5 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Menafsir Ramayana: Di Srilangka, Rahwana adalah Pahlawan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
February 2, 2018
in Esai

Topeng Rahwana

RAMAYANA seperti ditakdirkan lahir untuk ditafsir. Ke mana pun ia menyebar, di sana ia “bermutasi” menjadi versi tersendiri. Tak terhitung pementasan, novel, cerpen, film, dan berbagai jenis karya seni lainnya merupakan hasil “tafsir” dan “transformasi” teks Ramayana.

Ramayana bahkan melahirkan semacam “tradisi tafsir” yang khas Jawa dan Bali. Para dalang, dramawan, sutradara, dan juga sastrawan tembang, terus menjadikan teks Ramayana sebagai salah satu sumber inspirasi berkesenian.

Di panggung-panggung hiburan pedesaan Ubud dan Gianyar, Bali, hampir setiap hari teks Ramayana menjadi paket konsumsi pariwisata. Teks Ramayana “dipenggal” dan “diadopsi” sebagai pemanis pertunjukan kesenian kecak, lahirlah Kecak Ramayana. Di depan turis awam, pertunjukan ini disebut Monkey Dance. Tokoh Rama umumnya diperankan penari perempuan. Kecak Ramayana adalah sebuah hasil “tafsir” terhadap teks Ramayana.

Sebagai sebuah paket hiburan, teks Ramayana artinya sudah ditarik ke wilayah komersial. Ia “dikomoditisasi” menjadi sarana pengumpul uang, bukan untuk tujuan sakral atau religius.

Berabad-abad lalu, diperkirakan antara 1028—1035, Empu Kanwa sudah melakukan sebuah tafsir. Ia mereinterpretasi sebuah teks Ramayana, yaitu Ravanavadha (kematian Rawana) karya Bhatti, sebagai “prototipe” penulisan kakawin Ramayana. PJ Zoetmulder—dalam Kalangwan: A Survey of Old Javanese literature (1974)—melihat bahwa kakawin Ramayana, dari pupuh 17 sampai akhir atau sepertiga dari kakawin, menunjukkan “penyimpangan” pengarangnya. Ia mereinterpretasi dan bercerita dengan caranya sendiri, terlepas dari versi Bhatti-kavya.

Ravanavadha—lebih dikenal sebagai Bhatti-kavya—diperkirakan ditulis abad ke-6 atau ke-7, juga merupakan tafsir atau saduran teks Ramayana yang ada sebelumnya. Kakawin Ramayana adalah bukti dan puncak pencapaian seni “menafsir” teks Ramayana di zaman Jawa Kuno.

Kelahiran kakawin Ramayana ini tidak bisa dipisah dengan keemasan sebuah kerajaan Hindu-Budha di Jawa bagian timur yang dipimpin oleh Erlangga, raja yang melindungi para kawi (penyair). Diperkirakan, kakawin Ramayana adalah “teks utama” bagi masyarakat saat itu.

Setelah mayoritas penduduk Jawa masuk Islam, teks Ramayana tidak lagi menjadi “teks utama”. Sementara di Bali sampai saat ini, dalam pesantian (kelompok tembang atau kelompok pengajian yang berbasis pada susastra tembang) dan di sela-sela odalan (persembahyangan di pura), bait-bait kakawain Ramayana ditafsirkan dalam “perspektif agama”.

Melantunkan/melafalkan (makidung-mawirama) dan menafsir/menginterpretasi (mababasan) menjadi bagian penting dalam sebuah pasantian, dan juga bagian penting berbagai macam ritual. Mababasan dan wirama juga dilombakan antardesa dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai kegiatan ekstrakurikuler. Tradisi mababasan dan wirama adalah “tradisi tafsir” yang tidak bisa lepas kelahirannya dari kebiasaan “menafsir” teks Ramayana.

Sebagai ilustrasi, sebuah bait yang sangat terkenal dari kakawin Ramayana, pupuh pertama, bait ketiga, berbunyi: Gunamanta Sang Dasaratha wruh siraring weda bhakti ring dewa tar malupeng pitra puja masih ta sireng swagotra kabeh. Terjemahannya (bait ini bukan hanya ditafsir sebagai bait ‘sastra spiritual’), ‘Seorang (Hindu) yang baik, semestinya seperti sang Dasaratha (ayah Rama mertua Sita), mempelajari Weda (kitab suci) sampai paham.

Setelah paham ilmu pengetahuan (suci), seseorang harus menahan diri agar tidak sombong. Seorang (Hindu) yang terpuji, tetap tidak melupakan pitra puja (upacara penghormatan pada leluhur). Pitra puja adalah sarana manusia (Hindu) untuk memberi penghormatan leluhur, menjaga seseorang agar tetap rendah hati (tidak arogan). Itu pun belum lengkap. Seseorang harus mencintai keluarga dan semua mahluk untuk meraih kedamaian di dunia dan akhirat.’

“Kenyataan tak Nyata”

Cara melihat sebuah teks dari perspektif moral dan agama banyak mewarnai cara orang Bali dalam “melihat” teks Ramayana. Walaupun demikian, dalam masyarakat Bali tidak ada tradisi penyembahan terhadap sosok Rama di pura-pura atau pun acara-acara pesantian.

Situasi tersebut berbeda dengan di India. Dalam bahasa Sanskrit, Ram memang bermakna yang tertinggi, sumber keilahian. Ram padanan kata Tuhan. Kata terakhir yang di ucapkan Mahatma Gandhi ketika tertembak adalah Ram.

Bagi para pemuja Rama atau pengikut Vaisnava di India, dan juga pengikut di Bali, Ram adalah “biji mantra” yang dikumandangkan tanpa henti untuk mendoakan kesejahteraan dunia. Lebih jauh, bagi pengikut Vaisnava yang “militan”, keyakinan mereka terhadap sosok Rama sekiranya sebanding dengan keyakinan masyarakat Kristen dalam melihat Yesus sebagai Tuhan yang lahir ke dunia.

Bagaimana dengan Sita? Sita tetap Sita, istri Rama, sekalipun selalu mengapung di lautan prahara. Seniman bisa menafsir dengan “bebas”, bahkan “radikal”. Akan tetapi, tidak bagi para pemuja Rama. Mereka punya interpretasi berdasar rasa (getaran batiniah) yang tidak selalu sama dengan semangat “kebebasan kreatif”. Rakyat India dan kelompok pemuja Rama di Bali atau Indonesia, banyak yang meyakini bahwa kisah itu sebagai “kebenaran sejarah”. Rama dan Sita diyakini sebagai pasangan yang pernah hidup di dunia ribuan tahun silam. Mereka memeluk “kenyataan tak nyata” itu.

Ketika seorang seniman atau siapa pun yang dinilai menjungkir-balik “kenyataan tak nyata” tersebut, ia berhadapan dengan pemeluknya. Baru saja tersiar berita, Garin Nugroho—seorang sutradara—mencoba mereinterpretasi (dekonstruksi?) tokoh-tokoh Ramayana. Dan masih dalam proses mentransformasikan tafsir itu menjadi sebuah garapan film, ia sudah “dicegat” dan “diadili” oleh sebuah tantangan yang berasal dari luar dunia seni. Satu berusaha merealisasikan “imajinasi”-nya, satu berusaha menghadang agar jangan sampai terjadi realisasi “imajinasi” itu, yang dikhawatirkan bisa merusak “kenyataan tak nyata” yang dipeluknya.

Kehadiran Dewi Sita, seperti umumnya istri-istri nabi dalam berbagai agama, tidak menjadi pokok atau sentral pengisahan kehidupan suaminya. Perempuan-perempuan itu menjadi tokoh-tokoh bayangan, timbul dan tenggelam. Sentral pengisahan berada pada para lelaki.

Bisa diprediksikan akan muncul reaksi sejenis jika seorang seniman berani menafsirkan secara “bebas” kisah salah seorang istri nabi. Katakanlah istri nabi tertentu dalam pentas teater digambarkan berselingkuh dan doyan seks. Apakah kelompok yang “meyakini” nabi bersangkutan akan berdiam diri?

Belum lama berselang, Maria Magdalena dikisahkan tidur dengan Yesus, publik barat langsung bereaksi. Reaksi seperti ini bisa dari kelompok mana saja, tak cuma bisa terjadi di Indonesia, tidak juga hanya muncul dari kelompok mayoritas.

Sekte, agama, komunitas spiritual, atau sebuah suku umumnya punya “kenyataan tak nyata” yang mereka sepakati dalam “kesadaran batin”. Untuk “mengada” mereka perlu “kenyataan tak nyata” itu. Kalau itu terguncang, terguncang pula eksistensi mereka. Dalam hal ini, kelompok spiritual itu sedang berusaha memproteksi “kenyataan tak nyata” itu.

Keberadaan kisah Ramayana dan tokoh-tokohnya di kalangan anggota pesantian di Bali umumnya ditanggapi dengan konsep hana tan hana, ‘ada dan tak ada’. Ini persoalan “kenyataan tak nyata”, semestinya rendah hati untuk tidak bersikap cepat-cepat menyimpulkan, berpikir “serba betul-betul pasti”, seolah-olah segala sesuatu bisa disimpulkan.

Belajar dari kajian sastra, jika horizon of expectation (referensi teks, sudut pandang, tingkat pemahaman, wawasan, dan latar belakang budaya) kita berbeda dalam menyelami dan memahami sebuah teks, hasilnya jelas berbeda-beda, dan tak mungkin tercipta “standardisasi tafsir” terhadap sebuah teks, sekalipun ditempuh jalan kekerasan. Lantas apakah seorang cukup pantas mendaulat diri untuk menjadi polisi, jaksa, hakim, sekaligus juri dan pengeksekusi dalam “kasus” hana tan hana ini?

Negeri Sri Lanka menjadi sebuah pelajaran. Di sana teks Ramayana “dijungkir-balik”. Rahwana-lah sang pahlawan. Dewi Sita bukan diculik, tetapi lari ke Alengka meminta perlindungan Rahwana. Sosok Rama bukanlah tokoh terpuji, tetapi seorang “ekspansionis”. Di negeri itu, masyarakat melakukan “dekonstruksi teks” secara komunal. Institusi apa yang bisa menghentikan sebuah kekuatan “dekontrusksi komunal” semacam itu? (T)

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Kompas dengan judul “Menafsir Ramayana”

Tags: balikebudayaanRamayananwayang
Share11TweetSendShareSend
Previous Post

Alexander Robert Nainggolan# Ctrl + A, Alt + Tab, Shift + F3, Ctrl + X

Next Post

Mengenal Patria – Tugas Mulia Pemuda Buddhis

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails
Next Post

Mengenal Patria – Tugas Mulia Pemuda Buddhis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co