24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Sandyakalaning” Demokrasi Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 10, 2024
in Esai
Kekuatan Politik Baru Itu Bernama Majelis Desa Adat

Gambar ilustrasi: tatkala.co

EMPAT hari jelang hari pencoblosan pada Rabu, 14 Februari mendatang sekaligus hari terakhir kampanye bagi peserta pemilu, situasi kebangsaan tampak tidak baik-baik saja. Seminggu belakangan ramai-ramai civitas akademika perguruan tinggi yang tersebar di Indonesia menyatakan sikapnya perihal demokrasi bangsa yang dianggap kini terancam keberadaannya. Para akademisi tersebut menyatakan bahwa demokrasi Indonesia hari ini sedang terancam, tentu oleh ulah para penguasa yang terlihat sedang menyalahgunakan kekuasaannya untuk “berkuasa kembali”.

Pemilu 2024 menjadi ajang pemilu keenam yang diselenggarakan oleh Indonesia pasca reformasi. Dalam berbagai studi, demokrasi sebuah negara akan masuk ke tahap matang ketika telah berhasil menyelenggarakan 7 (tujuh) kali pemilu tanpa ada gesekan yang mengarah pada disintegrasi bangsa. Pemilu tahun ini sejatinya menjadi momentum bagi bangsa Indonesia untuk mengkonsolidasikan nilai-nilai demokrasi dan institusi demokrasi.

Pada tahap ini seharusnya demokrasi Indonesia sudah lebih mapan, stabil, profesional, serta mandiri. Pemilu sebagai instrumen penting demokrasi dalam proses pergantian kekuasaan seharusnya dijalankan oleh sumber daya yang mampu menjalankan tata kelola dan manajemen pemilu secara terbuka, pasti, transparan, dan partisipatif guna mencerdaskan pemilih.

Reformasi sebagai milestone demokrasi Indonesia sudah berlalu 25 tahun lalu. Tetapi kehidupan demokrasi Indonesia tampak seperti jalan di tempat. Economist Intelligence Unit (EIU) dalam Democracy Indeks yang disusun pada tahun 2021 menyebutkan bahwa Indonesia masih berada di dalam kategori Flawed Democracy atau sederhananya dapat disebut “cacat demokrasi”.

Bahkan oleh Freedom House, demokrasi Indonesia masuk ke dalam kategori Partly Free atau semi bebas—kebebasan berekspresi dan berkeyakinan, hak berasosiasi dan berorganisasi, serta aturan hukum adalah variabel yang mendapatkan skor di bawah rata-rata global. Menguatkan hasil riset dua lembaga tersebut, Titi Anggraeni seorang pemerhati demokrasi yang saat ini sebagai Dewan Pembina Perludem menyebutkan bahwa Pemilu 2024 adalah pemilu terburuk pasca reformasi karena tidak mampu memberikan kepastian hukum dalam setiap tahapannya.

Cacat Etika

Alih-alih medekatkan asa demokrasi yang semakin matang, realitas hari ini sudah jelas jauh panggang dari api. Banyaknya permasalahan dan polemik yang dihadirkan penyelenggara pemilu itu sendiri justru menjadi pemicu ketidakpercayaan publik terhadap lembaga yang disebut-sebut sebagai lembaga mandiri dan independen tersebut. Mulai dari tahapan verifikasi partai politik peserta pemilu yang cukup menyita perhatian publik karena ada dugaan kecurangan yang mengakibatkan lolos dan tidaknya partai politik sebagai peserta pemilu 2024, pendaftaran pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden yang belakangan diketahui menyalahi kode etik, hingga perbedaan pandangan KPU dan Bawaslu menyikapi telah terkirimnya surat suara di Taiwan di luar jadwalnya—perbedaan tersebut menjadi aneh karena dua lembaga tersebut berpedoman pada undang-undang yang sama.

Ketidakpercayaan publik semakin terakumulasi dengan keluarnya vonis-vonis pelanggaran etik kepada garda terdepan penyelenggara demokrasi. Misalnya terbuktinya Ketua KPU RI dan Anggota lainnya melanggar etik penyelenggara pemilu karena meloloskan pendaftaran Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden, padahal belum dilakukan revisi terhadap PKPU pasca putusan Mahkamah Konstitusi (MK).

Sebelumnya, seluruh hakim MK juga divonis melakukan pelanggaran etik berat karena dianggap telah membuka ruang intervensi dari pihak-pihak tertentu. Namun alih-alih memilih untuk menyatakan permintaan maaf ke publik, pihak-pihak tersebut lebih memilih bungkam, bahkan mantan Ketua MK Anwar Usman mengajukan gugatan ke PTUN untuk mengembalikan jabatan Ketua MK kepada dirinya.

Dalam debat capres dan cawapres pun perihal etika kerap kali diangkat—setidaknya oleh paslon 1 dan 3 untuk menyerang paslon 2 yang dianggap diuntungkan karena putusan MK yang berhasil memuluskan jalan putera sulung Jokowi sebagai cawapres. Pada debat capres yang diselenggarakan oleh KPU RI tersebutlah keluar kata-kata “Ndasmu Etik” dari salah satu capres.

Menurut penulis, ungkapan tersebut adalah standing position capres tersebut dalam memandang etika. Dugaan penulis, capres tersebut memandang etika bukanlah aspek penting dalam berpolitik. Penulis jadi ingat pandangan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Franz Magnis Suseno (Romo Magnis) soal etika. Ia menyebutkan bahwa etika adalah aspek yang membedakan manusia dengan binatang. Artinya aspek etik seharusnya menjadi poin pertama yang harus dijunjung paling utama tinimbang aspek kepentingan untuk berkuasa.

Preseden Buruk

Munculnya pernyataan sikap dari civitas akademika perguruan tinggi dan organisasi pergerakan, sampai aksi-aksi demonstrasi oleh mahasiswa yang kini mulai ramai tentu saja tidak “ujug-ujug”, semua pasti ada pemicunya. Mulai dari munculnya pernyataan Presiden bahwa dirinya diperbolehkan oleh undang-undang untuk berkampanye, jajaran menteri yang secara terang-terangan melakukan kampanya di saat menyandang tugas sebagai menteri, terjadinya pelanggaran etik berat di MK sebagai rumah penjaga konstitusi bangsa, pelanggaran etik oleh penyelenggara pemilu, dugaan politisasi bansos oleh Presiden, hingga dugaan tidak netralnya ASN, TNI, dan Polri telah terakumulasi dan berhasil memantik amarah publik. Bahkan amarah publik pun tidak membuat parlemen untuk merespon dugaan abuse of power dari cabang kekuasaan eksekutif. Kira-kira kemana mereka? Ohh, iya. Mereka sedang sibuk berkampanye untuk memenangkan paslon-nya dan juga dirinya.

Hal-hal yang disebutkan di atas adalah tindakan yang jelas-jelas menciderai semangat demokrasi Indonesia. Demokrasi seharusnya menghadirkan kesetaraan, keadilan, serta inklusivitas terhadap seluruh warga negaranya. Namun berkaca pada apa yang terjadi hari ini, ketiga aspek tersebut tampaknya belum dijalankan secara penuh oleh negara. Masing-masing cabang kekuasaan seharusnya memberi penghormatan satu sama lain dan menghindari praktik-praktik intervensi satu sama lain.

Namun terlepas dari pelbagai persoalan yang menguatkan riset EIU yang memasukkan Indonesia ke dalam kategori Flawed Democracy, rakyat Indonesia yang memiliki hak pilih harus datang ke TPS dan menggunakan hak suaranya. Karena seperti kata Romo Magnis, bahwa pemilu bukanlah ajang untuk memilih yang terbaik, tetapi pemilu adalah ajang untuk mencegah yang terburuk untuk berkuasa. [T]

  • Baca esai-esai politik TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA lainnya DI SINI
Membaca Masa Depan Koster
Gincu Politik: Manis dan Menghanyutkan
Mempertanyakan Diamnya Gibran
Tags: Pemilu 2024PilpresPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perayaan Imlek di Klenteng Ling Gwan Kiong: Kelincahan Barongsai, Sukacita Warga Singaraja

Next Post

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Demokrasi, Politik Dinasti Ataukah Dinasti Politik?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co