23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Reuni Sekolah, Bukan Ajang Pamer Kesuksesan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 14, 2023
in Esai
Memaknai Reuni Sekolah, Bukan Ajang Pamer Kesuksesan

Reuni Smansa Singaraja | Foto: Dok Ketut Suantara

HARI HARI TERAKHIR, laman media sosial saya dipenuhi foto dan berita reuni sekolah teman teman media maya saya. Ada yang reuni SD, SMP, SMA dan kuliah, untungnya tak ada yang mengadakan reuni teman seangkatan TK. Yang saya lihat adalah wajah wajah gembira dari para peserta reuni. Hampir tak satu-pun yang memperlihatkan muka cemberut.

Saya membayangkan mereka yang ikut reuni kebanyakan  adalah mereka dengan pribadi extrovert, orang yang suka keramaian, yang mendapat energi dari pertemuan dengan banyak orang. Tapi benarkah demikian adanya, tidakkah para introvert seperti saya bisa juga menikmati suasana itu seperti mereka?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya iseng berkomunikasi dengan beberapa sahabat yang baru saja melaksanakan reuni, entah SMP, maupun SMA. Entah dia sebagai peserta fasif ataupun menjadi inisiator dan organisator pelaksanaann reuni tersebut. Dan ternyata saya mendapatkan jawaban yang cukup beragam dan ada yang mengejutkan.

Seorang teman mengeluh begini, “Aku kecewa, ternyata tujuan kita mengadakan reuni, harapan kita biar ketemu sahabat lama ternyata menyisakan kegelisahan tentang cara kita memandang sebuah persahabatan. Apa saya yang terlalu berharap akan indahnya sebuah pertemuan kembali, tapi ini lho sudut pandang saya seorang extrovert, bagaimana menurut pandanganmu, yang kutahu seorang introvert?“

Begitu seorang teman menumpahkan perasaannya pada saya. Kebetulan saya sendiri habis reuni besar angkatan SMA kami di Kintamani beberapa bulan yang lalu, dan tak ada kata lain selain bahagia yang bisa saya ingat tentang acara tersebut.  Jadi saat sahabat saya menyampaikan keluhannya itu , saya tergerak untuk menganalisanya lebih lanjut untuk dituangkan dalam tulisan ini. 

Penulis (saya) paling kiri dan teman-teman saat reuni | Foto: Dok Ketut Suantara

Sesuai pertanyaan yang diajukan, saya akan coba melihatnya dari dua sisi. Secara umum bagaimana orang orang memaknai sebuah reuni sekolah, yang kedua bagaimana kegiatan reuni ini dari sudut pandang orang introvert, mereka yang tak menikmati keramaian, orang orang yang butuh kesunyian untuk me- recharge kembali energi hidupnya.

Dari percakapan dengan beberapa sahabat, setidaknya saya bisa membagi 3 kriteria orang memaknai sebuah reuni sekolah, yaitu :

1. Yang menganggap kegiatan ini penting, bahkan sangat penting. Kapan lagi kita bisa bertemu teman sekolah, teman  ber-seragam putih abu abu dalam suasana santai, riang gembira. Mengenang kembali kebersamaan kita puluhan tahun yang lalu. Teman adalah harta yang tak bisa dicuri dari kita, ajaran Ikagai Jepang mensyaratkan harmonis dan luasnya hubungan sosial untuk hidup yang lebih panjang dan berkualitas. Dan tak saya ragukan lagi, mayoritas sahabat saya masuk dalam kriteria ini, terlihat dari cara mereka menikmati acara tersebut

2. Yang menganggap ini kegiatan kurang penting. Apa sih yang bisa diharapkan dari kegiatan reuni kita, selain hanya buang buang waktu, tenaga dan uang. Ini mungkin bagi mereka yang telah mapan, punya karier bagus, pekerjaan dan penghasilan yang  besar. Menganggap waktu adalah uang. Atau mereka yang idealis , memperhitungkan setiap aktivitas mestilah ada tujuannnya.Tapi  satu yang sama diantara dua  orang ini adalah bahwa mereka tak memandang penting arti pertemanan. Teman bisa datang dan pergi kapan pun, seperti daun jatuh tertiup begitu mungkin pikir mereka. Atau mereka yang punya motif tertentu saaat membina sebuah persahabatan.  “Ngapain  hari hari gini reuni, menjelang pemilu lagi jangan jangan? “…nah, mungkin ada yang berpikiran seperti ini.

3. Mereka yang bersikap netral. Ada reuni , kalau ada waktu datang, kalau tak sempat ya tak apa-apa, hidup masih tetap berjalan tanpa adanya reuni-reunian begini. Mereka biasanya adalah individu yang dihinggapi sindrom inferioritas, menganggap diri kalah, tak sebanding dengan teman teman sekolahnya. Entah dari sisi pekerjaan, kedudukan sosial dan terutama finansial.” Uang segitu (biaya reuni) besar lho artinya buat kami, lebih baik untuk beli beras makan keluarga !”, itu barangkali alasan yang muncul saat diajak ikut reuni.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana anda dengan pribadi kurang terbuka  memaknai arti sebuah reuni sekolah, itu yang perlu saya paparkan, agar tak rugi waktunya berdiskusi dengan saya,

Saya akan menjawabnya secara apple to apple, membandingkan langsung dengan apa yang saya alami , dengan kriteria yang sama, yaitu masa SMA, dengan waktu yang tak berbeda jauh. Dan masalah lokasi pelaksanaan saya rasa tak terlalu berpengaruh signifikan.

Jujur, sebagai seorang yang idealis saya juga megharap ada sedikit nilai tambah dari kegiatan kumpul banyak orang begini, generasi  Y yang lahir menjelang tahun 80 an, pada saat teknologi telah maju mestilah punya sebuah keprihatinan khusus tentang nasib bangsanya dan bukan sekedar nyanyi dan joged bareng seperti yang dicontohkan televisi kita.

Saat ada waktu berbicara di depan, saya selipkan pesan sastra, kegemaran saya dihadapan seratusan teman angkatan saya yang hadir pagi itu di bukit Kintamani yang dingin.”Cerita kita, bagaikan pencuri ulung yang masuk dan bersembunyi di sudut ingatan kita, dia akan hadir kembali saat tiba waktu kita memanggil, dan mengingatnya,“ begitu saya mengutip kata kata AS Laksana. Entah apakah ada yang masih ingat dengan kata kata indah ini diantara  para sahabat  saya yang hadir disana.

Dan untuk lebih jujurnya lagi, motivasi utama saya untuk hadir dan bertemu kembali teman teman lama saya adalah untuk bisa melakukan , memperlihatkan apa yang dulu tak bisa dan tak sempat saya lakukan saat masih berseragam putih abu-abu dulu. Tapi dari segi positif pastinya. 

Saya dulu anak kampung yang sekolah ke kota, tak cukup percaya diri untuk maju ke depan kelas, bicara depan orang banyak, bercanda dengan teman baru apalagi lawan jenis. Sebagai anak yang terlihat serius tak banyak yang berani untuk mengajak bercanda. Karena nilai cukup bagus, dari kelas 1 sampai tamat tak pernah pindah kelas. Selain teman sekelas dan teman yang pernah main ke kost-an, tak banyak yang tahu nama saya. Mungkin tak lebih dari 50 orang teman saya, dan yang cukup akrab mungkin kurang dari setengahnya.

Dan saya merasa hari inilah saatnya saya menunjukkan siapa diri saya yang sesungguhnya, orang yang ramah, tak canggung untuk memulai pembicaraan duluan, bercanda dan yang terpenting, dibalik wajah serius saya ada sedikit selera humor yang belum sempat mekar. Adanya media sosial hari ini cukup mengkondisikan  suasana pertemuan kembali, mereka yang pernah bersama satu sekolah di tempat dan waktu yang sama ini. Percakapan di WAGS, unggahan di face book cukup mendekatkan kembali hubungan komunikasi diantara kami.

Reuni Smansa | Foto: Dok Ketut Suantara

Akhirnya hari itu tiba, se-ratusan alumni Smansa Singaraja yang tamat tahun 1995 menautkan diri di satu tempat, datang dari segenap penjuru, ibu kota negara, ibu kota propinsi maupun daerah lain. Menyempatkan waktu untuk bisa bertemu lagi, pada satu waktu yang tak mesti bisa terulang kembali. Ada canda, tawa ceria, guyonan, nyanyi  bersama, ngibing jogged, makan dan foto bersama.

Dan saat yang saya harapkan tiba, sesi berbagi cerita pengalaman saat masih berbaju putih abu abu untuk diceritakan di depan semua yang hadir, dan saya kuatkan tekad untuk maju ke depan, menuntaskan misi yang tertunda. Mungkin karena waktunya yang kurang pas, saya maju saat acara mau berakhir, habis makan bersama, beberapa teman sudah ada yang balik ke kotanya. Tapi tak apa, setidaknya saya sudah berusaha ikut mewarnai suasana pertemuan yang hangat ini.

Di satu sisi saya puas karena sempat bicara ke depan, setidaknya nanti ketemu di jalan teman teman saya ingat, ooo yang cerita ke depan saat reuni kemarin itu ya, tak ada salahnya kan. Untuk tujuan menunjukkan sisi humor, saya merasa gagal total, saat saya menunjukkan sebuah joke, tak ada satupun yang tertawa. Saya jadi penasaran, apa saya yang memang garing, atau selera humor mereka yang tak cukup bagus. Baiknya saya ceritakan sedikit disini, pidato kebudayaan saya hari itu, mungkin ada yang ingin tersenyum setelah membacanya :

Pada suatu  waktu saya unggah di status di medsos saya, foto bersama teman SMA yang kebetulan muslim dengan kalimat seperti  ini, bersama teman SMA saya, Ali M sesama minoritas saat kami SMA dulu, dia dalam keyakinan, saya dalam kepribadian, Saya diam sejenak lalu  berkata, tak ada orang Singaraja kalem, yang ada itu mereka banyak omong tapi baik hati, tak ada yang mengerti joke saya, sedih rasanya. Bla,bla,bla.. cerita saya tutup dengan kisah di rumah kost saat mau ujian masuk perguruan tinggi.

Saat saya dan seorang teman berkunjung ke rumah kost yang lebih banyak penghuninya teman SMA kami, kami terkejut saat ada seorang sahabat yang keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Handuknya justru digantung di leher. Ya  Tuhan,” jlema buduh nani!”, begitu umpat kami berdua dengan gusar.

Saat dikonfrontasi teman lain, memang gayanya begitu, setiap hari begitu, irit celana dalam katanya. Mimihhh, begitu kata kami berdua. Pulangnya sambil bersungut teman saya berbisik di telinga saya, entah kesal apa menyesal, saya menghentikan cerita. Lalu sang MC bertanya, “ apa yg dibisikkan teman anda pak??.”

Kebetulan yang bersangkutan ada disini, silahkan ditanya langsung!” jawab saya. Bergegas dicari teman saya itu, yang ditanya tak bisa menjawab. Balik sang MC ke saya,” tolong dijawab pak, jangan buat kami penasaran!”.

Dengan berat hati saya jawab, dia ngomong begini,” teras keleng jelema to, sing ngelah lek…tapi pantesan juari, gelahne gede soalne!”..hanya  sedikit yang tertawa.

Sejak saat itu saya bulatkan tekad, tak mau lagi maju buat stand up comedi, seperti kata seorang sahabat,” Seperti  kacang atom tut, kau garing sampai ke dalem”, sedih. [T]

15 Tahun Sudah, Kembali ke Rumah Kembali ke Sekolah | Cerita Reuni Alumni 2007 SMANSA Singaraja
Unexpected Reunion, Perjumpaan Tak Biasa Made Wianta dan Nyoman Erawan
Tags: persahabatanreuniSMAN 1 Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Next Post

Lihadnyana : PPPK Tenaga Kesehatan Harus Profesional, Paham Tugas, dan Penuhi Target

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Lihadnyana : PPPK Tenaga Kesehatan Harus Profesional, Paham Tugas, dan Penuhi Target

Lihadnyana : PPPK Tenaga Kesehatan Harus Profesional, Paham Tugas, dan Penuhi Target

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co