25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ramayana: Di Srilangka, Rahwana adalah Pahlawan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Topeng Rahwana

RAMAYANA seperti ditakdirkan lahir untuk ditafsir. Ke mana pun ia menyebar, di sana ia “bermutasi” menjadi versi tersendiri. Tak terhitung pementasan, novel, cerpen, film, dan berbagai jenis karya seni lainnya merupakan hasil “tafsir” dan “transformasi” teks Ramayana.

Ramayana bahkan melahirkan semacam “tradisi tafsir” yang khas Jawa dan Bali. Para dalang, dramawan, sutradara, dan juga sastrawan tembang, terus menjadikan teks Ramayana sebagai salah satu sumber inspirasi berkesenian.

Di panggung-panggung hiburan pedesaan Ubud dan Gianyar, Bali, hampir setiap hari teks Ramayana menjadi paket konsumsi pariwisata. Teks Ramayana “dipenggal” dan “diadopsi” sebagai pemanis pertunjukan kesenian kecak, lahirlah Kecak Ramayana. Di depan turis awam, pertunjukan ini disebut Monkey Dance. Tokoh Rama umumnya diperankan penari perempuan. Kecak Ramayana adalah sebuah hasil “tafsir” terhadap teks Ramayana.

Sebagai sebuah paket hiburan, teks Ramayana artinya sudah ditarik ke wilayah komersial. Ia “dikomoditisasi” menjadi sarana pengumpul uang, bukan untuk tujuan sakral atau religius.

Berabad-abad lalu, diperkirakan antara 1028—1035, Empu Kanwa sudah melakukan sebuah tafsir. Ia mereinterpretasi sebuah teks Ramayana, yaitu Ravanavadha (kematian Rawana) karya Bhatti, sebagai “prototipe” penulisan kakawin Ramayana. PJ Zoetmulder—dalam Kalangwan: A Survey of Old Javanese literature (1974)—melihat bahwa kakawin Ramayana, dari pupuh 17 sampai akhir atau sepertiga dari kakawin, menunjukkan “penyimpangan” pengarangnya. Ia mereinterpretasi dan bercerita dengan caranya sendiri, terlepas dari versi Bhatti-kavya.

Ravanavadha—lebih dikenal sebagai Bhatti-kavya—diperkirakan ditulis abad ke-6 atau ke-7, juga merupakan tafsir atau saduran teks Ramayana yang ada sebelumnya. Kakawin Ramayana adalah bukti dan puncak pencapaian seni “menafsir” teks Ramayana di zaman Jawa Kuno.

Kelahiran kakawin Ramayana ini tidak bisa dipisah dengan keemasan sebuah kerajaan Hindu-Budha di Jawa bagian timur yang dipimpin oleh Erlangga, raja yang melindungi para kawi (penyair). Diperkirakan, kakawin Ramayana adalah “teks utama” bagi masyarakat saat itu.

Setelah mayoritas penduduk Jawa masuk Islam, teks Ramayana tidak lagi menjadi “teks utama”. Sementara di Bali sampai saat ini, dalam pesantian (kelompok tembang atau kelompok pengajian yang berbasis pada susastra tembang) dan di sela-sela odalan (persembahyangan di pura), bait-bait kakawain Ramayana ditafsirkan dalam “perspektif agama”.

Melantunkan/melafalkan (makidung-mawirama) dan menafsir/menginterpretasi (mababasan) menjadi bagian penting dalam sebuah pasantian, dan juga bagian penting berbagai macam ritual. Mababasan dan wirama juga dilombakan antardesa dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tradisi mababasan dan wirama adalah “tradisi tafsir” yang tidak bisa lepas kelahirannya dari kebiasaan “menafsir” teks Ramayana.

Sebagai ilustrasi, sebuah bait yang sangat terkenal dari kakawin Ramayana, pupuh pertama, bait ketiga, berbunyi: Gunamanta Sang Dasaratha wruh siraring weda bhakti ring dewa tar malupeng pitra puja masih ta sireng swagotra kabeh. Terjemahannya (bait ini bukan hanya ditafsir sebagai bait ‘sastra spiritual’), ‘Seorang (Hindu) yang baik, semestinya seperti sang Dasaratha (ayah Rama mertua Sita), mempelajari Weda (kitab suci) sampai paham.

Setelah paham ilmu pengetahuan (suci), seseorang harus menahan diri agar tidak sombong. Seorang (Hindu) yang terpuji, tetap tidak melupakan pitra puja (upacara penghormatan pada leluhur). Pitra puja adalah sarana manusia (Hindu) untuk memberi penghormatan leluhur, menjaga seseorang agar tetap rendah hati (tidak arogan). Itu pun belum lengkap. Seseorang harus mencintai keluarga dan semua mahluk untuk meraih kedamaian di dunia dan akhirat.’

“Kenyataan tak Nyata”

Cara melihat sebuah teks dari perspektif moral dan agama banyak mewarnai cara orang Bali dalam “melihat” teks Ramayana. Walaupun demikian, dalam masyarakat Bali tidak ada tradisi penyembahan terhadap sosok Rama di pura-pura atau pun acara-acara pesantian.

Situasi tersebut berbeda dengan di India. Dalam bahasa Sanskrit, Ram memang bermakna yang tertinggi, sumber keilahian. Ram padanan kata Tuhan. Kata terakhir yang di ucapkan Mahatma Gandhi ketika tertembak adalah Ram.

Bagi para pemuja Rama atau pengikut Vaisnava di India, dan juga pengikut di Bali, Ram adalah “biji mantra” yang dikumandangkan tanpa henti untuk mendoakan kesejahteraan dunia. Lebih jauh, bagi pengikut Vaisnava yang “militan”, keyakinan mereka terhadap sosok Rama sekiranya sebanding dengan keyakinan masyarakat Kristen dalam melihat Yesus sebagai Tuhan yang lahir ke dunia.

Bagaimana dengan Sita? Sita tetap Sita, istri Rama, sekalipun selalu mengapung di lautan prahara. Seniman bisa menafsir dengan “bebas”, bahkan “radikal”. Akan tetapi, tidak bagi para pemuja Rama. Mereka punya interpretasi berdasar rasa (getaran batiniah) yang tidak selalu sama dengan semangat “kebebasan kreatif”. Rakyat India dan kelompok pemuja Rama di Bali atau Indonesia, banyak yang meyakini bahwa kisah itu sebagai “kebenaran sejarah”. Rama dan Sita diyakini sebagai pasangan yang pernah hidup di dunia ribuan tahun silam. Mereka memeluk “kenyataan tak nyata” itu.

Ketika seorang seniman atau siapa pun yang dinilai menjungkir-balik “kenyataan tak nyata” tersebut, ia berhadapan dengan pemeluknya. Baru saja tersiar berita, Garin Nugroho—seorang sutradara—mencoba mereinterpretasi (dekonstruksi?) tokoh-tokoh Ramayana. Dan masih dalam proses mentransformasikan tafsir itu menjadi sebuah garapan film, ia sudah “dicegat” dan “diadili” oleh sebuah tantangan yang berasal dari luar dunia seni. Satu berusaha merealisasikan “imajinasi”-nya, satu berusaha menghadang agar jangan sampai terjadi realisasi “imajinasi” itu, yang dikhawatirkan bisa merusak “kenyataan tak nyata” yang dipeluknya.

Kehadiran Dewi Sita, seperti umumnya istri-istri nabi dalam berbagai agama, tidak menjadi pokok atau sentral pengisahan kehidupan suaminya. Perempuan-perempuan itu menjadi tokoh-tokoh bayangan, timbul dan tenggelam. Sentral pengisahan berada pada para lelaki.

Bisa diprediksikan akan muncul reaksi sejenis jika seorang seniman berani menafsirkan secara “bebas” kisah salah seorang istri nabi. Katakanlah istri nabi tertentu dalam pentas teater digambarkan berselingkuh dan doyan seks. Apakah kelompok yang “meyakini” nabi bersangkutan akan berdiam diri?

Belum lama berselang, Maria Magdalena dikisahkan tidur dengan Yesus, publik barat langsung bereaksi. Reaksi seperti ini bisa dari kelompok mana saja, tak cuma bisa terjadi di Indonesia, tidak juga hanya muncul dari kelompok mayoritas.

Sekte, agama, komunitas spiritual, atau sebuah suku umumnya punya “kenyataan tak nyata” yang mereka sepakati dalam “kesadaran batin”. Untuk “mengada” mereka perlu “kenyataan tak nyata” itu. Kalau itu terguncang, terguncang pula eksistensi mereka. Dalam hal ini, kelompok spiritual itu sedang berusaha memproteksi “kenyataan tak nyata” itu.

Keberadaan kisah Ramayana dan tokoh-tokohnya di kalangan anggota pesantian di Bali umumnya ditanggapi dengan konsep hana tan hana, ‘ada dan tak ada’. Ini persoalan “kenyataan tak nyata”, semestinya rendah hati untuk tidak bersikap cepat-cepat menyimpulkan, berpikir “serba betul-betul pasti”, seolah-olah segala sesuatu bisa disimpulkan.

Belajar dari kajian sastra, jika horizon of expectation (referensi teks, sudut pandang, tingkat pemahaman, wawasan, dan latar belakang budaya) kita berbeda dalam menyelami dan memahami sebuah teks, hasilnya jelas berbeda-beda, dan tak mungkin tercipta “standardisasi tafsir” terhadap sebuah teks, sekalipun ditempuh jalan kekerasan. Lantas apakah seorang cukup pantas mendaulat diri untuk menjadi polisi, jaksa, hakim, sekaligus juri dan pengeksekusi dalam “kasus” hana tan hana ini?

Negeri Sri Lanka menjadi sebuah pelajaran. Di sana teks Ramayana “dijungkir-balik”. Rahwana-lah sang pahlawan. Dewi Sita bukan diculik, tetapi lari ke Alengka meminta perlindungan Rahwana. Sosok Rama bukanlah tokoh terpuji, tetapi seorang “ekspansionis”. Di negeri itu, masyarakat melakukan “dekonstruksi teks” secara komunal. Institusi apa yang bisa menghentikan sebuah kekuatan “dekontrusksi komunal” semacam itu? (T)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Kompas dengan judul “Menafsir Ramayana”

Tags: balikebudayaanRamayananwayang
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Alexander Robert Nainggolan# Ctrl + A, Alt + Tab, Shift + F3, Ctrl + X

Next Post

Mengenal Patria – Tugas Mulia Pemuda Buddhis

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
0
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

Read moreDetails

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

by Chusmeru
June 24, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

Read moreDetails

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails
Next Post

Mengenal Patria – Tugas Mulia Pemuda Buddhis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co