23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
October 17, 2023
in Esai
In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita

Kabar mengejutkan datang saat aku bangun tidur pagi ini. Kabar duka itu aku lihat melalui story whatsapp temanku yang telah diunggah jam 11 malam kurang 15 menit kemarin malam.

Kemudian aku chat personal yang bersangkutan. “Sajaan pak de bandi sing nu?”tanyaku.

Sembari menunggu balasan temanku tadi, aku buka grup whatsapp KAISAR 13 (Karawitan ISI Denpasar Angkatan 2013, grup WA kuliahku). Eh ternyata benar, hampir sama, teman-teman di grup WA ternyata sudah “ribut”  dari kemarin malam.

Dari WA aku tahu, Senin malam, 16 Oktober 2023, Pak De Bandi (begitu aku memanggilnya) sedang bermain tenis meja. Tiba-tiba ia pingsan, kemudian dilarikan ke rumah sakit, sampai akhirnya ia meninggal dunia. Katanya juga karena darah tingginya kumat. Seperti itu informasi yang aku dapatkan di grup WA kelasku.

Hmmm, sungguh aku ini memang kurang update informasi. Selanjutnya aku buka facebook untuk memastikan informasi tersebut, dan ternyata telah banyak teman-temanku membuat stori di facebook terkait kepulangan Pak De Bandi.

Dan di tengah secrol-secrol stori facebook, terlihat notifikasi balasan WA temanku tadi, “sajaan blitu”. Waduh.

Tapi benarkah Pak De Bandi telah tiada?

Aku rasa tidak. I Made Subandi tidak akan meninggalkan kita.

Pak De Bandi telah memberikan dedikasi yang luar biasa di dunia kesenian tradisi Bali, kususnya dunia karawitan (megambel). Banyak karya yang ia hasilkan dan sudah barang tentu karya-karyanya menjadi sumber inspirasi dan sumber penciptaan bagi komposer muda Bali dalam menciptakan komposisi karawitan Bali.

Sosoknya yang selalu nyentrik, gaya berpakaiannya yang ikonik dengan cara meudeng yang khas, mungkin saja itu untuk melindungi kepala botaknya yang ia pertahankan beberapa tahun belakangan ini. Entah kenapa memilih botak, akupun tak paham.

Demikian juga cara menuangkan gending. Ia seniman yang unik. Pak De Bandi dikenal dengan spontanitas  dan improvisasi yang luar biasa dalam menciptakan komposisi serta dalam bermain alat-alat musik. Seakan apa yang ada di kepalanya, sangat gampang ia terjemahkan dalam bentuk gegebug  dan senandung mulutnya.

Otaknya seperti menyimpan data gending yang tak terbatas, yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan jika diperlukan. Memang bakat yang luar biasa, bak Leonel Messi di dunia sepak bola.

Hal itu semua tentu akan terkenang di hati keluarga, kerabat, rekan, pengagum, murid-muridnya dan semua yang mengenal dia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sebenarnya aku bukan orang yang mengenal Pak De Bandi secara dekat. Menimba ilmu secara langsung pun aku tak pernah. Tapi ibarat Ekalawya yang menjadikan Drona sebagai guru secara diam-diam, aku pun demikian.

Aku rasa banyak di luar sana yang menjadikan Subandi sebagai guru secara diam-diam. Ya, sudah tentu belajar dari karya-karyanya. Terkhusus aku, salah satu karya Subandi di dunia karawitan yang aku idolakan hingga sekarang adalah ketika ia menggarap iringan pragmentari Lebur Kangsa dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2007.

Dari iringan itu aku belajar tentang penggunaan bagian-bagian gending yang efektif dan efesian serta tepat sasaran untuk mengiringi setiap tokoh dan adegan dalam alur cerita dalam sebuah pragmentari. Di mana tidak semua perpindahan adegan dalam alur cerita harus diisyaratkan dengan menggunakan “kebyar”, serta penggunaan gending yang sama untuk mengiringi seorang tokoh.

Misalnya kapan pun tokoh Balarama yang mucul sebagai titik fokus, maka Pak De Bandi dalam karya ini akan membawa arah gending ke gending Balarama yang telah dimainkan sebelumnya. Demikian juga perlakuan yang sama diberikan kepada tokoh Krisna.

Tentu hal yang menjadikan karya ini semakin ikonik adalah melodi suling yang digunakan untuk mengiringi kemunculan tokoh Krisna. Ya, melodi itu sangat indah sekali.

Dan aku pernah membuat iringan pragmentari diajang PKB tahun 2018, Gugurnya Drona. Aku menjadikan iringan pragmentari Lebur Kangsa ini sebagai inspirasi utama dalam mencipta. Tentu masih banyak lagi karya Pak De Bandi yang aku dengarkan dan aku jadikan pelajaran.

Semisal Tabuh Kreasi Ceng-Ceng Kebes, Bintang Kartika, Ulu Chandra, Palu Gangsa, dan Bajradara yang selalu menjadi salah satu play list di saat aku ingin mendengar musik gamelan Bali.

***

I Made Subandi, lahir 23 Februari 1966. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Made Dig dan Ni Wayan Saba. Ia lahir dan tinggal di Banjar Budeng Ireng, Desa Batuyang, Sukawati, Gianyar.  

Ayahnya merupakan seniman gender wayang yang terkenal. Karena itulah ia sudah terkena sentuhan seni sejak dini, terutama dari kedua orang tuanya.

Pada tahun 1984 ia bersekolah di KOKAR Bali (SMKN 3 Sukawati), kemudian melanjutkan pendidikan di STSI pada tahun 1988.

Dan pada tahun 2004 ia mendirikan Sanggar Seni Ceraken. Tidak hanya seniman  lokal saja yang menimba ilmu padanya, namun banyak muridnya yang berasal  dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, India, Jepang dan lain-lain.

Sanggar Seni Ceraken juga kerap dijadikan tempat praktik kuliah lapangan (PKL) bagi mahasiswa ISI Denpasar.

Pada tahun 1999 Subandi melawat ke Amerika untuk mengajar kelompok gamelan Sekar Jaya, tepatnya di San Francisco.

Tahun 2015 ia mulai melakukan kolaborasi dengan Balawan & Batuan Etnic Fusion. Di sana ia sebagai pemain kendang sunda dan tabla. Adapun lagu yang viral yang ia dan Balawan bawakan adalah “Kle Nyakcak Nok.”

Selain dari semua itu, Subandi kerap dipercaya menjadi  pembina tabuh atau composer di ajang PKB di seluruh kabupaten di Bali. Banyak karya yang ia lahirkan,  baik berupa gending instrumental, maupun iringan tari. Baik itu di gong kebyar, semarpegulingan, angklung, bleganjur, gender wayang dan lainnya.

Diakhir ayatnya, I Made Subandi masih bersetatus pengajar di SMK 3 Sukawati dan telah diangkat PNS sejak 2014 setelah menjadi guru kontrak kurang lebih 20 tahun di sekolah itu.

***

Dari semua yang dikerjakan Subandi, dan dari semua pelajaran yang pernah diberikan kepada orang-orang, termasuk aku pribadi, maka sesungguhnya I Made Subandi tidaklah benar-benar meninggalkan kita.

Tubuh boleh terbakar oleh api, namun ide gagasan baik dalam bentuk pemikiraan maupun karya akan selalu hidup di tengah-tengah pelaku, pendengar dan pecinta musik karawitan Bali.

Maka dari itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada sanak keluarga yang ia tinggalkan, melalui tulisan ini kami segenap kerabat, rekan, murid bahkan pengagumnya turut berbela sungkawa atas berpulangnya Pak De Bandi ke Sang Pencipta.

Jatasya hi druvo mrtyur,
Dhruvam janma mrtasya ca,
Na tvam soritutn arhasi,
Tasmad apariharye’rthe

Artinya:

Karena pada apa yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran pada yang mati. Oleh karena itu pada apa yang tidak dapat dielakkan, engkau seharusnya tidak bersedih hati. (Bhagawad Gita II. 27)

Dan terkhusus bro @Emonbandi, anak Pak De Bandi, secara pribadi kita tak saling kenal, namun aku mengetahuimu melalui sosial media teman-temanku.

Meskipun sulit, tapi bersabarlah dan tabah menerima semua ini. Kesedihan dan kebahagiaan bersifat sementara dan akan bergantian datangnya.

Matrasparsastu kaunteya sitosnasukhaduhkhadah,
Agamapayino nityastamstitiksasva Bharata.

Artinya:

Hubunganya dengan segala sesuatu, akan menimbulkan dingin dan panas, senang dan sedih.
Keadaan ini tidaklah kekal, ia muncul dan menghilang, untuk itu engaku bersabarlah, oh arjuna. (Bhagawad Gita II. 14)

Sekali lagi, I Made Subandi tidak benar-benar meninggalkan kita. Sama seperti pendahulunya, I Wayan Brata, Lotring, Gde Manik, Mario dan lain lain, karya-karyanya akan selalu hidup di tengah-tengah kita. Tubuh boleh tiada, namun karya akan selalu hidup.

Selamat jalan I Made Subandi (1966-2023). We Love You. [T]

“Macan Ngerem” Sebelum “Tribute to Chrisye” di Festival Tepi Sawah 2018
Sendratari “Nawaruci Dewa Ruci”: Siasat Guru Drona Taklukan Bima
Bentuk Seni Pertunjukan Baru Itu Bernama “Sandhya Gita”
Tags: in memoriamkesenian baliSeniSMKN 3 SukawatiTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Natsir, Lelaki dari Lembah Gumanti

Next Post

Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co