25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

I Dewa Gede Darma Permana by I Dewa Gede Darma Permana
March 9, 2024
in Esai
Wajah Nyepi, Relasi Agama dan Budaya untuk Harmoni

Gambar Harmonisasi Rangkaian Hari Suci Nyepi di Bali (Diambil dari Rekaman Winduswastika, 2024)

“Saat semua semakin cepat, Bali berani berhenti dan menyepi.”

Seperti itulah salah satu kutipan lirik lagu Navicula yang di bulan Maret akan selalu bergema. Lirik sederhana yang menjadi simbolis curhatan keagungan, curhatan keistimewaan, dan curhatan kedamaian. Segala curhatan untuk Bali sebagai pulau suci yang dikenal sebagai The Last Paradise. Bukan semata-mata karena alamnya, bukan semata-mata karena pariwisatanya, bukan juga soal budaya, adat, dan tradisinya. Hal ini tentang Nyepi, hakikat yang diyakini bisa merangkul segalanya.

Menimbang sifatnya yang bisa merangkul semua, tak pelak menjadikan Nyepi juga menggaet hitam dan putih. Di satu sisi, Nyepi begitu dikagumi karena menjadi hakikat pemberi kedamaian dalam satu hari. Ia mampu menghemat listrik, menahan adanya Sang Bhuta Polusi, serta mampu memberikan ruang bagi alam untuk tertawa kembali. Namun di sisi lain, Nyepi ternyata juga mampu mengundang ketidaknyamanan dan ketidaktahanan bagi beberapa oknum, sang pembuat keriuhan.

Tidak lepas dari ingatan, beberapa kasus keriuhan muncul menyertai hari suci Nyepi. Dari oknum fans sepak bola yang menghina Nyepi karena layanan televisi dan internet dihentikan sementara, kasus bule yang adu mulut dengan Pecalang karena mengalami kemacetan saat prosesi Nyepi yaitu Melasti, bahkan yang paling populis adalah oknum warga di Desa Sumberklampok yang membuka portal secara paksa untuk dapat pergi ke Pantai Segara Rupek di hari H Nyepi (Adnyana, 2023).

Tidak jauh berbeda dengan dunia nyata, dunia maya bahkan jauh lebih mengerikan. Tidak lepas dari ingatan ketika Pawai Ogoh-ogoh serangkaian Nyepi di Jakarta pada tahun 2023 lalu dikaitkan dengan festival penyembah setan di Brazil. Lebih lanjut di platform media sosial “X”, juga menampilkan oknum yang bercuit menggiring opini, bahwa Nyepi sebagai suatu budaya telah melarang umat Muslim menjalankan ajaran agamanya, yaitu Shalat Tarawih. Padahal berkaca dari sisi kesepakatan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Bali dan yang sudah biasa berlaku di Bali, umat Muslim saat Nyepi tetap diperkenankan menjalankan Shalat Tarawih ke Masjid dengan himbauan berjalan kaki, serta diharapkan tidak memakai pengeras suara.

Jadi dari semua keriuhan tersebut, apakah memang benar Nyepiadalah sekedar budaya yang tidak boleh melangkahi agama? Dan Apakah seruan antara Nyepi dan toleransi hanya sekedar basa-basi?

Nyepi adalah Relasi Agama dan Budaya itu Sendiri

Menurut Clyde Kluckhohn, sistem religi yang dalam hal ini agama, merupakan salah satu bagian dari tujuh (7) unsur kebudayaan secara universal. Budaya adalah hakikat kompleks yang menyangkut tentang hasil olah budi-daya manusia berupa cipta, rasa, dan karsa. Sementara agama, lahir sebagai bagian dari dimensi budaya yang secara khusus memberikan pedoman keyakinan serta sistem pengatur tata cara peribadatan umat manusia di dunia (Sutarji, 2007).

Dari sisi landasan teologis, Nyepi secara konkret didasarkan pada sumber-sumber pustaka suci yang diyakini oleh umat Hindu. Hal ini dibuktikan dengan adanya Lontar Sri Jaya Kasunu, Lontar Sundarigama, dan Lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang memberikan pedoman umat Hindu untuk melaksanakan Nyepi beserta rangkaiannya (Gateri, 2021). Sehingga sudah jelas bahwa Nyepi bukan hanya sekedar budaya yang dilaksanakan oleh umat Hindu. Melainkan Ia adalah hakikat dari relasi antara agama dan budaya, yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Sebagai contoh tentang tujuan Upacara Melasti sebagai awalan dari rangkaian hari suci Nyepi. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala tertuang kutipan suci sebagai berikut: “Melasti ngarania ngiring prawatek Dewata anganyut aken laraning jagat, papa klesa, letuhing bhuwana.” yang terjemahannya: Melasti merupakan aktivitas mengiringi Para Dewata, guna menumbuhkembangkan sraddha dan bhakti kepada Tuhan, menghanyutkan segala kenestapaan dunia, penderitaan masyarakat, serta kotoran alam semesta (Gaduh & Ambarnuari, 2020).

Lebih lanjut tentang Tawur Agung Kesanga dan Nyepi yang terlaksana di Sasih Kadasa, dalam Lontar Seri Aji Kasanu disebutkan: ”….ring tileming sasih kesanga, patut maprakerti caru tawur wastanya, sadulur Nyepi awengi…” yang terjemahannya bahwa pada hari Tilem Sasih Kesanga, umat manusia wajib melaksanakan upacara Bhuta Yadnya, yaitu persembahan Caru yang dikenal dengan istilah Tawur. Disambung dengan perayaan Nyepi satu malam, dimana umat manusia diarahkan untuk melaksanakan Catur Bratha Penyepian yang terdiri atas: Amati Gni (Tidak menyalakan api, Amati Karya (Tidak boleh bekerja), Amati Lelanguan (Tidak boleh berhura-hura), dan Amati Lelungan (Tidak boleh bepergian).

Kemudian terakhir dari sisi praktis, pelaksanaan waktu dan sistematika rangkaian hari suci Nyepi tetap disesuaikan dengan adat, tradiri, dan budaya masyarakat setempat. Pelaksanaan prosesi Nyepi senantiasa bersifat fleksibel dengan tetap bersandar pada aturan yang berlaku. Hal inilah yang dikenal dengan Desa Mawicara, dimana umat Hindu dalam melaksanakan Penyepian selalu taat pada aturan tanah yang sedang mereka pijak, dan langit yang sedang mereka sedang junjung. Relasi agama dan budaya inilah yang pada hakikatnya menjadikan Nyepi istimewa.

Wajah Asli Nyepi adalah Ruang Harmoni

Disamping kasus-kasus dan berita miring tentang keriuhan, Nyepi pada hakikatnya merupakan ruang yang harmoni untuk menbar kedamaian. Sebagai bagian dari keluarga besar pulau Dewata, Nyepi beserta rangkaiannya sesungguhnya sudah lumrah dirasakan oleh semua pihak tanpa memandang latar belakang. Bahkan dengan kekhasan budayanya, Bali melalui Nyepi memberikan pandangan bahwa inilah hakikat Toleransi yang sesungguhnya. Bukan hanya sekedar riuk dari teori-teori belaka.

Dalam prosesi Nyepi, tidak jarang ditemukan pemandangan ibu-ibu berhijab yang memberikan minuman gratis pada umat Hindu yang sedang berjalan kaki menuju pantai saat Melasti. Terlihat juga pemandangan suara gong dan suara rebab yang saling bersahutan di penyambutan Hari Suci Nyepi yang berbarengan dengan Bulan Suci Ramadhan. Serta hal paling lumrah, pemandangan Pecalang (Pihak keamanan dari sisi adat) yang turut memberikan jaminan keamanan saat umat Muslim melaksanakan Shalat Tarawih di Hari Suci Nyepi. 

Di dunia maya juga tidak mau kalah. Tidak jarang ada cuitan dari warganet yang mengagumi budaya Nyepi akan prosesinya yang beragam. Banyak warganet juga bersiul ingin melihat pawai Ogoh-ogoh dan turut merasakan sensasi Nyepi satu hari di Bali. Hal ini juga ditambah, dengan mulai munculnya daerah-daerah luar Bali yang berkenan memberikan ruang terbuka bagi umat Hindu untuk melaksanakan proses Melasti, pawai Ogoh-ogoh, hingga Nyepi.

Jadi dapat disimpulkan, entah keriuhan atau kedamaian adalah sisi yang pasti akan selalu mengiringi Nyepi di setiap eksistensi. Sekarang kembali lagi pada pilihan masing-masing Citta untuk apakah lebih fokus di keriuhannya? atau kedamaiannya? Terlebih ketika sudah mengenal baik Nyepi sebagai hakikat yang merangkul semua. Terlebih tahu bahwa Nyepi lahir dari relasi agama dan budaya yang begitu istimewa. Pilihan terbaik tentunya adalah memancarkan wajah Nyepi, sebagai relasi agama dan budaya untuk harmoni. [T]

Sumber Referensi:

Gaduh, A. W. & Ambarnuari, M. (2020). Perayaan Hari Suci Nyepi sebagai Implementasi Ajaran Yoga. Jurnal Yoga dan Kesehatan, 3(1): 22-37.

Gateri, N. W. (2021). Makna Hari Raya Nyepi sebagai Peningkatan Spiritual. Jurnal Ilmu Agama dan Budaya Hindu, 19(2): 150-162.

Sutardi, Tedi. 2007. Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Bahasa. Bandung: PT Setia Purna Inves.

BACA artikel lain tentang HARI NYEPI atau esai/opini lain dari penulis DEWA GEDE DARMA PERMANA

Di Nusa Penida, Nyepi Tanpa Bantal Bleleng seperti Nggak Nyepi
3 Berita Baik dari Buleleng Barat, Setelah Ribut-ribut Nyepi di Sumberklampok
Hari Nyepi Tanpa Pecalang, Beranikah Kita?
Perayaan Nyepi di (Kota Budaya) Surakarta: Berbeda dan Meriah
Tags: baliHari Raya NyepihinduHindu Bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Lempar Batu Sembunyi Rindu | Cerpen Dody Widianto

Next Post

Perempuan Dalam Politik Indonesia

I Dewa Gede Darma Permana

I Dewa Gede Darma Permana

Penulis, Editor, Penyuluh Agama. Biasa dipanggil Dede Brayen. Lahir dan tinggal di Klungkung.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Perempuan Dalam Politik Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co