24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Made Ferry Kurniawan by Made Ferry Kurniawan
October 28, 2023
in Esai
Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Erich Fromm | Foto: Logos Indonesia, diolah tatkala.co

ERICH FROMM (1900-1980) lahir di am Maim, Jerman. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Naphtali Fromm dan Rosa Fromm (nee Krause). Sebagai seorang yang lahir dari keluarga penganut Yahudi Ortodoks, Erich Fromm menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk memelajari Talmud. Walaupun ia berhenti memelajari kitab suci dan secara total meninggalkan liturgi ke-Yahudi-an pada usia 26 tahun.

Kendati demikian, cara pandangnya tentang dunia, banyak dipengaruhi oleh horizon Yudaisme. Meminati studi etika dan hukum, memantik Fromm untuk masuk jurusan hukum di Universitas Frankfurt. Dan, pada tahun 1919 memelajari studi sosiologi di bawah bimbingan Alfred Weber (saudara Max Weber) di Heidelberg.

Minat psikoanalitik Fromm mulai terlihat ketika ia menyusun disertasi pada tahun 1922, dengan memahami secara total ide-ide Sigmund Freud. Di sinilah titik awalnya mulai mengembangkan teori, metode, dan cara pandang terhadap dunia sosial melalui instrumentasi psikoanalisis.

Pemikiran Erich Fromm banyak dinarasikan dalam bahasa Jerman. Untungnya, jejak kompendiumnya banyak diterjemahkan ke berbagai jenis bahasa, terutama ke dalam bahasa Inggris. Sehingga, pokok penting mengenai psikoanalisis, sosiologi atau teori sosial bisa dinikmati oleh akademisi non-Jerman dan yang hanya bisa berbahasa Inggris—seperti saya, misalnya.

Para pembelajar menaruh minat besar pada analisis Fromm tentang sosio-psikoanalitik, otoritarianisme, adagium ‘karakter pemasaran’, kekuatan produktif manusia yang meliputi akal, budi dan cita, internalisasi ide mengenai sikap humanistik, dan pemahaman seni hidup untuk mencapai ‘masyarakat yang waras’.

Mengenai ‘masyarakat yang waras’, Fromm mencoba memformulasikan dan menciptakan katalisator psikoanalisis, guna menghubungkan narasi neurotik dengan ajaran Zen Buddhisme. Hal tersebut dilakukan untuk membuat formula baru dalam mendistorsi ketidakbahagiaan, atau melakukan de-represi sebagai realitas psikotik masyarakat era ini.

Individu dan komunitas sosial saat ini, oleh Fromm digambarkan sebagai ‘keadaan yang terdegradasi’. Maksudnya, baik dalam skala mikro, meso, atau makro sosial, kita telah mengalami krisis eksistensi dan berada dalam pusaran krisis. Citra krisis tersebut digambarkan sebagai malaise, ennui, mal du siècle, ‘kelumpuhan hidup’, otomatisasi manusia, alienasi dari diri-sendiri, dari sesamanya dan dari alam.

Manusia dalam limitasinya, dipaksa untuk mengejar rasionalisme sampai pada titik kulminasi. Mengejar rasionalisme sampai titik tersebut diistilahkan dengan ‘hilangnya hakikat ke-diri-an manusia’ dan kepasitas nalar mereka telah menjadi ‘irasionalisme total’. Fromm melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan, semenjak kelahiran filsafat modern—dipelopori oleh Descartes—manusia telah terpisah dari kemampuan afeksinya, hanya pikiran yang dianggap rasional, dan dimensi afeksi diasosiasikan irasional.

Cara berpikir rasional melahirkan entitas intelektual, yang berkuasa atas alam serta manusia dipaksa untuk memroduksi lebih banyak benda-benda—diinterpretasikan sebagai antroposentrisme, kapitalisme dan ‘ekonomi berbagi’. Dalam keadaan seperti itu, manusia tekah mengubah dirinya menjadi elemen subordinat, membiarkan keadaan corporeal yang didominasi oleh hasrat-hasrat untuk memiliki. Akumulasi dari keterkungkungan itu ‘menyeret’ manusia ke dalam keterpurukan dan keterlemparan pada situasi schizoid.

Schizoid adalah ketidakmampuan untuk memahami dan mengalami afeksi—dan karenanya, individu menjadi cemas, takut, terepresi dan putus asa. Meski mereka masih ‘berbasa-basi’ dengan tujuan hidup yang bahagia, inisitatif untuk bebas dari keterbelegguan, sebenarnya kita sama sekali tidak memiliki tujuan.

Keadaan-keadaan yang menekan itu tentu menghambat penciptaan ‘masyarakat yang waras’, sehingga dibutuhkan formula khusus untuk melakukan de-represi atas keadaan tersebut. Disinilah Fromm banyak menggunakan kompendium Zen Buddhisme sebagai ‘jembatan psikoanalisis’ dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’.

Fromm melihat bahwa Zen Buddhisme berkontribusi besar dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’ karena Zen mengajarkan tentang realisme unggul—bagi pemikir Barat, pemikiran Zen dan Buddhisme jauh lebih rumit dari konsepsi Heraclitus, Meister Eckhart atau Heidegger. Ia dan ajaran Buddha mampu melihat manusia secara realistis dan objektif. Dikatakan bahwa, manusia tidak memiliki seseorang atau siapapun kecuali dirinya sendiri. Ke-diri-an itu akan bangkit dan membimbingnya.

Zen menuntun manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensi, dan tidak serta merta bertentangan dengan rasionalitas, realisme, dan independensi yang menjadi capaian berharga bagi manusia modern. Fromm melihat, esensi Zen dan linieritasnya dengan psikoanalisis adalah seni untuk memahami hakikat keberadaan diri, juga orang lain—menunjukkan jalan keluar dari keterbelengguan menuju kebebasan.

Keterbelengguan diartikan sebagai kegilaan serta kelumpuhan. Sedangkan, kebebasan menjadi inti dari penjelasan psikoanalisis untuk menciptakan dorongan kreatif yang secara inheren ada dalam setiap diri individu. Dengan ini, manusia memiliki kapasitas untuk membuat diri mereka bahagia secara utuh—kondisi de-represi. Di sini bisa kita pahami bahwa Fromm dan Zen Buddhisme melahirkan kanonisme tentang indepndensi, social emphatic, dan berkontribusi besar membentuk karakter diri.

Selain itu, melalui ajaran Zen, Fromm berupaya melahirkan ‘radical humanism’ atau manusia yang secara intelektual memahami tujuan hidup dan akar eskatologisnya (Durkin, 2023; Wilde, 2015). Fromm mencoba memahami keadaan problematik yang merepresi manusia, ia menegaskan bahwa tiap individu harus menyadari partikularitas sekaligus dependensinya dengan orang lain. Dengan demikian, mereka bisa memosisikan diri kapan menjalani hakikat sebagai individum dan kapan menjalani esensi sebagai socius.

Melalui perkawinan psikoanalisis dan ajaran Zen, Fromm berhasil membangun psychotherapy, menyeimbangkan antara kebutuhan diri dan kolektivisme (Alexander, 2021; Harris, 2019). Inilah jalan fundamental menuju ‘masyarakat yang waras’, di mana individu mampu mengikis egotistical, ‘mengosongkan diri’ dan menyongsong kebangkitan penuh dari kepribadian total menuju kenyataan.

Dengan mengombinasikan narasi psikoanalitik dan Buddhisme, Fromm menyatakan, manusia yang mampu mengikis egotistical dan telah ter-de-represi, mengalami kebangkitan penuh akan realitas. Maksudnya, individu tersebut mampu mencapai ‘orientasi produktif’ seutuhnya.

Dalam keadaan ‘orientasi produktif’, mereka tidak lagi menghubungkan diri sendiri dengan dunia secara represif, eksploitatif, tertimbun oleh orientasi materialistik atau pasar. Melainkan, secara kreatif dan aktif membangun produktivitas penuh bahwa tidak ada tabir yang memisahkan antara Aku dan bukan-Aku, objek bukan lagi objek, dan objek itu sendiri tidak bertentangan, melainkan menyertaiku. Dalam mode perseptual semacam ini, tidak ada lagi distorsi parataksis sama sekali.

Aku mengalaminya secara intens—namun objek dunia dibiarkan apa adanya. Aku menghidupinya, dan objek itupun menghidupiku. Melalui pernyataan itu, Fromm ingin menjelaskan bahwa manusia bukanlan entitas superior, ia harus menurunkan egosektoralnya. Dengan mendegradasi ego itu, kebehagiaan dan depresi bisa diminimalisir. Ia juga menegaskan tentang efek lain dari rasionalitas. Rasionalitas dipandang sebagai sumber penderitaan, karena mengharuskan manusia mendefinisikan setiap fenomena, dan proses penciptaan sebuah terminologi berimbas pada keangkuhan serta tingkat depresi yang luar biasa.

Maka dari pada itu, menurut Fromm (dengan menyadur pemikiran Zen), manusia harus ditempatkan dalam sebuah dilema, yang darinya ia harus melarikan diri, tidak melalui logika, tetapi melalui pikiran yang lebih tinggi. Inilah sisi positif dan tujuan etis Zen, yang dalam psikoanalisis diartikan sebagai cara untuk mencapai totalitas ketenteraman dan keberanian, agar dapat beranjak dari keterbelengguan/kemelekatan menuju kebebasan.

Melalui Zen, Fromm menambahkan bahwa pemikiran Buddhisme berkontribusi besar dalam psikoanalisis karena adanya penegasan karakter dan non-intelektualitas, yang semua masalah hidup tidak cukup diselesaikan dengan akal budi, di mana rasonalitas kerap kali memenjarakan manusia pada keegoisan serta penderitaan. Sejauh mana manusia bisa melepaskan diri dari realitas material dan filter sosial (bahasa serta logika), mampu mengalami dirinya secara universal, sejauh itu pula represi dapat diminimalkan.

Jika represi dapat diminimalkan, maka tidak ada lagi pertentangan antara bawah sadar dengan kesadaran. Kesadaran yang digapai dengan keterbukaan diri, atau demi melonggarkan filter sosial, beragam kontradiksi akan lenyap. Lenyapnya kontradiksi akan menghadirkan pengalaman sadar secara langsung, tak-terefleksi atau jenis pengalaman yang hadir tanpa inteleksi.

Terakhir, dalam pengalaman yang hadir tanpa inteleksi, manusia mengalami penggapaian langsung. Ia sebagai ‘seniman kreatif kehidupan’, mampu mengekspresikan orisinalitas, kreativitas dan sisi kepribadian yang hidup. Tidak ada konvensionalitas, konformitas, dan tidak ada sesuatu yang menghambat.

Mereka tidak lagi memiliki jati diri yang terbungkus dalam eksistensi ego-sentris. Individu yang telah membersihkan dirinya dari ‘interferensi inteleksi’, dapat mewujudkan kehidupan bebas, spontan dan keberadaan perasaan yang mengganggu (ketakutan, kecemasan atau ketidaknyamanan) tak memiliki ruang untuk menyerangnya.

Dari narasi di atas, bisa dilihat bahwa Fromm memformulasikan kembali aras pemikiran Zen sebagai basis konstruksi simbolik dalam membangun pemahaman human psyche dan socio-analysis. Dengan tepat menarasikan human character untuk menghindarkan manusia dari beragam jenis kecemasan ataupun alienasi (Cheliotis, 2011; Durkin & Braune, 2021; Friedman, 2014).

Inilah ulasan panjang Zen yang coba dinarasikan ulang oleh Fromm tentang upaya menciptakan individu waras di tengah geliat ‘kegilaan sosial’.[T]

Daftar Pustaka

  • Alexander, J. C. (2021). The Prescience and Paradox of Erich Fromm: A Note on the Performative Contradictions of Critical Theory. Thesis Eleven, 165(1), 3–9. https://doi.org/10.1177/07255136211032830
  • Cheliotis, L. K. (2011). For a Freudo-Marxist Critique of Social Domination: Rediscovering Erich Fromm Through the Mirror of Pierre Bourdieu. Journal of Classical Sociology, 11(4), 438–461. https://doi.org/10.1177/1468795X11415133
  • Durkin, K. (2023). Book Review: Neil McLaughlin, Erich Fromm and Global Public Sociology. Sociology, 57(1), 253–254. https://doi.org/10.1177/00380385221081396
  • Durkin, K., & Braune, J. (2021). Book Review: Erich Fromm’s Critical Theory: Hope, Humanism, and the Future. European Journal of Social Theory, 24(1), 165–169. https://doi.org/10.1177/1368431020942496
  • Friedman, L. J. (2014). Book Essay on The Lives of Erich Fromm: Love’s Prophet. Journal of the American Psychoanalytic Association, 62(3), 503–519. https://doi.org/10.1177/0003065114536613
  • Harris, N. (2019). Reconstructing Erich Fromm’s ‘Pathology of Normalcy’: Transcending the Recognition-Cognitive Paradigm in the Diagnosis of Social Pathologies. Social Science Information, 58(4), 714–733. https://doi.org/10.1177/0539018419881403
  • Wilde, L. (2015). The Radical Humanism of Erich Fromm. Political Theory, 13(4), 565–566. https://doi.org/10.1111/1478-9302.12101
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: esaifilsafatPsikologitokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Next Post

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Made Ferry Kurniawan

Made Ferry Kurniawan

Mahasiswa S2 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co