13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Akhir Juli

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Gelisah di pengujung Juli semakin menjadi. Setiap pagi kegelisahan itu aku rayakan dengan segelas kopi. Gelas mungil motif Lili Merah kupilih sebagai gelas ritual ini. Tidak begitu menarik, hanya saja tradisi membuat kopi pagi hari semakin anyir sebab tiga atau lima jam setelah dihidangkan, tidak ada ampas yang terlihat. Masih utuh setengah penuh hitam bening. Tidak lagi pekat dan tidak lagi hangat.

Satu sendok kopi dan dua sendok gula. Takaran yang tepat untuk awali hari. Bukankah begitu? Aku tidak sempat memikirkan orang yang tidak suka kopi. Mereka seperti diracun waktu. Kopi bagiku adalah alasan menikmati pagi. “Kopi juga bentuk syukur,” katamu sambil melipat surat kabar.

Aku tidak sepenuhnya setuju denganmu. Mengapa kopi begitu istimewa? Hingga syukur adalah tentang kopi. Bila kopi tidak tersaji maka tidak ada puja puji. Bila tidak ada kopi tentu tidak ada kata terima kasih. Namun kau tidak menjawab. Kau larut dengan kopi yang kuhidangkan. Tentu seperti biasanya kau menuruhkan sedikit demi sedikit di cawan. Kau tidak terbiasa meneguk langsung. Cawan hijau lumut yang telah penuh kopi itu kau mengamati sebentar, seperti bercermin. Melihat diri dari kopi. Tidak lupa, sebelum siupan pertama kau mengaduknya tanpa sendok, hanya gerakan mungil memutar dengan telapak tangan. Ketika ampas sudah turun, kau meneguknya sekaligus.

“Apa perlu cawan hanya untuk minum kopi?” tanyaku sambil membuka bungkus kue basah kesukaanmu.

“Lebih nikmat saja,” jawabmu sambil menuruhkan lagi kopi ke cawan.

“Mungkin hanya alasan untuk berlama-lama menikmati pagi.”

“Hahaha..buat apa terburu-buru? Kalau sudah disediakan waktu untuk menikmati pagi, ya nikmati sajalah. Nyeruput kopi sambil lihat-lihat kamboja itu buat hatiku bahagia.” katamu dengan sederhana.

Begitulah percakapan di ruang depan setiap hari. Seolah tidak ada kata untuk terlambat kerja. Seolah waktu terhenti melihat kau menikmati kopi.

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Kembali kata itu terngiang. Takaran yang tepat untuk hidangan kopi. Kadang takaran itu tidak selalu menyajikan rasa kopi yang sama. Pernah suatu ketika pertengkaran itu terjadi ketika kopi dihidangkan tidak lagi panas. Bagimu suhu kopi sangat menentukan kualitasnya. Tidak peduli kopi torabika, luwak, atau banyuatis. Yang terpenting adalah suhu.

“Tidak perlu kopi mewah, aku hanya butuh kopi dengan uap mengepul penuh,” katamu sambil menahan amarah.

Ketika kau meluapkan marah, kau tidak ingin lagi bercakap-cakap kemudian bergegas pergi. Sesal kemudian juga percuma. Kudoakan saja semoga mata hatinya tetap terjaga walau kopi belum diteguknya.

Kalau mau ingat bagaimana matamu berbicara tentang hidup ya mungkin seperti ampas kopi. Matamu membaca ampas kopi seperti menikmati karya seni.

“Aku melihat ada seorang lelaki dengan senyum mutiara,” katamu.

“Siapa itu?” tanyaku penasaran.

“Mungkin seorang tuan tanah yang akan membeli tanah kita. Bisa saja seorang insinyur yang hendak memperbaiki rumah kita. Bisa jadi laki-laki yang ingin meminangmu, Nak,” katamu sambil mengelus bulat pipiku.

Aku terhenyak. Aku ingin tertawa tapi sulit. Bagaimana kau bisa mengarang cerita seperti itu? Hanya sekadar bahan canda atau itu sebuah harapan? Bisa saja itu masa depan yang terbaca dari ampas kopimu. Berselang satu bulan, aku dapatkan kekasih dengan senyum mutiara dan hangat di hatinya. Tentu kau sudah tahu itu. Apakah kau bahagia melihat diriku bersamanya?

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Lagi kata-kata itu melintas. Sekejap, namun berdengung di kepala. Kemudian melintas tentang tamu-tamu yang hadir setiap malam. Aku buatkan kopi sesuai keinginanmu. Mereka datang hanya untuk meminta pertolonganmu. Entah kerabat dekat atau seorang baru kau kenal, bagimu menolong adalah mulia. Namun, kopi yang kusajikan tidak mereka teguk sampai habis. Mereka terbiasa hanya mencicip, sekadar menikmati, sedikit sungkan. Mungkin itulah kebiasaan tamu minum kopi. Namun kau hanya tersenyum menyaksikan kopi yang tersaji tidak sampai batas ampas. Hanya ucapan terima kasih yang basa-basi kau telan. Sakit memang, aku bisa tahu itu.

Kopi dan gula. Satu, dua. Sendok.

Ingatan itu datang. Dia datang dengan bisikan kecil dan kata yang tidak tersusun lagi. Dia datang dengan peristiwa yang begitu cepat berubah. Kadang dengan tempo yang cepat. Kadang terbata. Aku tidak sempat mengerti arti serpihan kata yang tidak lagi membentuk makna. Aku mencoba bernapas. Aku hela dengan menyebut namamu. Aku hirup semua udara. Aku lepaskan dengan teriakan yang sampai tak bisa terdengar. Teriak sekeras yang kubutuhkan sampai mendung tergelincir menjadi tetes air mata langit.

Sendok kopi. Sendok Gula. Satu, dua.

Tiba-tiba aku terbaring. Beberapa orang mencoba memasang oksigen. Beberapa orang mencoba mencari nadiku. Beberapa orang khawtair. Selebihnya hanya menyaksikan. Aku tak sadarkan diri. Aku mencoba memanggil namaku, mencoba mengingat adegan terakhir, mencoba membuka mata. Namun, hanya hamparan Lili yang kulihat. Putih, bersih, sinar sejuk.

”Kau ingin kopi?” tanyamu.

“Ya, agar aku lekas siuman,” jawabku dengan lelah.

“Satu sendok kopi, dua sendok gula, itu rahasianya,” katamu sambil memberikanku kopi.

“Terima kasih. Lama sudah tidak meneguk kopi ini.”

“Tidak ada rasa terima kasih tanpa kopi. Itulah yang terjadi selama ini. Besok, buatkan aku kopi. Segelas kopi,” katamu dan aku perlahan pergi.

Aku tersadar.Aku terbangun dengan tali yang mengikatku di lengan dan pergelangan kaki. Mereka mengikatku. Mereka mengira aku gila. Tidak, ini tidak benar. Aku diikat seperti ayam aduan. Aku diikat seperti ingin dimaki. Mereka merasa gelisah karena kau teriak dan menangis disetiap waktu. Mereka gusar karena aku tidak bisa diam mengikuti proses upacara. Mereka tidak peduli betapa sakit hatiku melihat kenyataan bahwa kopiku tidak lagi bisa dinikmati. Mereka tidak tahu kopiku masih utuh. Warna yang pudar, suhu yang berubah membuatku terpukul. Siapa penikmat kopiku?

Segelas kopi yang kusajikan kini hanya kopi tanpa tuan. Mungkin saja kau nikmati dengan menghirup uap segar yang mengepul. Mungkin saja kau hanya ingin melihat setiap hari aku membuat kopi dengan langkah yang tepat. Satu sendok, dua gula.

Aku mencoba lepaskan kesedihan. Mengendalikan diri adalah cara yang apik untuk melihat orang-orang munafik. Mereka datang dengan sebungkus gula, dua kilogram kopi, satu ikat gula, dan beberapa gulung kain putih.

Mereka yang kini datang perlahan menyembunyikan rasa utang budi. Mereka yang menjengukmu kini datang tanpa takut. Merekalah yang tidak ingin kopimu bahkan dirimu. Mereka pun mencoba memaafkan dirimu dengan ikhlas, katanya.

“Biarkan kami berdoa untuk kebahagian beliau di alam surga. Kami ikhlaskan, kami memaafkan,” kata lelaki kumis tebal berkaca mata itu.

“Kita tentu tahu betapa hebatnya pengabdian beliau,” kata perempuan itu sembari membagikan dupa kepada yang lain.

“Ya inilah garis waktu, kita harus bersiap dipanggil Tuhan. Mari kita berdoa,” tukas lelaki itu yang selalu memakai cincin manik biru di jarinya.

Setelah doa itu, satu per satu dupa dikumpukan untuk ditaruh digelas dupa. Satu per satu mereka kembali ke ruang tamu. Aku menghidangkan kudapan. Kopi dan kue basah sudah dibagikan. Masing-masing dapat bagian. Pada menit ketiga setelah kopi dibagikan, mereka meneguk sekadar. Gelas kopi ditaruh. Menit kelima, tangan mereka gemetar sambil menyentuh dada. Mereka mencoba bersuara, tapi tak cukup tenaga. Mereka tersengal-sengal. Beberapa mencoba berteriak, beberapa mencoba mencari pertolongan. Pada menit ketujuh mereka bersujud lemah hampir tak sadarkan diri.

Orang-orang enggan mendekat karena takut ikut-ikut kena kutuk. Ketua adat juga nampak panik untuk segera mencari pemangku. Anak-anak yang ikut datang jadi menangis. Beberapa orang di pojok jalan makin sibuk mencibir.

“Kami dalang yang mohon ampun! Ampuni kami!”tiba-tiba lelaki manik biru itu berteriak. Matanya membelalak. Suara-suara itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka berteriak untuk terakhir kali. Sesudah itu, tak ada lagi denyut nadinya.

Teriakan itu mengingatkanku pada pagi itu. Kau berteriak “selamat tinggal” dengan bahagia. Benarkah? Kini kesepianmu sudah kutebus. Kukirim orang-orang itu padamu. Kelak kau akan mengajarkan mereka bagaimana cara minum kopi. Bagaimana cara menikmati pagi dengan kata terima kasih.

Kau tidak sendiri lagi. (T)

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Bawa Isu Positif, “All In” Australia Hentak Skena Musik Singaraja

Next Post

“Tikus Tanah Mencari Api” – Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post

"Tikus Tanah Mencari Api" - Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co