25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 24, 2023
in Esai
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

Chairil Anwar dan Soekarno | Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

HUBUNGAN Bung Karno dengan Chairil Anwar adalah hubungan  tekstual, antara pencatat dan yang dicatat dengan Syahrir sebagai katalisator. Bung Karno dicatat dalam puisi-puisi Chairil Anwar yang menggelorakan semangat kemerdekaan dan  saling menguatkan berbekal kekuatan literasi bermutu kelas dunia. Keduanya menyelam dalam dunia pemikiran besar dunia, yang mengantarkannya menjadi orang besar di bidang masing-masing.

Bukti bahwa Chairil Anwar adalah pencatat ulung tersirat dalam puisi  berjudul “Catetan  Th. 1946”. Seperti juga mahasiswa mencatat ujaran dosen yang mengajar, Chairil tampaknya juga membuat catatan berdasarkan suasana kebatinan bangsanya pada 1946.  Pada bagian “Catetan Th. 1946”, Chairil Anwar antara lain menulis:

…
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
…
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian
dari sandiwara sekarang
…
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
…
Kita memburu arti atau diseraphan kepada
lahir sempat
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
Asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorakan kering
Sedikit mau basah!

“Catetan  Th.1946” tampaknya catatan sejarah senyata-nyatanya kalau dihubungkan dengan situasi saat itu. Pada 1946 terjadi percobaan kudeta yang ingin menggulingkan Syahrir selaku Perdana Menteri dengan alasan terlalu kompromistis. Suasana itu menjadi atensi Bung Karno untuk menyelamatkan Sjahrir.

Latar belakang itu mengilhami Chairil Anwar untuk mencatatnya, yang baik dan yang jahat karena semuanya punya tempat. Ibarat cerita, tokoh protagonis dan antagonis mesti ditampilkan karena di situlah sesungguhnya elan perjuangan berdialektika menemukan keseimbangan.

Jika dicermati,  puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” dan “Krawang Bekasi” jelas pula kolaborasi pencatat/pewarta dengan yang diwartakan menjadi fokus: Bung Karno.

Suasana kebatinan nyata terasa benar. Oleh karena itu, ketika membaca sejarah bangsa, tidaklah tabu untuk  menyandingkan fakta sejarah dengan fiksi yang lahir dalam kurun waktu se-zaman.

Puisi sebagai karya sastra paling purba memunyai kepadatan diksi yang perlu kupasan kontekstual di tangan sejarawan dan sastrawan. Inilah yang disebut kolaborasi dalam  pembelajaran abad ke-21.

Demikian pula dengan puisi Krawang Bekasi yang dituduh sebagai plagiat, tetapi pembaca Indonesia yang membaca sejarah perjuangan bangsanya akan merasakan napas perjuangan dalam puisi tersebut.

Terlepas dari polemik terkait keberadaan Chairil Anwar yang hanya satu-dua puisi dinyatakan saduran, tidak sepantasnya Chairil ditenggelamkan namanya, sebagaimana ia tulis sendiri dalam “Catetan Th. 1946”. Semua harus dicatat.

Selain itu, keduanya juga seniman yang sederhana sebagaimana seniman Bali yang menjadikan seni sebagai ladang untuk pengabdian (ngayah)bagi nusa dan bangsa. Ketika menulis teks Proklamasi, misalnya, Bung Karno menuliskan di atas sobekan kertas dengan pena pinjaman.

“…seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti dipakai pada buku anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri menuliskan kata-kata Proklamasi sepanjang garis-garis biru itu… bahkan aku tidak ingat lagi dari mana datangnya pena yang kupakai. Kukira aku meminjamnya dari seseorang”—Cindy Adam, 1982: 338.

Dari sejarah juga terbaca teks Proklamasi tulisan tangan Sukarno dipenuhi dengan coretan sebagai bukti bahwa pilihan diksi dalam Proklamasi yang kita kenal sekarang bukanlah proses sekali jadi.

Seperti juga seorang menulis karya sastra pada umumnya, selalu melalui proses seleksi kata untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Bung Karno menjadi konseptor, editor, sekaligus proklamator dari pernyataan kemerdekaan yang disebut Proklamasi.

Begitu pula Chairil Anwar dalam melahirkan puisi-puisinya. Tidaklah proses sekali jadi, tetapi melalui katarsis dan permenungan mendalam dengan seleksi ketat kata. Walaupun kemunculannya dengan mendobrak, tetap dengan identitas kemelayuannya yang kental dan sesekali menyelinap dalam puisinya. Inilah yang disebut Soekarno sebagai “berkepribadian dalam kebudayaan seturut dengan mantra trisaktinya”.

Proklamasi sebagai puncak kulminasi perjuangan bangsa Indonesia di tangan Sukarno adalah puisi mahabesar setelah puisi besar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dengan memerhatikan histori lahirnya Proklamasi jelaslah bahwa negeri ini dimerdekakan atas dasar semangat dan penuh kesederhanaan, jauh dari kemewahan.

Begitu pula saat pembacaan Proklamasi dengan sangat sederhana tanpa persiapan. Tiang bendera Merah Putih dibuat dari bambu runcing dengan potongan tidak rapi. Bendera  Merah Putih dijahit tangan oleh Fatmati dengan sangat sederhana.

Bahkan, sesaat setelah Proklamasi dibacakan, tidak ada syukuran resmi. Bung Karno merayakan syukuran dengan makan sate 50 tusuk dari pedagang di pinggir kali yang kotor.

Hal itu mencerminkan Bung Karno pemimpin yang  menyatu dengan rakyat yang dipimpin, sebagaimana filosofi Jawa, dalam Manungggaling Kaula Gusti sebagai representasi kepemimpinan ningrat merakyat ala Ki Hadjar Dewantara, atau blusukan ala Presiden Jokowi. Hubungan demikian rekat juga dicatat oleh Chairil Anwar dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”:

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
di panggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948

Puisi di atas mencitrakan ajakan Chairil Anwar membuat janji hati Kemerdekaan dengan Bung Karno sebagai representasi keterhubungan tidak saja kepada rakyat kebanyakan—sebagaimana pedagang sate tak berbaju—tetapi juga penyair urakan yang menggelandang demi bangsa yang dicintai.

Tidak pernah kita tahu bila Chairil Anwar bukan saudara dekat Syahrir, apakah Chairil Anwar berani menulis puisi seperti itu? Berani rapat di sisi Bung Karno dengan menjadikan diri api dan laut, sebuah idiom paradoks: api yang panas membakar dan laut yang mengalir dingin menghanyutkan bin membahayakan![T]

Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Ida, Siapa Dia Sebenarnya? | Tanggapan Atas Esai Pranita Dewi
Tags: Chairil AnwarPuisisastraSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin

Next Post

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co