1 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci

Qois Mustaghfiri Asyrofi by Qois Mustaghfiri Asyrofi
November 3, 2023
in Kritik Sastra
Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Judul adalah Kunci

Sampul buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi terbitan Gramedia Pustaka Utama

PUISI-PUISI yang diciptakan oleh seorang Joko Pinurbo adalah puisi yang sederhana, tidak menggunakan kata-kata tinggi, tapi tetap istimewa. Kesan saya saat membaca puisi-puisi di dalam antologi ini adalah “Ternyata ada puisi yang seperti ini?” karena ini adalah kali pertama saya menemukan puisi dengan gaya seperti ini. Puisi singkat seperti “Kepada Puisi” dan “Bangkai Banjir” cukup membuat saya terkesan saat membacanya. Dua puisi itu hanya berisi satu baris saja dan itulah yang membuat saya terkesan. Hanya dengan satu baris, puisi-puisi ini mampu menghadirkan makna yang mendalam.

Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku air matamu.
(2003)

Bisa dilihat dari puisi berjudul “Kepada Puisi” di atas bahwa walaupun singkat, puisi itu mengandung makna yang mendalam. Saya mengartikan bahwa puisi tersebut adalah penggambaran tentang bagaimana seorang penyair begitu mencintai puisi. Terdapat sebuah pengandaian bahwa jika puisi adalah sebuah mata, maka si penyair adalah air mata yang selalu terikat pada mata.

Bangkai Banjir

Rumahku keranda terindah untuknya.
(2007)

Sama halnya dengan “Kepada Puisi”, puisi “Bangkai Banjir” yang hanya terdiri dari satu kalimat dan bahkan satu baris memiliki arti yang dalam. Hal pertama yang terbayang di pikiran saya saat membaca puisi ini adalah kondisi suatu daerah setelah diterjang banjir besar. Dalam pikiran saya, tergambar sebuah rumah yang sudah tergenang banjir dan hanya tersisa bagian atap yang di atap tersebut terdapat mayat yang terdampar. Puisi singkat itu menunjukkan bahwa puisi yang tidak panjang bisa mendapatkan arti dan kesan yang dalam bagi para pembacanya.

Puisi singkat lainnya yang berjudul “Magrib” dan “Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?” juga membuat saya kagum saat membacanya. Puisi “Magrib” yang hanya berisi dua baris mampu membuat saya sebagai pembaca memutar otak untuk mencari makna dari puisi tersebut. Kemudian, puisi “Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?” yang juga hanya berisi dua baris adalah puisi pertama yang saya temukan menggunakan kalimat tanya pada judulnya dan ternyata isinya merupakan jawaban dari judul tersebut.

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkeraman luka.
(2005)

Tidak hanya puisi yang singkat, tapi puisi lainnya dalam antologi ini juga menarik meski baru dilihat dari judulnya. Katakanlah puisi berjudul “Asu” dan “Mengenang Asu” yang menggunakan kata ‘asu’ di dalamnya. Kata sederhana itu cukup untuk membuat beberapa orang termasuk saya untuk membacanya. Ada juga puisi “Celana” dari yang pertama hingga ketiga dan juga puisi “Tahanan Ranjang” yang berhasil membuat saya penasaran tentang isinya. Ketertarikan saya saat baru membaca judul suatu puisi membuat saya percaya bahwa kemenarikan sebuah judul akan sangat berpengaruh pada terbacanya sebuah puisi. Sederhana saja, orang akan antusias mencari tahu tentang suatu hal ketika hal itu ‘terlihat menarik’ dan itu juga terjadi pada sebuah puisi yang akan membuat penasaran jika pembaca sudah membaca judul yang menarik. Ketika ada judul puisi yang dirasa menarik, pembaca akan penasaran dan cenderung akan langsung membaca puisi tersebut.

Jujur saja, saya membaca puisi “Mengenang Asu” dan juga “Asu” awalnya hanya karena tertarik dengan kata ‘asu’ yang ada pada judulnya. Menurut saya, penggunaan kata tersebut pada sebuah puisi adalah hal yang menarik. Kedua puisi tersebut memang tidak sesingkat “Kepada Puisi” atau “Bangkai Banjir”, tapi judulnya menarik seperti yang sudah saya kemukakan sebelumnya. Selain itu, kedua puisi ini adalah puisi yang berbentuk narasi yang membuat saya makin tertarik karena sebelumnya belum pernah menemukan puisi berbentuk narasi, bahkan terdapat dialog di dalamnya.

Mengenang Asu

Pulang dari sekolah, saya main ke sungai.
Saya torehkan kata asu dan tanda seru
pada punggung batu besar dan hitam
dengan pisau pemberian ayah.

Itu sajak pertama saya. Saya menulisnya
untuk menggenapkan pesan terakhir ayah:
“Hidup ini memang asu, anakku.
Kau harus sekeras dan sedingin batu.”

Sekian tahun kemudian saya mengunjungi
batu hitam besar itu dan saya bertemu
dengan seekor anjing yang manis dan ramah.

Saya terperangah, kata asu yang gagah itu
sudah malih menjadi aku tanpa tanda seru.
Tanda serunya mungkin diambil ayah.

(2012)

Puisi lain yang juga berbentuk narasi adalah “Liburan Sekolah” yang isinya bercerita tentang masa-masa liburan sekolah sesuai dengan judulnya. Hal yang membuat saya heran adalah panjang puisi itu yang mencapai enam halaman penuh, sangat berbeda dengan puisi-puisi lain yang dibahas sebelumnya. Otak saya langsung berpikir “Ini cerpen?” saat mengetahui puisi yang sangat panjang itu. Puisi yang selama ini saya kira tidak akan sepanjang itu ternyata salah. Pikiran saya kembali terbuka bahwa ternyata puisi bukan hanya seperti yang saya pikirkan selama ini, tapi lebih dari itu.

Banyak puisi dalam antologi ini yang menimbulkan pertanyaan di kepala saya saat membacanya judulnya. Terdapat tiga puisi “Celana” pada antologi ini yang memunculkan pertanyaan “Kenapa ada tiga? Kenapa tiga puisi ini judulnya sama?” karena memang judul ketiga puisi tersebut sama dan hanya dibedakan dengan angka di belakang judulnya. Bahkan urutan puisi “Celana” dari yang pertama hingga yang ketiga benar-benar berurutan pada daftar isi. Beberapa puisi lain juga menggunakan kata ‘celana’ pada judulnya, seperti “Tanpa Celana Aku Datang Menjemputmu”, “Laki-laki Tanpa Celana”, dan “Celana Ibu” yang membuat saya penasaran tentang hubungan antara Jokpin dengan celana. Puisi-puisi seperti “Bayi di Dalam Kulkas”, “Tubuh Pinjaman”, “Tahanan Ranjang”, “Di Bawah Kibaran Sarung”, “Antar Aku ke Kamar Mandi” dan lain sebagainya juga memunculkan pertanyaan di pikiran saya, “Kenapa ada bayi di dalam kulkas? Kenapa harus meminjam sebuah tubuh? Apa maksudnya tahanan ranjang? Apa yang ada di bawah kibaran sarung selain burung? Kenapa harus diantar ke kamar mandi?” yang tentunya beragam pertanyaan itu menarik saya untuk membaca puisi-puisi tersebut.

Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam

Sepi meletus. Suaranya yang lucu
mengagetkan tato macan
yang sedang mengaum di tubuhmu.
(2005)

Begitu pentingnya peran judul yang merupakan garda terdepan dari sebuah puisi. Judul aneh seperti “Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam” juga menarik karena menunjukkan betapa kreatifnya seorang Jokpin sehingga bisa membuat sebuah puisi dari sebuah kentut. Banyak juga judul-judul lain yang sama sekali tidak terpikirkan oleh saya untuk menjadi sebuah puisi seperti “Keranda”, “Toilet”, “Batuk”, “Tahilalat”, bahkan ada juga puisi “Atau” yang judulnya merupakan sebuah partikel. Alasan yang membuat saya tertarik membaca antologi puisi ini secara keseluruhan tidak lepas dari ketertarikan saya pada judul antologi puisi ini, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi yang waktu itu saya temukan bukunya di toko buku saat sedang menjalankan ibadah puasa. [T]

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Suara-suara “Liyan” Setelah 25 Tahun Reformasi: Membaca Kembali Karya-karya Ayu Utami
Tags: Joko PinurboPuisisastraSastra Indonesia
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dengan Bersepeda, Hidup Saya Berjalan Lambat

Next Post

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Qois Mustaghfiri Asyrofi

Qois Mustaghfiri Asyrofi

Mahasiswa PBSI Universitas Negeri Yogyakarta

Related Posts

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [9]: Seperti Dendam, Seperti Ronggeng: Karya yang Bertahan

by Andre Syahreza
September 4, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

DIAGNOSIS tentang Sastra Perhatian bukan pernyataan bahwa seluruh ekosistem sastra Indonesia sudah menyerah pada logikanya. Pernyataan semacam itu terlalu mudah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
September 2, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

by Andre Syahreza
August 30, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [7]: Rezim Algoritma dan Pembubaran Standar Sastra

by Andre Syahreza
August 26, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Semua tekanan yang sudah diuraikan dalam bagian-bagian sebelumnya bisa dibaca sebagai masalah-masalah yang terpisah. Namun semuanya adalah gejala dari satu...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

Read moreDetails

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
0
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

Read moreDetails

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [2]: Pintu yang Terbuka, Pagar yang Runtuh

by Andre Syahreza
August 24, 2026
0
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan

PADA tahun 1999, Seno Gumira Ajidarma menerbitkan kumpulan essay Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Judulnya adalah pernyataan sekaligus pengakuan,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Puisi-puisi Arif Billah | Sepanjang Pantai Aku Mengumpat

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas
Khas

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi
Ulas Buku

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?
Esai

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra
Esai

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

by Emi Suy
September 29, 2026
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival
Tualang

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938
Kuliner

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe
Tualang

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co