3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Malu jadi WNI: Renovasi Otak, Revolusi Mental, Evaluasi Budaya dan Adaptasi Perilaku

Yoga Pramartha by Yoga Pramartha
February 2, 2018
in Opini

SAYA tidak pernah semalu ini menjadi orang Indonesia, saat ini. Banyak orang yang selalu dengan senantiasa membangga-banggakan dirinya sebagai orang Indonesia. Katanya, kita punya adat istiadat yang kental, kita punya beragam budaya dan kesenian tradisional yang begitu membanggakan. Lalu apa? Apakah negara lain tidak punya adat istiadat mereka sendiri? Apakah mereka tidak memiliki seni khas mereka sendiri? Apa hanya itu yang bisa dibanggakan?

Sayangnya iya. Kita memang tersusun dari berbagai jenis adat budaya, agama dan tradisi. Lalu di mana istimewanya? Maaf, bukan maksud saya mencemooh budaya, tradisi dan agama kita yang begitu menarik jika dibandingkan dengan negara lain, mungkin. Ya, hal itu membuat kita bangga sebagai orang Indonesia, tapi bukan berarti tidak ada hal yang memalukan sebagai orang Indonesia. Ada beberapa hal yang membuat saya malu sebagai orang Indonesia.

Hal sederhana pertama yang membuat saya cukup malu, WAKTU. Bagi saya, kita terlalu toleran terhadap kebiasaan tidak menghargai waktu. Sepele mungkin, “Ah, cuma terlambat 15 menit,” “Ah baru 30 menit,” “Lagian kan jadwalnya pasti dimajukan 1 jam, soalnya mereka tahu kita pasti datangnya lebih lambat 1 jam.” Memuakkan!

Saya tidak bermaksud untuk mengeneralisasi bahwa semua orang Indonesia memfleksibelkan waktu, tapi kebanyakan dan kebiasaan kita berpikir seperti itu merupakan sebuah indikasi bangsa yang mengalami kemunduran. Masalah “jam karet” mungkin terlihat sepele, namun itu merupakan hal kecil yang menjadi fondasi sebuah komunitas untuk belajar menghargai. Jika waktu saja tidak dihargai, bagaimana mau menghargai hal lain?

Hal yang kedua yang sangat miris di pandangan saya, SEKOLAH. Sekolah kini menjadi ajang eksperimen pemerintah untuk menunjukkan kedigdayaannya. Berganti pemerintahan, berganti pula kurikulum. Lalu apa manfaatnya? Ketidakstabilan pengembangan pendidikan. Saya ingin sedikit realistis. Jaman sekarang, murid sekolah hanya untuk mendapatkan nilai dan lulus saja. Esensi sekolah sebagai institusi tempat anak-anak belajar mulai memudar. Peran sekolah dan sistem pendidikan formal sebagai sarana belajar telah bergeser makna menjadi sarana eksperimen pemerintah dan pemberian cap (baca: nilai) semata bagi siswa.

Tragisnya lagi, nilai-nilai yang mereka dapatkan adalah nilai cuma-cuma yang diberikan guru karena takut apabila muridnya tidak lulus. Sangat salah menurut saya. Sekolah tidak hanya bertujuan untuk meluluskan murid, tapi lebih penting dari itu adalah untuk membuat mereka memiliki cara berpikir yang logis, rasional, toleran dan apresiatif.  Katanya pendidikan karakter? Bagaimana mau membangun karakter jika kelulusan mereka dipaksakan? Seorang anak seharusnya diberikan kesempatan untuk gagal yang terbimbing, karena dengan itulah mereka bisa belajar untuk memotivasi dan mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.

Hal ketiga yang menjadi sorotan saya adalah, TELEVISI. Saya sangat sedih sekali ketika hari Minggu dan yang saya tonton di televisi adalah acara-acara basa-basi yang memaparkan kehidupan pribadi selebritis (yang saya yakini hanyalah hasil rekayasa) yang katanya adalah reality show. Sangat sedih saya bahwa hari Minggu, satu-satunya hari kebebasan bagi anak kecil telah direnggut. Saat saya kecil justru pada hari Minggu saya rajin bangun pagi, karena acara kartun dan acara anak-anak ditayangkan mulai dari pagi sampai sore.

Tapi sekarang, yang memenuhi televisi, dalam hal ini hari Minggu, adalah acara-acara yang katanya reality show, acara-acara politik hingga acara musik yang justru digunakan sebagai acara curhat. Aneh sebenarnya, kenapa seseorang mau mempublikasikan kehidupan pribadinya. Sangat aneh. Sangat tidak masuk akal. Bagi saya, anak-anak masa kini telah direnggut masa kanak-kanaknya karena mereka dengan gampangnya terekspos ke acara-acara ataupun media yang lebih layak disuguhkan kepada orang-orang 18 tahun ke atas. Sangat saya sayangkan.

Tidak berhenti sampai di sana, yang selanjutnya membuat saya sedih adalah, keterbelakangan  mental kita dalam BERBIROKRASI. Realistis saja, banyak orang yang dengan gagahnya menepuk dada karena mendapatkan suatu pekerjaan, utamanya dalam pemerintahan. Padahal mereka menggunakan “orang dalam” untuk memasukkan nama mereka ke dalam daftar pegawai institusi-institusi tersebut.

Sekali lagi, saya tidak mengeneralisasi masyarakat kita. Saya yakin sekali banyak yang mendapatkan pekerjaan karena mereka memang berhak dan berkualifikasi untuk pekerjaan tersebut. Tapi saya masih menyayangkan pendapat atau pola pikir banyak orang bahwa pekerjaan itu harus dibeli. Sungguh aneh, orang yang mencari uang harus mengeluarkan uang dulu.

Di samping pekerjaan, masih banyak dari kita yang mau menggampangkan urusan adminstrasi birokrasi. Contohnya saja, calo pembuatan SIM, calo pembuatan paspor, dan calo-calo lainnya masih melenggang berkeliaran. Ini juga satu hal lain yang menunjukkan betapa terbelakangnya mental kita. Kalau ingin cepat dan gampang bayar saja pegawainya. Saya menangis. Kenapa hanya karena orang lain melakukan hal tersebut kita merasa harus melakukan hal yang sama? Saya menangis karena akal sehat dan mental kita telah punah. Apa tidak bisa kita mengikuti aturan dan berusaha dengan diri sendiri untuk mendapatkan apa yang kita inginkan?

Yang terakhir yang begitu membuat saya marah dan sedih akhir-akhir ini, kemunduran kita dalam BERDEMOKRASI. Hati saya teriris ketika berpikir bahwa perjuangan para pejuang ‘98 kini disalahgunakan. Mereka berjuang untuk kebebasan. Kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan berpikir dan kebebasan lainnya. Kini semuanya terlalu bebas, dan saking bebasnya mereka menyalahgunakan kebebasannya untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Menyuarakkan aspirasi boleh saja, tapi tetaplah menyediakan hati yang lapang untuk segala keputusan.

Awalnya saya ragu untuk menulis artikel ini. Namun kesabaran saya untuk mentoleransi hilangnya akal sehat dan toleransi di negeri ini tidak mampu lagi terbendung ketika hakim memvonis 2 tahun penjara untuk Ahok. Jujur saya mungkin sedikit sinis jika mengatakan bahwa demo untuk memenjarakan Ahok yang dilangsungkan berkali-kali oleh jutaan massa itu tercampur dengan muatan politik. Tapi secara logika, bagi saya, tidak layak orang seperti Ahok dipenjara hanya karena satu kesalahan sebagaimana yang dituduhkan itu.

Jika melihat kontribusi Ahok bagi warga Jakarta semasa menjadi gubernur, saya rasa kesalahannya itu tidak sebanding dengan kontribusi yang telah ia berikan. Apalagi, Ahok sudah meminta maaf berkali-kali kepada mereka yang merasa dinistakan. Sangat konyol dan sangat tidak masuk akal jika ini semua dikatakan tidak ada adukan politik di dalamnya.

Maaf jika tulisan ini terbawa kemana-mana. Saya bukan tipe orang yang suka politik dan sejenisnya. Saya hanya sangat geram melihat begitu mundur dan terbelakangnya akal sehat kita dan mental kita sebagai manusia. Melihat beberapa hal di atas, saya ingin memotivasi kita semua untuk merevolusi mental, merenovasi otak, mengevaluasi budaya, dan mengadaptasi perilaku yang layaknya perlu diadaptasi untuk perkembangan mental dan perilaku serta pembangunan karakter yang lebih baik bagi kita sebagai manusia, tidak hanya sebagai orang Indonesia, tapi sebagai manusia secara umum.

Hanya sekadar curahan pemikiran sederhana saya saja. Katanya kita bebas berpendapat bukan? Kalau orang lain memiliki pendapat berbeda, lapangkanlah hati untuk menerima pendapat tersebut. Mari “telanjangi” sedikit pikiran kita agar lebih terbuka dan mampu melihat suatu masalah dari berbagai segi perspektif dan mampu menanggapi segala hal dengan lebih bijak.

Salam damai. (T)

Tags: birokrasidemokrasiIndonesia
Share12TweetSendShareSend
Previous Post

Jokowi Presiden, Ahok Masuk Tahanan – Kisah (Seakan) Drama Sepasang Tokoh

Next Post

Cinta Kasih Penjaga Kebhinekaan – Renungan Waisak 2017

Yoga Pramartha

Yoga Pramartha

Bernama lengkap Kadek Yoga Pramartha. Lahir 1 Juni 1994 dan kini tinggal di Banjar Batanwani, Desa Kukuh, Marga, Tabanan.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Cinta Kasih Penjaga Kebhinekaan – Renungan Waisak 2017

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd
Ulas Buku

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

by IRZI
August 3, 2026
Presiden di Dalam Kepala Saya
Esai

Presiden di Dalam Kepala Saya

"Man is an animal suspended in webs of significance he himself has spun." Manusia adalah makhluk yang bergantung pada jejaring...

by Angga Wijaya
August 3, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Korupsi di Indonesia: Persekongkolan Antara Kuasa dan Modal

KORUPSI, sebagaimana narkoba dan terorisme bukanlah kejahatan tunggal. Selalu melibatkan orang lain. Korupsi adalah persekongkolan, perselingkuhan, jaringan, dan kongkalikong. Korupsi...

by Chusmeru
August 3, 2026
Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co