13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 2, 2023
in Cerpen
Sebuah Kabar Pada Larut Malam | Cerpen Agus Wiratama

Ilustrasi: Putu Dudik Ariawan

MALAM telah suntuk untuk kita lanjut ngobrol. Terlalu banyak bualan yang aku muntahkan. Kau pura-pura tak paham apa yang kita bicarakan.

Kau berusaha membuka mata sembari mengutus air matamu untuk menggenang lalu terjun membasahi kain yang menutup pinggang hingga mengalir di mata kakimu.

Sesekali, tanganmu tak kuasa ditahan untuk melempar telapaknya ke pipimu sendiri. Aku berusaha tak peduli tapi pipimu betul-betul merah.

Kipas angin kunyalakan dengan kecepatan maksimal agar tak terdengar isakanmu dari luar. Aquarium yang tetap memutar air keruh, sedikit menutupi desah napas tersendatmu. Empat jam aku bicara tanpa putus.

Aku ingin menjelaskan hingga benar-benar kau paham keputusanku. Namun di sela-sela mulutku yang menggerutu dan mata yang memerah, kau justru menyela dengan tepukan di pipimu. Pipi kiri, lalu pipi kanan.

Kakimu gemetar dan napasmu tersendat entah karena tangisan yang kau tahan atau anti nyamuk bakar yang aku nyalakan.

Habis sudah kata-kataku tapi kau yang kusuruh pergi tak juga mengangkat tubuhmu yang lemas dari sebuah ranjang kecil di kamar kita. Sesekali kutarik tanganmu berusaha membangunkan tubuhmu. Kau menolak. Sesekali kutarik kakimu agar segera pergi tapi tak juga kau bergeming.

Hingga aku lelah, kubiarkan kau diam begitu saja. Aku menghadap ikan-ikan dan sengaja membelakangimu sambil menyulut api pada sebatang rokok.

Pikiranku yang kusut, sementara bisa ditangani tembakau bakar dan sekaleng kopi kemasan. Asap anti nyamuk dan tembakau bercampur aduk, mataku masih merah dan basah meskipun rambutku yang berantakan karena kujambak bisa dirapikan dengan mudah. Itu yang membuatku enggan keluar kamar karena para saudara yang tersedu di luar akan tambah kalut ketika melihat keadaanku dan air matamu yang nampak berbeda dengan air mata mereka.

Pintu tertutup rapat, begitu pula jendela dan gorden. Tetapi asap dupa dengan aromanya menyelinap lewat ventilasi yang tidak terlalu besar. Suara obrolan yang berbisik terajut menusuk kamar.

Kita sedang berduka, tetapi pada saat ini pula kau membuat duka yang lebih dalam dari sebuah kematian untukku. Yang lebih menyedihkan, aku tak pernah curiga padamu sedikit pun. Aku terlalu percaya. Aku baru tahu bahwa aku hanya bisa percaya pada diriku sendiri, tidak pada siapa pun karena setiap orang menyimpan borok yang dibalut rapi. Aku sangat menyesal.

Aku ingin terisak sepertimu, tapi isakanku sudah habis sebelum kita masuk ke kamar.

Sementara aku masih memikirkan segala penyesalanku dan menimbang jalan keluar, tiba-tiba langkahmu bertenaga dan kau mendekat. Kau memelukku dengan harapan aku memaafkanmu. Sekarang kita hanya akan berpura-pura baik karena semua saudara tak mungkin siap mendengar kabar ini.

Kau menanyakan anak-anak kita? Mereka akan tetap bersamaku di sini. Masih ada ibu yang meskipun mulai renta, siap menyayangi mereka dengan sepenuh hati. Tak ada masalah tentang itu. Tugasmu sekarang adalah berpura-pura tak terjadi apa-apa dan tidak membuat siapa pun di luar sana curiga. Aku hanya meminta waktu barang sebulan hingga dua bulan sebelum pembicaraan kita menjadi sebuah mimpi buruk yang nyata.

Kamar masih berantakan. Lebih berantakan dari pada biasanya. Tapi ibu menggedor pintu berkali-kali karena kita pura-pura tak mendengarnya.

“Bar, cepat keluar. Ajak Luh juga!” ucap ibu berulang-ulang dengan gedoran yang semakin menegas.

Ketika kubuka pintu, kulihat mata ibu yang tak habis-habisnya menggenangi air itu menatap mataku. Punggungnya yang bungkuk membuat ibu harus menatap agak ke atas yang seolah-olah memamerkan air matanya. Kata ibu, teman kita datang menjenguk. Aku tak habis pikir, siapa yang datang pada malam-malam suntuk seperti ini.

Penasaranku dijawab dengan langkah kaki yang mengantarku mendekati teman kita yang dimaksud ibu. Ketika melihat bahu orang yang dikatakan ibu itu, aku sudah mengenalinya. Kemarahanku lagi-lagi tersulut begitu saja. Tanganku gemetar dan mengeras seolah-olah seluruh tenaga berada pada kepalan itu.

Dia menyadari kedatanganku. Tetapi aku tak percaya, seluruh tenaga di kepalan itu luntur setelah dia tersenyum dan memamerkan mata yang mirip dengan mata ibu, lalu mendekatiku dengan iba.

Dia menarikku. Mengantarkan pada satu tempat yang agak sepi. Aku diam saja dan mengikuti ajakannya untuk duduk di sebuah kursi yang dia bersihkan dengan tangannya. Beberapa detik menyela, kami diam saja.

“Aku rasa aku paham perasaanmu. Aku juga pernah mengalami hal ini,” katanya membuka obrolan kami.

Aku masih tak habis pikir mengapa kemarahanku hilang dan seolah-olah semua masalah yang kita bicarakan hangus tak meninggalkan asap. Tetapi aku hanya diam, tak tahu apa yang harus kujawab dari kata-kata yang tak habis-habis kudengar sejak pagi tadi.

Tiba-tiba saja ketika kami terdiam dan mataku tertuju pada pintu kamar kita, kau keluar dengan kepala yang menunduk. Kau langsung pergi ke dapur yang dijadikan tempat ngobrol malam ini oleh ibu-ibu tetangga kita. Tanganmu kau tumpuk lurus rapi sambil membungkuk permisi pada orang-orang yang sibuk bermain kartu di depan kamar.

“Luh, kopi tiga tanpa gula, teh satu tidak terlalu panas, sama air putih satu, ya!” sela salah seorang pemain kartu itu padamu. Sepertinya mereka tahu kau akan langsung menuju dapur.

“Ibumu bagaimana keadaannya? Aku tak berani bertanya padanya tadi,” lanjutnya mengisi keheningan kami.

Tapi mulutku tak dapat menjawab pertanyaannya. Pikiranku kini gundah, antara harus marah, bersedih, atau berduka.

Tiba-tiba tangan kurus menyentuhku dari samping ketika aku hanya melongo dengan tatapan kosong dan pikiran yang sibuk tak berujung. Aku menatap ke arah tangan itu. Ternyata ibu yang menyuruhku mengajak teman kita makan. Tapi ia menolak dengan alasan masih ingin ngobrol denganku.

Pada ibu, aku bisa memuntahkan barang beberapa kata-kata untuk mengikuti kehendak teman kita. Lalu ibu pergi dengan langkah tertatih dan tangan kanan yang mengelus kedua mata tuanya bergantian.

Tanpa rasa malu, teman kita meneteskan air mata juga. Dia menutup kedua matanya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya merah dan air matanya mengalir begitu deras. Aku semakin bingung antara harus marah karena obrolan kita tadi dan menenangkan teman kita yang kini tersedu.

Kau tahu, air matanya itu membuat tanganku lemas dan bergerak mengelus punggunggnya meski aku masih menyimpan ragu untuk itu. Tangisannya kian mereda setelah berkali-kali tanganku mondar-mandir di atas punggungnya. Giliran tangannya yang lemas terkapar di atas paha.

“Bar, Luh membuatkan kalian kopi, minumlah,” ucap ibu yang selalu terasa tiba-tiba karena aku terlalu sibuk dengan pikiran kusutku.

“Makasi, Bu, maaf merepotkan malam-malam,” ucapnya dengan santun.

“Tidak apa, minumlah! Nanti menginap saja di sini kalau tidak berani pulang.”

Betapa lancangnya ibu ingin mengajak orang ini menginap di rumah kita. Ibu tidak tahu apa-apa, sementara sekarang bukanlah waktu yang tepat untuk menjelaskannya. Untung dia menolak tawaran tersebut dengan alasan yang tak ingin kuingat.

“Tunggu sebentar, aku mau ke kamar!”

Aku bangkit dari kursi yang membuatku diam itu lalu segera ke kamar untuk mengambil sebungkus rokok yang lupa kubawa waktu dipanggil ibu.

“Mau rokok?” tawarku padanya meskipun aku tahu dia bukanlah seorang perokok.

Dia menolak dengan menggelengkan kepala. Kami kembali pada sunyi. Yang terdengar hanyalah sorak-sorai para pemain kartu yang sesekali memecah hening.

Sementara aku menyulut rokok, kuintip dia dengan sebuah lirikan pada tangannya yang menanggalkan air di balik kaca matanya.

“Bar, aku ingin minta maaf,” ucapnya lirih.

Lirikanku seketika menjadi tatapan yang tegas dengan penuh penasaran.

“Aku tak tahu harus berbuat apa. Ketika itu Luh memang di depan mataku. Yang melakukan semua itu memang temanku. Teman baikku! Di rumah kontrakanku pula! Tapi apa yang bisa kuperbuat ketika Luh datang dengan sempoyongan di tangan temanku itu. Luh mengaku seorang janda, Bar!” lanjutnya.

Kali ini kuharap dia berhati-hati berbicara agar aku tak terpancing oleh kemarahan yang masih tersimpan. Malam ini bukanlah malam yang tepat untuk minta maaf. Kesedihan, kemarahan masih berbaur bagai sahabat yang siap memainkanku seperti dalang yang memainkan wayangnya.

“Kali ini kalian harus makan. Nasi goreng baru saja matang. Ini untuk warga yang menginap dan bermain di rumah, jadi kalian juga harus ikut makan,” ucapan bibiku sambil menyodorkan dua piring nasi goreng.

Lagi-lagi pembicaraan kami terpotong dan tambah beku ketika kau yang membawakan kami air mineral dengan wajah yang nyaris tak terlihat karena menunduk. Kau menaruh beberapa air mineral kemasan di samping kami, lalu pergi tanpa sepatah kata.

“Makanlah dulu. Ini bukan tawaran, tapi suruhan!” ucapku dengan nada yang hampir terputus-putus.

“Bar, Luh tak menolaknya, tak juga melawan. Aku tak berharap hal ini terjadi, terlebih di tengah-tengah kalut keadaan ini. Aku benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa. Aku segan melarang mereka berdua di kamar hingga akhirnya kini Luh mengandung anak ketiganya. Maafkan aku, Bar.”

Mataku menetesi air yang masih tersisa. Aku memang bukan lelaki yang bisa berkelahi, pilihanku biasanya hanya menyimpan masalah dan mengabadikannya sebagai dendam. Aku tak menjawab apa pun.

“Aku tak ingin pertemanan kita putus! Kurasa kau tahu, Bar. Luh waktu itu ke tempatku untuk meminjam uang. Tapi dia malah datang dengan teman baikku. Kita bertiga telah berteman semenjak kuliah. Aku tak mungkin menikammu dari belakang. Percayalah padaku, Bar! Dan kedatanganku kini adalah untuk belasungkawa pada ayahmu yang terbujur di Bale Dangin, juga pesan singkatmu yang menuduhku seenaknya. Sekarang aku harus pulang. Aku paham keadaanmu!”

Ia beranjak dari tempat duduk, kini gilirannya memegang pundakku. Ia pamitan pada ibu, namun tidak padamu. Ia berlalu di balik pagar rumah meninggalkan nasi yang dibawakan bibi. [T]

  • Catatan: Cerpen ini diambil dari buku kumpulan cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu” karya Agus Wiratama (Mahima, 2019)
Berbekal Nasi Kuning ke Kahyangan | Cerita Hari Kuningan Gde Aryantha Soethama
Fête De La Musique | Cerpen Santos Philipus
Undangan Pernikahan | Cerpen AA Ayu Rahatri Ningrat
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Pranita Dewi | Bedawang Nala

Next Post

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Gaya Lukisan I Gusti Made Deblog dan Jalan Panjang Penetapan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda 2023

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co