30 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Badut di Taman Kota Singaraja, Menghibur dengan Ikhlas, Tak Dibayar Tetap Riang

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 3, 2024
in Khas
Kisah Badut di Taman Kota Singaraja, Menghibur dengan Ikhlas, Tak Dibayar Tetap Riang

Badut di Taman Kota Singaraja | Foto: Yudi Setiawan

Mereka meninggalkan badut pergi
Sambil mencaci maki
Tinggallah sang badut tegak berdiri
Memberikan senyumnya
Sedang dalam hatinya
Dia menangis badannya bergetar
Dipaksakan juga melihat semua di depannya

Kata-kata di atas adalah penggalan lirik lagu berjudul Akhir Seorang Badut yang dipopulerkan oleh Sawung Jabo pada tahun 1992.

Dalam lagu itu dikisahkan nasib seorang badut yang tragis. Di atas panggung, ia diam terpaku. Matanya berkaca-kaca sesaat penonton di depannya meninggalkan dirinya. Kisah hidupnya berakhir menyedihkan. Meski ia seorang badut, tampaknya ia adalah badut yang tak bisa menghibur dirinya sendiri.

Namun ini bukan tentang sebuah lagu yang dilantunkan oleh seniman dan musikus bernama asli Mochamad Djohansyah, itu. Ini tentang perempuan bernama Ketut Desna. Perempuan yang setiap malam menghibur pengunjung di Taman Kota Singaraja, Buleleng, Bali, dengan kostum badutnya.

Meski hidupnya menjadi seorang badut tak semiris lagu Akhir Seorang Badut dan tak setragis seperti film horor berjudul clown—film badut psikopat—besutan Jon Watts yang rilis pada tahun 2014, itu, tetapi, kisah hidup Ketut Desna menjadi seorang badut tidak ada salahnya untuk dibaca.

Malam itu, di antara sisa-sisa pengunjung yang hendak meninggalkan Taman Kota Singaraja, badut beruang Pooh—karakter beruang pada kartun Winnie The Pooh—itu duduk di depan air mancur. Tangannya masih saja melambai-lambai kepada setiap orang yang lewat di depannya. Kadangkala ia menggoyang-goyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, menggoda anak-anak yang ingin berfoto dengannya.

 “Kepala saya terasa sakit sekali,” lirihnya, saat ditemui disela-sela istirahatnya, Sabtu, 3 Maret 2024, malam.

Napasnya terengah-engah sesaat setelah ia melepaskan kepala beruang itu. Tangan yang masih terbungkus kain tebal itu, ia gunakan untuk mengusap wajahnya yang basahi keringatnya. Air mineral di sampingnya tak luput ia habiskan hanya dengan beberapa kali tegukan saja. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya, seakan-akan ia telah melepaskan beban berat yang melekat ditubuhnya malam itu.

“Saya menjadi badut sudah dua tahun,” katanya memulai cerita. “Karena keadaan, jadinya mau bagaimana lagi, yang penting halal,” akunya.

Ya, perempuan asal Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali, itu, menjadi badut karena dampak dari pandemi covid yang sangat problematik beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya, ia adalah seorang pedagang makanan di area Taman Kota Singaraja. Namun naas, usaha warung makan yang ia bangun itu harus ia relakan tutup karena saat itu tak ada satupun pengunjung yang makan di tempatnya. Ya, itu benar adanya. Mengingat saat pandemi lalu, muncul kebijakan-kebijakan yang membatasi gerak sosial masyarakat secara berkala.

“Padahal, sebelum covid itu, warung makan saya lumayan ramai pembeli. Tapi pas covid itu muncul dan PPKM secara terus menerus, karena sepi pembeli, akhirnya warung harus saya tutup,” katanya.

Sesaat setelah tidak memiliki warung makan, hidupnya hanya mengandalkan pemasukan suaminya yang menjadi satpam di area yang sama. Meski hidup dengan pas-pasan, ia tetap berusaha tegar bersama ketiga anakanya yang masih kecil untuk melewati masa-masa sulit itu.

Menurut ceritanya, ia sempat beberapa kali bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya. Dari menjual balon, menjual mainan anak-anak sampai akhirnya kini menjadi seorang badut di area Taman Kota Singaraja.

“Sebelum menjadi badut, saya sempat menjual balon dan mainan anak-anak di sini,” katanya.

Ya, hidup dengan menjadi badut adalah pilihan yang mungkin sampai saat ini, menjadi pilihan satu-satunya yang harus ia kerjakan. Meski dengan pendapatan yang tidak menentu, ia tetap menjalaninya dengan riang gembira, sesuai dengan kostum yang ia kenakan. Ya, beruang bernama Pooh itu memang diciptakan oleh Alan Alexander Milne pada tahun 1926 dengan karakter ceria dan menyenangkan.

Berawal dari tawaran seorang teman, Desna—sebagaimana akrab ia dipanggil—diperkenalkan dengan seorang pemilik kostum badut yang sering memperkerjakan orang-orang yang ingin bekerja sebagai badut penghibur di seputaran Singaraja. Menurutnya, hasil dari menjadi badut itu harus ia bagi dua dengan pemilik kostum. Meski, kadang hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang ia keluarkan, ia tetap bersyukur menjalani profesi tersebut.

“Paling senang itu ketika diundang ke acara ulang tahunan,” katanya.

Ia mengaku, pendapatan dari menjadi badut di Taman Kota dan menghibur acara ulang tahun sangat berbeda. Jika sehari menjadi badut di Taman kota ia bisa menghasilkan beberapa puluh ribu rupiah saja, namun, ketika menghibur di acara ulang tahun, pendapatannya bisa berkali-kali lipat. “Sampai ratusan ribu, tapi tetap dibagi dua,” katanya sembari tertawa.

Tawaran menghibur acara ulang tahun tak setiap hari ada, sehingga kini, setiap malamnya, dari jam 6 sore sampai larut malam, ia harus mengenakan kostum badut beruang dengan berkeliling di sekitaran Taman Kota Singaraja. Ia tak mematok tarif resmi kepada orang yang berfoto dengannya. Seiklasnya saja. Namun, kadang ada juga yang tak mau membayarnya.

“Kadang ada yang ngasih lima ribu, sepuluh ribu, kadang ada juga yang tak ngasih. Tak apa, toh saya menghibur, yang penting tidak ngemis,” katanya.

Selain menjadi badut adalah pilihan alternatifnya, ia mengaku memang senang berinteraksi dengan anak kecil. Sebab, menurutnya ada semacam kebahagiaan ketika melihat anak-anak tertawa dengan riang gembira karena kehadirannya.

Namun, meski begitu, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa sedih. Ia tetap berkeinginan memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan yang mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. “Sebenarnya sih, pingin kerja lain, tidak seperti sekarang ini,” ucapnya dengan pelan.

Ya, niat menghibur orang tersebut kadangkala sering disalah artikan oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan, tak jarang pula ia mendapat sindiran dari orang-orang terdekatnya.

“Malu sebenarnya ketika ada yang menuduh saya ngemis berkedok badut. Padahal saya bekerja dengan cara menghibur anak-anak,” katanya.

Dan, ketika orang-orang ditelan rutinitas kesibukan kota, perkantoran, dan entah apa dan dimana lagi, ada Ketut Desna dengan kostum badutnya yang mencoba menghibur orang-orang dengan segala macam perasaan yang mungkin barangkali berbeda-beda. Namun, lantas mengapa badut tidak berhubungan dengan situasi dan derajat tertentu layaknya punakawan?

Badut di Taman Kota Singaraja, Buleleng, Bali | Foto: Yudi Setiawan

Badut adalah korban realitas yang tak terhindarkan. Ia hanyalah peran, namun di balik kostumnya, ia bukan peran yang sebenarnya. Namun, punakawan—Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong— adalah sosok-sosok yang digambarkan para leluhur Jawa untuk mengatasi realitas dengan cara yang paradoks.

Di dalam dunia pewayangan, Semar hanyalah rakyat jelata, namun sekaligus dewa tertinggi dengan sifat dan tugas sebagai pengasuh sekaligus penasihat para ksatria. Ia merupakan perwujudan dari apa yang disebut “Tan kena kinaya ngapa”. Sehingga, punakawan sejatinya tak ada di dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya. Mereka ada tatkala dijelmakan di dalam kehidupan yang nyata.

Punakawan adalah peran, tetapi sekaligus memiliki peran dibalik segala peran. Sehingga, badut dengan peran semunya, tak dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh punakawan. Keduanya memiliki perbedaan dan pembandingnya masing-masing.

Namun, meski Desna dengan kostum badutnya tidak memiliki derajat yang sama dengan punakawan, tapi kehadirannya mampu memberikan hiburan yang nyata kepada setiap siapa saja yang berkunjung ke Taman Kota Singaraja.

Ya, Desna, di dalam hatinya masih ada perasaan sedih yang tidak bisa ditutupi meski dengan kostum beruangnya. Jauh di hatinya yang paling dalam, ia ingin berubah. Dan, sekali lagi, tampaknya benar, kesedihan dan keibaan Sawung Jabo di dalam lagunya itu, tercermin juga di balik kostum badut Ketut Desna. Ia adalah badut yang tak selesai menghibur dirinya sendiri. [T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali
Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran
Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
Di Tangan Made Gelgel, Garam Disulap Menjadi Berbagai Bentuk dan Varian Rasa
Tags: badutbulelengSingarajataman kotaTaman Kota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Kepala yang Terpenggal | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Preliminary Competition Jegeg Bagus Buleleng Tampilkan Suasana Tahun 1990-an

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Penulis tinggal di Singaraja

Related Posts

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
0
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

Read moreDetails

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
0
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

Read moreDetails
Next Post
Preliminary Competition Jegeg Bagus Buleleng Tampilkan Suasana Tahun 1990-an

Preliminary Competition Jegeg Bagus Buleleng Tampilkan Suasana Tahun 1990-an

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co