23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Tikus Tanah Mencari Api” – Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Wayan Purne by Wayan Purne
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Surya Pratama

TERIK sang surya menyinari hutan cemara. Burung-burung berkicau menghibur binatang-binatang lainnya yang sedang sibuk mengumpulkan makanan. Para binatang itu mengumpulkan makanannya di sarang mereka masing-masing. Sedangkan, Tikus Tanah sibuk menggali tanah.

“Tikus Tanah, apa yang sedang kamu lakukan?”  tanya Semut heran.

“Aku sedang membuat sarang baru, Semut,” jawab Tikus Tanah.

“Oh, gitu. Sarangmu yang dulu, gimana?” ucap Semut.

“Sarangku yang dulu selalu kena bajir ketika musim penghujan tiba.  Apalagi, ketika musim penghujan tiba, sarangku selalu ditutupi sampah hingga aku sulit keluar. Makanya, aku pindah dan membuat sarang di hutan cemara ini,” kata Tikus Tanah.

“Jadi karena itu kamu pindah dan membuat sarang baru! Memangnya kamu dulu membuat sarang dimana? Sampai-sampai kamu terkena banjir,” kata Semut penasaran.

“Aku membuat sarang di tempat yang jauh, di tanah dekat tempat tinggal para manusia,” terang Tikus Tanah.

“Pantas sarangmu sering kena banjir. Kamu membuat sarang di tanah dekat tempat tinggal manusia! Tahu tidak, manusia itu lebih jorok daripada kita. Mereka seenaknya saja membuang sampah sembarangan. Mereka tidak sadar kalau sampah juga menyebabkan banjir,” kata Semut.

“Ya sih, benar apa yang kamu katakan, Semut,” sahut Tikus Tanah.

“Ya sudah, selamat datang di hutan cemara yang indah ini. Kalau kamu butuh bantuan, panggil saja aku. Sarangku tidak jauh dari tempatmu ini,” ucap Semut mengakhiri percakapan mereka.

Semut pulang ke sarangnya dengan membawa sebutir biji padi. Tikus Tanah melanjutkan pekerjaannya membuat sarang. Tikus Tanah terus menggali tanah dan membuat ruangan yang luas. “Aku harus mempunyai sarang yang bagus. Aku tidak ingin punya sarang seperti sarang yang dulu.”

Akhirnya, Tikus Tanah selesai membuat sarangnya sendiri. Ia memiliki kamar tidur yang nyaman dan memiliki gudang penyimpan makanan yang luas. “Sekarang tinggal mengumpulkan makanan,” gumam Tikus Tanah.

“Tunggu, mengapa aku selalu diam di sarang yang gelap? Mengapa tidak membuat sarang ini menjadi terang?” pikir Tikus Tanah.

“Ah, aku akan menemui Semut untuk meminta bantuan.” Tikus Tanah meninggalkan sarangnya.

Sampailah Tikus Tanah di depan sarang semut. “Semut, kamu ada di dalam?” panggil Tikus Tanah.

“Ya, Tikus Tanah! Ada apa?” ucap Semut keluar dari sarangnya.

“Semut, kira-kira di mana aku bisa mendapatkan api? Aku mau buat penerangan di dalam sarang,” tanya Tikus Tanah.

“Bukankah kamu sudah terbiasa hidup di sarang yang gelap?” tanya Semut.

“Memang aku sudah terbiasa hidup di dalam sarang yang gelap. Tapi, aku juga ingin merasakan ada cahaya di dalam sarangku,” ungkap Tikus Tanah.

“Oh, ingin merasakan ada cahaya di sarangmu. Ah, aku tahu di mana kamu bisa mendapatkan api.” kata Semut.

“Di mana itu Semut?”

“Pergi saja kamu ke danau di hutan ini. Kamu temui Pak Buaya. Pak Buaya memiliki api di mulutnya. Kamu bisa meminta api itu pada Pak Buaya,” ucap Semut.

“Aku takut, Semut. Bisa-bisa, aku nanti dimakan sama Pak Buaya itu,” protes Tikus Tanah.

“Tenang saja, Tikus Tanah! Pak Buaya tidak akan suka memakan dagingmu. Pak Buaya hanya senang makan buah. Pak Buaya itu sudah berhenti memakan daging,” terang Semut.

“Sejak kapan Pak Buaya tidak suka makan daging? Ah, mungkin Pak Buaya sama sepertiku yang ingin suasana baru,” pikir Tikus Tanah.

“Tikus Tanah, sana temui Pak Buaya!” perintah Semut memecah lamunan Tikus Tanah.

Tikus Tanah pergi meningalkan Semut sendiri. Ia pergi menuju danau tempat tinggal Pak Buaya itu. Sampailah ia di danau. Ia melihat Pak Buaya sedang berjemur. Mulut Pak Buaya menganga terbuka lebar menghadap ke sinar matahari. Ia mendekati Pak Buaya.

“Hai, Pak Buaya!” sapa Tikus Tanah ramah.

“Haa, kamu mengagetkan aku saja. Ada apa, Tikus Tanah? Tumben kamu mengunjungi aku,” ucap Pak Buaya.

“Begini Pak Buaya! Aku datang ingin minta api untuk menerangi sarangku yang gelap. Karena kata si Semut, kamu mempunyai api yang aku butuhkan,” kata Tikus Tanah mengutarakan maksud keinginanya.

“Apaaaaa, kamu ingin minta api denganku?” kata Pak Buaya terheran.

“Ya,  Pak Buaya.”

“Hem, sudah terlambat Tikus Tanah. Api sudah kuberikan kepada si Kelinci. Aku tak mau lagi membawa api itu. Kalau terus kubawa api itu, ikan-ikan di danau ini bisa mati kepanasan,” terang Pak Buaya.

“Oh, aku terlambat! Pupus sudah keinginanku menerangi sarangku,” keluh sedih Tikus Tanah.

“Mengapa bersedih, Tikus Tanah? Bukankah kamu bisa meminta api itu pada Kelinci?” Tikus Tanah mendapat harapan.

“Benar juga kata Pak Buaya,” gumam Tikus Tanah.

Buaya memutar tubuhnya. Ia ingin kembali masuk ke dalam danau. Ia merasa sudah cukup berjemur di bawah terik matahari. Apalagi sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan dengan Tikus Tanah.

“Pak Buaya, tunggu dulu! Sebelum Pak Buaya pergi ke dasar danau, aku ingi tanya sesuatu,” pinta Tikus Tanah.

“Mau tanya apalagi, Tikus Tanah? Sudah kujelaskan semuanya,” protes Pak Buaya.

“Aku hanya ingin tahu saja. Kata si Semut, apa benar Pak Buaya tidak makan daging lagi, tapi makan buah?”

“Apaaaaaa? Sini kamu, Tikus Tanah!  Aku  makan sampai ke tulang-tulangmu. Biar kamu tahu aku masih makan daging,” teriak si Buaya tersinggung.

“Tidakkk, Pak Buaya! Bukan maksudku seperti itu.” Tikus tanah lari terbirit-birit ketakutan.

“Enak saja mengatakan aku makan buah.”  Pak Buaya menyelam ke dasar danau. Ia tak lagi menghiraukan Tikus Tanah yang lari ketakutan entah kemana.

Tikus Tanah terengah-engah kehabisan napas sampai di depan sarangnya. Semut pun terheran melihat Tikus Tanah dari kejauhan seperti ketakutan. Semut bergegas menghampiri Tikus Tanah. “Ada apa kamu seperti ketakutan, Tikus Tanah?” tanya Semut.

“Gara-gara kamu, Semut! Aku hampir mau dimakan sama Pak Buaya itu,” ungkap Tikus Tanah terengah-engah kesal.

“Pak Buaya itu baik tidak pernah mau makan siapa pun. Kamu pasti melakukan sesuatu yang menyinggung pak Buaya,” ucap Semut tak percaya.

“Memang Pak Buaya ramah dan baik. Tapi, ketika aku bertanya mengapa buaya suka makan buah dan tidak lagi makan daging, Buaya marah dan ingin memakanku,” cerita Tikus Tanah.

Mendengar cerita Tikus Tanah, Semut tertawa terbahak-bahak. Sampai air mata semut bercucuran karena tertawanya yang begitu lepas. “Ya jelas Pak Buaya tersinggung kamu menanyakan itu. Aku mengatakan buaya tidak suka makan daging, tapi makan buah agar kamu tidak takut menemuai Pak Buaya. Karena sebenarnya, Pak Buaya itu baik,” kata Semut yang mulai bisa menahan tawanya.

“Jadi, kamu bohongi aku, Semut?” tanya Tikus Tanah suaranya meninggi.

“Ya, aku bohongi kamu. Kalau aku tidak bohong, mana mungkin kamu berani menemui Pak Buaya,” kata Semut melanjutkan tawanya.

“Tidak. Aku tetap berani menemui Pak Buaya walaupun kamu berkata jujur,” kata Tikus Tanah menunjukkan keberaniannya. Tapi, dalam pikiran Tikus Tanah, ia sangat takut dan tak akan pernah berani menemui Pak Buaya kalau dari awal tahu itu.

“Sudahlah Tikus Tanah, tak usah cemberut gitu! Maaf, bukan maksudku begitu. coba ceritakan, apa kamu sudah mendapatkan apinya?” rayu Semut.

“Belum, Semut. Apinya Pak Buaya sudah diberikan kepada Kelinci. Aku disarankan minta api itu pada Kelinci” kata Tikus Tanah.

“Ah, kamu semakin sulit sekarang mendapatkan api itu.”

“Mengapa bisa begitu?” tanya Tikus Tanah

“Karena, Kelinci sangat menyayangi benda-benda yang dimilikinya. Saking sayangnya, Kelinci tidak akan membiarkan benda-bendanya disentuh siapapun,” ucap Semut menghela napasnya.

“Ah, aku tak percaya. Kamu pasti bohong agar aku tidak berharap pada api itu,” protes Tikus Tanah tak percaya.

“Aku serius, Tikus Tanah.”

“Kamu pasti bohong,” ucap Tikus tak lagi menghiraukan perkataan Semut. Lantas Tikus Tanah pergi berkunjung ke sarang Kelinci. Dilihatnya Kelinci sedang sibuk memanen wortel di kebunnya.

“Wow, subur sekali kebun wortelmu,  Kelinci!” ucap Tikus Tanah mengaget Kelinci yang asik mencabuti wortelnya. Sontak Kelinci lari masuk ke sarangnya dan mengunci pintu rapat-rapat.

“Kelinci, aku datang ke sini bukan bermaksud jahat.”

“Tapi, ada apa kamu jauh-jauh datang ke sini?” ucap Kelinci meletakkan keranjang gendongnya yang penuh berisi wortel.

“Aku ke sini hanya berkunjung. Aku hanya ingin melihat-lihat benda kesayanganmu. Dengar-dengar dari Semut, kamu banyak memilki benda-benda yang cantik dan indah. Boleh aku masuk ke sarangmu untuk lihat-lihat?” ucap Tikus Tanah berdiri di depan pintu sarang Kelinci.

“Memang, semua yang kumiliki adalah benda yang cantik indah.” Kelinci membanggakan diri.

“Kalau gitu, biarkan aku masuk melihat-lihatnya! Apa benar benda-benda yang kamu miliki seindah aku dengar? Aku mohon!” pinta Tikus Tanah.

Mendengar perkataan Tikus Tanah, Kelinci merasa ingin membuktikan bahwa benda-benda yang dimilikinya memang cantik. Tapi, Kelinci ragu memperlihatkannya. Kelinci takut benda-benda miliknya dicuri atau diminta.

“Benar, Kamu hanya lihat-lihat saja? Tidak berniat yang lain?” tanya Kelinci meyakinkan keraguannya.

“Ya Kelinci. aku hanya lihat-lihat saja.”

Kelinci membuka pintu dan mempersilahkan Tikus Tanah masuk untuk melihat-lihat. Tikus merasa senang diberikan kesempatan masuk ke sarang Kelinci. Tikus Tanah kagum melihat lilin besar dengan cahaya api yang memenuhi ruangan sarang Kelinci.

Tapi, mata Kelinci tak berkedip sedikit pun memperhatikan gerak-gerik Tikus Tanah. Kelinci tak ingin sedikit pun benda-benda miliknya bergeser dari tempatnya. Kelinci tak mau lengah.

“Wow, cahaya api lilinnya begitu cantik,” puji Tikus Tanah.

“Aku juga mengagumi cahaya api ini. Ini adalah hadiah terbaik dari Pak Buaya,” ucap Kelinci sependapat.

“Boleh tidak, aku minta sedikit api itu agar sarang yang gelap bercahaya?” celetuk iseng Tikus Tanah.

“Itu kan! Kecurigaanku benar! Kamu datang ke tempatku karena ada maumu. Aku tidak akan biarkan siapapun yang menyentuh barang-barangku,” suara Kelinci meninggi.

Seketika itu, Kelinci menarik tangan Tikus Tanah keluar ruangan. “Pulang saja kamu, Tikus Tanah! Aku tidak akan pernah memberikan api itu padamu,” ucap Kelinci ketus. Kelinci menutup pintu dan menutupnya rapat-rapat. Kelinci berharap tidak ada lagi yang menginginkan api kesayangannya itu.

Tikus Tanah pun pergi tanpa membawa api yang diinginkannya. Ia hanya bisa bersedih karena sudah tidak memiliki harapan mendapatkan api itu. “Benar apa yang dikatakan oleh Semut. Kelinci sangat sayang dengan benda-benda miliknya,” gumam Tikus Tanah.

“Sudah kukatakan, kamu pasti tidak dapat api itu,” sapa Semut melihat Tikus Tanah yang cemberut.

Tikus Tanah hanya bisa mengangguk lesu tak menghiraukan perkataan Semut. “Ah, aku pulang saja ke sarang gelapku,” ucap sedih Tikus Tanah.

“Pinjam aja apinya kelinci diam-diam,” ucap Tupai asyik makan manga di atas pohon mangga.

“Meminjam diam-diam, mencuri namanya!”

“Tapi, siapa itu bicara?” Tikus Tanah bingung mencari sumber suara.

“Itu Tupai yang berbicara dari atas pohon,” kata Semut menunjuk Tupai.

“Oh, kamu Tupai yang bicara. Mana mungkin aku mencuri karena ingin punya api itu. Lebih baik aku gelap-gelapan saja,” tolak Tikus Tanah

“Aku tidak meminta mencurinya, tetapi kamu hanya meminjamnya sedikit tanpa pengetahuan kelinci. Toh, Kelinci tidak akan tahu kalau api miliknya dipinjam. Sebab, api itu tidak akan berkurang walaupun ambil sedikit,” terang Tupai.

“Bagaimana caranya? Kelinci selalu menjaganya dengan baik,” tanya Tikus Tanah.

“Aku tidak tahu bagaimana caranya. Kamu tahu kesukaan Kelinci,” ucap Tupai pergi meninggalkan mereka berdua berpikir cara mendekati Kelinci.

“Bagaimana kalau kamu pura-pura ingin menunjukkan gelas dan piring antikmu? Lalu, kamu minta bantuan apa saja agar perhatian Kelinci teralihkan. Baru kamu pinjam api itu dengan lilin yang kamu punya,” saran Semut.

“Benar juga katamu, Semut!”

Tikus Tanah mengambil piring dan gelas antiknya. Ia kembali menemui Kelinci. Awalnya Kelinci curiga pada Tikus Tanah. Tapi, ketika dilihatnya Tikus Tanah membawa piring dan gelas antik, Kelinci lupa akan kecurigaannya. Kelinci hanya tertarik pada piring dan gelas antik itu. Tikus Tanah pun diperbolehkan masuk ke sarangnya Kelinci.

“Aku hanya mendengar pendapatmu, apakah piring dan gelas antikku benar-benar cantik?” ucap Tikus Tanah serius.

“Ya, bener piring dan gelas antikmu ini sangat cantik. Tapi, tetap saja lebih cantik cahaya apiku,” kata Kelinci.

Tikus Tanah hanya mengangguk saja tanpa menanggapi perkataan Kelinci. Sebab, Tikus Tanah sedang berpikir keras mencari alasan agar meminjam api itu diam-diam. Sedangkan, Kelinci masih berada di sebelah api lilin besarnya memperhatikan piring dan gelas antik yang masih dipegang erat oleh Tikus Tanah.

“Ah, aku haus Kelinci! Aku jadi ingin minum jus. Bolehkah aku minta minuman jus?” ucap Tikus Tanah berharap Kelinci mau membuatnya.

“Aku tidak punya buah, tetapi hanya punya wortel. Kamu mau minum jus wortel,” kata Kelinci menawarkan.

“Ya, aku mau. Pasti enak itu,” ucap Tikus Tanah sumringah.

Kelinci pergi ke dapur memeras wortel membuat jus. Melihat Kelinci sedang sibuk membuat jus di dapur, Tikus Tanah bergas mengeluarkan lilinnya. Lalu, Tikus Tanah mendekatkan lilinnya ke api lilin besar milik Kelinci. Api itu pun menyala di lilin milik Tikus Tanah.

“Wow, api di lilin besar ini tidak berkurang dan tetap utuh seperti semula,” pikir Tikus Tanah.

Tikus Tanah meletakkan lilinya yang sudah menyala itu di atas piring dan menutupnya dengan gelas antiknya. Kemudian, Tikus Tanah membungkusnya dengan kain hitam yang disiapkannya. Tidak ingin ada yang melihatnya membawa api dari sarang Kelinci. Lantas diam-diam Tikus Tanah segera pergi.

“Lah, ke mana Tikus Tanah? Aku capek-capek minuman ini malah pulang,” keluh Kelinci. Kelinci pun kembali pergi dapur dan melatakan minuman yang sudah dibuatnya.

“Jangan-jangan Tikus Tanah sudah mengambil barang kesayanganku,” gumam Kelinci. Kelinci memeriksa semua barangnya, tetapi tidak ada satupun yang hilang. Semua masih tetap berada di tempatnya. Api lilin besarnya juga masih utuh.

“Ah, mungkin Tikus Tanah takut aku meminta piring dan gelas antiknya. Makanya, Tikus Tanah pergi diam-diam ketika aku sedang sibuk di dapur. Seharusnya Tikus Tanah tidak pergi karena aku tidak meminta miliknya itu,” pikir Kelinci.

Sedangkan, Tikus Tanah sudah sampai di sarangnya. Perlahan-lahan Tikus Tanah membuka api lilin yang dibukusnya itu. Ternyata apinya tidak ada, tetapi hanya meninggalkan asap.

“Tidak mungkin ini terjadi. Jelas-jelas api sudah ada di lilinku ini,” teriak Tikus Tanah membanting lilinnya.

Semut kaget mendengar suatu teriakan. “Itu seperti teriakan Tikus Tanah. Mungkin Tikus Tanah sudah pulang,” pikir Semut. Semut pun pergi ke sarang Tikus Tanah. Sebab, Semut penasaran apa yang terjadi dengan Tikus Tanah.

“Ada apa Tikus Tanah? Sepertinya aku denga kamu berteriak,” tanya Semut.

“Aku lagi kesal. Aku sudah meminjam api Kelinci. Aku letakkan di atas piring dan tak tutup dengan gelas antik ini. Kemudian aku bungkus dengan kain hitam agar tidak ada yang tahu,” cerita Tikus Tanah.

Semut hanya menahan tawanya mendengar cerita Tikus Tanah. Semut tidak ingin lagi menambah kekesalan Tikus Tanah. “Sudahlah Tikus Tanah! Relakan saja, kamu tidak bisa memiliki api itu. Kamu melakukan sedikit kesalahan karena menutup api di lilinmu dengan gelas antik ini. Ketika ditutup, api di lilinmu itu pun mati karena tidak mendapatkan udara,” ucap lembut Semut.

“Api itu kok seperti kita bernapas memerlukan udara untuk hidup.”

“Ya Tikus Tanah. Api perlu makan dan udara seperti kita agar tetap menyala. Tapi, api bukan makhluk hidup seperti kita,” kata Semut menjelaskan.

Sudahlah! Aku mau istirahat sekarang! Biarlah aku tidur di sarang gelap ini saja!” ucap Tikus Tanah sedih.

Mereka pun tak lagi membicarakan tentang api itu. Tikus Tanah kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Begitu juga dengan Semut tetap menyemangati Tikus Tanah. Kini, mereka hanya menikmati kesejukan hutan cemara. (T)

Tags: dongengfaunafloraPendidikanpendidikan usia dini
Share7TweetSendShareSend
Previous Post

Kopi Akhir Juli

Next Post

Repotan, Eh, Rapotan: Dilema Musiman Seorang Guru

Wayan Purne

Wayan Purne

Lulusan Undiksha Singaraja. Suka membaca. Kini tinggal di sebuah desa di kawasan Buleleng timur menjadi pendidik di sebuah sekolah yang tak konvensional.

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post

Repotan, Eh, Rapotan: Dilema Musiman Seorang Guru

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co