24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Made Adnyana by Made Adnyana
January 13, 2024
in Ulas Film
“Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”: Ini Benar Film, Bukan Bondres di Layar Lebar

Sengap, Tompel dan Sokir, bintang film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto: Ist

SESUNGGUHNYA dunia perfilman di Bali sangat potensial dan berpeluang maju. Kalimat ini muncul sejak lama, ketika geliat berkarya para sineas dari Bali makin terlihat, terutama melalui ajang kompetisi atau festival film dokumenter, film pendek dan sejenisnya. Terlebih kemudian kemajuan teknologi turut mempermudah beberapa aspek penggarapan, apalagi juga dilengkapi dengan munculnya potensi pekerja kreatif dari kampus-kampus yang memiliki mata kuliah bahkan program studi sinematografi.

Lalu apakah perfilman Bali terhenti sampai hanya pada potensi dengan segala pendukungnya saja, tanpa karya nyata? Di luar film pendek dan film dokumenter yang diproduksi dan diputar dalam ajang khusus secara terbatas, produksi film Bali jelas masih sangat minim kalau tak mau dibilang langka.

Berbicara film dalam artian tayangan yang bisa disaksikan masyarakat secara luas melalui wahana khusus gedung bioskop, iya, memang minim, langka dan terbatas. Bertahun-tahun potensi perfilman Bali sebatas wacana tanpa karya. Beberapa karya dibuat namun tak semuanya muncul ke publik secara luas.

Jika dihitung sejak produksi berjudul “Leak” (2017) yang mencoba penayangan di bioskop lokal di Denpasar, maka jumlah film yang memang diproyeksikan untuk penayangan layar lebar di bioskop, jumlahnya masih kurang dari hitungan jari tangan.

Kalau ditanya apa penyebabnya, paling mudah menjawab, memproduksi film cerita penuh untuk tayangan bioskop bukan hal mudah. Ada begitu banyak aspek yang harus dipersiapkan, proses panjang, dan tentu saja biaya produksi yang tak sedikit. Ketika film sudah jadi dan siap tayang, tahap berikutnya juga menguras tenaga dan pikiran, mulai dari masalah surat keterangan lolos sensor dari LSF, izin tayang, dan mekanisme penayangan melalui bioskop berjejaring yang memang tak mudah. Lain dari itu, peluang pasar atau potensi penonton jelas menjadi perhitungan.

Sejak “Leak (Penangkeb)” yang diputar Maret 2019, praktis belum ada lagi karya sineas Bali yang diputar secara regular di gedung bioskop setidaknya di Denpasar. Sebelum pandemi Covid merebak, terbetik kabar akan ada satu produksi yang digadang-gadang sebagai unggulan,  yakni film berjudul “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit”.

Namun dua tahun lebih masa pandemi — bisa dimaklumi sebagai penyebab banyak hal yang tertunda atau terhenti — termasuk film “Nyi Rimbit” yang sempat tiada kabar lagi. Hingga menjelang akhir tahun kemarin muncul kabar “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” diputar untuk gala premiere di salah satu bioskop baru di Denpasar.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Hingga memasuki minggu pertama Januari 2024, film ini pun resmi masuk gedung bioskop dan diputar secara regular (bukan penonton khusus dengan undangan) di Denpasar Cineplex. “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” mengisahkan satu desa fiktif bernama Kalidasa yang dilanda keresahan setelah sejumlah warga mereka tewas secara misterius. Bukan grubug atau wabah, tapi ada kekhawatiran kalau peristiwa ini berkaitan dengan mistik, ilmu hitam.

Jero bendesa pun memanggil tiga sekawan, Sengap, Tompel, dan Sokir, untuk menyelidiki masalah ini dan menemukan pelakunya. Kecurigaan mengarah kuat kepada seorang nenek misterius yang hidup sendirian di tengah hutan, Nyi Rimbit.

Apa yang menarik dari film ini? Adakah sekadar pelepas dahaga berkepanjangan akan karya-karya sineas Bali yang ditunggu-tunggu?

Melewati 10 hari penayangan (pada saat tulisan ini disusun, Sabtu 13 Januari 2024) bolehlah diapresiasi, menjadi catatan tersendiri, di mana dengan empat kali penayangan tiap hari, kursi yang tersedia selalu penuh terisi.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Entah kebetulan, setipe dengan beberapa film lokal Bali yang beredar di bioskop sebelumnya, “Nyi Rimbit” juga berada di jalur drama horor. Tidak jauh berbeda dengan kondisi perfilman nasional yang masih mengandalkan daya tarik unsur mistis. Bedanya, apalagi karena mengedepankan pemeran grup Clekontong Mas (tiga kawan Sengap, Tompel, dan Sokir), sudah pasti unsur komedi menjadi bagian yang dominan juga. Bukan hal baru atau aneh, karena sejumlah film horor barat, juga film horor nasional sedari era Suzanna, juga kerap memasukkan nuansa komedi. Begitu pula Warkop DKI pernah memasukkan nuansa horor di film “Setan Kredit”.

Jatuh-jatuhnya “Nyi Rimbit” lebih membuat penonton bergidik ngeri atau malah tertawa terpingkal? Meskipun pengadegan horornya digarap cukup apik, tak bisa dimungkiri, lawakan menjadi lebih dominan. Bahkan Leak pun bisa diolok-olok.

Disebut sebagai film apapun, yang jelas “gado-gado” drama, komedi, dan horror yang satu ini berhasil membuat penonton terhibur dan setidaknya tersenyum. Bukankah tujuan utama satu tontonan memang untuk menghibur?

Serupa dengan film lokal Bali sebelumnya, menjadi catatan sekaligus pertanyaan pula, mengapa pemerannya didominasi (kalau tak mau dikatakan nyaris seluruhnya) adalah kelompok publik figur seperti artis, penyanyi lagu pop Bali atau selebgram. Di luar Clekontong Mas yang juga dijadikan sebagai judul, film ini didukung penyanyi pop Bali Yessi Diana, Gek Diah, Yudi Darmawan “Leeyonk Sinatra”, Gek Yuri, juga Lanang Botax dari Lolot Band.

Selain itu juga ada Unggit Desti, Sri Sumahardani, Gede Pay, Bayu Kramas, Asri Saputri, Oli Olie. Last but not least, pemeran Nyi Rimbit, si “niang gaul”, AA Ayu Mas .

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Boleh jadi ada asumsi sekaligus menjadi formula, mengumpulkan pemeran yang rata-rata sudah punya nama untuk memperkuat nilai jual atau daya tarik. Atau boleh jadi juga untuk mempermudah berbagai persiapan hingga masalah teknis, karena kebetulan pemeran yang diajak adalah teman atau terbilang masih satu circle dengan tim produksi khususnya duet sutradara IB Hari Kayana alias Gus Hari dan Gus Windi alias Jibolka Baker, atau Hery Budiana selaku produser.

Awalnya, begitu melihat judul film, juga mengetahui ide cerita dan naskah dari personel Clekontong Mas, ada keraguan terbersit dalam pikiran. Apakah nantinya, jangan-jangan “Nyi Rimbit” hanya memindahkan bondres dari panggung ke layar lebar?

Kerap terjadi, mereka yang terbiasa tampil di atas panggung, saat bermain di depan kamera, sedikit banyak akan terbawa dengan gaya dan penampilan panggung. Walau jelas mediumnya berbeda, audiens juga berbeda. Bahasa panggung dan bahasa audio visual tentu saja berbeda, karena interaksinya jauh berbeda.

Untungnya keraguan itu tak begitu banyak terbukti, karena hanya pada beberapa bagian saja, Clekontong Mas membawakan lawakan panggung ke layar lebar sehingga terkesan agak garing. Selebihnya, Sengap, Tompel dan Sokir, berupaya sedemikian rupa berinteraksi dan memberi ruang kepada pemeran lain seperti Yessi Diana sebagai Nyi Likig alias Leak sesungguhnya, pun Lanang Botax sebagai jero bendesa yang agak-agak konyol juga.

Sisi lain yang membuat “Nyi Rimbit” tidak tergagap dalam penuturannya, karena dialog nyaris seratus persen menggunakan bahasa Bali. Tentu ini menguntungkan karena dialog menjadi lebih natural dan pas. Sekalipun untuk itu perlu disiapkan subtitle atau terjemahan dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan penonton yang barangkali tak begitu mengerti dengan bahasa Bali.

Salah satu adegan dalam film “Clekontong Mas The Movie: Nyi Rimbit” | Foto Ist

Bahwa kemudian film ini sulit bisa diputar secara nasional karena faktor bahasa kiranya tak perlu terlalu dikhawatirkan. Terbukti beberapa film nasional seperti “Yo Wis Ben” yang dominan menggunakan bahasa Jawa tetap bisa diterima dengan baik. Apalagi kalau berbicara film asing dari Italia, Jerman, Perancis, juga India yang tetap bisa disaksikan dengan baik dengan adanya terjemahan yang memadai.

Secara teknis, film yang nyaris keseluruhan memakai lokasi suting di Desa Bayung, Kintamani, ini menyuguhkan kualitas gambar dengan angle-angle yang lebih baik daripada beberapa produksi lokal Bali sebelumnya. Begitupun tata suara yang memadai untuk penayangan gedung bioskop, walau pada beberapa frame belum balance.

Tentu tidak fair kalau membandingkan “Nyi Rimbit” dengan prouksi film nasional dengan peralatan yang lebih canggih dan biaya produksi yang mencapai puluhan kali lipat. Namun keinginan untuk menjadikan film ini sebagai lokomotif produksi lokal berikutnya tentu patut diapresiasi. [T]

  • BACA artikel ULAS FILM lain tatkala.co

Tags: bondresCelekontong Masfilmkesenian baliresensiresensi filmUlasan Film
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mengajarkan Siswa Cara Memilah dan Mengolah Sampah

Next Post

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Made Adnyana

Made Adnyana

Dosen, penulis musik, host podcast "Oke Made"

Related Posts

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

by Satria Aditya
June 1, 2026
0
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

Read moreDetails

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
0
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

Read moreDetails

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
0
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

Read moreDetails

Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

by Made Adnyana
May 6, 2026
0
Film ‘Michael’ : Merayakan Sang Raja, Menghindari Bayang-Bayang Kontroversi

TIDAK banyak film biografi mampu merangkum kehidupan seorang musisi besar secara utuh. Ada yang memilih merayakan, ada pula yang mencoba...

Read moreDetails

Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

by Jaswanto
March 28, 2026
0
Hoppers (2026): Kritik Sosial-Ekologis yang Setengah Hati

SEJAK menonton video promosi singkatnya di media sosial, saya tahu bahwa Hoppers (2026) bukan sekadar film animasi yang diperuntukkan untuk...

Read moreDetails

Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

by Agung Kesawa Kevalam
February 12, 2026
0
Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

ADA jenis cinta yang datang untuk menemani, dan banyak juga yang datang untuk mengingatkan. Itulah kesan yang saya dapatkan ketika...

Read moreDetails

Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

by Rana Nasyitha
January 24, 2026
0
Sisi Lain 1965 : ‘Surat dari Praha’ (2016)

WAKTU itu saya melihat judul film ini di sebuah aplikasi/platform streaming lokal. Di antara kumpulan film indonesia lainnya, Surat Dari...

Read moreDetails

Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

by Ahmad Sihabudin
January 23, 2026
0
Alas Roban: Hermeneutika Ketakutan, Ibu, dan Ingatan Kolektif Jawa

BAGI generasi yang tumbuh sebelum jalan tol Trans Jawa rampung, nama Alas Roban bukan sekadar penanda geografis. Ia adalah kata...

Read moreDetails

Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup? — Tanggapan untuk Jaswanto

by Angga Wijaya
January 21, 2026
0
Mengapa Kita Membutuhkan Drama untuk Bertahan Hidup?  — Tanggapan untuk Jaswanto

PADA esai Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial (Tatkala.co, 16 Januari 2026), saya sepakat dengan Jaswanto, sang penulis, dalam...

Read moreDetails

Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

by Jaswanto
January 16, 2026
0
Eskapisme dan Mikrodrama China di Media Sosial

SEORANG pria muda jomlo dan kurang mampu dari zaman modern entah bagaimana ceritanya bisa melintasi waktu dan masuk ke tubuh...

Read moreDetails
Next Post
Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Tanggung Jawab Sosial Tahap Pertama

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co