26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar

Kadek Suartaya by Kadek Suartaya
July 12, 2023
in Esai
Tari Joged, Dulu Dipingit, Kini Diumbar

Seorang penari joged bumbung di Taman budaya Bali | Foto: Dok. Kadek Suartaya | Foto hanya ilustrasi

TARI JOGED adalah kesenian kesayangan kaum bangsawan era keemasan kerajaan di Pulau Bali. Pada masa lampau, joget hanya dipentaskan di lingkungan keraton. Masing-masing  puri mengayomi penari joged. Bahkan, hanya raja yang boleh ngibing penari yang dikoleksinya.

Pada tahun 1881, seorang petugas kesehatan Belanda, dokter Yacobs, ketika bertamu di Kerajaan Mengwi, terpesona dengan para penari joged  privat sang raja yang elok-cantik berambut panjang  tersenyum ramah. Para penari joged yang dijamin hidupnya tersebut, dipingit di lingkungan puri.

Keberadaan tari joged yang tidak boleh dipentaskan di luar tembok keraton itu juga dapat ditemukan di Sukawati. Tersebut,  seorang penari joged bernama Ni Wati milik Kerajaan Sukawati yang dijadikan permaisuri (diberi gelar Jero Nyeri) oleh Raja Gianyar, Dewa Manggis VII (1847–1884).

Dalam perkembangannya, pada pertengahan abad ke-19, tari joged menyebar luas dengan beragam ciri khasnya (Gudegan, Leko, Adar, Tongkohan, Gandrung). Tari joged yang pernah dikawal ketat keluarga raja pun, tetap bertahan, bahkan hingga kini,  dengan sebutan Joged Pingitan dalam pemaknaan sebagai mustika seni tari luhur, bahkan bergeser posisinya sebagai tari sakral.

Setelah kemerdekaan RI, keberadaan Joged Pingitan  ditemukan di sejumlah tempat wilayah Sukawati seperti di Pekuwudan, Batuan, dan Tegenungan. Kemudian pada awal kemerdekaan, Joged Pingitan terlihat kewingitan tariannya dan rancak teduh iringan gamelan bambunya di Peliatan. Konstruksi artistik Joged Pingitan  dibingkai alur dramatik, yang lakonnya bersumber dari cerita Calonarang.

Salah satu penari Joged Pingitan legendaris yang dikagumi penonton di tahun 1990-an adalah Ni Ketut Cenik. Di usia rentanya, 88 tahun, ia masih sanggup tampil secara tunggal membawakan sekian peran karakter-karakter pokok cerita Calonarang. Karena  totalitas berkesenian yang ditunjukkan Cenik itulah kiranya seni pentas warisan zaman kerajaan Bali tersebut (Joged Pingitan) masih mencoba bernafas ketika itu.

Namun, setelah berpulangnya seniwati sepuh yang dimasa hidupnya selalu tampak ceria ini, Joged Pingitan terpuruk dan ambruk terkubur. Keberadaan sekaa Joged Pingitan, kini, dapat dihitung dengan satu jari tangan saja yang ironisnya, semuanya pingsan. Diantara sekaa itu adalah yang ada di Banjar Pakuwudan, Sukawati, di mana Ni Ketut Cenik menari utamanya.  Dulu, bersama Cenik,  komunitas seni ini, sesekali masih tampil di lingkungan desanya.

Dilihat dari segi ansambel  pengiringnya Joged Pingitan menggunakan barungan karawitan Bali yang termasuk golongan tua. Instrumentasi dari gamelan Joged Pingitan terdiri dari alat-alat berbilah (xylophone) dari bambu berlaras pelog lima nada. Permainan instrumen-instrumen ini mempergunakan sepasang pemukul dengan tehnik yang jalin menjalin.

Salah satu ciri khas repertoar sajian instrumental gamelan ini disebut gandrangan.  Saat mengiringi tari, gamelan bambu ini memainkan tabuh-tabuh palegongan (genre tari legong atau Legong Keraton).  Selain menyajikan palegongan, Joged Pingitan Pakuwudan selalu menyuguhkan tari Calonarang di mana Ni Ketut Cenik menjadi maskotnya.

Pada masa lalu, diduga kuat antara tari joged   dan perseliran  mempunyai interaksi yang sangat erat. Joged  yang diayomi kaum  bangsawan ini harus setia dan siap mengabdi serta  mentaati segala perintah raja. Menjadi  penari joged milik istana pada saat  itu  merupakan sebuah kebanggaan  yang  tiada  taranya.  Di  samping   menjadi kebanggaan keluarga, juga  menjadi  idola  masyarakat.  

Seorang penari  joged koleksi raja, selain kehidupannya  dan  keluarganya terjamin juga mendapat hadiah sawah. Hadiah-hadiah dan sawah yang diterimanya  inilah  kemudian menjadi tumpuan hidup  para  penari  bila sudah tak terpakai lagi atau sudah tua dan kembali  ke desanya masing-masing.

Joged Bumbung yang kini bergelinjang girang adalah jejak terakhir dari Joged Pingitan. Tapi bila Joged Bumbung khusus mementaskan keriangan ibing-ibingan pasangan penari dan penonton, sedangkan Joged Pingitan tampil serius klasik. Bagian ibing-ibingan-nya berlangsung formal santun. Sajian andalannya, seperti tampak pada Joged Pingitan Pakuwudan adalah tari legong dan drama tari Calonarang-nya.

Foto: Dok. Kadek Suartaya

Dramatari Calonarang Joged Pingitan yang ditampilkan, diawali dengan peragaan tari Sisian (murid-murid Calonarang) dan dilanjutkan dengan tari Matah Gede (Calonarang). Ada pula penokohan Pandung yang bertugas membunuh Calonarang dan terakhir adalah sajian Rangda dan Barong.

Adegen di pekuburan yaitu saat Calonarang unjuk ilmu hitam adalah bagian yang dinanti-nanti penonton. Segenap penghayatan dan interpretasi ngereh yaitu  melukiskan proses ngelingse menjadi  leak  bercanda ria sembari menimang dan mempermainkan mayat orok di tengah malam, membuat penonton bergidik. Sorot matanya yang tajam dan jinjit gerak-geriknya sungguh menyeramkan.

 Bila Joged Pingitan menyeramkan dalam pengejawantahan tafsir estetiknya, kini dengan mudah dapat dipergoki tari Joged Bumbung yang tak kalah “garang” dalam mengumbar ketaksononohan jaruh aksinya. Efek joged porno ini sangat “menyeramkan” secara kultural,  yang begitu bablas mencoreng moreng kesopansantunan serta mengoyak-ngoyak nilai keindahan martabat salah satu kesenian masyarakat Bali.

Memang, di persada Nusantara ini, gelora  birahi  tak  hanya identik dengan tari joged.  Hal serupa dapat pula  dijumpai dalam  seni  pertunjukan  Indonesia sejenis lainnya. Pementasan tayub (Jawa Tengah) tak akan  lengkap tanpa  disertai ulah pengibing yang merogoh kutang dengan  alasan menyelipkan  hadiah  uang di sela payudara penari.  Bahkan  Ronggeng  dan Dombret (Jawa Barat) lebih berbau mesum, akan tetapi biasanya merupakan kesepakan pribadi yang tersembunyi.

Berbeda dengan erotisme vulgar tingkah sejumlah penari dan ulah pengibing tari joged di Bali yang belakangan ini mendunia. Betapa, hand phone (HP) pintar yang kini hampir setiap orang menggenggamnya seakan terasa panas oleh gairah goyang seronok liar konten tari Joged Bumbung belakangan ini, yang berseliweran sambung menyambung. [T]

PKB Kehilangan Sekuni, Berkeliaran di Luar Panggung
Dikisahkan Pengibing yang Jatuh Hati pada Penari Joged Bumbung…
Ratih Ayu Apsari Kampanye Joged Bumbung di Jalanan Berkeley, California
Tiga Upaya yang Sebaiknya Dilakukan Untuk Menyelamatkan Joged Bumbung Klasik
Tags: joged bumbungkesenian baliseni pertunjukan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Semua Rencana Liburan Itu Hanya Wacana

Next Post

Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Kadek Suartaya

Kadek Suartaya

Pemerhati seni budaya, dosen ISI Denpasar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Sekaa Gong Belaluan Sadmerta, Gong Kebyar Pertama di Bali Selatan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co