24 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malu jadi WNI: Renovasi Otak, Revolusi Mental, Evaluasi Budaya dan Adaptasi Perilaku

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

SAYA tidak pernah semalu ini menjadi orang Indonesia, saat ini. Banyak orang yang selalu dengan senantiasa membangga-banggakan dirinya sebagai orang Indonesia. Katanya, kita punya adat istiadat yang kental, kita punya beragam budaya dan kesenian tradisional yang begitu membanggakan. Lalu apa? Apakah negara lain tidak punya adat istiadat mereka sendiri? Apakah mereka tidak memiliki seni khas mereka sendiri? Apa hanya itu yang bisa dibanggakan?

Sayangnya iya. Kita memang tersusun dari berbagai jenis adat budaya, agama dan tradisi. Lalu di mana istimewanya? Maaf, bukan maksud saya mencemooh budaya, tradisi dan agama kita yang begitu menarik jika dibandingkan dengan negara lain, mungkin. Ya, hal itu membuat kita bangga sebagai orang Indonesia, tapi bukan berarti tidak ada hal yang memalukan sebagai orang Indonesia. Ada beberapa hal yang membuat saya malu sebagai orang Indonesia.

Hal sederhana pertama yang membuat saya cukup malu, WAKTU. Bagi saya, kita terlalu toleran terhadap kebiasaan tidak menghargai waktu. Sepele mungkin, “Ah, cuma terlambat 15 menit,” “Ah baru 30 menit,” “Lagian kan jadwalnya pasti dimajukan 1 jam, soalnya mereka tahu kita pasti datangnya lebih lambat 1 jam.” Memuakkan!

Saya tidak bermaksud untuk mengeneralisasi bahwa semua orang Indonesia memfleksibelkan waktu, tapi kebanyakan dan kebiasaan kita berpikir seperti itu merupakan sebuah indikasi bangsa yang mengalami kemunduran. Masalah “jam karet” mungkin terlihat sepele, namun itu merupakan hal kecil yang menjadi fondasi sebuah komunitas untuk belajar menghargai. Jika waktu saja tidak dihargai, bagaimana mau menghargai hal lain?

Hal yang kedua yang sangat miris di pandangan saya, SEKOLAH. Sekolah kini menjadi ajang eksperimen pemerintah untuk menunjukkan kedigdayaannya. Berganti pemerintahan, berganti pula kurikulum. Lalu apa manfaatnya? Ketidakstabilan pengembangan pendidikan. Saya ingin sedikit realistis. Jaman sekarang, murid sekolah hanya untuk mendapatkan nilai dan lulus saja. Esensi sekolah sebagai institusi tempat anak-anak belajar mulai memudar. Peran sekolah dan sistem pendidikan formal sebagai sarana belajar telah bergeser makna menjadi sarana eksperimen pemerintah dan pemberian cap (baca: nilai) semata bagi siswa.

Tragisnya lagi, nilai-nilai yang mereka dapatkan adalah nilai cuma-cuma yang diberikan guru karena takut apabila muridnya tidak lulus. Sangat salah menurut saya. Sekolah tidak hanya bertujuan untuk meluluskan murid, tapi lebih penting dari itu adalah untuk membuat mereka memiliki cara berpikir yang logis, rasional, toleran dan apresiatif.  Katanya pendidikan karakter? Bagaimana mau membangun karakter jika kelulusan mereka dipaksakan? Seorang anak seharusnya diberikan kesempatan untuk gagal yang terbimbing, karena dengan itulah mereka bisa belajar untuk memotivasi dan mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.

Hal ketiga yang menjadi sorotan saya adalah, TELEVISI. Saya sangat sedih sekali ketika hari Minggu dan yang saya tonton di televisi adalah acara-acara basa-basi yang memaparkan kehidupan pribadi selebritis (yang saya yakini hanyalah hasil rekayasa) yang katanya adalah reality show. Sangat sedih saya bahwa hari Minggu, satu-satunya hari kebebasan bagi anak kecil telah direnggut. Saat saya kecil justru pada hari Minggu saya rajin bangun pagi, karena acara kartun dan acara anak-anak ditayangkan mulai dari pagi sampai sore.

Tapi sekarang, yang memenuhi televisi, dalam hal ini hari Minggu, adalah acara-acara yang katanya reality show, acara-acara politik hingga acara musik yang justru digunakan sebagai acara curhat. Aneh sebenarnya, kenapa seseorang mau mempublikasikan kehidupan pribadinya. Sangat aneh. Sangat tidak masuk akal. Bagi saya, anak-anak masa kini telah direnggut masa kanak-kanaknya karena mereka dengan gampangnya terekspos ke acara-acara ataupun media yang lebih layak disuguhkan kepada orang-orang 18 tahun ke atas. Sangat saya sayangkan.

Tidak berhenti sampai di sana, yang selanjutnya membuat saya sedih adalah, keterbelakangan  mental kita dalam BERBIROKRASI. Realistis saja, banyak orang yang dengan gagahnya menepuk dada karena mendapatkan suatu pekerjaan, utamanya dalam pemerintahan. Padahal mereka menggunakan “orang dalam” untuk memasukkan nama mereka ke dalam daftar pegawai institusi-institusi tersebut.

Sekali lagi, saya tidak mengeneralisasi masyarakat kita. Saya yakin sekali banyak yang mendapatkan pekerjaan karena mereka memang berhak dan berkualifikasi untuk pekerjaan tersebut. Tapi saya masih menyayangkan pendapat atau pola pikir banyak orang bahwa pekerjaan itu harus dibeli. Sungguh aneh, orang yang mencari uang harus mengeluarkan uang dulu.

Di samping pekerjaan, masih banyak dari kita yang mau menggampangkan urusan adminstrasi birokrasi. Contohnya saja, calo pembuatan SIM, calo pembuatan paspor, dan calo-calo lainnya masih melenggang berkeliaran. Ini juga satu hal lain yang menunjukkan betapa terbelakangnya mental kita. Kalau ingin cepat dan gampang bayar saja pegawainya. Saya menangis. Kenapa hanya karena orang lain melakukan hal tersebut kita merasa harus melakukan hal yang sama? Saya menangis karena akal sehat dan mental kita telah punah. Apa tidak bisa kita mengikuti aturan dan berusaha dengan diri sendiri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan?

Yang terakhir yang begitu membuat saya marah dan sedih akhir-akhir ini, kemunduran kita dalam BERDEMOKRASI. Hati saya teriris ketika berpikir bahwa perjuangan para pejuang ‘98 kini disalahgunakan. Mereka berjuang untuk kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berpikir dan kebebasan lainnya. Kini semuanya terlalu bebas, dan saking bebasnya mereka menyalahgunakan kebebasannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Menyuarakkan aspirasi boleh saja, tapi tetaplah menyediakan hati yang lapang untuk segala keputusan.

Awalnya saya ragu untuk menulis artikel ini. Namun kesabaran saya untuk mentoleransi hilangnya akal sehat dan toleransi di negeri ini tidak mampu lagi terbendung ketika hakim memvonis 2 tahun penjara untuk Ahok. Jujur saya mungkin sedikit sinis jika mengatakan bahwa demo untuk memenjarakan Ahok yang dilangsungkan berkali-kali oleh jutaan massa itu tercampur dengan muatan politik. Tapi secara logika, bagi saya, tidak layak orang seperti Ahok dipenjara hanya karena satu kesalahan sebagaimana yang dituduhkan itu.

Jika melihat kontribusi Ahok bagi warga Jakarta semasa menjadi gubernur, saya rasa kesalahannya itu tidak sebanding dengan kontribusi yang telah ia berikan. Apalagi, Ahok sudah meminta maaf berkali-kali kepada mereka yang merasa dinistakan. Sangat konyol dan sangat tidak masuk akal jika ini semua dikatakan tidak ada adukan politik di dalamnya.

Maaf jika tulisan ini terbawa kemana-mana. Saya bukan tipe orang yang suka politik dan sejenisnya. Saya hanya sangat geram melihat begitu mundur dan terbelakangnya akal sehat kita dan mental kita sebagai manusia. Melihat beberapa hal di atas, saya ingin memotivasi kita semua untuk merevolusi mental, merenovasi otak, mengevaluasi budaya, dan mengadaptasi perilaku yang layaknya perlu diadaptasi untuk perkembangan mental dan perilaku serta pembangunan karakter yang lebih baik bagi kita sebagai manusia, tidak hanya sebagai orang Indonesia, tapi sebagai manusia secara umum.

Hanya sekadar curahan pemikiran sederhana saya saja. Katanya kita bebas berpendapat bukan? Kalau orang lain memiliki pendapat berbeda, lapangkanlah hati untuk menerima pendapat tersebut. Mari “telanjangi” sedikit pikiran kita agar lebih terbuka dan mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi perspektif dan mampu menanggapi segala hal dengan lebih bijak.

Salam damai. (T)

Tags: birokrasidemokrasiIndonesia
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Jokowi Presiden, Ahok Masuk Tahanan – Kisah (Seakan) Drama Sepasang Tokoh

Next Post

Cinta Kasih Penjaga Kebhinekaan – Renungan Waisak 2017

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails
Next Post

Cinta Kasih Penjaga Kebhinekaan – Renungan Waisak 2017

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026
Budaya

Bupati Sutjidra dan Wabup Supriatna Larut dalam Kemeriahan Seni Bersama Masyarakat di Bulfest 2026

Semarak Buleleng Festival 2026 terus memuncak. Pada malam kelima, suasana Kawasan Praja Mandala Singa Ambara Raja dipenuhi canda, musik, dan...

by tatkala
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [5]: Penerbit yang Tidak Pernah Menolak

Buka KBM App, atau Wattpad, atau NovelToon, atau GoodNovel, atau salah satu dari selusin platform serupa yang tumbuh dalam ekosistem...

by Andre Syahreza
August 23, 2026
PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co