23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 26, 2024
in Esai
Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

Jalan shortcut yang baru dibuka di Canggu, Badung | Foto: screenshot dari video di facebook

MENINGKATNYA aktivitas ekonomi sebuah kawasan menyebabkan melambungnya harga lahan. Hal ini bisa menjadi alat seleksi alami karena hanya orang dengan kemampuan tertentu saja yang mampu tinggal di kawasan-kawasan seperti itu.

Untuk tetap menjaga nilainya, pihak-pihak tertentu terus berupaya menambahkan value dengan cara membuka bisnis-bisnis atau usaha baru yang akan membuat kantong investor semakin tebal. Tetapi, lama-kelamaan hal ini bisa membawa dampak signifikan bagi kehidupan sosial terutama penghuni awal kawasan yang sudah menghuni jauh sebelum bisnis-bisnis baru bermunculan.

Canggu adalah contoh bagaimana konflik bisa muncul di kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus melambung.

Setahun lalu Canggu pernah menjadi pemberitaan di media lokal, nasional dan juga internasional. Bukan. Pemberitaannya bukan tentang keindahan pantainya ataupun ombaknya yang mengundang para peselancar, tetapi soal petisi. Ya, petisi warga yang menuntut agar gangguan yang mereka alami akibat aktivitas turisme bisa didengarkan oleh para pengambil kebijakan.

Petisi ini bisa jadi merupakan langkah yang diambil setelah berbagai cara lain dianggap tidak berhasil. Ketidakberhasilan ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai hal: kuatnya pengaruh politik pemilik usaha, atau tingginya sumbangan ekonomi dari usaha yang mereka jalankan bagi penghasilan pajak daerah. Keduanya bisa membuat pemangku kebijakan enggan melakukan tindakan.

Canggu kini sudah menjadi salah satu kawasan wisata yang sangat padat layaknya Seminyak, Legian, Kuta, Jimbaran dan kawasan lain sepanjang pantai barat daya Pulau Bali. Keramaiannya memiliki kekhasan akibat segmentasi fasilitas hiburan untuk wisatawan yang ada di sepanjang tepian pantai tersebut.

Sepanjang garis pantai terjadi pengelompokan-pengelompokan mulai dari wisata kuliner di Jimbaran, wisata sunset di Kuta dan Legian, lalu restaurant dan klub malam sepanjang Seminyak dan Canggu, dan seterusnya. Pengelompokan ini menggambarkan segmen-segmen wisatawan yang semakin beragam.

Kini, Bali tidak hanya dikunjungi oleh penikmat eksotisme dan romantisme dunia Timur, mereka yang mengagumi keheningan Pura di dekat sumber air, menikmati alunan gamelan dan gemulai penari tradisional. Bali dijejali juga oleh mereka yang menggemari kehidupan malam hingar bingar, para pencari status sosial yang haus pengakuan dari masyarakat. Inilah turisme hari ini.

Pandemi yang melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2021 mulai mereda. Ekonomi yang sempat mati suri kini mendapat perhatian besar. Berbagai acara dihelat, festival digagas, kemudahan-kemudahan ditawarkan. Para tamu yang naik pesawat mulai berdatangan. Beberapa bahkan disambut sangat meriah, pesawatnya disemprot air selamat datang, penumpangnya mendapat kalungan bunga. Dielu-elukan bak tamu agung yang layak disanjung.

Pariwisata memang sudah menjadi panglima. Ini tidak berlangsung dalam waktu singkat. Bisnis pelancongan ini sudah dimulai sejak jaman kolonial. Konon, tujuannya tidak murni ekonomi tetapi juga politis: untuk mengembalikan nama baik pemerintah kolonial yang hancur lebur di mata dunia pasca perang tak seimbang Puputan Badung dan Puputan Klungkung.

Sekarang mungkin lebih dari 80 persen penduduk bekerja di sektor ini. Gangguan kecil bisa merusak mata pencaharian mayoritas populasi. Jadilah pariwisata menjadi alat seleksi: tidak boleh demo nanti turis pergi, jangan melakukan ini, jangan melakukan itu, dilarang mengganggu wisatawan. Banyak lagi seleksi-seleksi aktivitas yang dilakukan atas nama pariwisata.

Berlawanan, banyak hal yang semestinya ditolak atau dihindari justru dilegitimasi atas nama bisnis yang menguntungkan tersebut. Alih fungsi lahan misalnya, menjadi hal biasa demi pembangunan fasilitas pariwisata. Kemacetan yang semakin parah dimaklumi karena itu pertanda bisnis pariwisata berjalan lancar. Inilah paradoks kita hari ini.

Wisatawan berdatangan. Mereka melakukan berbagai hal, tidak hanya wisata budaya seperti yang digembar-gemborkan. Ada yang naik ke pelinggih, ada yang telanjang di bawah pohon yang disucikan, ada yang kencing di gunung yang disucikan. Kita marah. Kita usir mereka. Tapi setelah itu? Kita hidup seperti biasa lagi. Datang lagi wisatawan. Polahnya berbagai macam lagi.

Ihwal gangguan wisatawan tidak hanya dialami Bali. Beberapa belas tahun lampau saya beruntung berkunjung ke Venice, sebuah kota kecil dengan kanal di Italia. Sembari menyiapkan pesanan, seorang penjual pizza ngedumel tentang banyaknya turis yang datang ke kotanya. Ia jadi tidak sempat bersenang-senang karena harus bekerja keras melayani turis dan membayar berbagai sewa yang semakin meningkat.

Sebagai orang lokal, awalnya ia menikmati lalu akhirnya terbebani oleh beban kerja yang semakin tidak terkendali. Banyaknya wisatwan membuatnya menjadi minoritas di kotanya. Sebagian temannya bahkan memilih pergi dari kota itu. Mereka merasa terasing di kotanya sendiri.

Lain halnya dengan London. Meningkatnya ekonomi salah satu kota tersibuk di dunia ini menyebabkan harga-harga melambung tinggi. Harga sewa tempat tinggal hanya bisa dijangkau golongan ekonomi tertentu. Harga sewa property yang tinggi menyebabkan harga-harga komoditas juga otomatis meningkat. Toko-toko kecil tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan bisnisnya.

Konsekuensinya, kelompok menengah ke bawah tidak mampu tinggal di kota, menyingkir ke wilayah pinggiran. Mereka bisa jadi adalah golongan perawat kesehatan, polisi, pelayan toko dan golongan lain yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk dapat bekerja dengan baik.  

Di Amsterdam beberapa turis berkelakuan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan penduduk lokal. Sebagian pendatang sesaat tersebut suka mabuk-mabukan di jalan. Mereka memanfaatkan peraturan setempat yang tidak melarang ganja serta melegalkan prostitusi. Padahal, tujuannya adalah untuk menghargai hak-hak manusia bukan untuk mengijinkan orang untuk berbuat semaunya.

Amsterdam dan Venice kini bekerja keras untuk mengendalikan turis. Walikota Amsterdam mengatakan bahwa ia tidak menolak orang untuk berkunjung ke kotanya. Dia tidak menolak orang berlibur. Yang dia tolak adalah kelakuan amoral yang menganggu penduduk setempat.

Turis yang datang haruslah mereka yang menghormati budaya setempat bukan yang mau berlibur untuk melepaskan diri dari kehidupan teratur dan melepaskan dirinya untuk berbuat semaunya di Amsterdam.

Venice mewajibkan setiap orang yang berkunjung ke kota tepi air tersebut untuk membeli tiket secara online di depan. Sepintas, ini tampak seperti upaya komersialisasi. Tetapi, sesuai yang dinyatakan kepala kantor turisme Simone Venturini, adalah upaya untuk mengatur jumlah kunjungan. Tiket hanya dijual sesuai dengan kemampuan kota untuk menangani pengunjung. Ia berharap, ini akan membuat kunjungan lebih teratur sekaligus juga menjamin kualitas kota tetap dapat terjaga baik untuk penduduk lokal dan pengunjung.

Bagaimana dengan Canggu? Ya, Canggu kini mengarah ke symdrome Amsterdamisasi, Londonisasi dan Veniceisasi sekaligus. Dominasi beach club seolah membebaskan turis untuk berbuat semaunya, melepaskan diri dari kehidupan normalnya sehari-hari. Mereka mungkin tidak sadar bahwa di sekitarnya ada penduduk lokal yang hidup dengan keseharian.

Harga-harga tanah yang kian melambung menyeleksi penduduk kurang mampu untuk keluar dari area ini. Hanya mereka yang berpenghasilan tinggi yang bisa tinggal di sana. Dalam jangka panjang, ini tidak baik karena kota membutuhkan heterogenitas untuk dapat bekerja dengan baik. Meningkatnya kunjungan juga bisa berbanding lurus dengan rasa keterasingan yang dialami oleh penduduknya. Penduduk lokal mungkin tidak lagi merasa sebagai tuan rumah di atas wilayahnya sendiri.

Kini pemerintah berupaya mengatur Canggu. Para pihak berkumpul untuk menyelesaikan persoalan, mencari solusi terbaik yang saling menguntungkan. Kita tentu berharap agar ditemukan cara terbaik untuk keluar dari persoalan ini.

Canggu bisa menjadi masa lalu jika kita mampu keluar dari persoalan itu dan memecahkan masalah pelik yang ditumbulkan oleh pariwisata. Tetapi ia juga bisa menjadi masa depan jika kita melakukan pembiaran. Bisa saja di masa mendatang semua wilayah menjadi seperti Canggu. Kendali ada di tangan kita. [T]

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Rustic System dalam Perencanaan Wilayah
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat
Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Tags: Desa CangguKutaPariwisatapariwisata balipariwisata budayapariwisata indonesiaSanurSeminyakTuris
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Next Post

Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co