24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Kupu-Kupu di Dalam Buku”

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
October 11, 2023
in Esai
“Kupu-Kupu di Dalam Buku”

Ilustrasi diolah dari gambar di internet

PRESIDEN SOEHARTO telah mencanangkan Mei sebagai Bulan Buku pada 1995, saat menjelang 50 tahun Indonesia Merdeka, dengan menjadikan Hardiknas sebagai momentum. Soeharto juga sempat mencanangkan September sebagai Bulan Gemar Membaca dengan   Hari Aksara Internasional (8 September) sebagai momentum dan 14 September sebagai Hari Kunjung Perpustakaan. 

Dua puluh satu tahun kemudian pada 2016, ketika Mendikbud dijabat Anies Baswedan juga menetapkan Mei sebagai Bulan Pendidikan. Dengan semangat Hardiknas. Anies Baswedan juga mewariskan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang sampai kini masih dilakukan  sekolah-sekolah.  Semua program itu bertautan dengan buku yang kini bentuknya bisa berupa buku cetak atau buku digital.

Artinya, betapa pentingnya arti membaca buku bagi dunia Pendidikan dalam memajukan peradaban sebuah bangsa. Tidak berlebihan bila Taufiq Ismail menjuduli salah satu puisinya, “Kupu-Kupu di dalam Buku”, yang menjadi judul tulisan ini.

Apa makna di balik perayaan dan pencanangan itu ? Pertama, para pemimpin bangsa khawatir rendahnya budaya membaca buku ini, tidak saja dari kaum rakyat biasa tetapi juga dari kaum terdidiknya. Kekhawatiran itu terlihat dari suburnya budaya menerabas dan pencapaian serba instan.  Sering munculnya berita plagiat di kalangan kaum terpelajar Indonesia adalah bukti rendahnya budaya literasi. Tantangan itu makin nyata pada zaman digital kini dengan respon serbacepat dan  apresiasi yang sama untuk sebuah pencapaian dengan ungkapan : mantap, keren, top, sebagai bentuk pujian..

Kedua, para pemimpin Indonesia dari masa ke masa paham betul dan sadar bahwa membaca (buku dengan berbagai variannya) itu penting untuk merawat ingatan dan membangun peradaban. Kaum literat sering menganalogikan kekayaan berupa buku atau lontar sebagai Candi Pustaka yang perlu terus dirawat, dibina, dan dikembangkan untuk menyehatkan batin bangsa selain juga menyehatkan raga bangsa seirama dengan Indonesia Raya, “… bangunlah jiwanya, bangunlah badannya…”. Orde Baru menyimplifikasikannya dengan pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

Walaupun Gerakan itu telah dilakukan lebih dari dua dekade, bahkan emberionya jauh sebelum Indonesia Merdeka yang ditandai dengan berdiri Commisie voor de Volkslectuur (Taman Bacaan Rakyat) oleh Belanda pada 14 September 1908, persoalan literasi di negeri ini belum menunjukkan perbaikan secara signifikan yang akarnya dapat diurai dari dunia Pendidikan.

Selama ini, dunia Pendidikan (dalam arti luas) kaya dengan ritual yang spiritnya masih terus-menerus harus diperjuangkan agar substansinya makin nyata adanya.  Itu pula sebabnya, berbagai gerakan yang dicanangkan dengan biaya besar berhenti seketika setelah kegiatan secara serimonial ditutup pejabat. Ritual selalu ramai pada awalnya, setelahnya nyaris tak terdengar.

Tidak berlebihan, dalam konteks literasi temuan Lukman Ali (2000)  menunjukkan  tidak satu pun ditemukan SMU (kini : SMA) di Indonesia yang melaksanakan pembelajaran  Sastra dengan kewajiban membaca, menganalisis, dan mendiskusikan buku karya sastra di kelas. 

Pada 1996, empat tahun sebelum temuan Lukman Ali yang mengatakan nol buku bagi Indonesia terkait pembelajaran Sastra dibandingkan dengan 13 negara yang diteliti,  Taufiq Ismail telah menulis puisi berjudul, “Kupu-Kupu di dalam Buku”.  Puisi ini mencerminkan kegundahan pengarang tentang rendahnya budaya baca buku di negeri ini yang berbeda dengan negara-negara maju.

“Ketika singgah di sebuah rumah, kulihat ada anak kecil bertanya tentang kupu-kupu
pada mamanya, dan mamanya tak bisa menjawab keingitahuan putrinya, kemudian katanya, “Tunggu mama buka ensiklopedia dulu, yang tahu tentang kupu-kupu”. dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama, di setasiun bis dan ruang tunggu kereta
api negeri ini buku dibaca, di perpustakaan Perguruan, kota dan desa buku
dibaca, di tempat penjualan buku laris dibeli, dan ensiklopedia yang terpajang
di ruang tamu tidak berselimut debu karena memang dibaca.

Puisi itu mengingatkan kita untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat di mana saja (desa), kapan saja (kala) dengan cara apa saja (patra) walaupun sudah mengantongi ijazah yang disebut  STTB (Surat Tanda Tamat Belajar). Seyogyanya STTB menjadi Surat Tetap Terus Belajar. Dengan begitu, orangtua, guru, tokoh masyarakat sama-sama belajar dengan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan. Argumentasi dibangun dengan rujukan buku-buku/jurnal  bermutu dari hasil penelitian yang dapat dipercaya dengan dukungan data akurat.

Setelah  78 tahun Indonesia merdeka  angka melek aksara menunjukkan peningkatan signifikan, dari  2 persen penduduknya yang melek aksara pada awal kemerdekaan,  kini sudah menjadi 96 persen yang melek aksara (Ismunandar Kompas.id, 8/9/2022)  Dari persentase kenaikan angka melek huruf  ini membanggakan tetapi tampak bias gender yang bertentangan dengan semangat demokratisasi pendidikan untuk mencerdaskan bangsa. Bangsa yang cerdas menjadi hak bagi seluruh warga negara tanpa padang bulu dan menjadi kewajiban bagi negara untuk mengusahakan dan memperjuangkannya.

Pemerintah juga terus-menerus mengusahakan pengadaan buku di sekolah-sekolah, taman bacaan masyarakat  terus diberdayakan,  perpustakaan desa juga terus digalakkan. Sekolah dapat menggunakan dana BOS untuk pengadaan buku teks dan nonteks termasuk pengadaan buku digital, langganan koran dan majalah. 

Pemerintah desa juga dapat menggunakan dana desa untuk memerkaya koleksi perpustakaan desa. Gairah membaca buku di kalangan masyarakat desa dapat  bekerjasama dengan Tripusat Pendidikan dengan masing-masing pusat ada penggeraknya seperti layaknya sekolah penggerak.  Cara-cara aktif-produktif dan menyenangkan  diagendakan. Pendongeng bisa diundang untuk penguatan membaca buku. Lomba-lomba digelar secara berjenjang untuk melahirkan duta baca/duta literasi desa.

Duta literasi desa bisa dioptimalkan dengan mengadakan konferensi duta literasi daerah, regional, dan nasional. Mereka dapat dimanfaatkan untuk mengedukasi masyarakat lapisan bawah agar terhindar dari berita bohong. Fungsi mencerdaskan kehidupan bangsa dapat dimulai dari sini. Dari desa. Ini perlu  langkah bersama sesuai dengan semangat Pengembangan Komunitas Berbasis Aset yang dilaksanakan di sekolah penggerak dengan Kurikulum Merdeka. [T]

  • BACA artikel lain dari penulis NYOMAN TINGKAT
Ki Hadjar Dewantara Melembutkan Kegarangan Chairil Anwar dan Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno
Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Tags: Literasiliterasi sekolahsastra
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Stroboscopic Effect”, Dramatisasi Objek Bergerak dalam Foto

Next Post

Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails
Next Post
Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

Membaca Ulang Kiprah Perempuan dalam Dinamika Dunia Seni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah
Ulas Pentas

Sakrum: Sebuah Proses Meretas Jarak Duduk Ayah

SEBAGAI penari, aku bergerak dari kode satu ke kode gerak lainnya, sementara ayahku yang merupakan seorang pematung, bergerak dalam duduknya....

by Yanik Parta
August 24, 2026
Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan
Pendidikan

Tikungan Desa Taro Dilengkapi Reflektor, Mahasiswa KKN-PPM XXXIII Udayana Dorong Keselamatan Pengguna Jalan

TIKUNGAN dengan jarak pandang terbatas menjadi titik yang membutuhkan perhatian lebih dari pengguna jalan. Karena itu, sejumlah tikungan di Desa...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo
Pop

“Jangan Lupakanku”, Single Kedua Thalia Gunawan dalam Balutan Koplo

SETELAH pop upbeat menjadi langkah pertamanya, Thalia Gunawan memilih koplo untuk melanjutkan perjalanan. Penyanyi muda asal Denpasar, Bali, itu menghadirkan...

by Dede Putra Wiguna
August 24, 2026
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma
Esai

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
Telenovela
Esai

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

by Angga Wijaya
August 24, 2026
Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini
Kritik Seni

Keringnya Iklim Diskursif Seni Rupa Bali Hari Ini

“Everybody In Bali Seems to be an artist” Kutipan itu persis terlontar 89 tahun lalu dari Miguel Covarrubias. Seorang seniman...

by Made Chandra
August 24, 2026
Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co