24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 26, 2024
in Khas
Formasi Baru Grup Musikalisasi Puisi Komunitas Mahima

Grup muspus Komunitas Mahima yang baru | Foto: Hizkia

BUAH usaha dari Fuad Hasan—kala itu menjabat sebagai Mendikbud tahun 1985-1993—dan Sapardi Djoko Damono yang ingin mempopulerkan puisi Indonesia ke kalangan anak sekolah, maka lahirlah Ari Reda. Duo musisi folk yang aktif mengalihwahanakan puisi menjadi lagu—dan menembangkannya—sejak tahun 1988 silam.

Kemunculan Ari Reda dengan musikalisasi puisinya, semacam kendaraan yang memperlancar atau lebih mendekatkan puisi ke masyarakat dengan kemasan lagu. Sehingga, kini, jika berbicara tentang musikalisasi puisi, barangkali kiblat dari musikalisasi puisi Indonesia adalah duet legendaris Ari Malibu dan Reda Gaudiamo.

Banyak musikus generasi baru yang lahir dari keindahan suara Ari Reda—dengarkan saja Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari, dan Aku Ingin. Tapi Heri Windi Anggara, musisi asal Bali yang fokus dalam bidang musikalisasi puisi, meyakini jika muspus (singkatan dari musikalisasi puisi) sudah berkembang sejak zaman Sunan Kalijaga.

Sedangkan di Bali sendiri, muspus sudah berkembang sejak tahun 1960-an di tiga kabupaten, yakni di Jembrana, Buleleng, dan Denpasar.

Meski begitu, tak bisa dimungkiri jika upaya memusikkan puisi atau menggabungkan seni baca puisi dengan seni musik yang dilakukan oleh Ari Reda, sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan musikalisasi puisi di Indonesia.

Grup muspus Komunitas Mahima saat launching mini album di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Di Buleleng, misalnya, diam-diam muncul kelompok musikalisasi puisi yang dengan konsisten telah menghasilkan karya musikalisasi puisi sebanyak tiga album. Meskipun sempat vakum, kini, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima, bangkit kembali dengan anggota baru dan warna musik yang lebih eksploratif.

Pada tahun 2024, Rahatri Ningrat (Gek Ning), Mila Romana, Gung Divata, Dadidu, Gung Andre, dan Ari Fernando, mencoba membangkitkan kembali kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima dengan menghadirkan empat lagu bernuansa lebih segar—tak melulu gelap, sendu, keras, sebagaimana muspus-muspus pada umumnya.

“Kami terbentuk (lagi) pada saat acara Pekan Raya Cipta Karya Mahima, beberapa bulan yang lalu,” kata Gek Ning ketika dihubungi di sela-sela kesibukannya menjadi seorang guru di salah satu SMA di Buleleng.

Ia bercerita, pada saat itu, dirinya diminta untuk menampilkan musikalisasi puisi pada saat acara pembukaan Pekan Raya Cipta Karya Mahima yang berlangsung pada 17 November 2023 yang lalu.

“Saat itu kami membawakan empat lagu. Dua muspus dari album Raya-Raya Cinta, satu muspus dari Interior Danau, dan satu muspus garapan baru, Pada Suatu Hari Nanti,” ujar Gek Ning.

Empat karya musikalisasi puisi yang mereka sajikan kali ini adalah Pada Suatu Hari Nanti, puisi karya Sapardi Djoko Damono; Untuk Gadisku, karya Tuti Dirgha; Tuhan Milik Siapa, karya Made Adnyana Ole; dan Sajak Cinta Bidadari, karya Nuryana Asmaudi SA.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

Pada tanggal 15 Maret 2024, kelompok musikalisasi puisi Komunitas Mahima ini sukses mengadakan konser dan sekaligus launching mini album Mahima, di acara Mahima March March March 2024 yang berlangsung di Rumah Belajar Komunitas Mahima.

Dalam kesempatan itu, mereka bercerita tentang bagaimana proses kreatif mereka dalam mengalihwahanakan seni baca ke dalam seni dengar tersebut. Menurut Gek Ning, pemilihan tema sangat penting sebagai langkah awal untuk membuat musikalisasi puisi.

“Jika temanya sudah ketemu, selanjutnya melakukan pembacaan terhadap puisi yang akan dijadikan muspus. Ini untuk menentukan pemenggalan-pemenggalan,” jelasnya, setelah selesai tampil di acara Mahima March March March 2024, Jumat (17/03/24) malam.

Di hadapan penonton kala itu, dengan semangat Gek Ning menjelaskan bagaimana tahap-demi tahap ketika membuat musikalisasi puisi. “Kemudian, tahap selanjutnya adalah menerjemahkan puisi ke dalam musik. Dengan penentuan nada menggunakan gitar dan elemen-elemen lain sebagai penyempurna,” sambungnya dengan semangat.

Sedangkan Dadi—dalam kelompok ini ia kadang menyanyi, kadang juga main piano—menyampaikan sikap dirinya dalam memandang musikalisasi puisi. Menurutnya, bermain musikalisasi puisi adalah bagaimana cara menyalurkan selera musik kita dengan menggunakan lirik yang berasal dari puisi. “Untuk puisi Pada Suatu Hari Nanti, saya membawanya ke nuansa yang lebih happy,” katanya.

Benar, untuk lagu ini, kelompok Musikalisasi Puisi Mahima berhasil keluar dari bayang-bayang Pada Suatu Hari Nanti versi Ari Reda—yang terkenal itu. Meskipun, hal itu juga mendapat respon yang beragam dari para pendengar yang saat itu hadir menyaksikan mereka perform.

“Dengan menggubah puisi itu menjadi musik ala-ala Britpop, saya ingin puisi ini lebih dekat dengan generasi muda sekarang,” tutur Dadi, mencoba meyakinkan pendengar.

Sedangkan dalam pemilihan puisi Untuk Gadisku, adalah sebuah bentuk rasa kebanggan untuk membawa penyair Buleleng ke dalam karya-karya muspus mereka. Benar, Tuti Dirgha adalah seorang penulis dari Buleleng yang karya-karyanya, termasuk antologi puisinya, diterbitkan di Penerbit Mahima sendiri.

Satu fakta yang menarik adalah, Tuti Dirgha merupakan ibunda dari salah satu vokalis Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima, yakni A.A Ayu Rahatri Ningrat, atau yang lebih akrab disapa Gek Ning.

Satu puisi yang akhirnya mereka pilih untuk dimusikalisasikan adalah puisi karya Made Adnyana Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa. Menurut pengakuan Dadi, puisi romantis dengan bumbu-bumbu satire itu merupakan sebuah puisi yang diciptakan Made Adnyana Ole sebagai hadiah pernikahannya dengan sang istri.

Grup muspus Komunitas Mahima saat ngobrol musikalisasi puisi di Mahima March March March 2024 | Foto: Hizkia

“Setelah selesai mengaransemen Sajak Cinta Bidadari, saya kemudian mengaransemen puisi Pak Ole yang berjudul Tuhan Milik Siapa,” cupa Dadi. Kemudian ia menambahkan, “Karena bagi saya, puisi itu sangat spesial dalam hidup saya.” Ia tampak bangga mengucapkan hal tersebut.

Gek Ning, sebagai generasi lama dalam kelompok musikalisasi puisi ini, dalam kesempatan lain, ia menceritakan bagiamana usahanya dalam menghidupkan kembali kelompok musikalisasi ini dengan formasi yang baru. “Saya mengajak mereka, karena saya melihat mereka memiliki pemahaman tentang musik yang sangat bagus. Dan mereka memiliki minat juga untuk mencoba bermain musikalisasi puisi,” jelasnya.

Ia kembali menuturkan, pada awal pembentukannya, mereka sempat kesulitan dalam hal menyamakan persepsi tentang puisi. Namun, untungnya, mereka saling terbuka dan legowo dalam menerima hasil atau keputusan diskusi—tentang puisi—yang mereka lakukan.

Meski sebagian besar dari kelompok musikalisasi puisi ini adalah orang-orang yang sudah memiliki pengalaman di bidang musik dengan genrenya masing-masing, namun mereka tetap mengaku kesulitan dalam menentukan nada untuk dipakai dalam musikalisasi puisi.

“Kalau susahnya sih pas menentukan nada. Karena nada akan menentukan ke mana arah musik selanjutnya,” ucap salah satu dari mereka saat sesi diskusi di Rumah Belajar Komunitas Mahima beberapa waktu yang lalu.

Walaupun sebagai kelompok musikalisasi puisi dengan latar belakang kesukaan, atau selera musik yang berbeda-beda, mereka optimis dan terus berusaha untuk tetap bereksplorasi dengan pendekatan-pendekatan musik yang mereka ketahui.

Dengan begitu, bisa dikatakan, Kelompok Musikalisasi Puisi Mahima akan terus mengelurkan karya musikalisasi puisi dengan menggunakan berbagai unsur genre ke dalam karya mereka ke depannya.

“Kami berharap, semoga bisa selalu konsisten dalam musikalisasi puisi, agar terus dapat menghasilkan karya-karya yang lebih fresh ke depannya,” ujar Gek Ning, memungkasi sesi diskusi malam itu. Sekadar informasi, karya-karya musikalisasi Komunitas Mahima dapat ditonton dan dengarkan di kanal Youtube Komunitas Mahima.[T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Jaswanto

Tahap-tahap Alih Wahana Karya Sastra ke Musikalisasi Puisi | Dari Pekan Raya Cipta Karya Mahima
Samudera Kehidupan dalam Fragmen Musikalisasi Puisi dari Yayasan Kertas Budaya Indonesia
Suara Perlawanan dalam Alunan Musikalisasi Puisi Budang Bading Badung | Catatan Tatkala May May May 2023
Membawa Musikalisasi Puisi ke Ruang yang Berbeda-beda
Tags: Komunitas Mahimamusikmusikalisasi puisimuspusPuisisastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tradisi Tadarus Al-Qur’an Bersama di Rumah-Rumah Warga Saat Bulan Puasa

Next Post

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails

Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

by Agung Sudarsa
August 19, 2026
0
Bibit Merdeka: Menabur Kemerdekaan dari Sebutir Benih         

MENJELANG peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, kita biasanya kembali mengenang perjuangan para pahlawan, pengorbanan para pendahulu, dan lahirnya bangsa yang...

Read moreDetails

Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

by Komang Puja Savitri
August 18, 2026
0
Delapan Meter di Atas Tanah, Ketut Suryadnya Menyambung Hidup dari Tuak

SEORANG laki-laki berkulit sawo matang mulai memanjat batang pohon lontar. Dua jeriken merah terikat di punggungnya, sementara sebilah pisau golok...

Read moreDetails

Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

by Nyoman Budarsana
August 18, 2026
0
Abdi Budaya Nugraha 2026 untuk Mereka yang Menjaga Seni di Tengah Perubahan Kuta

DI balik pertunjukan seni yang masih dapat disaksikan di Kuta, ada orang-orang yang bertahun-tahun berlatih, mengajar, berkarya, dan meneruskan pengetahuan...

Read moreDetails

Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
Gaungkan Semangat Berjuang, Tut Karben Siap Pimpin Desa Guwang

MALAM mulai turun di Banjar Danginjalan, Desa Guwang, Sukawati, Gianyar, Sabtu, 15 Agustus 2026. Di sebuah tempat makan yang baru...

Read moreDetails

“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

by Dede Putra Wiguna
August 16, 2026
0
“Jeg Gas Saja Dulu”: Ketika Gus Tolet Mengajak Calon Wisudawan UPMI Bali untuk Berani Melangkah

 “Saya cari tiga orang, yang mau bikin konten pendidikan dengan menggunakan baju Handmad Campah. Saya bayar Rp1,5 juta tiap bulan....

Read moreDetails

“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

by Rusdy Ulu
August 9, 2026
0
“Batur Paramanugraha” untuk Dua Desa, “Batur Kawinugraha” untuk Tiga Seniman

SEJARAH Desa Adat Batur tidak hanya tercatat melalui peristiwa Rarud Batur 1926, tetapi juga melalui hubungan yang terbangun antara masyarakat...

Read moreDetails

Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

by Dede Putra Wiguna
August 8, 2026
0
Sthala Ubud Village Jazz Festival 2026 Resmi Dibuka—Merayakan Jazz yang Benar-Benar Jazz

“JAZZ itu musik yang meneduhkan, tapi mengajak berpikir,” ujar Gede Diarta, seorang pemuda asal Denpasar yang sehari-hari bekerja sebagai karyawan...

Read moreDetails

Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

by Jaswanto
August 7, 2026
0
Usaha Menumbuhkan Sanggar Putri Nyale dan Menata Masa Depan Dramatari Sasak

DI ruang aula SMAN 4 Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, beberapa pemuda-pemudi dari Sanggar Putri Nyale duduk di kursi...

Read moreDetails

Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

by tatkala
August 6, 2026
0
Pentingnya Kursus Bahasa Inggris untuk Semua Kalangan

“Pentingnya kursus bahasa Inggris untuk semua kalangan tidak bisa diragukan lagi. Bahasa Inggris penting sebagai bahasa global, untuk dunia kerja,...

Read moreDetails
Next Post
Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Sidang Paripurna, Ketua DPRD Buleleng Minta Tegakkan Perda Secara Optimal  

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co