24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi Akhir Juli

Wulan Dewi Saraswati by Wulan Dewi Saraswati
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

Cerpen Wulan Dewi Saraswati

Gelisah di pengujung Juli semakin menjadi. Setiap pagi kegelisahan itu aku rayakan dengan segelas kopi. Gelas mungil motif Lili Merah kupilih sebagai gelas ritual ini. Tidak begitu menarik, hanya saja tradisi membuat kopi pagi hari semakin anyir sebab tiga atau lima jam setelah dihidangkan, tidak ada ampas yang terlihat. Masih utuh setengah penuh hitam bening. Tidak lagi pekat dan tidak lagi hangat.

Satu sendok kopi dan dua sendok gula. Takaran yang tepat untuk awali hari. Bukankah begitu? Aku tidak sempat memikirkan orang yang tidak suka kopi. Mereka seperti diracun waktu. Kopi bagiku adalah alasan menikmati pagi. “Kopi juga bentuk syukur,” katamu sambil melipat surat kabar.

Aku tidak sepenuhnya setuju denganmu. Mengapa kopi begitu istimewa? Hingga syukur adalah tentang kopi. Bila kopi tidak tersaji maka tidak ada puja puji. Bila tidak ada kopi tentu tidak ada kata terima kasih. Namun kau tidak menjawab. Kau larut dengan kopi yang kuhidangkan. Tentu seperti biasanya kau menuruhkan sedikit demi sedikit di cawan. Kau tidak terbiasa meneguk langsung. Cawan hijau lumut yang telah penuh kopi itu kau mengamati sebentar, seperti bercermin. Melihat diri dari kopi. Tidak lupa, sebelum siupan pertama kau mengaduknya tanpa sendok, hanya gerakan mungil memutar dengan telapak tangan. Ketika ampas sudah turun, kau meneguknya sekaligus.

“Apa perlu cawan hanya untuk minum kopi?” tanyaku sambil membuka bungkus kue basah kesukaanmu.

“Lebih nikmat saja,” jawabmu sambil menuruhkan lagi kopi ke cawan.

“Mungkin hanya alasan untuk berlama-lama menikmati pagi.”

“Hahaha..buat apa terburu-buru? Kalau sudah disediakan waktu untuk menikmati pagi, ya nikmati sajalah. Nyeruput kopi sambil lihat-lihat kamboja itu buat hatiku bahagia.” katamu dengan sederhana.

Begitulah percakapan di ruang depan setiap hari. Seolah tidak ada kata untuk terlambat kerja. Seolah waktu terhenti melihat kau menikmati kopi.

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Kembali kata itu terngiang. Takaran yang tepat untuk hidangan kopi. Kadang takaran itu tidak selalu menyajikan rasa kopi yang sama. Pernah suatu ketika pertengkaran itu terjadi ketika kopi dihidangkan tidak lagi panas. Bagimu suhu kopi sangat menentukan kualitasnya. Tidak peduli kopi torabika, luwak, atau banyuatis. Yang terpenting adalah suhu.

“Tidak perlu kopi mewah, aku hanya butuh kopi dengan uap mengepul penuh,” katamu sambil menahan amarah.

Ketika kau meluapkan marah, kau tidak ingin lagi bercakap-cakap kemudian bergegas pergi. Sesal kemudian juga percuma. Kudoakan saja semoga mata hatinya tetap terjaga walau kopi belum diteguknya.

Kalau mau ingat bagaimana matamu berbicara tentang hidup ya mungkin seperti ampas kopi. Matamu membaca ampas kopi seperti menikmati karya seni.

“Aku melihat ada seorang lelaki dengan senyum mutiara,” katamu.

“Siapa itu?” tanyaku penasaran.

“Mungkin seorang tuan tanah yang akan membeli tanah kita. Bisa saja seorang insinyur yang hendak memperbaiki rumah kita. Bisa jadi laki-laki yang ingin meminangmu, Nak,” katamu sambil mengelus bulat pipiku.

Aku terhenyak. Aku ingin tertawa tapi sulit. Bagaimana kau bisa mengarang cerita seperti itu? Hanya sekadar bahan canda atau itu sebuah harapan? Bisa saja itu masa depan yang terbaca dari ampas kopimu. Berselang satu bulan, aku dapatkan kekasih dengan senyum mutiara dan hangat di hatinya. Tentu kau sudah tahu itu. Apakah kau bahagia melihat diriku bersamanya?

Satu sendok kopi, dua sendok gula.

Lagi kata-kata itu melintas. Sekejap, namun berdengung di kepala. Kemudian melintas tentang tamu-tamu yang hadir setiap malam. Aku buatkan kopi sesuai keinginanmu. Mereka datang hanya untuk meminta pertolonganmu. Entah kerabat dekat atau seorang baru kau kenal, bagimu menolong adalah mulia. Namun, kopi yang kusajikan tidak mereka teguk sampai habis. Mereka terbiasa hanya mencicip, sekadar menikmati, sedikit sungkan. Mungkin itulah kebiasaan tamu minum kopi. Namun kau hanya tersenyum menyaksikan kopi yang tersaji tidak sampai batas ampas. Hanya ucapan terima kasih yang basa-basi kau telan. Sakit memang, aku bisa tahu itu.

Kopi dan gula. Satu, dua. Sendok.

Ingatan itu datang. Dia datang dengan bisikan kecil dan kata yang tidak tersusun lagi. Dia datang dengan peristiwa yang begitu cepat berubah. Kadang dengan tempo yang cepat. Kadang terbata. Aku tidak sempat mengerti arti serpihan kata yang tidak lagi membentuk makna. Aku mencoba bernapas. Aku hela dengan menyebut namamu. Aku hirup semua udara. Aku lepaskan dengan teriakan yang sampai tak bisa terdengar. Teriak sekeras yang kubutuhkan sampai mendung tergelincir menjadi tetes air mata langit.

Sendok kopi. Sendok Gula. Satu, dua.

Tiba-tiba aku terbaring. Beberapa orang mencoba memasang oksigen. Beberapa orang mencoba mencari nadiku. Beberapa orang khawtair. Selebihnya hanya menyaksikan. Aku tak sadarkan diri. Aku mencoba memanggil namaku, mencoba mengingat adegan terakhir, mencoba membuka mata. Namun, hanya hamparan Lili yang kulihat. Putih, bersih, sinar sejuk.

”Kau ingin kopi?” tanyamu.

“Ya, agar aku lekas siuman,” jawabku dengan lelah.

“Satu sendok kopi, dua sendok gula, itu rahasianya,” katamu sambil memberikanku kopi.

“Terima kasih. Lama sudah tidak meneguk kopi ini.”

“Tidak ada rasa terima kasih tanpa kopi. Itulah yang terjadi selama ini. Besok, buatkan aku kopi. Segelas kopi,” katamu dan aku perlahan pergi.

Aku tersadar.Aku terbangun dengan tali yang mengikatku di lengan dan pergelangan kaki. Mereka mengikatku. Mereka mengira aku gila. Tidak, ini tidak benar. Aku diikat seperti ayam aduan. Aku diikat seperti ingin dimaki. Mereka merasa gelisah karena kau teriak dan menangis disetiap waktu. Mereka gusar karena aku tidak bisa diam mengikuti proses upacara. Mereka tidak peduli betapa sakit hatiku melihat kenyataan bahwa kopiku tidak lagi bisa dinikmati. Mereka tidak tahu kopiku masih utuh. Warna yang pudar, suhu yang berubah membuatku terpukul. Siapa penikmat kopiku?

Segelas kopi yang kusajikan kini hanya kopi tanpa tuan. Mungkin saja kau nikmati dengan menghirup uap segar yang mengepul. Mungkin saja kau hanya ingin melihat setiap hari aku membuat kopi dengan langkah yang tepat. Satu sendok, dua gula.

Aku mencoba lepaskan kesedihan. Mengendalikan diri adalah cara yang apik untuk melihat orang-orang munafik. Mereka datang dengan sebungkus gula, dua kilogram kopi, satu ikat gula, dan beberapa gulung kain putih.

Mereka yang kini datang perlahan menyembunyikan rasa utang budi. Mereka yang menjengukmu kini datang tanpa takut. Merekalah yang tidak ingin kopimu bahkan dirimu. Mereka pun mencoba memaafkan dirimu dengan ikhlas, katanya.

“Biarkan kami berdoa untuk kebahagian beliau di alam surga. Kami ikhlaskan, kami memaafkan,” kata lelaki kumis tebal berkaca mata itu.

“Kita tentu tahu betapa hebatnya pengabdian beliau,” kata perempuan itu sembari membagikan dupa kepada yang lain.

“Ya inilah garis waktu, kita harus bersiap dipanggil Tuhan. Mari kita berdoa,” tukas lelaki itu yang selalu memakai cincin manik biru di jarinya.

Setelah doa itu, satu per satu dupa dikumpukan untuk ditaruh digelas dupa. Satu per satu mereka kembali ke ruang tamu. Aku menghidangkan kudapan. Kopi dan kue basah sudah dibagikan. Masing-masing dapat bagian. Pada menit ketiga setelah kopi dibagikan, mereka meneguk sekadar. Gelas kopi ditaruh. Menit kelima, tangan mereka gemetar sambil menyentuh dada. Mereka mencoba bersuara, tapi tak cukup tenaga. Mereka tersengal-sengal. Beberapa mencoba berteriak, beberapa mencoba mencari pertolongan. Pada menit ketujuh mereka bersujud lemah hampir tak sadarkan diri.

Orang-orang enggan mendekat karena takut ikut-ikut kena kutuk. Ketua adat juga nampak panik untuk segera mencari pemangku. Anak-anak yang ikut datang jadi menangis. Beberapa orang di pojok jalan makin sibuk mencibir.

“Kami dalang yang mohon ampun! Ampuni kami!”tiba-tiba lelaki manik biru itu berteriak. Matanya membelalak. Suara-suara itu diikuti oleh kawan-kawannya. Mereka berteriak untuk terakhir kali. Sesudah itu, tak ada lagi denyut nadinya.

Teriakan itu mengingatkanku pada pagi itu. Kau berteriak “selamat tinggal” dengan bahagia. Benarkah? Kini kesepianmu sudah kutebus. Kukirim orang-orang itu padamu. Kelak kau akan mengajarkan mereka bagaimana cara minum kopi. Bagaimana cara menikmati pagi dengan kata terima kasih.

Kau tidak sendiri lagi. (T)

Tags: Cerpen
Share27TweetSendShareSend
Previous Post

Bawa Isu Positif, “All In” Australia Hentak Skena Musik Singaraja

Next Post

“Tikus Tanah Mencari Api” – Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Wulan Dewi Saraswati

Wulan Dewi Saraswati

Penulis, sutradara, dan pengajar. Saat ini tengah mendalami praktik kesenian berdasarkan tarot dengan pendekatan terapiutik partisipatoris

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post

"Tikus Tanah Mencari Api" - Dongeng Pendidikan tentang Api, Udara, dan lain-lain

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co