2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita

I Putu Adi Putra Kencana by I Putu Adi Putra Kencana
October 17, 2023
in Esai
In Memoriam I Made Subandi : Dia Tidak Benar-benar Meninggalkan Kita

Kabar mengejutkan datang saat aku bangun tidur pagi ini. Kabar duka itu aku lihat melalui story whatsapp temanku yang telah diunggah jam 11 malam kurang 15 menit kemarin malam.

Kemudian aku chat personal yang bersangkutan. “Sajaan pak de bandi sing nu?”tanyaku.

Sembari menunggu balasan temanku tadi, aku buka grup whatsapp KAISAR 13 (Karawitan ISI Denpasar Angkatan 2013, grup WA kuliahku). Eh ternyata benar, hampir sama, teman-teman di grup WA ternyata sudah “ribut”  dari kemarin malam.

Dari WA aku tahu, Senin malam, 16 Oktober 2023, Pak De Bandi (begitu aku memanggilnya) sedang bermain tenis meja. Tiba-tiba ia pingsan, kemudian dilarikan ke rumah sakit, sampai akhirnya ia meninggal dunia. Katanya juga karena darah tingginya kumat. Seperti itu informasi yang aku dapatkan di grup WA kelasku.

Hmmm, sungguh aku ini memang kurang update informasi. Selanjutnya aku buka facebook untuk memastikan informasi tersebut, dan ternyata telah banyak teman-temanku membuat stori di facebook terkait kepulangan Pak De Bandi.

Dan di tengah secrol-secrol stori facebook, terlihat notifikasi balasan WA temanku tadi, “sajaan blitu”. Waduh.

Tapi benarkah Pak De Bandi telah tiada?

Aku rasa tidak. I Made Subandi tidak akan meninggalkan kita.

Pak De Bandi telah memberikan dedikasi yang luar biasa di dunia kesenian tradisi Bali, kususnya dunia karawitan (megambel). Banyak karya yang ia hasilkan dan sudah barang tentu karya-karyanya menjadi sumber inspirasi dan sumber penciptaan bagi komposer muda Bali dalam menciptakan komposisi karawitan Bali.

Sosoknya yang selalu nyentrik, gaya berpakaiannya yang ikonik dengan cara meudeng yang khas, mungkin saja itu untuk melindungi kepala botaknya yang ia pertahankan beberapa tahun belakangan ini. Entah kenapa memilih botak, akupun tak paham.

Demikian juga cara menuangkan gending. Ia seniman yang unik. Pak De Bandi dikenal dengan spontanitas  dan improvisasi yang luar biasa dalam menciptakan komposisi serta dalam bermain alat-alat musik. Seakan apa yang ada di kepalanya, sangat gampang ia terjemahkan dalam bentuk gegebug  dan senandung mulutnya.

Otaknya seperti menyimpan data gending yang tak terbatas, yang sewaktu-waktu bisa dikeluarkan jika diperlukan. Memang bakat yang luar biasa, bak Leonel Messi di dunia sepak bola.

Hal itu semua tentu akan terkenang di hati keluarga, kerabat, rekan, pengagum, murid-muridnya dan semua yang mengenal dia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sebenarnya aku bukan orang yang mengenal Pak De Bandi secara dekat. Menimba ilmu secara langsung pun aku tak pernah. Tapi ibarat Ekalawya yang menjadikan Drona sebagai guru secara diam-diam, aku pun demikian.

Aku rasa banyak di luar sana yang menjadikan Subandi sebagai guru secara diam-diam. Ya, sudah tentu belajar dari karya-karyanya. Terkhusus aku, salah satu karya Subandi di dunia karawitan yang aku idolakan hingga sekarang adalah ketika ia menggarap iringan pragmentari Lebur Kangsa dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) tahun 2007.

Dari iringan itu aku belajar tentang penggunaan bagian-bagian gending yang efektif dan efesian serta tepat sasaran untuk mengiringi setiap tokoh dan adegan dalam alur cerita dalam sebuah pragmentari. Di mana tidak semua perpindahan adegan dalam alur cerita harus diisyaratkan dengan menggunakan “kebyar”, serta penggunaan gending yang sama untuk mengiringi seorang tokoh.

Misalnya kapan pun tokoh Balarama yang mucul sebagai titik fokus, maka Pak De Bandi dalam karya ini akan membawa arah gending ke gending Balarama yang telah dimainkan sebelumnya. Demikian juga perlakuan yang sama diberikan kepada tokoh Krisna.

Tentu hal yang menjadikan karya ini semakin ikonik adalah melodi suling yang digunakan untuk mengiringi kemunculan tokoh Krisna. Ya, melodi itu sangat indah sekali.

Dan aku pernah membuat iringan pragmentari diajang PKB tahun 2018, Gugurnya Drona. Aku menjadikan iringan pragmentari Lebur Kangsa ini sebagai inspirasi utama dalam mencipta. Tentu masih banyak lagi karya Pak De Bandi yang aku dengarkan dan aku jadikan pelajaran.

Semisal Tabuh Kreasi Ceng-Ceng Kebes, Bintang Kartika, Ulu Chandra, Palu Gangsa, dan Bajradara yang selalu menjadi salah satu play list di saat aku ingin mendengar musik gamelan Bali.

***

I Made Subandi, lahir 23 Februari 1966. Ia merupakan anak kedua dari pasangan Made Dig dan Ni Wayan Saba. Ia lahir dan tinggal di Banjar Budeng Ireng, Desa Batuyang, Sukawati, Gianyar.  

Ayahnya merupakan seniman gender wayang yang terkenal. Karena itulah ia sudah terkena sentuhan seni sejak dini, terutama dari kedua orang tuanya.

Pada tahun 1984 ia bersekolah di KOKAR Bali (SMKN 3 Sukawati), kemudian melanjutkan pendidikan di STSI pada tahun 1988.

Dan pada tahun 2004 ia mendirikan Sanggar Seni Ceraken. Tidak hanya seniman  lokal saja yang menimba ilmu padanya, namun banyak muridnya yang berasal  dari berbagai belahan dunia seperti Amerika, India, Jepang dan lain-lain.

Sanggar Seni Ceraken juga kerap dijadikan tempat praktik kuliah lapangan (PKL) bagi mahasiswa ISI Denpasar.

Pada tahun 1999 Subandi melawat ke Amerika untuk mengajar kelompok gamelan Sekar Jaya, tepatnya di San Francisco.

Tahun 2015 ia mulai melakukan kolaborasi dengan Balawan & Batuan Etnic Fusion. Di sana ia sebagai pemain kendang sunda dan tabla. Adapun lagu yang viral yang ia dan Balawan bawakan adalah “Kle Nyakcak Nok.”

Selain dari semua itu, Subandi kerap dipercaya menjadi  pembina tabuh atau composer di ajang PKB di seluruh kabupaten di Bali. Banyak karya yang ia lahirkan,  baik berupa gending instrumental, maupun iringan tari. Baik itu di gong kebyar, semarpegulingan, angklung, bleganjur, gender wayang dan lainnya.

Diakhir ayatnya, I Made Subandi masih bersetatus pengajar di SMK 3 Sukawati dan telah diangkat PNS sejak 2014 setelah menjadi guru kontrak kurang lebih 20 tahun di sekolah itu.

***

Dari semua yang dikerjakan Subandi, dan dari semua pelajaran yang pernah diberikan kepada orang-orang, termasuk aku pribadi, maka sesungguhnya I Made Subandi tidaklah benar-benar meninggalkan kita.

Tubuh boleh terbakar oleh api, namun ide gagasan baik dalam bentuk pemikiraan maupun karya akan selalu hidup di tengah-tengah pelaku, pendengar dan pecinta musik karawitan Bali.

Maka dari itu, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada sanak keluarga yang ia tinggalkan, melalui tulisan ini kami segenap kerabat, rekan, murid bahkan pengagumnya turut berbela sungkawa atas berpulangnya Pak De Bandi ke Sang Pencipta.

Jatasya hi druvo mrtyur,
Dhruvam janma mrtasya ca,
Na tvam soritutn arhasi,
Tasmad apariharye’rthe

Artinya:

Karena pada apa yang lahir, kematian adalah pasti dan pasti pula kelahiran pada yang mati. Oleh karena itu pada apa yang tidak dapat dielakkan, engkau seharusnya tidak bersedih hati. (Bhagawad Gita II. 27)

Dan terkhusus bro @Emonbandi, anak Pak De Bandi, secara pribadi kita tak saling kenal, namun aku mengetahuimu melalui sosial media teman-temanku.

Meskipun sulit, tapi bersabarlah dan tabah menerima semua ini. Kesedihan dan kebahagiaan bersifat sementara dan akan bergantian datangnya.

Matrasparsastu kaunteya sitosnasukhaduhkhadah,
Agamapayino nityastamstitiksasva Bharata.

Artinya:

Hubunganya dengan segala sesuatu, akan menimbulkan dingin dan panas, senang dan sedih.
Keadaan ini tidaklah kekal, ia muncul dan menghilang, untuk itu engaku bersabarlah, oh arjuna. (Bhagawad Gita II. 14)

Sekali lagi, I Made Subandi tidak benar-benar meninggalkan kita. Sama seperti pendahulunya, I Wayan Brata, Lotring, Gde Manik, Mario dan lain lain, karya-karyanya akan selalu hidup di tengah-tengah kita. Tubuh boleh tiada, namun karya akan selalu hidup.

Selamat jalan I Made Subandi (1966-2023). We Love You. [T]

“Macan Ngerem” Sebelum “Tribute to Chrisye” di Festival Tepi Sawah 2018
Sendratari “Nawaruci Dewa Ruci”: Siasat Guru Drona Taklukan Bima
Bentuk Seni Pertunjukan Baru Itu Bernama “Sandhya Gita”
Tags: in memoriamkesenian baliSeniSMKN 3 SukawatiTokoh Seni
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Natsir, Lelaki dari Lembah Gumanti

Next Post

Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya

I Putu Adi Putra Kencana

I Putu Adi Putra Kencana

Biasa dipanggil dengan nama “Somat”. Lahir pada 29 Desember 1994 di Mengenuanyar, Jembrana Bali. Somat merupakan seorang seniman, komposer, pengajar tabuh yang berasal dari Jembrana. Ia mulai mengenal dunia megambel semenjak duduk di bangku SMP dan rutin mendapat kesempatan sebagai penabuh pada ajang PKB. Somat menimba ilmu di ISI Denpasar pada tahun 2013 dan berhasil mendapatkan gelar sarjananya ditahun 2017 dengan karya tugas akhir Sewagati. Selain bergelut di dunia seni, keseharian somat sekarang juga bekerja di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng sebagai Penyuluh Agama Hindu.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

Empati dalam Komunikasi Lintas Budaya

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co