23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Made Ferry Kurniawan by Made Ferry Kurniawan
October 28, 2023
in Esai
Erich Fromm, Psikoanalisis, dan Zen Buddhisme: Eksegesis tentang Degradasi Egotistical dan De-Represi

Erich Fromm | Foto: Logos Indonesia, diolah tatkala.co

ERICH FROMM (1900-1980) lahir di am Maim, Jerman. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Naphtali Fromm dan Rosa Fromm (nee Krause). Sebagai seorang yang lahir dari keluarga penganut Yahudi Ortodoks, Erich Fromm menghabiskan sebagian besar masa mudanya untuk memelajari Talmud. Walaupun ia berhenti memelajari kitab suci dan secara total meninggalkan liturgi ke-Yahudi-an pada usia 26 tahun.

Kendati demikian, cara pandangnya tentang dunia, banyak dipengaruhi oleh horizon Yudaisme. Meminati studi etika dan hukum, memantik Fromm untuk masuk jurusan hukum di Universitas Frankfurt. Dan, pada tahun 1919 memelajari studi sosiologi di bawah bimbingan Alfred Weber (saudara Max Weber) di Heidelberg.

Minat psikoanalitik Fromm mulai terlihat ketika ia menyusun disertasi pada tahun 1922, dengan memahami secara total ide-ide Sigmund Freud. Di sinilah titik awalnya mulai mengembangkan teori, metode, dan cara pandang terhadap dunia sosial melalui instrumentasi psikoanalisis.

Pemikiran Erich Fromm banyak dinarasikan dalam bahasa Jerman. Untungnya, jejak kompendiumnya banyak diterjemahkan ke berbagai jenis bahasa, terutama ke dalam bahasa Inggris. Sehingga, pokok penting mengenai psikoanalisis, sosiologi atau teori sosial bisa dinikmati oleh akademisi non-Jerman dan yang hanya bisa berbahasa Inggris—seperti saya, misalnya.

Para pembelajar menaruh minat besar pada analisis Fromm tentang sosio-psikoanalitik, otoritarianisme, adagium ‘karakter pemasaran’, kekuatan produktif manusia yang meliputi akal, budi dan cita, internalisasi ide mengenai sikap humanistik, dan pemahaman seni hidup untuk mencapai ‘masyarakat yang waras’.

Mengenai ‘masyarakat yang waras’, Fromm mencoba memformulasikan dan menciptakan katalisator psikoanalisis, guna menghubungkan narasi neurotik dengan ajaran Zen Buddhisme. Hal tersebut dilakukan untuk membuat formula baru dalam mendistorsi ketidakbahagiaan, atau melakukan de-represi sebagai realitas psikotik masyarakat era ini.

Individu dan komunitas sosial saat ini, oleh Fromm digambarkan sebagai ‘keadaan yang terdegradasi’. Maksudnya, baik dalam skala mikro, meso, atau makro sosial, kita telah mengalami krisis eksistensi dan berada dalam pusaran krisis. Citra krisis tersebut digambarkan sebagai malaise, ennui, mal du siècle, ‘kelumpuhan hidup’, otomatisasi manusia, alienasi dari diri-sendiri, dari sesamanya dan dari alam.

Manusia dalam limitasinya, dipaksa untuk mengejar rasionalisme sampai pada titik kulminasi. Mengejar rasionalisme sampai titik tersebut diistilahkan dengan ‘hilangnya hakikat ke-diri-an manusia’ dan kepasitas nalar mereka telah menjadi ‘irasionalisme total’. Fromm melanjutkan penjelasannya dengan mengatakan, semenjak kelahiran filsafat modern—dipelopori oleh Descartes—manusia telah terpisah dari kemampuan afeksinya, hanya pikiran yang dianggap rasional, dan dimensi afeksi diasosiasikan irasional.

Cara berpikir rasional melahirkan entitas intelektual, yang berkuasa atas alam serta manusia dipaksa untuk memroduksi lebih banyak benda-benda—diinterpretasikan sebagai antroposentrisme, kapitalisme dan ‘ekonomi berbagi’. Dalam keadaan seperti itu, manusia tekah mengubah dirinya menjadi elemen subordinat, membiarkan keadaan corporeal yang didominasi oleh hasrat-hasrat untuk memiliki. Akumulasi dari keterkungkungan itu ‘menyeret’ manusia ke dalam keterpurukan dan keterlemparan pada situasi schizoid.

Schizoid adalah ketidakmampuan untuk memahami dan mengalami afeksi—dan karenanya, individu menjadi cemas, takut, terepresi dan putus asa. Meski mereka masih ‘berbasa-basi’ dengan tujuan hidup yang bahagia, inisitatif untuk bebas dari keterbelegguan, sebenarnya kita sama sekali tidak memiliki tujuan.

Keadaan-keadaan yang menekan itu tentu menghambat penciptaan ‘masyarakat yang waras’, sehingga dibutuhkan formula khusus untuk melakukan de-represi atas keadaan tersebut. Disinilah Fromm banyak menggunakan kompendium Zen Buddhisme sebagai ‘jembatan psikoanalisis’ dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’.

Fromm melihat bahwa Zen Buddhisme berkontribusi besar dalam menciptakan ‘kewarasan sosial’ karena Zen mengajarkan tentang realisme unggul—bagi pemikir Barat, pemikiran Zen dan Buddhisme jauh lebih rumit dari konsepsi Heraclitus, Meister Eckhart atau Heidegger. Ia dan ajaran Buddha mampu melihat manusia secara realistis dan objektif. Dikatakan bahwa, manusia tidak memiliki seseorang atau siapapun kecuali dirinya sendiri. Ke-diri-an itu akan bangkit dan membimbingnya.

Zen menuntun manusia untuk menemukan jawaban atas pertanyaan eksistensi, dan tidak serta merta bertentangan dengan rasionalitas, realisme, dan independensi yang menjadi capaian berharga bagi manusia modern. Fromm melihat, esensi Zen dan linieritasnya dengan psikoanalisis adalah seni untuk memahami hakikat keberadaan diri, juga orang lain—menunjukkan jalan keluar dari keterbelengguan menuju kebebasan.

Keterbelengguan diartikan sebagai kegilaan serta kelumpuhan. Sedangkan, kebebasan menjadi inti dari penjelasan psikoanalisis untuk menciptakan dorongan kreatif yang secara inheren ada dalam setiap diri individu. Dengan ini, manusia memiliki kapasitas untuk membuat diri mereka bahagia secara utuh—kondisi de-represi. Di sini bisa kita pahami bahwa Fromm dan Zen Buddhisme melahirkan kanonisme tentang indepndensi, social emphatic, dan berkontribusi besar membentuk karakter diri.

Selain itu, melalui ajaran Zen, Fromm berupaya melahirkan ‘radical humanism’ atau manusia yang secara intelektual memahami tujuan hidup dan akar eskatologisnya (Durkin, 2023; Wilde, 2015). Fromm mencoba memahami keadaan problematik yang merepresi manusia, ia menegaskan bahwa tiap individu harus menyadari partikularitas sekaligus dependensinya dengan orang lain. Dengan demikian, mereka bisa memosisikan diri kapan menjalani hakikat sebagai individum dan kapan menjalani esensi sebagai socius.

Melalui perkawinan psikoanalisis dan ajaran Zen, Fromm berhasil membangun psychotherapy, menyeimbangkan antara kebutuhan diri dan kolektivisme (Alexander, 2021; Harris, 2019). Inilah jalan fundamental menuju ‘masyarakat yang waras’, di mana individu mampu mengikis egotistical, ‘mengosongkan diri’ dan menyongsong kebangkitan penuh dari kepribadian total menuju kenyataan.

Dengan mengombinasikan narasi psikoanalitik dan Buddhisme, Fromm menyatakan, manusia yang mampu mengikis egotistical dan telah ter-de-represi, mengalami kebangkitan penuh akan realitas. Maksudnya, individu tersebut mampu mencapai ‘orientasi produktif’ seutuhnya.

Dalam keadaan ‘orientasi produktif’, mereka tidak lagi menghubungkan diri sendiri dengan dunia secara represif, eksploitatif, tertimbun oleh orientasi materialistik atau pasar. Melainkan, secara kreatif dan aktif membangun produktivitas penuh bahwa tidak ada tabir yang memisahkan antara Aku dan bukan-Aku, objek bukan lagi objek, dan objek itu sendiri tidak bertentangan, melainkan menyertaiku. Dalam mode perseptual semacam ini, tidak ada lagi distorsi parataksis sama sekali.

Aku mengalaminya secara intens—namun objek dunia dibiarkan apa adanya. Aku menghidupinya, dan objek itupun menghidupiku. Melalui pernyataan itu, Fromm ingin menjelaskan bahwa manusia bukanlan entitas superior, ia harus menurunkan egosektoralnya. Dengan mendegradasi ego itu, kebehagiaan dan depresi bisa diminimalisir. Ia juga menegaskan tentang efek lain dari rasionalitas. Rasionalitas dipandang sebagai sumber penderitaan, karena mengharuskan manusia mendefinisikan setiap fenomena, dan proses penciptaan sebuah terminologi berimbas pada keangkuhan serta tingkat depresi yang luar biasa.

Maka dari pada itu, menurut Fromm (dengan menyadur pemikiran Zen), manusia harus ditempatkan dalam sebuah dilema, yang darinya ia harus melarikan diri, tidak melalui logika, tetapi melalui pikiran yang lebih tinggi. Inilah sisi positif dan tujuan etis Zen, yang dalam psikoanalisis diartikan sebagai cara untuk mencapai totalitas ketenteraman dan keberanian, agar dapat beranjak dari keterbelengguan/kemelekatan menuju kebebasan.

Melalui Zen, Fromm menambahkan bahwa pemikiran Buddhisme berkontribusi besar dalam psikoanalisis karena adanya penegasan karakter dan non-intelektualitas, yang semua masalah hidup tidak cukup diselesaikan dengan akal budi, di mana rasonalitas kerap kali memenjarakan manusia pada keegoisan serta penderitaan. Sejauh mana manusia bisa melepaskan diri dari realitas material dan filter sosial (bahasa serta logika), mampu mengalami dirinya secara universal, sejauh itu pula represi dapat diminimalkan.

Jika represi dapat diminimalkan, maka tidak ada lagi pertentangan antara bawah sadar dengan kesadaran. Kesadaran yang digapai dengan keterbukaan diri, atau demi melonggarkan filter sosial, beragam kontradiksi akan lenyap. Lenyapnya kontradiksi akan menghadirkan pengalaman sadar secara langsung, tak-terefleksi atau jenis pengalaman yang hadir tanpa inteleksi.

Terakhir, dalam pengalaman yang hadir tanpa inteleksi, manusia mengalami penggapaian langsung. Ia sebagai ‘seniman kreatif kehidupan’, mampu mengekspresikan orisinalitas, kreativitas dan sisi kepribadian yang hidup. Tidak ada konvensionalitas, konformitas, dan tidak ada sesuatu yang menghambat.

Mereka tidak lagi memiliki jati diri yang terbungkus dalam eksistensi ego-sentris. Individu yang telah membersihkan dirinya dari ‘interferensi inteleksi’, dapat mewujudkan kehidupan bebas, spontan dan keberadaan perasaan yang mengganggu (ketakutan, kecemasan atau ketidaknyamanan) tak memiliki ruang untuk menyerangnya.

Dari narasi di atas, bisa dilihat bahwa Fromm memformulasikan kembali aras pemikiran Zen sebagai basis konstruksi simbolik dalam membangun pemahaman human psyche dan socio-analysis. Dengan tepat menarasikan human character untuk menghindarkan manusia dari beragam jenis kecemasan ataupun alienasi (Cheliotis, 2011; Durkin & Braune, 2021; Friedman, 2014).

Inilah ulasan panjang Zen yang coba dinarasikan ulang oleh Fromm tentang upaya menciptakan individu waras di tengah geliat ‘kegilaan sosial’.[T]

Daftar Pustaka

  • Alexander, J. C. (2021). The Prescience and Paradox of Erich Fromm: A Note on the Performative Contradictions of Critical Theory. Thesis Eleven, 165(1), 3–9. https://doi.org/10.1177/07255136211032830
  • Cheliotis, L. K. (2011). For a Freudo-Marxist Critique of Social Domination: Rediscovering Erich Fromm Through the Mirror of Pierre Bourdieu. Journal of Classical Sociology, 11(4), 438–461. https://doi.org/10.1177/1468795X11415133
  • Durkin, K. (2023). Book Review: Neil McLaughlin, Erich Fromm and Global Public Sociology. Sociology, 57(1), 253–254. https://doi.org/10.1177/00380385221081396
  • Durkin, K., & Braune, J. (2021). Book Review: Erich Fromm’s Critical Theory: Hope, Humanism, and the Future. European Journal of Social Theory, 24(1), 165–169. https://doi.org/10.1177/1368431020942496
  • Friedman, L. J. (2014). Book Essay on The Lives of Erich Fromm: Love’s Prophet. Journal of the American Psychoanalytic Association, 62(3), 503–519. https://doi.org/10.1177/0003065114536613
  • Harris, N. (2019). Reconstructing Erich Fromm’s ‘Pathology of Normalcy’: Transcending the Recognition-Cognitive Paradigm in the Diagnosis of Social Pathologies. Social Science Information, 58(4), 714–733. https://doi.org/10.1177/0539018419881403
  • Wilde, L. (2015). The Radical Humanism of Erich Fromm. Political Theory, 13(4), 565–566. https://doi.org/10.1111/1478-9302.12101
Fyodor Dostoyevsky: Prolegomena tentang Penderitaan, Kegilaan, dan Kekonyolan
Pemikiran Soedjatmoko tentang Pendidikan Abad ke-21 dan Masa yang akan Datang
Catatan Dari Meja Rene Descartes | Seri Pertama Soal Being
Filsafat Pendidikan Emansipatif Jacques Ranciére
Siasat Filsafat “Tractatus Logico Philosophicus” dalam Hidup Wittgenstein
Tags: esaifilsafatPsikologitokoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Gema Ladang”: Nyanyian Ladang dan Ratapan dari Flores Timur

Next Post

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Made Ferry Kurniawan

Made Ferry Kurniawan

Mahasiswa S2 Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Bulan Bahasa: Momen Refleksi Diri dalam Penggunaan Bahasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co