulan penuh pesona dalam khasanah gerakan mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada 2 Mei kita merayakan Hari Pendidikan Nasional, dan 17 Mei Hari Buku Nasional, serta 20 Mei Hari Kebangkitan Nasional. Jika menilik historisnya, ketiga peringatan hari besar itu saling terhubung dalam konteks perjuangan bangsa. Melalui bukulah, sejarah pendidikan dan sejarah kebangkitan nasional dicatat. Tanpa buku, jejak sejarah itu tidak terlacak. Sejarah berhutang budi pada budaya buku.

Walaupun Harbuknas baru dicetuskan pada 17 Mei 2002,  secara historis dapat dilacak dari sejarah berdirinya Balai Pustaka yang semula bernama Komisi untuk Bacaan Rakyat (Commisisie voor de Volslectuur) berdiri 15 Agustus 1908 dan pada 17 Mei 1917 berganti nama menjadi Balai Pustaka. Commisisie voor de Volslectuur berdiri sebagai bagian dari Politik Etis (politik balas budi) Belanda yang digagas Van Deventer dengan inti aktivitasnya irigasi, migrasi, dan edukasi. Tiga program prioritas itu dijadikan Belanda untuk melanggengkan kekuasaan di daerah jajahannya, Indonesia (dulu :Hindia Belanda).

Mengapa? Pertama, melalui irigasi, Belanda hendak menyiapkan pangan yang cukup bagi negeri jajahannya walaupun dengan penuh paksaan dan siksaan yang disebut kerja rodi bagi penduduk pribumi. Pangan itu dapat dihasilkan dengan irigasi yang baik di seluruh tanah jajahan Belanda yang sejak doeloe kala terkenal subur makmur. Sistem irigasi itu di Bali dikenal dengan nama subak yang kini mendunia dengan kearifan lokalnya.

Kedua, melalui program migrasi, Belanda memindahkan penduduk dari pulau yang padat ke pulau yang jarang penduduknya. Pemerataan penduduk antarpulau diniatkan untuk mengelola sumber daya pertanian (agraris) yang kaya raya di negeri ini. Selain itu, melalui migrasi, terimplisit pula maksud terjadi transformasi  budaya agraris yang lebih maju dan merata di seluruh tanah jajahannya untuk melanggengkan kekuasaan.

Ketiga, melalui edukasi, Belanda hendak mengontrol daerah jajahannya melalui pendidikan. Pendidikan dipandang strategis untuk melanggengkan kekuasaan. Oleh karena itu, seleksi penerimaan siswa sangat terbatas (golongan ningrat) dan diatur dengan regulasi yang menguntungkan penjajah. Itu pun untuk pemenuhan birokrat kelas rendah dengan akses kekuasaan terbatas. Dengan pembatasan itu, cengkraman Belanda makin menguat di tanah jajahannya.

Namun, sayang Belanda salah perhitungan. Sejumlah bangsawan Hindia Belanda yang berkesempatan bersekolah, ternyata membakar api semangat membela negerinya dan sadar bahwa penjajah Belanda tak seharusnya berkuasa dan menginjak-injak warga yang nota bena adalah pemilik sah.

Dari program edukasilah lahir kesadaran nasional dengan semangat literasi para tokoh pergerakan yang dimotori mahasiswa STOVIA melahirkan organisasi Budi Utomo  yang gagas oleh dr. Wahidin Soediro Husodo. Kemudian, organisasi ini dipimpin Soetomo  dengan sekretaris  Gondo Soewarno dan Goenawan Mangoenkoesoemo. Tokoh-tokoh Budi Utomo dikenal sangat literat mengutamakan kesadaran budi dengan asupan bahan bacaan sebagai panduan. Kelahiran  Commisisie voor de Volslectuur tiga bulan setelah Budi Utomo berdiri seakan menyiapkan dapur bacaan dengan cita rasa gizi Belanda.

Maklumlah kala itu, bahan bacaan di bawah  sensor Belanda. Namun pembaca yang arif bijaksana, tidak saja membaca di permukaan sebagai bermain surfing di atas ombak berbuih putih, tetapi menyelam di kedalaman menemukan hakikat mutiara di balik bacaan. Itulah senjata pemungkas kaum pejuang literat yang berkat keberaksaraannya mampu menguasai ilmu pengetahuan yang tidak bisa diambil musuh.

Berubahnya,  Commisisie voor de Volslectuur menjadi Balai Pustaka pada 1917 menjadi babak baru mengindonesiakan perjuangan semakin nyata adanya. Kelak inilah menjadi cikal-bakal lahirnya Sastra Indonesia modern dengan Balai Pustaka sebagai tonggak kelahirannnya.  Lahirnya organisasi pergerakan politik yang memerdekakan diiringi dengan lahirnya lembaga pendidikan dan Balai Pustaka saling melengkapi,saling menyemangati serta saling mempersenjatai. Dalam konteks pembelajaran kini, inilah yang disebut kolaborasi.

Ketika literasi diformalkan sejak 2016 dengan gerakan terstruktur melalui Gerakan Literasi Nasional (GLN)  dan  Gerakan Literasi Sekolah (GLS), hasilnya dibandingkan dengan tes PISA menunjukkan kemampuan literasi kita masih rendah. Berbagai upaya juga telah dilakukan untuk menyukseskan Gerakan Literasi  seperti pemilihan Duta Literasi, lomba literasi berjenjang dari tingkat sekolah hingga nasional,  Asesmen Nasional dengan fokus literasi dan numerasi.

Selempang “Duta Literasi” di dada juga makin marak dianugrahkan dengan harapan mengedukasi dan mempercepat gerakan. Begitulah gerakan kini selalu ramai di permukaan dan sesaat viral di media sosial, sebagai bahan pencitraan untuk mendapat pujian : keren, top, mantap, luar biasa !

Berbeda dengan saat masa perjuangan kebangsaan zaman kolonial. Mesti harus disadari bahwa suasana kebatinan yang melatarbelakangi pergerakan literasi zaman penjajah disatukan oleh  semangat memerdekakan bangsa dari penjajah, sedangkan gerakan literasi kini disatukan oleh semangat Merdeka Belajar dalam jaringan maya. Jaringan pergerakan zaman kolonial adalah jaringan faktual dengan semanagat patriotik.

Tantangan literasi yang dihadapi kini adalah budaya instan digital melalui lompatan teknologi supercepat dengan bahan bacaan yang melimpah. Banjirnya bahan bacaan di media sosial dapat membuat kohesi dan koherensi kebangsaan terganggu bila tidak dibarengi dengan kecerdasan literat. Memilih, memilah, dan mengolah informasi untuk kebermaknaan hidup yang guyub memanusiakan dan memberadabkan. Bersamaan dengan itu, budaya membaca buku kian tergerus. Toko-toko buku besar juga pasrah menyerah, tidak kembali modal.

Namun demikian, buku sebagaimana lontar sebagai bagian produk budaya mesti terus diproduksi dan  dirawat bersamaan dengan semangat digitalisasi. Jika tidak demikian, tonggak sejarah perbukuan dan perlontaran akan habis ditelan zaman digital.  Hari Buku Nasional setiap 17 Mei seyogyanya menjadi  momentum refleksi Gerakan Literasi Nasional. Ayo, membaca buku! [T]

BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT

 Guru Penggerak Sebagai “Balian Ketakson”
Kurikulum Merdeka Berkiblat ke Taman Siswa
Kurikulum  Dengan Pendekatan “Desa, Kala, Patra”
Tags: Hari Buku NasionalLiterasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Berebut Rekomendasi Menuju Pilgub Bali: Bagaimana Peluang Koster-Giri?

Next Post

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Semalam Bersama Persib Bandung: Banyak Kesempatan Terbuang dan Satu Sama Bukan Persoalan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co