23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

I Nyoman Gede Maha Putra by I Nyoman Gede Maha Putra
January 26, 2024
in Esai
Canggu dan Hal-hal yang Patut Direnungkan

Jalan shortcut yang baru dibuka di Canggu, Badung | Foto: screenshot dari video di facebook

MENINGKATNYA aktivitas ekonomi sebuah kawasan menyebabkan melambungnya harga lahan. Hal ini bisa menjadi alat seleksi alami karena hanya orang dengan kemampuan tertentu saja yang mampu tinggal di kawasan-kawasan seperti itu.

Untuk tetap menjaga nilainya, pihak-pihak tertentu terus berupaya menambahkan value dengan cara membuka bisnis-bisnis atau usaha baru yang akan membuat kantong investor semakin tebal. Tetapi, lama-kelamaan hal ini bisa membawa dampak signifikan bagi kehidupan sosial terutama penghuni awal kawasan yang sudah menghuni jauh sebelum bisnis-bisnis baru bermunculan.

Canggu adalah contoh bagaimana konflik bisa muncul di kawasan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang terus melambung.

Setahun lalu Canggu pernah menjadi pemberitaan di media lokal, nasional dan juga internasional. Bukan. Pemberitaannya bukan tentang keindahan pantainya ataupun ombaknya yang mengundang para peselancar, tetapi soal petisi. Ya, petisi warga yang menuntut agar gangguan yang mereka alami akibat aktivitas turisme bisa didengarkan oleh para pengambil kebijakan.

Petisi ini bisa jadi merupakan langkah yang diambil setelah berbagai cara lain dianggap tidak berhasil. Ketidakberhasilan ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai hal: kuatnya pengaruh politik pemilik usaha, atau tingginya sumbangan ekonomi dari usaha yang mereka jalankan bagi penghasilan pajak daerah. Keduanya bisa membuat pemangku kebijakan enggan melakukan tindakan.

Canggu kini sudah menjadi salah satu kawasan wisata yang sangat padat layaknya Seminyak, Legian, Kuta, Jimbaran dan kawasan lain sepanjang pantai barat daya Pulau Bali. Keramaiannya memiliki kekhasan akibat segmentasi fasilitas hiburan untuk wisatawan yang ada di sepanjang tepian pantai tersebut.

Sepanjang garis pantai terjadi pengelompokan-pengelompokan mulai dari wisata kuliner di Jimbaran, wisata sunset di Kuta dan Legian, lalu restaurant dan klub malam sepanjang Seminyak dan Canggu, dan seterusnya. Pengelompokan ini menggambarkan segmen-segmen wisatawan yang semakin beragam.

Kini, Bali tidak hanya dikunjungi oleh penikmat eksotisme dan romantisme dunia Timur, mereka yang mengagumi keheningan Pura di dekat sumber air, menikmati alunan gamelan dan gemulai penari tradisional. Bali dijejali juga oleh mereka yang menggemari kehidupan malam hingar bingar, para pencari status sosial yang haus pengakuan dari masyarakat. Inilah turisme hari ini.

Pandemi yang melanda sepanjang tahun 2020 hingga 2021 mulai mereda. Ekonomi yang sempat mati suri kini mendapat perhatian besar. Berbagai acara dihelat, festival digagas, kemudahan-kemudahan ditawarkan. Para tamu yang naik pesawat mulai berdatangan. Beberapa bahkan disambut sangat meriah, pesawatnya disemprot air selamat datang, penumpangnya mendapat kalungan bunga. Dielu-elukan bak tamu agung yang layak disanjung.

Pariwisata memang sudah menjadi panglima. Ini tidak berlangsung dalam waktu singkat. Bisnis pelancongan ini sudah dimulai sejak jaman kolonial. Konon, tujuannya tidak murni ekonomi tetapi juga politis: untuk mengembalikan nama baik pemerintah kolonial yang hancur lebur di mata dunia pasca perang tak seimbang Puputan Badung dan Puputan Klungkung.

Sekarang mungkin lebih dari 80 persen penduduk bekerja di sektor ini. Gangguan kecil bisa merusak mata pencaharian mayoritas populasi. Jadilah pariwisata menjadi alat seleksi: tidak boleh demo nanti turis pergi, jangan melakukan ini, jangan melakukan itu, dilarang mengganggu wisatawan. Banyak lagi seleksi-seleksi aktivitas yang dilakukan atas nama pariwisata.

Berlawanan, banyak hal yang semestinya ditolak atau dihindari justru dilegitimasi atas nama bisnis yang menguntungkan tersebut. Alih fungsi lahan misalnya, menjadi hal biasa demi pembangunan fasilitas pariwisata. Kemacetan yang semakin parah dimaklumi karena itu pertanda bisnis pariwisata berjalan lancar. Inilah paradoks kita hari ini.

Wisatawan berdatangan. Mereka melakukan berbagai hal, tidak hanya wisata budaya seperti yang digembar-gemborkan. Ada yang naik ke pelinggih, ada yang telanjang di bawah pohon yang disucikan, ada yang kencing di gunung yang disucikan. Kita marah. Kita usir mereka. Tapi setelah itu? Kita hidup seperti biasa lagi. Datang lagi wisatawan. Polahnya berbagai macam lagi.

Ihwal gangguan wisatawan tidak hanya dialami Bali. Beberapa belas tahun lampau saya beruntung berkunjung ke Venice, sebuah kota kecil dengan kanal di Italia. Sembari menyiapkan pesanan, seorang penjual pizza ngedumel tentang banyaknya turis yang datang ke kotanya. Ia jadi tidak sempat bersenang-senang karena harus bekerja keras melayani turis dan membayar berbagai sewa yang semakin meningkat.

Sebagai orang lokal, awalnya ia menikmati lalu akhirnya terbebani oleh beban kerja yang semakin tidak terkendali. Banyaknya wisatwan membuatnya menjadi minoritas di kotanya. Sebagian temannya bahkan memilih pergi dari kota itu. Mereka merasa terasing di kotanya sendiri.

Lain halnya dengan London. Meningkatnya ekonomi salah satu kota tersibuk di dunia ini menyebabkan harga-harga melambung tinggi. Harga sewa tempat tinggal hanya bisa dijangkau golongan ekonomi tertentu. Harga sewa property yang tinggi menyebabkan harga-harga komoditas juga otomatis meningkat. Toko-toko kecil tidak memiliki kekuatan untuk menjalankan bisnisnya.

Konsekuensinya, kelompok menengah ke bawah tidak mampu tinggal di kota, menyingkir ke wilayah pinggiran. Mereka bisa jadi adalah golongan perawat kesehatan, polisi, pelayan toko dan golongan lain yang dibutuhkan oleh sebuah kota untuk dapat bekerja dengan baik.  

Di Amsterdam beberapa turis berkelakuan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan penduduk lokal. Sebagian pendatang sesaat tersebut suka mabuk-mabukan di jalan. Mereka memanfaatkan peraturan setempat yang tidak melarang ganja serta melegalkan prostitusi. Padahal, tujuannya adalah untuk menghargai hak-hak manusia bukan untuk mengijinkan orang untuk berbuat semaunya.

Amsterdam dan Venice kini bekerja keras untuk mengendalikan turis. Walikota Amsterdam mengatakan bahwa ia tidak menolak orang untuk berkunjung ke kotanya. Dia tidak menolak orang berlibur. Yang dia tolak adalah kelakuan amoral yang menganggu penduduk setempat.

Turis yang datang haruslah mereka yang menghormati budaya setempat bukan yang mau berlibur untuk melepaskan diri dari kehidupan teratur dan melepaskan dirinya untuk berbuat semaunya di Amsterdam.

Venice mewajibkan setiap orang yang berkunjung ke kota tepi air tersebut untuk membeli tiket secara online di depan. Sepintas, ini tampak seperti upaya komersialisasi. Tetapi, sesuai yang dinyatakan kepala kantor turisme Simone Venturini, adalah upaya untuk mengatur jumlah kunjungan. Tiket hanya dijual sesuai dengan kemampuan kota untuk menangani pengunjung. Ia berharap, ini akan membuat kunjungan lebih teratur sekaligus juga menjamin kualitas kota tetap dapat terjaga baik untuk penduduk lokal dan pengunjung.

Bagaimana dengan Canggu? Ya, Canggu kini mengarah ke symdrome Amsterdamisasi, Londonisasi dan Veniceisasi sekaligus. Dominasi beach club seolah membebaskan turis untuk berbuat semaunya, melepaskan diri dari kehidupan normalnya sehari-hari. Mereka mungkin tidak sadar bahwa di sekitarnya ada penduduk lokal yang hidup dengan keseharian.

Harga-harga tanah yang kian melambung menyeleksi penduduk kurang mampu untuk keluar dari area ini. Hanya mereka yang berpenghasilan tinggi yang bisa tinggal di sana. Dalam jangka panjang, ini tidak baik karena kota membutuhkan heterogenitas untuk dapat bekerja dengan baik. Meningkatnya kunjungan juga bisa berbanding lurus dengan rasa keterasingan yang dialami oleh penduduknya. Penduduk lokal mungkin tidak lagi merasa sebagai tuan rumah di atas wilayahnya sendiri.

Kini pemerintah berupaya mengatur Canggu. Para pihak berkumpul untuk menyelesaikan persoalan, mencari solusi terbaik yang saling menguntungkan. Kita tentu berharap agar ditemukan cara terbaik untuk keluar dari persoalan ini.

Canggu bisa menjadi masa lalu jika kita mampu keluar dari persoalan itu dan memecahkan masalah pelik yang ditumbulkan oleh pariwisata. Tetapi ia juga bisa menjadi masa depan jika kita melakukan pembiaran. Bisa saja di masa mendatang semua wilayah menjadi seperti Canggu. Kendali ada di tangan kita. [T]

BACA artikel-artikel lain dari penulis GEDE MAHA PUTRA

Rustic System dalam Perencanaan Wilayah
Invisible City, Penghuni Kota yang Tidak Terlihat
Sebuah Pelajaran dari Ekowisata di Delta Sungai Mekong, Vietnam
Tags: Desa CangguKutaPariwisatapariwisata balipariwisata budayapariwisata indonesiaSanurSeminyakTuris
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemetaan Potensi Migas di Bali Utara, Nelayan Bisa Apa?

Next Post

Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

I Nyoman Gede Maha Putra

I Nyoman Gede Maha Putra

Dosen arsitektur di Universitas Warmadewa

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

Pesta Durian Munduk Bestala di Pantai Penimbangan Singaraja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co