25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

I Nyoman Tingkat by I Nyoman Tingkat
September 24, 2023
in Esai
Dari Chairil Anwar ke Bung Karno

Chairil Anwar dan Soekarno | Ilustrasi diolah oleh tatkala.co

HUBUNGAN Bung Karno dengan Chairil Anwar adalah hubungan  tekstual, antara pencatat dan yang dicatat dengan Syahrir sebagai katalisator. Bung Karno dicatat dalam puisi-puisi Chairil Anwar yang menggelorakan semangat kemerdekaan dan  saling menguatkan berbekal kekuatan literasi bermutu kelas dunia. Keduanya menyelam dalam dunia pemikiran besar dunia, yang mengantarkannya menjadi orang besar di bidang masing-masing.

Bukti bahwa Chairil Anwar adalah pencatat ulung tersirat dalam puisi  berjudul “Catetan  Th. 1946”. Seperti juga mahasiswa mencatat ujaran dosen yang mengajar, Chairil tampaknya juga membuat catatan berdasarkan suasana kebatinan bangsanya pada 1946.  Pada bagian “Catetan Th. 1946”, Chairil Anwar antara lain menulis:

…
Kupahat batu nisan sendiri dan kupagut.
…
Kita – anjing diburu – hanya melihat sebagian
dari sandiwara sekarang
…
Lahir seorang besar dan tenggelam beratus ribu
Keduanya harus dicatet, keduanya dapat tempat.
…
Kita memburu arti atau diseraphan kepada
lahir sempat
Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu
Asah,
Tulis karena kertas gersang, tenggorakan kering
Sedikit mau basah!

“Catetan  Th.1946” tampaknya catatan sejarah senyata-nyatanya kalau dihubungkan dengan situasi saat itu. Pada 1946 terjadi percobaan kudeta yang ingin menggulingkan Syahrir selaku Perdana Menteri dengan alasan terlalu kompromistis. Suasana itu menjadi atensi Bung Karno untuk menyelamatkan Sjahrir.

Latar belakang itu mengilhami Chairil Anwar untuk mencatatnya, yang baik dan yang jahat karena semuanya punya tempat. Ibarat cerita, tokoh protagonis dan antagonis mesti ditampilkan karena di situlah sesungguhnya elan perjuangan berdialektika menemukan keseimbangan.

Jika dicermati,  puisi “Persetujuan dengan Bung Karno” dan “Krawang Bekasi” jelas pula kolaborasi pencatat/pewarta dengan yang diwartakan menjadi fokus: Bung Karno.

Suasana kebatinan nyata terasa benar. Oleh karena itu, ketika membaca sejarah bangsa, tidaklah tabu untuk  menyandingkan fakta sejarah dengan fiksi yang lahir dalam kurun waktu se-zaman.

Puisi sebagai karya sastra paling purba memunyai kepadatan diksi yang perlu kupasan kontekstual di tangan sejarawan dan sastrawan. Inilah yang disebut kolaborasi dalam  pembelajaran abad ke-21.

Demikian pula dengan puisi Krawang Bekasi yang dituduh sebagai plagiat, tetapi pembaca Indonesia yang membaca sejarah perjuangan bangsanya akan merasakan napas perjuangan dalam puisi tersebut.

Terlepas dari polemik terkait keberadaan Chairil Anwar yang hanya satu-dua puisi dinyatakan saduran, tidak sepantasnya Chairil ditenggelamkan namanya, sebagaimana ia tulis sendiri dalam “Catetan Th. 1946”. Semua harus dicatat.

Selain itu, keduanya juga seniman yang sederhana sebagaimana seniman Bali yang menjadikan seni sebagai ladang untuk pengabdian (ngayah)bagi nusa dan bangsa. Ketika menulis teks Proklamasi, misalnya, Bung Karno menuliskan di atas sobekan kertas dengan pena pinjaman.

“…seseorang memberikan buku catatan bergaris-garis biru seperti dipakai pada buku anak sekolah. Aku menyobeknya selembar dan dengan tanganku sendiri menuliskan kata-kata Proklamasi sepanjang garis-garis biru itu… bahkan aku tidak ingat lagi dari mana datangnya pena yang kupakai. Kukira aku meminjamnya dari seseorang”—Cindy Adam, 1982: 338.

Dari sejarah juga terbaca teks Proklamasi tulisan tangan Sukarno dipenuhi dengan coretan sebagai bukti bahwa pilihan diksi dalam Proklamasi yang kita kenal sekarang bukanlah proses sekali jadi.

Seperti juga seorang menulis karya sastra pada umumnya, selalu melalui proses seleksi kata untuk menggambarkan keadaan yang sesungguhnya. Bung Karno menjadi konseptor, editor, sekaligus proklamator dari pernyataan kemerdekaan yang disebut Proklamasi.

Begitu pula Chairil Anwar dalam melahirkan puisi-puisinya. Tidaklah proses sekali jadi, tetapi melalui katarsis dan permenungan mendalam dengan seleksi ketat kata. Walaupun kemunculannya dengan mendobrak, tetap dengan identitas kemelayuannya yang kental dan sesekali menyelinap dalam puisinya. Inilah yang disebut Soekarno sebagai “berkepribadian dalam kebudayaan seturut dengan mantra trisaktinya”.

Proklamasi sebagai puncak kulminasi perjuangan bangsa Indonesia di tangan Sukarno adalah puisi mahabesar setelah puisi besar Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Dengan memerhatikan histori lahirnya Proklamasi jelaslah bahwa negeri ini dimerdekakan atas dasar semangat dan penuh kesederhanaan, jauh dari kemewahan.

Begitu pula saat pembacaan Proklamasi dengan sangat sederhana tanpa persiapan. Tiang bendera Merah Putih dibuat dari bambu runcing dengan potongan tidak rapi. Bendera  Merah Putih dijahit tangan oleh Fatmati dengan sangat sederhana.

Bahkan, sesaat setelah Proklamasi dibacakan, tidak ada syukuran resmi. Bung Karno merayakan syukuran dengan makan sate 50 tusuk dari pedagang di pinggir kali yang kotor.

Hal itu mencerminkan Bung Karno pemimpin yang  menyatu dengan rakyat yang dipimpin, sebagaimana filosofi Jawa, dalam Manungggaling Kaula Gusti sebagai representasi kepemimpinan ningrat merakyat ala Ki Hadjar Dewantara, atau blusukan ala Presiden Jokowi. Hubungan demikian rekat juga dicatat oleh Chairil Anwar dalam puisi “Persetujuan dengan Bung Karno”:

Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengar bicaramu,
di panggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh
1948

Puisi di atas mencitrakan ajakan Chairil Anwar membuat janji hati Kemerdekaan dengan Bung Karno sebagai representasi keterhubungan tidak saja kepada rakyat kebanyakan—sebagaimana pedagang sate tak berbaju—tetapi juga penyair urakan yang menggelandang demi bangsa yang dicintai.

Tidak pernah kita tahu bila Chairil Anwar bukan saudara dekat Syahrir, apakah Chairil Anwar berani menulis puisi seperti itu? Berani rapat di sisi Bung Karno dengan menjadikan diri api dan laut, sebuah idiom paradoks: api yang panas membakar dan laut yang mengalir dingin menghanyutkan bin membahayakan![T]

Dari Chairil Anwar ke Ki Hadjar Dewantara
Pertarungan Bangsawan Oesoel Vs Bangsawan Pikiran 
Ida: Perempuan, Sajak dan Visi Literer Chairil Anwar
Ida, Siapa Dia Sebenarnya? | Tanggapan Atas Esai Pranita Dewi
Tags: Chairil AnwarPuisisastraSoekarno
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Orang-Orang Pulau yang Tersingkir: Lima Cerita B.M. Syamsuddin

Next Post

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

I Nyoman Tingkat

I Nyoman Tingkat

Kepala SMA Negeri 2 Kuta Selatan, Bali

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post
Pawisik Durga, Galungan, dan Cinta Kasih

Ulah Telu dalam Niti Raja Sasana: Cara Menakar Rekam Jejak Pemimpin dari Literasi Politik Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co