3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malu jadi WNI: Renovasi Otak, Revolusi Mental, Evaluasi Budaya dan Adaptasi Perilaku

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

SAYA tidak pernah semalu ini menjadi orang Indonesia, saat ini. Banyak orang yang selalu dengan senantiasa membangga-banggakan dirinya sebagai orang Indonesia. Katanya, kita punya adat istiadat yang kental, kita punya beragam budaya dan kesenian tradisional yang begitu membanggakan. Lalu apa? Apakah negara lain tidak punya adat istiadat mereka sendiri? Apakah mereka tidak memiliki seni khas mereka sendiri? Apa hanya itu yang bisa dibanggakan?

Sayangnya iya. Kita memang tersusun dari berbagai jenis adat budaya, agama dan tradisi. Lalu di mana istimewanya? Maaf, bukan maksud saya mencemooh budaya, tradisi dan agama kita yang begitu menarik jika dibandingkan dengan negara lain, mungkin. Ya, hal itu membuat kita bangga sebagai orang Indonesia, tapi bukan berarti tidak ada hal yang memalukan sebagai orang Indonesia. Ada beberapa hal yang membuat saya malu sebagai orang Indonesia.

Hal sederhana pertama yang membuat saya cukup malu, WAKTU. Bagi saya, kita terlalu toleran terhadap kebiasaan tidak menghargai waktu. Sepele mungkin, “Ah, cuma terlambat 15 menit,” “Ah baru 30 menit,” “Lagian kan jadwalnya pasti dimajukan 1 jam, soalnya mereka tahu kita pasti datangnya lebih lambat 1 jam.” Memuakkan!

Saya tidak bermaksud untuk mengeneralisasi bahwa semua orang Indonesia memfleksibelkan waktu, tapi kebanyakan dan kebiasaan kita berpikir seperti itu merupakan sebuah indikasi bangsa yang mengalami kemunduran. Masalah “jam karet” mungkin terlihat sepele, namun itu merupakan hal kecil yang menjadi fondasi sebuah komunitas untuk belajar menghargai. Jika waktu saja tidak dihargai, bagaimana mau menghargai hal lain?

Hal yang kedua yang sangat miris di pandangan saya, SEKOLAH. Sekolah kini menjadi ajang eksperimen pemerintah untuk menunjukkan kedigdayaannya. Berganti pemerintahan, berganti pula kurikulum. Lalu apa manfaatnya? Ketidakstabilan pengembangan pendidikan. Saya ingin sedikit realistis. Jaman sekarang, murid sekolah hanya untuk mendapatkan nilai dan lulus saja. Esensi sekolah sebagai institusi tempat anak-anak belajar mulai memudar. Peran sekolah dan sistem pendidikan formal sebagai sarana belajar telah bergeser makna menjadi sarana eksperimen pemerintah dan pemberian cap (baca: nilai) semata bagi siswa.

Tragisnya lagi, nilai-nilai yang mereka dapatkan adalah nilai cuma-cuma yang diberikan guru karena takut apabila muridnya tidak lulus. Sangat salah menurut saya. Sekolah tidak hanya bertujuan untuk meluluskan murid, tapi lebih penting dari itu adalah untuk membuat mereka memiliki cara berpikir yang logis, rasional, toleran dan apresiatif.  Katanya pendidikan karakter? Bagaimana mau membangun karakter jika kelulusan mereka dipaksakan? Seorang anak seharusnya diberikan kesempatan untuk gagal yang terbimbing, karena dengan itulah mereka bisa belajar untuk memotivasi dan mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.

Hal ketiga yang menjadi sorotan saya adalah, TELEVISI. Saya sangat sedih sekali ketika hari Minggu dan yang saya tonton di televisi adalah acara-acara basa-basi yang memaparkan kehidupan pribadi selebritis (yang saya yakini hanyalah hasil rekayasa) yang katanya adalah reality show. Sangat sedih saya bahwa hari Minggu, satu-satunya hari kebebasan bagi anak kecil telah direnggut. Saat saya kecil justru pada hari Minggu saya rajin bangun pagi, karena acara kartun dan acara anak-anak ditayangkan mulai dari pagi sampai sore.

Tapi sekarang, yang memenuhi televisi, dalam hal ini hari Minggu, adalah acara-acara yang katanya reality show, acara-acara politik hingga acara musik yang justru digunakan sebagai acara curhat. Aneh sebenarnya, kenapa seseorang mau mempublikasikan kehidupan pribadinya. Sangat aneh. Sangat tidak masuk akal. Bagi saya, anak-anak masa kini telah direnggut masa kanak-kanaknya karena mereka dengan gampangnya terekspos ke acara-acara ataupun media yang lebih layak disuguhkan kepada orang-orang 18 tahun ke atas. Sangat saya sayangkan.

Tidak berhenti sampai di sana, yang selanjutnya membuat saya sedih adalah, keterbelakangan  mental kita dalam BERBIROKRASI. Realistis saja, banyak orang yang dengan gagahnya menepuk dada karena mendapatkan suatu pekerjaan, utamanya dalam pemerintahan. Padahal mereka menggunakan “orang dalam” untuk memasukkan nama mereka ke dalam daftar pegawai institusi-institusi tersebut.

Sekali lagi, saya tidak mengeneralisasi masyarakat kita. Saya yakin sekali banyak yang mendapatkan pekerjaan karena mereka memang berhak dan berkualifikasi untuk pekerjaan tersebut. Tapi saya masih menyayangkan pendapat atau pola pikir banyak orang bahwa pekerjaan itu harus dibeli. Sungguh aneh, orang yang mencari uang harus mengeluarkan uang dulu.

Di samping pekerjaan, masih banyak dari kita yang mau menggampangkan urusan adminstrasi birokrasi. Contohnya saja, calo pembuatan SIM, calo pembuatan paspor, dan calo-calo lainnya masih melenggang berkeliaran. Ini juga satu hal lain yang menunjukkan betapa terbelakangnya mental kita. Kalau ingin cepat dan gampang bayar saja pegawainya. Saya menangis. Kenapa hanya karena orang lain melakukan hal tersebut kita merasa harus melakukan hal yang sama? Saya menangis karena akal sehat dan mental kita telah punah. Apa tidak bisa kita mengikuti aturan dan berusaha dengan diri sendiri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan?

Yang terakhir yang begitu membuat saya marah dan sedih akhir-akhir ini, kemunduran kita dalam BERDEMOKRASI. Hati saya teriris ketika berpikir bahwa perjuangan para pejuang ‘98 kini disalahgunakan. Mereka berjuang untuk kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berpikir dan kebebasan lainnya. Kini semuanya terlalu bebas, dan saking bebasnya mereka menyalahgunakan kebebasannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Menyuarakkan aspirasi boleh saja, tapi tetaplah menyediakan hati yang lapang untuk segala keputusan.

Awalnya saya ragu untuk menulis artikel ini. Namun kesabaran saya untuk mentoleransi hilangnya akal sehat dan toleransi di negeri ini tidak mampu lagi terbendung ketika hakim memvonis 2 tahun penjara untuk Ahok. Jujur saya mungkin sedikit sinis jika mengatakan bahwa demo untuk memenjarakan Ahok yang dilangsungkan berkali-kali oleh jutaan massa itu tercampur dengan muatan politik. Tapi secara logika, bagi saya, tidak layak orang seperti Ahok dipenjara hanya karena satu kesalahan sebagaimana yang dituduhkan itu.

Jika melihat kontribusi Ahok bagi warga Jakarta semasa menjadi gubernur, saya rasa kesalahannya itu tidak sebanding dengan kontribusi yang telah ia berikan. Apalagi, Ahok sudah meminta maaf berkali-kali kepada mereka yang merasa dinistakan. Sangat konyol dan sangat tidak masuk akal jika ini semua dikatakan tidak ada adukan politik di dalamnya.

Maaf jika tulisan ini terbawa kemana-mana. Saya bukan tipe orang yang suka politik dan sejenisnya. Saya hanya sangat geram melihat begitu mundur dan terbelakangnya akal sehat kita dan mental kita sebagai manusia. Melihat beberapa hal di atas, saya ingin memotivasi kita semua untuk merevolusi mental, merenovasi otak, mengevaluasi budaya, dan mengadaptasi perilaku yang layaknya perlu diadaptasi untuk perkembangan mental dan perilaku serta pembangunan karakter yang lebih baik bagi kita sebagai manusia, tidak hanya sebagai orang Indonesia, tapi sebagai manusia secara umum.

Hanya sekadar curahan pemikiran sederhana saya saja. Katanya kita bebas berpendapat bukan? Kalau orang lain memiliki pendapat berbeda, lapangkanlah hati untuk menerima pendapat tersebut. Mari “telanjangi” sedikit pikiran kita agar lebih terbuka dan mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi perspektif dan mampu menanggapi segala hal dengan lebih bijak.

Salam damai. (T)

Tags: birokrasidemokrasiIndonesia
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Jokowi Presiden, Ahok Masuk Tahanan – Kisah (Seakan) Drama Sepasang Tokoh

Next Post

Cinta Kasih Penjaga Kebhinekaan – Renungan Waisak 2017

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Cinta Kasih Penjaga Kebhinekaan – Renungan Waisak 2017

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co