28 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kisah Badut di Taman Kota Singaraja, Menghibur dengan Ikhlas, Tak Dibayar Tetap Riang

Yudi Setiawan by Yudi Setiawan
March 3, 2024
in Khas
Kisah Badut di Taman Kota Singaraja, Menghibur dengan Ikhlas, Tak Dibayar Tetap Riang

Badut di Taman Kota Singaraja | Foto: Yudi Setiawan

Mereka meninggalkan badut pergi
Sambil mencaci maki
Tinggallah sang badut tegak berdiri
Memberikan senyumnya
Sedang dalam hatinya
Dia menangis badannya bergetar
Dipaksakan juga melihat semua di depannya

Kata-kata di atas adalah penggalan lirik lagu berjudul Akhir Seorang Badut yang dipopulerkan oleh Sawung Jabo pada tahun 1992.

Dalam lagu itu dikisahkan nasib seorang badut yang tragis. Di atas panggung, ia diam terpaku. Matanya berkaca-kaca sesaat penonton di depannya meninggalkan dirinya. Kisah hidupnya berakhir menyedihkan. Meski ia seorang badut, tampaknya ia adalah badut yang tak bisa menghibur dirinya sendiri.

Namun ini bukan tentang sebuah lagu yang dilantunkan oleh seniman dan musikus bernama asli Mochamad Djohansyah, itu. Ini tentang perempuan bernama Ketut Desna. Perempuan yang setiap malam menghibur pengunjung di Taman Kota Singaraja, Buleleng, Bali, dengan kostum badutnya.

Meski hidupnya menjadi seorang badut tak semiris lagu Akhir Seorang Badut dan tak setragis seperti film horor berjudul clown—film badut psikopat—besutan Jon Watts yang rilis pada tahun 2014, itu, tetapi, kisah hidup Ketut Desna menjadi seorang badut tidak ada salahnya untuk dibaca.

Malam itu, di antara sisa-sisa pengunjung yang hendak meninggalkan Taman Kota Singaraja, badut beruang Pooh—karakter beruang pada kartun Winnie The Pooh—itu duduk di depan air mancur. Tangannya masih saja melambai-lambai kepada setiap orang yang lewat di depannya. Kadangkala ia menggoyang-goyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, menggoda anak-anak yang ingin berfoto dengannya.

 “Kepala saya terasa sakit sekali,” lirihnya, saat ditemui disela-sela istirahatnya, Sabtu, 3 Maret 2024, malam.

Napasnya terengah-engah sesaat setelah ia melepaskan kepala beruang itu. Tangan yang masih terbungkus kain tebal itu, ia gunakan untuk mengusap wajahnya yang basahi keringatnya. Air mineral di sampingnya tak luput ia habiskan hanya dengan beberapa kali tegukan saja. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya, seakan-akan ia telah melepaskan beban berat yang melekat ditubuhnya malam itu.

“Saya menjadi badut sudah dua tahun,” katanya memulai cerita. “Karena keadaan, jadinya mau bagaimana lagi, yang penting halal,” akunya.

Ya, perempuan asal Desa Sangsit, Kecamatan Sawan, Buleleng, Bali, itu, menjadi badut karena dampak dari pandemi covid yang sangat problematik beberapa tahun yang lalu. Sebelumnya, ia adalah seorang pedagang makanan di area Taman Kota Singaraja. Namun naas, usaha warung makan yang ia bangun itu harus ia relakan tutup karena saat itu tak ada satupun pengunjung yang makan di tempatnya. Ya, itu benar adanya. Mengingat saat pandemi lalu, muncul kebijakan-kebijakan yang membatasi gerak sosial masyarakat secara berkala.

“Padahal, sebelum covid itu, warung makan saya lumayan ramai pembeli. Tapi pas covid itu muncul dan PPKM secara terus menerus, karena sepi pembeli, akhirnya warung harus saya tutup,” katanya.

Sesaat setelah tidak memiliki warung makan, hidupnya hanya mengandalkan pemasukan suaminya yang menjadi satpam di area yang sama. Meski hidup dengan pas-pasan, ia tetap berusaha tegar bersama ketiga anakanya yang masih kecil untuk melewati masa-masa sulit itu.

Menurut ceritanya, ia sempat beberapa kali bekerja untuk membantu ekonomi keluarganya. Dari menjual balon, menjual mainan anak-anak sampai akhirnya kini menjadi seorang badut di area Taman Kota Singaraja.

“Sebelum menjadi badut, saya sempat menjual balon dan mainan anak-anak di sini,” katanya.

Ya, hidup dengan menjadi badut adalah pilihan yang mungkin sampai saat ini, menjadi pilihan satu-satunya yang harus ia kerjakan. Meski dengan pendapatan yang tidak menentu, ia tetap menjalaninya dengan riang gembira, sesuai dengan kostum yang ia kenakan. Ya, beruang bernama Pooh itu memang diciptakan oleh Alan Alexander Milne pada tahun 1926 dengan karakter ceria dan menyenangkan.

Berawal dari tawaran seorang teman, Desna—sebagaimana akrab ia dipanggil—diperkenalkan dengan seorang pemilik kostum badut yang sering memperkerjakan orang-orang yang ingin bekerja sebagai badut penghibur di seputaran Singaraja. Menurutnya, hasil dari menjadi badut itu harus ia bagi dua dengan pemilik kostum. Meski, kadang hasilnya tidak sebanding dengan tenaga yang ia keluarkan, ia tetap bersyukur menjalani profesi tersebut.

“Paling senang itu ketika diundang ke acara ulang tahunan,” katanya.

Ia mengaku, pendapatan dari menjadi badut di Taman Kota dan menghibur acara ulang tahun sangat berbeda. Jika sehari menjadi badut di Taman kota ia bisa menghasilkan beberapa puluh ribu rupiah saja, namun, ketika menghibur di acara ulang tahun, pendapatannya bisa berkali-kali lipat. “Sampai ratusan ribu, tapi tetap dibagi dua,” katanya sembari tertawa.

Tawaran menghibur acara ulang tahun tak setiap hari ada, sehingga kini, setiap malamnya, dari jam 6 sore sampai larut malam, ia harus mengenakan kostum badut beruang dengan berkeliling di sekitaran Taman Kota Singaraja. Ia tak mematok tarif resmi kepada orang yang berfoto dengannya. Seiklasnya saja. Namun, kadang ada juga yang tak mau membayarnya.

“Kadang ada yang ngasih lima ribu, sepuluh ribu, kadang ada juga yang tak ngasih. Tak apa, toh saya menghibur, yang penting tidak ngemis,” katanya.

Selain menjadi badut adalah pilihan alternatifnya, ia mengaku memang senang berinteraksi dengan anak kecil. Sebab, menurutnya ada semacam kebahagiaan ketika melihat anak-anak tertawa dengan riang gembira karena kehadirannya.

Namun, meski begitu, jauh di dalam lubuk hatinya ia merasa sedih. Ia tetap berkeinginan memiliki pekerjaan tetap dengan penghasilan yang mencukupi untuk kebutuhan keluarganya. “Sebenarnya sih, pingin kerja lain, tidak seperti sekarang ini,” ucapnya dengan pelan.

Ya, niat menghibur orang tersebut kadangkala sering disalah artikan oleh orang-orang di sekelilingnya. Dan, tak jarang pula ia mendapat sindiran dari orang-orang terdekatnya.

“Malu sebenarnya ketika ada yang menuduh saya ngemis berkedok badut. Padahal saya bekerja dengan cara menghibur anak-anak,” katanya.

Dan, ketika orang-orang ditelan rutinitas kesibukan kota, perkantoran, dan entah apa dan dimana lagi, ada Ketut Desna dengan kostum badutnya yang mencoba menghibur orang-orang dengan segala macam perasaan yang mungkin barangkali berbeda-beda. Namun, lantas mengapa badut tidak berhubungan dengan situasi dan derajat tertentu layaknya punakawan?

Badut di Taman Kota Singaraja, Buleleng, Bali | Foto: Yudi Setiawan

Badut adalah korban realitas yang tak terhindarkan. Ia hanyalah peran, namun di balik kostumnya, ia bukan peran yang sebenarnya. Namun, punakawan—Semar, Petruk, Gareng, dan Bagong— adalah sosok-sosok yang digambarkan para leluhur Jawa untuk mengatasi realitas dengan cara yang paradoks.

Di dalam dunia pewayangan, Semar hanyalah rakyat jelata, namun sekaligus dewa tertinggi dengan sifat dan tugas sebagai pengasuh sekaligus penasihat para ksatria. Ia merupakan perwujudan dari apa yang disebut “Tan kena kinaya ngapa”. Sehingga, punakawan sejatinya tak ada di dalam realitas kehidupan yang sesungguhnya. Mereka ada tatkala dijelmakan di dalam kehidupan yang nyata.

Punakawan adalah peran, tetapi sekaligus memiliki peran dibalik segala peran. Sehingga, badut dengan peran semunya, tak dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh punakawan. Keduanya memiliki perbedaan dan pembandingnya masing-masing.

Namun, meski Desna dengan kostum badutnya tidak memiliki derajat yang sama dengan punakawan, tapi kehadirannya mampu memberikan hiburan yang nyata kepada setiap siapa saja yang berkunjung ke Taman Kota Singaraja.

Ya, Desna, di dalam hatinya masih ada perasaan sedih yang tidak bisa ditutupi meski dengan kostum beruangnya. Jauh di hatinya yang paling dalam, ia ingin berubah. Dan, sekali lagi, tampaknya benar, kesedihan dan keibaan Sawung Jabo di dalam lagunya itu, tercermin juga di balik kostum badut Ketut Desna. Ia adalah badut yang tak selesai menghibur dirinya sendiri. [T]

Reporter: Yudi Setiawan
Penulis: Yudi Setiawan
Editor: Adnyana Ole

Cerita Tentang Pak Mad, Nelayan Ikan Hias dari Desa Pemuteran, Buleleng, Bali
Chris Brown, Tukang Kebun Laut Pemuteran
Di Balik Kemajuan Pariwisata Pemuteran Ada Nama Ketut Sutrawan Selamet
Di Tangan Made Gelgel, Garam Disulap Menjadi Berbagai Bentuk dan Varian Rasa
Tags: badutbulelengSingarajataman kotaTaman Kota Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Misteri Kepala yang Terpenggal | Cerpen Putu Arya Nugraha

Next Post

Preliminary Competition Jegeg Bagus Buleleng Tampilkan Suasana Tahun 1990-an

Yudi Setiawan

Yudi Setiawan

Kontributor tatkala.co

Related Posts

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
0
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

Read moreDetails

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

by I Wayan Artika
May 27, 2026
0
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

Read moreDetails

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
0
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

Read moreDetails

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
0
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

Read moreDetails

Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

by Dede Putra Wiguna
May 25, 2026
0
Menjadikan Ujian Lebih Bermakna Lewat Antologi Puisi dan Cerpen

BAGI sebagian siswa, menulis puisi dan cerpen mungkin bukan perkara sulit. Namun membuatnya dalam bentuk kolektif dan memiliki benang merah...

Read moreDetails

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
0
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

Read moreDetails

In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

by Made Adnyana Ole
May 21, 2026
0
In Memoriam — Widnyana Sudibya, Fotografer yang Punya Jasa Besar Pada Arsip-arsip Kesenian Bali

IA fotografer, ia mencintai kesenian Bali. Maka hidupnya diabdikan untuk mengabadikan segala bentuk kesenian Bali melalu foto-foto yang eksotik sekaligus...

Read moreDetails

Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

by Ni Luh Gde Sari Dewi Astuti
May 20, 2026
0
Pantai Kedonganan Ramai Lagi, Tapi Sudahkah Siap Go Digital?

PANTAI Kedonganan di kawasan Kuta, Badung, Bali, perlahan hidup kembali. Menjelang sore, deretan meja di tepi pantai mulai terisi. Aroma...

Read moreDetails

Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

by I Nyoman Tingkat
May 19, 2026
0
Wisata Orang Bali: ‘From Healing To Eling’

DALAM salah satu bukunya, I Gde Aryantha Soethama menulis bahwa orang Bali tidak punya tradisi berwisata ala Barat. Berwisata dalam...

Read moreDetails

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails
Next Post
Preliminary Competition Jegeg Bagus Buleleng Tampilkan Suasana Tahun 1990-an

Preliminary Competition Jegeg Bagus Buleleng Tampilkan Suasana Tahun 1990-an

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ritual Menanam Beras Merah
Liputan Khusus

Ritual Menanam Beras Merah

“RASANYA legit, gurih, dan lebih bertekstur,” ujar I Wayan Agus Saputra di suatu siang yang mendung di Kantor Desa Jatiluwih,...

by Jaswanto
May 28, 2026
Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan
Khas

Bertumbuh, Berkembang, Meraih Bintang  –Cerita dari Acara Pelepasan di SMAN 2 Kuta Selatan

SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)menggelar acara pelepasan Angkatan V pada Selasa Pon Waregadian, 26 Mei 2026, di Aula Jove...

by I Nyoman Tingkat
May 28, 2026
Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Dilatih Prof. Dibia, Mahasiswa Korea Siap Pentaskan Kecak di Pesta Kesenian Bali 2026

SEKITAR 40 mahasiswa dari Korea, laki-laki dan perempuan, bersiap mementaskan kecak di Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII-2026. Cak cak cak…...

by Nyoman Budarsana
May 28, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ruang Publik [Semestinya] Menjadi Cermin Jiwa

RUANG publik dalam sebuah negara semestinya menjadi tempat di mana akal sehat, etika, dan tanggung jawab bertemu. Ia bukan sekadar...

by Ahmad Sihabudin
May 28, 2026
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 
Tualang

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng
Khas

Dari Program Desa Binaan Fakultas Bahasa dan Seni Undiksha: Pelatihan Ekoliterasi di Pondok Literasi Sabih, Desa Pedawa, Buleleng

DESA Pedawa di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, terkenal dengan gula Pedawa. Gula ini sejatinya adalah gula merah atau gula...

by I Wayan Artika
May 27, 2026
Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja
Khas

Dari Cerita Bergambar ke Dunia Digital: Cara Mahasiswa Pascasarjana Undiksha Menanamkan Literasi di SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja

BAGI sebagian siswa SD Negeri 7 Kampung Baru, Singaraja, hari itu menjadi pengalaman pertama mengenal Canva. Ada yang masih bingung...

by Dede Putra Wiguna
May 27, 2026
Orang Bali Tetaplah Orang Bali
Esai

Orang Bali Tetaplah Orang Bali

WARUNG kopi itu berdiri di pinggir jalan kawasan Dalung, Kuta Utara. Siang mulai beranjak perlahan. Lalu lintas tak pernah benar-benar...

by Angga Wijaya
May 26, 2026
Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur
Bahasa

Adiluhung: Makna Luhur yang Kian Kabur

DI warung kopi, seminar budaya, sampai brosur perumahan mewah, istilah adiluhung makin sering berseliweran. Istilah ini mirip stempel sakti. Apa...

by I Made Sudiana
May 26, 2026
Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Riuh yang Mengikat Kebersamaan – Cerita Jeda Semester Genap di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

AULA SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pagi itu tidak seperti biasanya. Tidak ada suasana tegang ujian, tidak pula wajah-wajah...

by Dede Putra Wiguna
May 26, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Pertumbuhan Ekonomi Saja Tidak Cukup  

DI sebuah obrolan sore yang dipenuhi asap kopi, suara kendaraan berlalu-lalang, dan pemberitaan tumbuhnya perekonomian kuartal I 2026 (5,61 persen),...

by Faris Widiyatmoko
May 26, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co