3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Akhir Juli

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Gelisah di pengujung Juli semakin menjadi. Setiap pagi kegelisahan itu aku rayakan dengan segelas kopi. Gelas mungil motif Lili Merah kupilih sebagai gelas ritual ini. Tidak begitu menarik, hanya saja tradisi membuat kopi pagi hari semakin anyir sebab tiga atau lima jam setelah dihidangkan, tidak ada ampas yang terlihat. Masih utuh setengah penuh hitam bening. Tidak lagi pekat dan tidak lagi hangat.

Satu sendok kopi dan dua sendok gula. Takaran yang tepat untuk awali hari. Bukankah begitu? Aku tidak sempat memikirkan orang yang tidak suka kopi. Mereka seperti diracun waktu. Kopi bagiku adalah alasan menikmati pagi. “Kopi juga bentuk syukur,” katamu sambil melipat surat kabar.

Aku tidak sepenuhnya setuju denganmu. Mengapa kopi begitu istimewa? Hingga syukur adalah tentang kopi. Bila kopi tidak tersaji maka tidak ada puja puji. Bila tidak ada kopi tentu tidak ada kata terima kasih. Namun kau tidak menjawab. Kau larut dengan kopi yang kuhidangkan. Tentu seperti biasanya kau menuruhkan sedikit demi sedikit di cawan. Kau tidak terbiasa meneguk langsung. Cawan hijau lumut yang telah penuh kopi itu kau mengamati sebentar, seperti bercermin. Melihat diri dari kopi. Tidak lupa, sebelum siupan pertama kau mengaduknya tanpa sendok, hanya gerakan mungil memutar dengan telapak tangan. Ketika ampas sudah turun, kau meneguknya sekaligus.

“Apa perlu cawan hanya untuk minum kopi?” tanyaku sambil membuka bungkus kue basah kesukaanmu.

“Lebih nikmat saja,” jawabmu sambil menuruhkan lagi kopi ke cawan.

“Mungkin hanya alasan untuk berlama-lama menikmati pagi.”

“Hahaha..buat apa terburu-buru? Kalau sudah disediakan waktu untuk menikmati pagi, ya nikmati sajalah. Nyeruput kopi sambil lihat-lihat kamboja itu buat hatiku bahagia.” katamu dengan sederhana.

Begitulah percakapan di ruang depan setiap hari. Seolah tidak ada kata untuk terlambat kerja. Seolah waktu terhenti melihat kau menikmati kopi.

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Kembali kata itu terngiang. Takaran yang tepat untuk hidangan kopi. Kadang takaran itu tidak selalu menyajikan rasa kopi yang sama. Pernah suatu ketika pertengkaran itu terjadi ketika kopi dihidangkan tidak lagi panas. Bagimu suhu kopi sangat menentukan kualitasnya. Tidak peduli kopi torabika, luwak, atau banyuatis. Yang terpenting adalah suhu.

“Tidak perlu kopi mewah, aku hanya butuh kopi dengan uap mengepul penuh,” katamu sambil menahan amarah.

Ketika kau meluapkan marah, kau tidak ingin lagi bercakap-cakap kemudian bergegas pergi. Sesal kemudian juga percuma. Kudoakan saja semoga mata hatinya tetap terjaga walau kopi belum diteguknya.

Kalau mau ingat bagaimana matamu berbicara tentang hidup ya mungkin seperti ampas kopi. Matamu membaca ampas kopi seperti menikmati karya seni.

“Aku melihat ada seorang lelaki dengan senyum mutiara,” katamu.

“Siapa itu?” tanyaku penasaran.

“Mungkin seorang tuan tanah yang akan membeli tanah kita. Bisa saja seorang insinyur yang hendak memperbaiki rumah kita. Bisa jadi laki-laki yang ingin meminangmu, Nak,” katamu sambil mengelus bulat pipiku.

Aku terhenyak. Aku ingin tertawa tapi sulit. Bagaimana kau bisa mengarang cerita seperti itu? Hanya sekadar bahan canda atau itu sebuah harapan? Bisa saja itu masa depan yang terbaca dari ampas kopimu. Berselang satu bulan, aku dapatkan kekasih dengan senyum mutiara dan hangat di hatinya. Tentu kau sudah tahu itu. Apakah kau bahagia melihat diriku bersamanya?

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Lagi kata-kata itu melintas. Sekejap, namun berdengung di kepala. Kemudian melintas tentang tamu-tamu yang hadir setiap malam. Aku buatkan kopi sesuai keinginanmu. Mereka datang hanya untuk meminta pertolonganmu. Entah kerabat dekat atau seorang baru kau kenal, bagimu menolong adalah mulia. Namun, kopi yang kusajikan tidak mereka teguk sampai habis. Mereka terbiasa hanya mencicip, sekadar menikmati, sedikit sungkan. Mungkin itulah kebiasaan tamu minum kopi. Namun kau hanya tersenyum menyaksikan kopi yang tersaji tidak sampai batas ampas. Hanya ucapan terima kasih yang basa-basi kau telan. Sakit memang, aku bisa tahu itu.

Kopi dan gula. Satu, dua. Sendok.

Ingatan itu datang. Dia datang dengan bisikan kecil dan kata yang tidak tersusun lagi. Dia datang dengan peristiwa yang begitu cepat berubah. Kadang dengan tempo yang cepat. Kadang terbata. Aku tidak sempat mengerti arti serpihan kata yang tidak lagi membentuk makna. Aku mencoba bernapas. Aku hela dengan menyebut namamu. Aku hirup semua udara. Aku lepaskan dengan teriakan yang sampai tak bisa terdengar. Teriak sekeras yang kubutuhkan sampai mendung tergelincir menjadi tetes air mata langit.

Sendok kopi. Sendok Gula. Satu, dua.

Tiba-tiba aku terbaring. Beberapa orang mencoba memasang oksigen. Beberapa orang mencoba mencari nadiku. Beberapa orang khawtair. Selebihnya hanya menyaksikan. Aku tak sadarkan diri. Aku mencoba memanggil namaku, mencoba mengingat adegan terakhir, mencoba membuka mata. Namun, hanya hamparan Lili yang kulihat. Putih, bersih, sinar sejuk.

”Kau ingin kopi?” tanyamu.

“Ya, agar aku lekas siuman,” jawabku dengan lelah.

“Satu sendok kopi, dua sendok gula, itu rahasianya,” katamu sambil memberikanku kopi.

“Terima kasih. Lama sudah tidak meneguk kopi ini.”

“Tidak ada rasa terima kasih tanpa kopi. Itulah yang terjadi selama ini. Besok, buatkan aku kopi. Segelas kopi,” katamu dan aku perlahan pergi.

Aku tersadar.Aku terbangun dengan tali yang mengikatku di lengan dan pergelangan kaki. Mereka mengikatku. Mereka mengira aku gila. Tidak, ini tidak benar. Aku diikat seperti ayam aduan. Aku diikat seperti ingin dimaki. Mereka merasa gelisah karena kau teriak dan menangis disetiap waktu. Mereka gusar karena aku tidak bisa diam mengikuti proses upacara. Mereka tidak peduli betapa sakit hatiku melihat kenyataan bahwa kopiku tidak lagi bisa dinikmati. Mereka tidak tahu kopiku masih utuh. Warna yang pudar, suhu yang berubah membuatku terpukul. Siapa penikmat kopiku?

Segelas kopi yang kusajikan kini hanya kopi tanpa tuan. Mungkin saja kau nikmati dengan menghirup uap segar yang mengepul. Mungkin saja kau hanya ingin melihat setiap hari aku membuat kopi dengan langkah yang tepat. Satu sendok, dua gula.

Aku mencoba lepaskan kesedihan. Mengendalikan diri adalah cara yang apik untuk melihat orang-orang munafik. Mereka datang dengan sebungkus gula, dua kilogram kopi, satu ikat gula, dan beberapa gulung kain putih.

Mereka yang kini datang perlahan menyembunyikan rasa utang budi. Mereka yang menjengukmu kini datang tanpa takut. Merekalah yang tidak ingin kopimu bahkan dirimu. Mereka pun mencoba memaafkan dirimu dengan ikhlas, katanya.

“Biarkan kami berdoa untuk kebahagian beliau di alam surga. Kami ikhlaskan, kami memaafkan,” kata lelaki kumis tebal berkaca mata itu.

“Kita tentu tahu betapa hebatnya pengabdian beliau,” kata perempuan itu sembari membagikan dupa kepada yang lain.

“Ya inilah garis waktu, kita harus bersiap dipanggil Tuhan. Mari kita berdoa,” tukas lelaki itu yang selalu memakai cincin manik biru di jarinya.

Setelah doa itu, satu per satu dupa dikumpukan untuk ditaruh digelas dupa. Satu per satu mereka kembali ke ruang tamu. Aku menghidangkan kudapan. Kopi dan kue basah sudah dibagikan. Masing-masing dapat bagian. Pada menit ketiga setelah kopi dibagikan, mereka meneguk sekadar. Gelas kopi ditaruh. Menit kelima, tangan mereka gemetar sambil menyentuh dada. Mereka mencoba bersuara, tapi tak cukup tenaga. Mereka tersengal-sengal. Beberapa mencoba berteriak, beberapa mencoba mencari pertolongan. Pada menit ketujuh mereka bersujud lemah hampir tak sadarkan diri.

Orang-orang enggan mendekat karena takut ikut-ikut kena kutuk. Ketua adat juga nampak panik untuk segera mencari pemangku. Anak-anak yang ikut datang jadi menangis. Beberapa orang di pojok jalan makin sibuk mencibir.

“Kami dalang yang mohon ampun! Ampuni kami!”tiba-tiba lelaki manik biru itu berteriak. Matanya membelalak. Suara-suara itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka berteriak untuk terakhir kali. Sesudah itu, tak ada lagi denyut nadinya.

Teriakan itu mengingatkanku pada pagi itu. Kau berteriak “selamat tinggal” dengan bahagia. Benarkah? Kini kesepianmu sudah kutebus. Kukirim orang-orang itu padamu. Kelak kau akan mengajarkan mereka bagaimana cara minum kopi. Bagaimana cara menikmati pagi dengan kata terima kasih.

Kau tidak sendiri lagi. (T)

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Bawa Isu Positif, “All In” Australia Hentak Skena Musik Singaraja

Next Post

“Tikus Tanah Mencari Api” – Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post

"Tikus Tanah Mencari Api" - Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co