24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Made Adnyana by Made Adnyana
January 13, 2024
in Ulas Film
“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Sengap, Tompel dan Sokir, bintang film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto: Ist

SESUNGGUHNYA dunia perfilman di Bali sangat potensial dan berpeluang maju. Kalimat ini muncul sejak lama, ketika geliat berkarya para sineas dari Bali makin terlihat, terutama melalui ajang kompetisi atau festival film dokumenter, film pendek dan sejenisnya. Terlebih kemudian kemajuan teknologi turut mempermudah beberapa aspek penggarapan, apalagi juga dilengkapi dengan munculnya potensi pekerja kreatif dari kampus-kampus yang memiliki mata kuliah bahkan program studi sinematografi.

Lalu apakah perfilman Bali terhenti sampai hanya pada potensi dengan segala pendukungnya saja, tanpa karya nyata? Di luar film pendek dan film dokumenter yang diproduksi dan diputar dalam ajang khusus secara terbatas, produksi film Bali jelas masih sangat minim kalau tak mau dibilang langka.

Berbicara film dalam artian tayangan yang bisa disaksikan masyarakat secara luas melalui wahana khusus gedung bioskop, iya, memang minim, langka dan terbatas. Bertahun-tahun potensi perfilman Bali sebatas wacana tanpa karya. Beberapa karya dibuat namun tak semuanya muncul ke publik secara luas.

Jika dihitung sejak produksi berjudul “Leak” (2017) yang mencoba penayangan di bioskop lokal di Denpasar, maka jumlah film yang memang diproyeksikan untuk penayangan layar lebar di bioskop, jumlahnya masih kurang dari hitungan jari tangan.

Kalau ditanya apa penyebabnya, paling mudah menjawab, memproduksi film cerita penuh untuk tayangan bioskop bukan hal mudah. Ada begitu banyak aspek yang harus dipersiapkan, proses panjang, dan tentu saja biaya produksi yang tak sedikit. Ketika film sudah jadi dan siap tayang, tahap berikutnya juga menguras tenaga dan pikiran, mulai dari masalah surat keterangan lolos sensor dari LSF, izin tayang, dan mekanisme penayangan melalui bioskop berjejaring yang memang tak mudah. Lain dari itu, peluang pasar atau potensi penonton jelas menjadi perhitungan.

Sejak “Leak (Penangkeb)” yang diputar Maret 2019, praktis belum ada lagi karya sineas Bali yang diputar secara regular di gedung bioskop setidaknya di Denpasar. Sebelum pandemi Covid merebak, terbetik kabar akan ada satu produksi yang digadang-gadang sebagai unggulan,  yakni film berjudul “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”.

Namun dua tahun lebih masa pandemi — bisa dimaklumi sebagai penyebab banyak hal yang tertunda atau terhenti — termasuk film “Nyi Rimbit” yang sempat tiada kabar lagi. Hingga menjelang akhir tahun kemarin muncul kabar “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” diputar untuk gala premiere di salah satu bioskop baru di Denpasar.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Hingga memasuki minggu pertama Januari 2024, film ini pun resmi masuk gedung bioskop dan diputar secara regular (bukan penonton khusus dengan undangan) di Denpasar Cineplex. “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” mengisahkan satu desa fiktif bernama Kalidasa yang dilanda keresahan setelah sejumlah warga mereka tewas secara misterius. Bukan grubug atau wabah, tapi ada kekhawatiran kalau peristiwa ini berkaitan dengan mistik, ilmu hitam.

Jero bendesa pun memanggil tiga sekawan, Sengap, Tompel, dan Sokir, untuk menyelidiki masalah ini dan menemukan pelakunya. Kecurigaan mengarah kuat kepada seorang nenek misterius yang hidup sendirian di tengah hutan, Nyi Rimbit.

Apa yang menarik dari film ini? Adakah sekadar pelepas dahaga berkepanjangan akan karya-karya sineas Bali yang ditunggu-tunggu?

Melewati 10 hari penayangan (pada saat tulisan ini disusun, Sabtu 13 Januari 2024) bolehlah diapresiasi, menjadi catatan tersendiri, di mana dengan empat kali penayangan tiap hari, kursi yang tersedia selalu penuh terisi.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Entah kebetulan, setipe dengan beberapa film lokal Bali yang beredar di bioskop sebelumnya, “Nyi Rimbit” juga berada di jalur drama horor. Tidak jauh berbeda dengan kondisi perfilman nasional yang masih mengandalkan daya tarik unsur mistis. Bedanya, apalagi karena mengedepankan pemeran grup Clekontong Mas (tiga kawan Sengap, Tompel, dan Sokir), sudah pasti unsur komedi menjadi bagian yang dominan juga. Bukan hal baru atau aneh, karena sejumlah film horor barat, juga film horor nasional sedari era Suzanna, juga kerap memasukkan nuansa komedi. Begitu pula Warkop DKI pernah memasukkan nuansa horor di film “Setan Kredit”.

Jatuh-jatuhnya “Nyi Rimbit” lebih membuat penonton bergidik ngeri atau malah tertawa terpingkal? Meskipun pengadegan horornya digarap cukup apik, tak bisa dimungkiri, lawakan menjadi lebih dominan. Bahkan Leak pun bisa diolok-olok.

Disebut sebagai film apapun, yang jelas “gado-gado” drama, komedi, dan horror yang satu ini berhasil membuat penonton terhibur dan setidaknya tersenyum. Bukankah tujuan utama satu tontonan memang untuk menghibur?

Serupa dengan film lokal Bali sebelumnya, menjadi catatan sekaligus pertanyaan pula, mengapa pemerannya didominasi (kalau tak mau dikatakan nyaris seluruhnya) adalah kelompok publik figur seperti artis, penyanyi lagu pop Bali atau selebgram. Di luar Clekontong Mas yang juga dijadikan sebagai judul, film ini didukung penyanyi pop Bali Yessi Diana, Gek Diah, Yudi Darmawan “Leeyonk Sinatra”, Gek Yuri, juga Lanang Botax dari Lolot Band.

Selain itu juga ada Unggit Desti, Sri Sumahardani, Gede Pay, Bayu Kramas, Asri Saputri, Oli Olie. Last but not least, pemeran Nyi Rimbit, si “niang gaul”, AA Ayu Mas .

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Boleh jadi ada asumsi sekaligus menjadi formula, mengumpulkan pemeran yang rata-rata sudah punya nama untuk memperkuat nilai jual atau daya tarik. Atau boleh jadi juga untuk mempermudah berbagai persiapan hingga masalah teknis, karena kebetulan pemeran yang diajak adalah teman atau terbilang masih satu circle dengan tim produksi khususnya duet sutradara IB Hari Kayana alias Gus Hari dan Gus Windi alias Jibolka Baker, atau Hery Budiana selaku produser.

Awalnya, begitu melihat judul film, juga mengetahui ide cerita dan naskah dari personel Clekontong Mas, ada keraguan terbersit dalam pikiran. Apakah nantinya, jangan-jangan “Nyi Rimbit” hanya memindahkan bondres dari panggung ke layar lebar?

Kerap terjadi, mereka yang terbiasa tampil di atas panggung, saat bermain di depan kamera, sedikit banyak akan terbawa dengan gaya dan penampilan panggung. Walau jelas mediumnya berbeda, audiens juga berbeda. Bahasa panggung dan bahasa audio visual tentu saja berbeda, karena interaksinya jauh berbeda.

Untungnya keraguan itu tak begitu banyak terbukti, karena hanya pada beberapa bagian saja, Clekontong Mas membawakan lawakan panggung ke layar lebar sehingga terkesan agak garing. Selebihnya, Sengap, Tompel dan Sokir, berupaya sedemikian rupa berinteraksi dan memberi ruang kepada pemeran lain seperti Yessi Diana sebagai Nyi Likig alias Leak sesungguhnya, pun Lanang Botax sebagai jero bendesa yang agak-agak konyol juga.

Sisi lain yang membuat “Nyi Rimbit” tidak tergagap dalam penuturannya, karena dialog nyaris seratus persen menggunakan bahasa Bali. Tentu ini menguntungkan karena dialog menjadi lebih natural dan pas. Sekalipun untuk itu perlu disiapkan subtitle atau terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan penonton yang barangkali tak begitu mengerti dengan bahasa Bali.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Bahwa kemudian film ini sulit bisa diputar secara nasional karena faktor bahasa kiranya tak perlu terlalu dikhawatirkan. Terbukti beberapa film nasional seperti “Yo Wis Ben” yang dominan menggunakan bahasa Jawa tetap bisa diterima dengan baik. Apalagi kalau berbicara film asing dari Italia, Jerman, Perancis, juga India yang tetap bisa disaksikan dengan baik dengan adanya terjemahan yang memadai.

Secara teknis, film yang nyaris keseluruhan memakai lokasi suting di Desa Bayung, Kintamani, ini menyuguhkan kualitas gambar dengan angle-angle yang lebih baik daripada beberapa produksi lokal Bali sebelumnya. Begitupun tata suara yang memadai untuk penayangan gedung bioskop, walau pada beberapa frame belum balance.

Tentu tidak fair kalau membandingkan “Nyi Rimbit” dengan prouksi film nasional dengan peralatan yang lebih canggih dan biaya produksi yang mencapai puluhan kali lipat. Namun keinginan untuk menjadikan film ini sebagai lokomotif produksi lokal berikutnya tentu patut diapresiasi. [T]

  • BACA artikel ULAS FILM lain tatkala.co

Tags: bondresCelekontong Masfilmkesenian baliresensiresensi filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengajarkan Siswa Cara Memilah dan Mengolah Sampah

Next Post

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

by Wisnu Oktaditya
October 9, 2026
0
 “Kembalikan Kedua Orang Tuaku!” Begitu Seorang Anak Memohon Pada Film “Spirited Away” Karya Hayao Miyazaki

SUDAH bertahun-tahun semenjak film ini lahir, saya tak pernah sekalipun menonton film-film Ghibli. Karena terhalang kendala biaya, juga karena saya...

Read moreDetails

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
0
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

Read moreDetails

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
0
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

Read moreDetails

Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

by Arya Dhamma Nanda
September 21, 2026
0
Menelusuri Enam Film ENIGMA di Minikino Film Week 2026: Ketika Setiap Keputusan Memiliki Konsekuensi

ENIGMA adalah program kompilasi film pendek dalam ajang Minikino Film Week 12 (MFW12) yang mengusung subjudul What Goes Around Comes...

Read moreDetails

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
0
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

Read moreDetails

“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

by Satria Aditya
August 7, 2026
0
“Tung Tung Uma”: Ketika Sawah Menjadi Medan Pertaruhan

ADA satu hal yang langsung terasa begitu duduk menonton Tung Tung Uma, bagaimana Amrita Dharma memetakan setiap adegannya dengan begitu...

Read moreDetails

“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

by Angga Wijaya
July 31, 2026
0
“Niskala yang Menari”: Ketika Guru, Murid, dan Sebuah iPhone Melahirkan Film Juara Favorit

MALAM itu, gelap menggantung di langit Pantai Melasti, Ungasan, Badung, Bali. Debur ombak bersahutan dengan suara "cak... cak... cak..." yang...

Read moreDetails

The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

by Bayu Wira Handyan
July 19, 2026
0
The Odyssey (2026): Nolan Gagal Memulangkan Odysseus

SUDAH tentu, Christopher Nolan bukan sutradara pertama yang mengadaptasi epos Odyssey milik Homer. Kisah itu sudah ada sekitar 2.800 tahun...

Read moreDetails

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co