23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Akhir Juli

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Gelisah di pengujung Juli semakin menjadi. Setiap pagi kegelisahan itu aku rayakan dengan segelas kopi. Gelas mungil motif Lili Merah kupilih sebagai gelas ritual ini. Tidak begitu menarik, hanya saja tradisi membuat kopi pagi hari semakin anyir sebab tiga atau lima jam setelah dihidangkan, tidak ada ampas yang terlihat. Masih utuh setengah penuh hitam bening. Tidak lagi pekat dan tidak lagi hangat.

Satu sendok kopi dan dua sendok gula. Takaran yang tepat untuk awali hari. Bukankah begitu? Aku tidak sempat memikirkan orang yang tidak suka kopi. Mereka seperti diracun waktu. Kopi bagiku adalah alasan menikmati pagi. “Kopi juga bentuk syukur,” katamu sambil melipat surat kabar.

Aku tidak sepenuhnya setuju denganmu. Mengapa kopi begitu istimewa? Hingga syukur adalah tentang kopi. Bila kopi tidak tersaji maka tidak ada puja puji. Bila tidak ada kopi tentu tidak ada kata terima kasih. Namun kau tidak menjawab. Kau larut dengan kopi yang kuhidangkan. Tentu seperti biasanya kau menuruhkan sedikit demi sedikit di cawan. Kau tidak terbiasa meneguk langsung. Cawan hijau lumut yang telah penuh kopi itu kau mengamati sebentar, seperti bercermin. Melihat diri dari kopi. Tidak lupa, sebelum siupan pertama kau mengaduknya tanpa sendok, hanya gerakan mungil memutar dengan telapak tangan. Ketika ampas sudah turun, kau meneguknya sekaligus.

“Apa perlu cawan hanya untuk minum kopi?” tanyaku sambil membuka bungkus kue basah kesukaanmu.

“Lebih nikmat saja,” jawabmu sambil menuruhkan lagi kopi ke cawan.

“Mungkin hanya alasan untuk berlama-lama menikmati pagi.”

“Hahaha..buat apa terburu-buru? Kalau sudah disediakan waktu untuk menikmati pagi, ya nikmati sajalah. Nyeruput kopi sambil lihat-lihat kamboja itu buat hatiku bahagia.” katamu dengan sederhana.

Begitulah percakapan di ruang depan setiap hari. Seolah tidak ada kata untuk terlambat kerja. Seolah waktu terhenti melihat kau menikmati kopi.

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Kembali kata itu terngiang. Takaran yang tepat untuk hidangan kopi. Kadang takaran itu tidak selalu menyajikan rasa kopi yang sama. Pernah suatu ketika pertengkaran itu terjadi ketika kopi dihidangkan tidak lagi panas. Bagimu suhu kopi sangat menentukan kualitasnya. Tidak peduli kopi torabika, luwak, atau banyuatis. Yang terpenting adalah suhu.

“Tidak perlu kopi mewah, aku hanya butuh kopi dengan uap mengepul penuh,” katamu sambil menahan amarah.

Ketika kau meluapkan marah, kau tidak ingin lagi bercakap-cakap kemudian bergegas pergi. Sesal kemudian juga percuma. Kudoakan saja semoga mata hatinya tetap terjaga walau kopi belum diteguknya.

Kalau mau ingat bagaimana matamu berbicara tentang hidup ya mungkin seperti ampas kopi. Matamu membaca ampas kopi seperti menikmati karya seni.

“Aku melihat ada seorang lelaki dengan senyum mutiara,” katamu.

“Siapa itu?” tanyaku penasaran.

“Mungkin seorang tuan tanah yang akan membeli tanah kita. Bisa saja seorang insinyur yang hendak memperbaiki rumah kita. Bisa jadi laki-laki yang ingin meminangmu, Nak,” katamu sambil mengelus bulat pipiku.

Aku terhenyak. Aku ingin tertawa tapi sulit. Bagaimana kau bisa mengarang cerita seperti itu? Hanya sekadar bahan canda atau itu sebuah harapan? Bisa saja itu masa depan yang terbaca dari ampas kopimu. Berselang satu bulan, aku dapatkan kekasih dengan senyum mutiara dan hangat di hatinya. Tentu kau sudah tahu itu. Apakah kau bahagia melihat diriku bersamanya?

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Lagi kata-kata itu melintas. Sekejap, namun berdengung di kepala. Kemudian melintas tentang tamu-tamu yang hadir setiap malam. Aku buatkan kopi sesuai keinginanmu. Mereka datang hanya untuk meminta pertolonganmu. Entah kerabat dekat atau seorang baru kau kenal, bagimu menolong adalah mulia. Namun, kopi yang kusajikan tidak mereka teguk sampai habis. Mereka terbiasa hanya mencicip, sekadar menikmati, sedikit sungkan. Mungkin itulah kebiasaan tamu minum kopi. Namun kau hanya tersenyum menyaksikan kopi yang tersaji tidak sampai batas ampas. Hanya ucapan terima kasih yang basa-basi kau telan. Sakit memang, aku bisa tahu itu.

Kopi dan gula. Satu, dua. Sendok.

Ingatan itu datang. Dia datang dengan bisikan kecil dan kata yang tidak tersusun lagi. Dia datang dengan peristiwa yang begitu cepat berubah. Kadang dengan tempo yang cepat. Kadang terbata. Aku tidak sempat mengerti arti serpihan kata yang tidak lagi membentuk makna. Aku mencoba bernapas. Aku hela dengan menyebut namamu. Aku hirup semua udara. Aku lepaskan dengan teriakan yang sampai tak bisa terdengar. Teriak sekeras yang kubutuhkan sampai mendung tergelincir menjadi tetes air mata langit.

Sendok kopi. Sendok Gula. Satu, dua.

Tiba-tiba aku terbaring. Beberapa orang mencoba memasang oksigen. Beberapa orang mencoba mencari nadiku. Beberapa orang khawtair. Selebihnya hanya menyaksikan. Aku tak sadarkan diri. Aku mencoba memanggil namaku, mencoba mengingat adegan terakhir, mencoba membuka mata. Namun, hanya hamparan Lili yang kulihat. Putih, bersih, sinar sejuk.

”Kau ingin kopi?” tanyamu.

“Ya, agar aku lekas siuman,” jawabku dengan lelah.

“Satu sendok kopi, dua sendok gula, itu rahasianya,” katamu sambil memberikanku kopi.

“Terima kasih. Lama sudah tidak meneguk kopi ini.”

“Tidak ada rasa terima kasih tanpa kopi. Itulah yang terjadi selama ini. Besok, buatkan aku kopi. Segelas kopi,” katamu dan aku perlahan pergi.

Aku tersadar.Aku terbangun dengan tali yang mengikatku di lengan dan pergelangan kaki. Mereka mengikatku. Mereka mengira aku gila. Tidak, ini tidak benar. Aku diikat seperti ayam aduan. Aku diikat seperti ingin dimaki. Mereka merasa gelisah karena kau teriak dan menangis disetiap waktu. Mereka gusar karena aku tidak bisa diam mengikuti proses upacara. Mereka tidak peduli betapa sakit hatiku melihat kenyataan bahwa kopiku tidak lagi bisa dinikmati. Mereka tidak tahu kopiku masih utuh. Warna yang pudar, suhu yang berubah membuatku terpukul. Siapa penikmat kopiku?

Segelas kopi yang kusajikan kini hanya kopi tanpa tuan. Mungkin saja kau nikmati dengan menghirup uap segar yang mengepul. Mungkin saja kau hanya ingin melihat setiap hari aku membuat kopi dengan langkah yang tepat. Satu sendok, dua gula.

Aku mencoba lepaskan kesedihan. Mengendalikan diri adalah cara yang apik untuk melihat orang-orang munafik. Mereka datang dengan sebungkus gula, dua kilogram kopi, satu ikat gula, dan beberapa gulung kain putih.

Mereka yang kini datang perlahan menyembunyikan rasa utang budi. Mereka yang menjengukmu kini datang tanpa takut. Merekalah yang tidak ingin kopimu bahkan dirimu. Mereka pun mencoba memaafkan dirimu dengan ikhlas, katanya.

“Biarkan kami berdoa untuk kebahagian beliau di alam surga. Kami ikhlaskan, kami memaafkan,” kata lelaki kumis tebal berkaca mata itu.

“Kita tentu tahu betapa hebatnya pengabdian beliau,” kata perempuan itu sembari membagikan dupa kepada yang lain.

“Ya inilah garis waktu, kita harus bersiap dipanggil Tuhan. Mari kita berdoa,” tukas lelaki itu yang selalu memakai cincin manik biru di jarinya.

Setelah doa itu, satu per satu dupa dikumpukan untuk ditaruh digelas dupa. Satu per satu mereka kembali ke ruang tamu. Aku menghidangkan kudapan. Kopi dan kue basah sudah dibagikan. Masing-masing dapat bagian. Pada menit ketiga setelah kopi dibagikan, mereka meneguk sekadar. Gelas kopi ditaruh. Menit kelima, tangan mereka gemetar sambil menyentuh dada. Mereka mencoba bersuara, tapi tak cukup tenaga. Mereka tersengal-sengal. Beberapa mencoba berteriak, beberapa mencoba mencari pertolongan. Pada menit ketujuh mereka bersujud lemah hampir tak sadarkan diri.

Orang-orang enggan mendekat karena takut ikut-ikut kena kutuk. Ketua adat juga nampak panik untuk segera mencari pemangku. Anak-anak yang ikut datang jadi menangis. Beberapa orang di pojok jalan makin sibuk mencibir.

“Kami dalang yang mohon ampun! Ampuni kami!”tiba-tiba lelaki manik biru itu berteriak. Matanya membelalak. Suara-suara itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka berteriak untuk terakhir kali. Sesudah itu, tak ada lagi denyut nadinya.

Teriakan itu mengingatkanku pada pagi itu. Kau berteriak “selamat tinggal” dengan bahagia. Benarkah? Kini kesepianmu sudah kutebus. Kukirim orang-orang itu padamu. Kelak kau akan mengajarkan mereka bagaimana cara minum kopi. Bagaimana cara menikmati pagi dengan kata terima kasih.

Kau tidak sendiri lagi. (T)

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Bawa Isu Positif, “All In” Australia Hentak Skena Musik Singaraja

Next Post

“Tikus Tanah Mencari Api” – Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

"Tikus Tanah Mencari Api" - Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co