24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
October 17, 2023
in Esai
In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita

Kabar mengejutkan datang saat aku bangun tidur pagi ini. Kabar duka itu aku lihat melalui story whatsapp temanku yang telah diunggah jam 11 malam kurang 15 menit kemarin malam.

Kemudian aku chat personal yang bersangkutan. “Sajaan pak de bandi sing nu?”tanyaku.

Sembari menunggu balasan temanku tadi, aku buka grup whatsapp KAISAR 13 (Karawitan ISI Denpasar Angkatan 2013, grup WA kuliahku). Eh ternyata benar, hampir sama, teman-teman di grup WA ternyata sudah “ribut”  dari kemarin malam.

Dari WA aku tahu, Senin malam, 16 Oktober 2023, Pak De Bandi (begitu aku memanggilnya) sedang bermain tenis meja. Tiba-tiba ia pingsan, kemudian dilarikan ke rumah sakit, sampai akhirnya ia meninggal dunia. Katanya juga karena darah tingginya kumat. Seperti itu informasi yang aku dapatkan di grup WA kelasku.

Hmmm, sungguh aku ini memang kurang update informasi. Selanjutnya aku buka facebook untuk memastikan informasi tersebut, dan ternyata telah banyak teman-temanku membuat stori di facebook terkait kepulangan Pak De Bandi.

Dan di tengah secrol-secrol stori facebook, terlihat notifikasi balasan WA temanku tadi, “sajaan blitu”. Waduh.

Tapi benarkah Pak De Bandi telah tiada?

Aku rasa tidak. I Made Subandi tidak akan meninggalkan kita.

Pak De Bandi telah memberikan dedikasi yang luar biasa di dunia kesenian tradisi Bali, kususnya dunia karawitan (megambel). Banyak karya yang ia hasilkan dan sudah barang tentu karya-karyanya menjadi sumber inspirasi dan sumber penciptaan bagi komposer muda Bali dalam menciptakan komposisi karawitan Bali.

Sosoknya yang selalu nyentrik, gaya berpakaiannya yang ikonik dengan cara meudeng yang khas, mungkin saja itu untuk melindungi kepala botaknya yang ia pertahankan beberapa tahun belakangan ini. Entah kenapa memilih botak, akupun tak paham.

Demikian juga cara menuangkan gending. Ia seniman yang unik. Pak De Bandi dikenal dengan spontanitas  dan improvisasi yang luar biasa dalam menciptakan komposisi serta dalam bermain alat-alat musik. Seakan apa yang ada di kepalanya, sangat gampang ia terjemahkan dalam bentuk gegebug  dan senandung mulutnya.

Otaknya seperti menyimpan data gending yang tak terbatas, yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan jika diperlukan. Memang bakat yang luar biasa, bak Leonel Messi di dunia sepak bola.

Hal itu semua tentu akan terkenang di hati keluarga, kerabat, rekan, pengagum, murid-muridnya dan semua yang mengenal dia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sebenarnya aku bukan orang yang mengenal Pak De Bandi secara dekat. Menimba ilmu secara langsung pun aku tak pernah. Tapi ibarat Ekalawya yang menjadikan Drona sebagai guru secara diam-diam, aku pun demikian.

Aku rasa banyak di luar sana yang menjadikan Subandi sebagai guru secara diam-diam. Ya, sudah tentu belajar dari karya-karyanya. Terkhusus aku, salah satu karya Subandi di dunia karawitan yang aku idolakan hingga sekarang adalah ketika ia menggarap iringan pragmentari Lebur Kangsa dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2007.

Dari iringan itu aku belajar tentang penggunaan bagian-bagian gending yang efektif dan efesian serta tepat sasaran untuk mengiringi setiap tokoh dan adegan dalam alur cerita dalam sebuah pragmentari. Di mana tidak semua perpindahan adegan dalam alur cerita harus diisyaratkan dengan menggunakan “kebyar”, serta penggunaan gending yang sama untuk mengiringi seorang tokoh.

Misalnya kapan pun tokoh Balarama yang mucul sebagai titik fokus, maka Pak De Bandi dalam karya ini akan membawa arah gending ke gending Balarama yang telah dimainkan sebelumnya. Demikian juga perlakuan yang sama diberikan kepada tokoh Krisna.

Tentu hal yang menjadikan karya ini semakin ikonik adalah melodi suling yang digunakan untuk mengiringi kemunculan tokoh Krisna. Ya, melodi itu sangat indah sekali.

Dan aku pernah membuat iringan pragmentari diajang PKB tahun 2018, Gugurnya Drona. Aku menjadikan iringan pragmentari Lebur Kangsa ini sebagai inspirasi utama dalam mencipta. Tentu masih banyak lagi karya Pak De Bandi yang aku dengarkan dan aku jadikan pelajaran.

Semisal Tabuh Kreasi Ceng-Ceng Kebes, Bintang Kartika, Ulu Chandra, Palu Gangsa, dan Bajradara yang selalu menjadi salah satu play list di saat aku ingin mendengar musik gamelan Bali.

***

I Made Subandi, lahir 23 Februari 1966. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Made Dig dan Ni Wayan Saba. Ia lahir dan tinggal di Banjar Budeng Ireng, Desa Batuyang, Sukawati, Gianyar.  

Ayahnya merupakan seniman gender wayang yang terkenal. Karena itulah ia sudah terkena sentuhan seni sejak dini, terutama dari kedua orang tuanya.

Pada tahun 1984 ia bersekolah di KOKAR Bali (SMKN 3 Sukawati), kemudian melanjutkan pendidikan di STSI pada tahun 1988.

Dan pada tahun 2004 ia mendirikan Sanggar Seni Ceraken. Tidak hanya seniman  lokal saja yang menimba ilmu padanya, namun banyak muridnya yang berasal  dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, India, Jepang dan lain-lain.

Sanggar Seni Ceraken juga kerap dijadikan tempat praktik kuliah lapangan (PKL) bagi mahasiswa ISI Denpasar.

Pada tahun 1999 Subandi melawat ke Amerika untuk mengajar kelompok gamelan Sekar Jaya, tepatnya di San Francisco.

Tahun 2015 ia mulai melakukan kolaborasi dengan Balawan & Batuan Etnic Fusion. Di sana ia sebagai pemain kendang sunda dan tabla. Adapun lagu yang viral yang ia dan Balawan bawakan adalah “Kle Nyakcak Nok.”

Selain dari semua itu, Subandi kerap dipercaya menjadi  pembina tabuh atau composer di ajang PKB di seluruh kabupaten di Bali. Banyak karya yang ia lahirkan,  baik berupa gending instrumental, maupun iringan tari. Baik itu di gong kebyar, semarpegulingan, angklung, bleganjur, gender wayang dan lainnya.

Diakhir ayatnya, I Made Subandi masih bersetatus pengajar di SMK 3 Sukawati dan telah diangkat PNS sejak 2014 setelah menjadi guru kontrak kurang lebih 20 tahun di sekolah itu.

***

Dari semua yang dikerjakan Subandi, dan dari semua pelajaran yang pernah diberikan kepada orang-orang, termasuk aku pribadi, maka sesungguhnya I Made Subandi tidaklah benar-benar meninggalkan kita.

Tubuh boleh terbakar oleh api, namun ide gagasan baik dalam bentuk pemikiraan maupun karya akan selalu hidup di tengah-tengah pelaku, pendengar dan pecinta musik karawitan Bali.

Maka dari itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada sanak keluarga yang ia tinggalkan, melalui tulisan ini kami segenap kerabat, rekan, murid bahkan pengagumnya turut berbela sungkawa atas berpulangnya Pak De Bandi ke Sang Pencipta.

Jatasya hi druvo mrtyur,
Dhruvam janma mrtasya ca,
Na tvam soritutn arhasi,
Tasmad apariharye’rthe

Artinya:

Karena pada apa yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran pada yang mati. Oleh karena itu pada apa yang tidak dapat dielakkan, engkau seharusnya tidak bersedih hati. (Bhagawad Gita II. 27)

Dan terkhusus bro @Emonbandi, anak Pak De Bandi, secara pribadi kita tak saling kenal, namun aku mengetahuimu melalui sosial media teman-temanku.

Meskipun sulit, tapi bersabarlah dan tabah menerima semua ini. Kesedihan dan kebahagiaan bersifat sementara dan akan bergantian datangnya.

Matrasparsastu kaunteya sitosnasukhaduhkhadah,
Agamapayino nityastamstitiksasva Bharata.

Artinya:

Hubunganya dengan segala sesuatu, akan menimbulkan dingin dan panas, senang dan sedih.
Keadaan ini tidaklah kekal, ia muncul dan menghilang, untuk itu engaku bersabarlah, oh arjuna. (Bhagawad Gita II. 14)

Sekali lagi, I Made Subandi tidak benar-benar meninggalkan kita. Sama seperti pendahulunya, I Wayan Brata, Lotring, Gde Manik, Mario dan lain lain, karya-karyanya akan selalu hidup di tengah-tengah kita. Tubuh boleh tiada, namun karya akan selalu hidup.

Selamat jalan I Made Subandi (1966-2023). We Love You. [T]

“Macan Ngerem” Sebelum “Tribute to Chrisye” di Festival Tepi Sawah 2018
Sendratari “Nawaruci Dewa Ruci”: Siasat Guru Drona Taklukan Bima
Bentuk Seni Pertunjukan Baru Itu Bernama “Sandhya Gita”
Tags: in memoriamkesenian baliSeniSMKN 3 SukawatiTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Natsir, Lelaki dari Lembah Gumanti

Next Post

Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
0
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

Read moreDetails

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
0
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

Read moreDetails

Kartini Hari Ini, Pertanyaan yang Belum Selesai

by Petrus Imam Prawoto Jati
April 21, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BULAN April, kita kembali secara khidmat mengingat nama Raden Ajeng Kartini dengan penuh hormat. Tentu saja karena jasa beliau yang...

Read moreDetails

NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

by Dede Putra Wiguna
April 20, 2026
0
NATO: No Action, Talk Only ─Ketika Wacana Menjadi Pelarian dari Tindakan

PERNAHKAH Anda menjumpai situasi di mana sebuah persoalan dibicarakan berulang-ulang, diperdebatkan panjang lebar, bahkan diposting di berbagai platform, namun tidak...

Read moreDetails

Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

by Agung Sudarsa
April 20, 2026
0
Kartini, Shakti, dan Kesadaran yang Terlupa

SETIAP peringatan Raden Ajeng Kartini sering kali berhenti pada simbol: kebaya, kutipan surat, dan narasi emansipasi yang diulang. Namun jika...

Read moreDetails

Mungkinkah Budaya Adiluhung Baduy Rusak karena Pengaruh Digitalisasi dan Destinasi Wisata?

by Asep Kurnia
April 20, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

KITA dan siapa pun, akan begitu tercengang dengan berbagai perubahan fisik (lingkungan geografis) yang begitu cepat serta sporadis termasuk perubahan...

Read moreDetails

Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

by Jro Gde Sudibya
April 20, 2026
0
Tantangan Pariwisata Bali Utara dalam Paradigma Baru Industri Pariwisata

Paradigma Baru Industri Pariwisata Pasca Pandemi Covid-19 yang meluluhlantakkan perekonomian Bali, Industri Pariwisata Bali "mati suri", tumbuh negatif 9,3 persen...

Read moreDetails

Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

by Cindy May Siagian
April 19, 2026
0
Kata- kata pada Puisi ‘Hatiku Selembar Daun’ Karya Sapardi Djoko Damono, Bukan Makna Sebenarnya

MENURUT Suarta dan Dwipaya (2022:10), karya sastra adalah wadah untuk menuangkan gagasan dan kreativitas dari seseorang untuk mengajak pembaca mendiskusikan...

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co