7 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kumbhakarņa Tattwa

I Wayan Westa by I Wayan Westa
June 15, 2023
in Esai
Kumbhakarņa Tattwa

Ilustrasi tatkala.co

//”Tidak!” potong Kumbhakarna. “Jangan kausamakan diriku dengan dirimu. Engkau seorang negarawan. Penglihatan dan perhitunganmu pasti telah melampaui zaman. Sebaliknya, aku tidak memiliki jangkauan pemikiran demikian. Percayalah, aku tidak memusuhi Rama. Aku perang hanya demi tanah air semata.”//

NAMANYA Kumpi Buta, nenek dari ibu saya. Dipanggil Kumpi Buta karena beliau memang benar-benar buta. Kendati buta, tapi dialah pencerita paling piawai yang saya kenal. Saban malam, bersama bibi, misan-mindon tiduran di Bale Dauh, di rumah nenek yang  tak seberapa luas.

Terkenang inilah “sekolah” pertama saya—saat mana di kampung  belum ada sekolah Taman Kanak-Kanak. Dan Kumpi Buta adalah  seorang penutur yang saban hari menyampaikan cerita-cerita yang tak pernah habis saya reguk menjelang tidur—seperti mengobati dahaga lain. Memberi kanal batin ini nutrisi jiwa, orang Bali menyebutnya sebagai amreta jiwa.

Ada cerita yang tak bisa saya lupakan sampai hari ini, judul yang diberi  Kumpi saya ” Karebut Kumbhakarna”, belakangan saya tahu sumbernya dari  kakawin Ramayana, literasi paling tua di  nusantara, ditulis Mpu Yogiswara, hampir seribu tahun silam, tepat di bulan Agustus 1084.

Entah, bulu tengkuk saya dibuat merinding mendengar cerita ini. Mungkin saya terperangkap penjiwaan Kumpi Buta bercerita. Bila ia  mengerang, gunung-gunung, samudera, bumi dibuat berglojotan. Bila ia makan, ia dihidangkan makanan serba lesat, serba banyak. Ribuan celeng, daging singa, harimau, kera ludes sekalian. Kemudian tidur kembali dalam waktu bertahuan-tahun.

Sungguh susah membangunkan raksasa penidur ini. Bila ia hendak dibangunkan, segala bunyi-bunyian, gong, gamelan, air panas, tombak, batu-batu harus disertakan. Kulitnya tak mudah dilukai, api tak juga bisa membakarnya. Konon menurut Kumpi saya saat itu, Kumbhakarna mendapat anugerah Batara Brahma karena tapanya yang keras. Saraswati, dewi penguasa lidah lalu membelokkan permintaan Kumbhakarna.

Dan ia pun keseleo lidah, di mana niat awal ia memohon supaya diberi anugerah bahagia senantiasa,  kata-katanya meleset, lalu  ia mengucapkan ingin diberi anugerah  tidur  bertahun-tahun. Itulah gambaran awal saya mengenai tokoh Kumbhakarna, sosok besar, sakti mandraguna dan mengerikan dari Ramayana.

Nun di suatu hari, saban odalan di pura kawitan, saya suka memperhatikan lukisan ider-ider wayang Kamasan. Kebetulan saat itu ider-ider pura kawitan saya bergambar lukisan wayang Kamasan—baik itu lukisan-lukisan dari kisah Ramayana dan  Bharatayuddha, Sutasoma, dan lain-lain.

Saat itu saya suka adegan-adegan perang, yang paling menyita perhatian saya adalah, adegan perang Kumbhakarna dengan pasukan kera. Tubuhnya yang sebesar gunung itu direbut ribuan kera. Lalu ribuan kera itu termakan seketika. Kumpi saya menamai peristiwa ini:  Karebut Kumbhakarna. Dan episode  ini  melekat hingga kini.

Namun bersamaan dengan berlalunya waktu, pemahaman pada tokoh ini pelan-pelan saya pahami dari pertunjukkan wayang kulit di kampung. Satu pembelajaran lisan yang sungguh berarti—sebelum nantinya saya memasuki budaya literasi, membaca adaptasi Ramayana dari karya masyur Herman Praktikno—judulnya “Hamba Sebut Paduka Rama Dewa”. Terbit pertama kali di tahun 1962—sementara edisi revisi terbit kembali tahun 1983.

Tiga puluh enam tahun kemudian, tepatnya tahun 2011, Kompas menerbitkan ulang buku ini dengan judul yang sama.  Di situ, ibu Edi Sedyawati, arkeolog kenamaan Indonesia memberi kata sambutan dengan tajuk: “Menafsirkan sebuah tema besar”.

Memang, di samping rujukan yang melimpah, Praktino adalah seorang penafsir yang terbuka, seorang dalang yang tak pernah meninggalkan visi rohani kultur lokal bernama “dunia Jawa”. Di mana cerita dari sumber yang jauh itu menjadi saakan milik sendiri, tumbuh, berkembang dalam tanah baru bernama budaya Jawa.

Buku-buku Ramayana edisi cetakan, apalagi edisi terjemahan, telah begitu banyak diterbitkan, tapi jarang ada penulis yang mengali lembar-lembar episode itu perihal bagaimana tradisi memberi tafsir sejak cerita “asing”  dari India ini dibumikan di Jawa dan Bali, terutama  dari tradisi para dalang, yang selalu memberi tafsir baru untuk cerita carangannya.

Namun ada dua adaptasi yang pantas dicatat untuk hal ini, layak dibaca untuk menyuburkan kanal intuitif—memberi kita gambaran-gambaran kaya, dengan kedalaman makna berlapis-lapis. Dua buku dimaksud adalah, Anak Bajang Menggiring Angin (Oktober, 1983) karya Sindhunata dan Kitab Omong Kosong (Juli, 2004) karya Seno Gumira Ajidarma.

Kelampauan, nilai-nilai, cerita lama: mitos dan legenda selalu menjadi segar di tangan dua penulis ini, karena ia tak mau meninggalkan kultur lokal sendiri dari kejeniusan para dalang dan kultur dunia Jawa.

Pertanyaan kemudian, apa hubungan tiga buku itu dengan tokoh Raksasa Kumbhakarna? Setidaknya, sebelum membaca acak teks Uttara Kanda dan Kakawin Ramayana, dari situlah  sosok Kumbhakarna saya baca, tentu dengan lapis-lapis pemahaman yang tak pernah tuntas, apalagi paripurna.

Lalu siapa sesungguhnya Kumbhakarna itu? Penggalan kisahnya bisa kita simak dalam leterasi Hindu Jawa, Uttara Kanda, berbahasa Jawa Kuna.  Sebuah teks yang digarap zaman Raja Darmawangsa Teguh dalam proyek “Mangjawaken Byasamata”—meminjam istilah yang dipopulerkan penekun sastra Jawa Kuna IBG. Agastia.

Kisah Kumbhakarna dari Uttara Kanda diawali dengan liturgi diri mati raga. Di situ, Bhagawan Waisrawana, putra bhagawan Wisrawa dan cucu bhagawan Pulastya, yang merupakan salah satu putra dewa Brahma, menerima dari Brahma selaku pelindung salah satu dari empat bagian dunia, di samping dewa Indra, Yama, dan Baruna, lagi pula boleh menetap di Lengkapura. Tempat itu pernah didiami para raksasa yang dalam peperangan melawan para dewa, dikalahkan  dewa Wisnu lalu pindah ke alam bawah.

Sumali, raja para raksasa, ingin mempunyai keturunan yang sama kuat seperti Waisrawana. Ia berhasil menghadiahkan anaknya Kaikasi sebagai istri kepada Wisrawa, ayah Waisrawana. Ia melahirkan empat anak, juga raksasa seperti dirinya sendiri, tiga anak laki-laki itu Dasamukha, Kumbhakarna, dan Wibhisana, dan satu anak perempuan, yaitu Surpanakha.

Ketiga anak laki-laki itu juga melakukan  tapa sekuat tenaga. Sehingga dewa Brahma mengabulkan permohonan mereka masing-masing. Dasamukha mohon dan memperoleh kekuasaan terhadap tiga dunia. Wibhisana agar ia memiliki setiap macam kebijaksanaa. Ketika tiba giliran Kumbhakarna mengajukan permohonan, para dewa merasa takut, kalau-kalau seluruh dunia akan musnah.

Para dewa lalu mengutus Saraswati, dewi tutur kata, memasuki lidahnya. Sebagai akibat, maka dengan melawan kemauan sendiri, dan tanpa disadari, ia mohon agar dapat tidur seribu tahun lagi, dan Kakawin Ramayana lalu menambahkan, ia terpaksa dibangunkan hanya untuk menghadapi perang. Dan Rahwana ketika ia mulai keteter membangunkan Kumbhakarna dengan susah payah.

Kakawin Ramayana menuliskan adengan ini begitu detail, seram, mengerikan. Dentuman gambelan, siraman air panas, tusukan tombak, lemparan batu-batu cukup lama membuat Kumbhakarna bisa tersadar dari tidurnya yang lelap.

Kendati toh Kumbhakarna bangun akhirnya, saat mana ia mendengar dialog Sumali  tentang inti hakikat kesadaran. Ia bangun dengan amat marah, dan ketika berjalan membuat bumi bergoyang. Semua isi hutan lari pontang-panting.

Ketika Rahwana menyuruh Kumbhakarna berperang untuk membela dirinya, ia menolak lalu balik menasihati Rahwana, bahwa apa yang dilakukan adalah tindakan yang merugikan kerajaan dan kemartabatan kaum rakasasa. Rahwana tidak terima nasihat panjang lebar itu, membentak, menghardik balik Kumbhakarna dengan kata-kata hinaan.

Kumbhakarna pun akhirnya berperang, namun tidak dalam pemenuhan membela Rahwana yang jahat itu. Ia berperang demi tugas yang lain, ia berperang demi tanah air Alengka yang telah memberi hidup  berlimpah, entah ia mati, entah ia hidup, itu persoalan lain.

Memang dibandingkan dengan Wibhisana, sang adik, Kumbhakarna mengambil jalan berbeda. Wibhisana memilih Rama, wujud dari kebajikan dan keselamatan dunia. Sementara, Kumbhakarna memilih tanah air yang telah memberinya hidup.

Kumbhakarna bukan tidak berani berontak pada sang kakak, Rahwana—alasan paling tepat ia tidak mungkin melakukan itu, karena betapa di masa kecil Rahwana selalu membimbingnya. “Sebagai putra Alengka aku wajib berbakti kepada tanah air,” demikian Herman Praktikno membahasakan isi hati Kumbhakarna kepada Wibhisana.

Ketika Wibhisana mempertanyakan sikap Kumbhakarna yang bertindak dengan perasaan, Kumbhakarna menyatakan tidak.

“Tidak!” potong Kumbhakarna. “Jangan kausamakan diriku dengan dirimu. Engkau seorang negarawan. Penglihatan dan perhitunganmu pasti telah melampaui zaman. Sebaliknya, aku tidak memiliki jangkauan pemikiran demikian. Percayalah, aku tidak memusuhi Rama. Aku perang hanya demi tanah air semata.”

Sampai di sini kita memasuki satu spekulasi apa saya maksud sebagai Kumbhakarna Tattwa. Bahwa penggalan cerita ini memiliki lapis atau irisan-irisan kesadaran yang berbeda dengan Wibhisana, dan  dengan terang Kumbhakarna menyatakan; ia  tidak memusuhi Rama.  Ia hanya terpanggil oleh lapisan kesadaran perihal tanah air, yang ia pandang sebagai “Ibu Alengka”. Dan lapisan-lapisan kesadaran itu bolehlah kita pahami sebagai tattwa—di mana inti kesadaran tunggal kelak disepakati sebagai “sarining tattwa”.

Bila pembelaan Wibhisana lebih pada nilai-nilai, kebajikan-kebajikan semesta hidup sebagai seorang pengganti raja—yang jelas ia sangat paham darma raja, namun tidak demikian dengan Kumbhakarna. Yang ia pilih justru hal-hal di lapisan fisikal-material, membala tanah air, tak peduli dari siapapun serangan itu.

Sikapnya jelas, entah hidup, entah ia gugur, tak penting akhir dari pilihan itu—semua demi tanah air, yang telah memberi dia hidup, kenikmatan, tanah yang memberi segalanya. Apakah mungkin Kumbhakarna meninggalkannya? Inilah sisi kebenaran Kumbhakarna.

Lalu Wibhisana berpikir dalam lapisan kesadaran lain, ia lebih membela kebijaksanaan, lebih membela nilai-nilai, ia mengutamakan dharma raja, wajib hukumnya melindungi siapa saja yang datang memohon perlindungan. Dan Rama adalah teladannya.

Ketetapan hati Wibhisana telah sesuai dengan permohonan tapanya yang kuat, mendapatkan segala kebijaksanaan. Tapi terpilih di posisi Kumbhakarna juga penting—sebagai si penidur dia tidak meninggalkan kerajaannya, ia takluk pada tanah airnya, ia berperang demi ibu pertiwi yang telah merawatnya.

Pertanyaan kini, bila diukur, ditimbang dengan kesetiaan, siapakah gerangan lebih tinggi, Kumbhakarna atau Wibhisana? Lagi-lagi satu presisi mesti diperbincangakan, bila kita ditanya soal kesetian, kesetiaan ala siapa lebih tinggi?

Kumbhakarna bersetia pada “ibu” pertiwi, sebagai pusat sarwa tattwa, tanah air, penyandang, penyusu segala yang hidup. Sementara Wibhisana bersetia pada langit kebijaksanaan, walau dia harus meninggalkan tanah air—membiarkan negaranya dihancurkan tentara Rama.

Atau bila spekulasi saya benar, jangan-jangan Kumbhakarna tengah melakukan Raja Yoga, yoga di jalan pedang, yoga di jalan kesatria, di medan tempur bernama “rana yajna”.  Dan sampai di sini, saya berusaha tidak memberi jawaban, memberi jawaban sama artinya mendifiniskan, mendifinisikan sama artinya dengan memenjara pikiran, mengempang tafsir kebijaksanaan yang mengalir senantiasa—itulah sanatana dharma—karena di kanal itu kebenaran terus mengalir. [T]

Kusa Agra, Anggara Kliwon, Purnama Kasanga, 19 -2-2019.

Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya

Wayang Sinema, Tawaran Menarik Dalam Dunia Pewayangan Kini
Menafsir Ramayana: Di Srilangka, Rahwana adalah Pahlawan
Arja Siki Surpanaka: Sebuah Pembelaan Cok Sawitri
Tags: kisah pewayanganRamayanawayang
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Obrolan Pemilu, Dari Jele Melah Nyama Gelah sampai Pemilih Cerdas

Next Post

Modal Kaesang Menuju Kursi Satu Depok

I Wayan Westa

I Wayan Westa

Penulis dan pekerja kebudayaan

Related Posts

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
0
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

Read moreDetails

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails
Next Post
Modal Kaesang Menuju Kursi Satu Depok

Modal Kaesang Menuju Kursi Satu Depok

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra
Cerpen

Rampung Sebelum Penghabisan | Cerpen Kadek Indra Putra

SUARA pintu diketuk membangunkanku dari tidur siang. Dengan lemas aku berdiri menuju arah pintu untuk membukakan seseorang yang ada di...

by Kadek Indra Putra
March 6, 2026
Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat
Puisi

Puisi-puisi Syeftyan Afat | Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat

Mencatat Dingin, Mengeriap Hangat : umbu landu paranggi tubuhku mencatat dingindengan huruf-huruf kaburdi halaman kulit tipis gembur. bubuhkan sepenggal kalimatsebagai...

by Syeftyan Afat
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Edit Foto Profesional dengan CapCut: Hilangkan Latar Belakang Foto dan Ubah Background Foto dengan Mudah

Di era digital saat ini, kemampuan mengedit foto telah menjadi kebutuhan penting. Baik untuk keperluan media sosial, konten kreatif, maupun...

by tatkala
March 6, 2026
‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu
Ulas Musik

‘Earth Song’ di Tengah Deru Mesiu

Dunia seakan berhenti sejenak, bukan karena damai, tetapi karena ngeri oleh ledakan mesiu yang tiba-tiba memekakkan dan menyengat. Saat itu,...

by Nyoman Sukaya Sukawati
March 6, 2026
Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global
Esai

Etika Universal: Menembus Batas Agama, Merajut Persahabatan Global

“I am not a man of religion, but religion alone cannot solve all our problem.” (Beyond Religion: Ethics for a...

by Agung Sudarsa
March 6, 2026
Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto
Pop

Hilangkan Background Foto dengan Hasil Profesional: Panduan Lengkap Menghilangkan Latar Belakang Foto

Di era digital saat ini, kemampuan untuk membuat foto terlihat profesional menjadi sangat penting, terutama bagi pembuat konten dan pebisnis...

by tatkala
March 6, 2026
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co