24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memaknai Reuni Sekolah, Bukan Ajang Pamer Kesuksesan

dr. Ketut Suantara by dr. Ketut Suantara
June 14, 2023
in Esai
Memaknai Reuni Sekolah, Bukan Ajang Pamer Kesuksesan

Reuni Smansa Singaraja | Foto: Dok Ketut Suantara

HARI HARI TERAKHIR, laman media sosial saya dipenuhi foto dan berita reuni sekolah teman teman media maya saya. Ada yang reuni SD, SMP, SMA dan kuliah, untungnya tak ada yang mengadakan reuni teman seangkatan TK. Yang saya lihat adalah wajah wajah gembira dari para peserta reuni. Hampir tak satu-pun yang memperlihatkan muka cemberut.

Saya membayangkan mereka yang ikut reuni kebanyakan  adalah mereka dengan pribadi extrovert, orang yang suka keramaian, yang mendapat energi dari pertemuan dengan banyak orang. Tapi benarkah demikian adanya, tidakkah para introvert seperti saya bisa juga menikmati suasana itu seperti mereka?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya iseng berkomunikasi dengan beberapa sahabat yang baru saja melaksanakan reuni, entah SMP, maupun SMA. Entah dia sebagai peserta fasif ataupun menjadi inisiator dan organisator pelaksanaann reuni tersebut. Dan ternyata saya mendapatkan jawaban yang cukup beragam dan ada yang mengejutkan.

Seorang teman mengeluh begini, “Aku kecewa, ternyata tujuan kita mengadakan reuni, harapan kita biar ketemu sahabat lama ternyata menyisakan kegelisahan tentang cara kita memandang sebuah persahabatan. Apa saya yang terlalu berharap akan indahnya sebuah pertemuan kembali, tapi ini lho sudut pandang saya seorang extrovert, bagaimana menurut pandanganmu, yang kutahu seorang introvert?“

Begitu seorang teman menumpahkan perasaannya pada saya. Kebetulan saya sendiri habis reuni besar angkatan SMA kami di Kintamani beberapa bulan yang lalu, dan tak ada kata lain selain bahagia yang bisa saya ingat tentang acara tersebut.  Jadi saat sahabat saya menyampaikan keluhannya itu , saya tergerak untuk menganalisanya lebih lanjut untuk dituangkan dalam tulisan ini. 

Penulis (saya) paling kiri dan teman-teman saat reuni | Foto: Dok Ketut Suantara

Sesuai pertanyaan yang diajukan, saya akan coba melihatnya dari dua sisi. Secara umum bagaimana orang orang memaknai sebuah reuni sekolah, yang kedua bagaimana kegiatan reuni ini dari sudut pandang orang introvert, mereka yang tak menikmati keramaian, orang orang yang butuh kesunyian untuk me- recharge kembali energi hidupnya.

Dari percakapan dengan beberapa sahabat, setidaknya saya bisa membagi 3 kriteria orang memaknai sebuah reuni sekolah, yaitu :

1. Yang menganggap kegiatan ini penting, bahkan sangat penting. Kapan lagi kita bisa bertemu teman sekolah, teman  ber-seragam putih abu abu dalam suasana santai, riang gembira. Mengenang kembali kebersamaan kita puluhan tahun yang lalu. Teman adalah harta yang tak bisa dicuri dari kita, ajaran Ikagai Jepang mensyaratkan harmonis dan luasnya hubungan sosial untuk hidup yang lebih panjang dan berkualitas. Dan tak saya ragukan lagi, mayoritas sahabat saya masuk dalam kriteria ini, terlihat dari cara mereka menikmati acara tersebut

2. Yang menganggap ini kegiatan kurang penting. Apa sih yang bisa diharapkan dari kegiatan reuni kita, selain hanya buang buang waktu, tenaga dan uang. Ini mungkin bagi mereka yang telah mapan, punya karier bagus, pekerjaan dan penghasilan yang  besar. Menganggap waktu adalah uang. Atau mereka yang idealis , memperhitungkan setiap aktivitas mestilah ada tujuannnya.Tapi  satu yang sama diantara dua  orang ini adalah bahwa mereka tak memandang penting arti pertemanan. Teman bisa datang dan pergi kapan pun, seperti daun jatuh tertiup begitu mungkin pikir mereka. Atau mereka yang punya motif tertentu saaat membina sebuah persahabatan.  “Ngapain  hari hari gini reuni, menjelang pemilu lagi jangan jangan? “…nah, mungkin ada yang berpikiran seperti ini.

3. Mereka yang bersikap netral. Ada reuni , kalau ada waktu datang, kalau tak sempat ya tak apa-apa, hidup masih tetap berjalan tanpa adanya reuni-reunian begini. Mereka biasanya adalah individu yang dihinggapi sindrom inferioritas, menganggap diri kalah, tak sebanding dengan teman teman sekolahnya. Entah dari sisi pekerjaan, kedudukan sosial dan terutama finansial.” Uang segitu (biaya reuni) besar lho artinya buat kami, lebih baik untuk beli beras makan keluarga !”, itu barangkali alasan yang muncul saat diajak ikut reuni.

Kembali ke pertanyaan awal, bagaimana anda dengan pribadi kurang terbuka  memaknai arti sebuah reuni sekolah, itu yang perlu saya paparkan, agar tak rugi waktunya berdiskusi dengan saya,

Saya akan menjawabnya secara apple to apple, membandingkan langsung dengan apa yang saya alami , dengan kriteria yang sama, yaitu masa SMA, dengan waktu yang tak berbeda jauh. Dan masalah lokasi pelaksanaan saya rasa tak terlalu berpengaruh signifikan.

Jujur, sebagai seorang yang idealis saya juga megharap ada sedikit nilai tambah dari kegiatan kumpul banyak orang begini, generasi  Y yang lahir menjelang tahun 80 an, pada saat teknologi telah maju mestilah punya sebuah keprihatinan khusus tentang nasib bangsanya dan bukan sekedar nyanyi dan joged bareng seperti yang dicontohkan televisi kita.

Saat ada waktu berbicara di depan, saya selipkan pesan sastra, kegemaran saya dihadapan seratusan teman angkatan saya yang hadir pagi itu di bukit Kintamani yang dingin.”Cerita kita, bagaikan pencuri ulung yang masuk dan bersembunyi di sudut ingatan kita, dia akan hadir kembali saat tiba waktu kita memanggil, dan mengingatnya,“ begitu saya mengutip kata kata AS Laksana. Entah apakah ada yang masih ingat dengan kata kata indah ini diantara  para sahabat  saya yang hadir disana.

Dan untuk lebih jujurnya lagi, motivasi utama saya untuk hadir dan bertemu kembali teman teman lama saya adalah untuk bisa melakukan , memperlihatkan apa yang dulu tak bisa dan tak sempat saya lakukan saat masih berseragam putih abu-abu dulu. Tapi dari segi positif pastinya. 

Saya dulu anak kampung yang sekolah ke kota, tak cukup percaya diri untuk maju ke depan kelas, bicara depan orang banyak, bercanda dengan teman baru apalagi lawan jenis. Sebagai anak yang terlihat serius tak banyak yang berani untuk mengajak bercanda. Karena nilai cukup bagus, dari kelas 1 sampai tamat tak pernah pindah kelas. Selain teman sekelas dan teman yang pernah main ke kost-an, tak banyak yang tahu nama saya. Mungkin tak lebih dari 50 orang teman saya, dan yang cukup akrab mungkin kurang dari setengahnya.

Dan saya merasa hari inilah saatnya saya menunjukkan siapa diri saya yang sesungguhnya, orang yang ramah, tak canggung untuk memulai pembicaraan duluan, bercanda dan yang terpenting, dibalik wajah serius saya ada sedikit selera humor yang belum sempat mekar. Adanya media sosial hari ini cukup mengkondisikan  suasana pertemuan kembali, mereka yang pernah bersama satu sekolah di tempat dan waktu yang sama ini. Percakapan di WAGS, unggahan di face book cukup mendekatkan kembali hubungan komunikasi diantara kami.

Reuni Smansa | Foto: Dok Ketut Suantara

Akhirnya hari itu tiba, se-ratusan alumni Smansa Singaraja yang tamat tahun 1995 menautkan diri di satu tempat, datang dari segenap penjuru, ibu kota negara, ibu kota propinsi maupun daerah lain. Menyempatkan waktu untuk bisa bertemu lagi, pada satu waktu yang tak mesti bisa terulang kembali. Ada canda, tawa ceria, guyonan, nyanyi  bersama, ngibing jogged, makan dan foto bersama.

Dan saat yang saya harapkan tiba, sesi berbagi cerita pengalaman saat masih berbaju putih abu abu untuk diceritakan di depan semua yang hadir, dan saya kuatkan tekad untuk maju ke depan, menuntaskan misi yang tertunda. Mungkin karena waktunya yang kurang pas, saya maju saat acara mau berakhir, habis makan bersama, beberapa teman sudah ada yang balik ke kotanya. Tapi tak apa, setidaknya saya sudah berusaha ikut mewarnai suasana pertemuan yang hangat ini.

Di satu sisi saya puas karena sempat bicara ke depan, setidaknya nanti ketemu di jalan teman teman saya ingat, ooo yang cerita ke depan saat reuni kemarin itu ya, tak ada salahnya kan. Untuk tujuan menunjukkan sisi humor, saya merasa gagal total, saat saya menunjukkan sebuah joke, tak ada satupun yang tertawa. Saya jadi penasaran, apa saya yang memang garing, atau selera humor mereka yang tak cukup bagus. Baiknya saya ceritakan sedikit disini, pidato kebudayaan saya hari itu, mungkin ada yang ingin tersenyum setelah membacanya :

Pada suatu  waktu saya unggah di status di medsos saya, foto bersama teman SMA yang kebetulan muslim dengan kalimat seperti  ini, bersama teman SMA saya, Ali M sesama minoritas saat kami SMA dulu, dia dalam keyakinan, saya dalam kepribadian, Saya diam sejenak lalu  berkata, tak ada orang Singaraja kalem, yang ada itu mereka banyak omong tapi baik hati, tak ada yang mengerti joke saya, sedih rasanya. Bla,bla,bla.. cerita saya tutup dengan kisah di rumah kost saat mau ujian masuk perguruan tinggi.

Saat saya dan seorang teman berkunjung ke rumah kost yang lebih banyak penghuninya teman SMA kami, kami terkejut saat ada seorang sahabat yang keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun. Handuknya justru digantung di leher. Ya  Tuhan,” jlema buduh nani!”, begitu umpat kami berdua dengan gusar.

Saat dikonfrontasi teman lain, memang gayanya begitu, setiap hari begitu, irit celana dalam katanya. Mimihhh, begitu kata kami berdua. Pulangnya sambil bersungut teman saya berbisik di telinga saya, entah kesal apa menyesal, saya menghentikan cerita. Lalu sang MC bertanya, “ apa yg dibisikkan teman anda pak??.”

Kebetulan yang bersangkutan ada disini, silahkan ditanya langsung!” jawab saya. Bergegas dicari teman saya itu, yang ditanya tak bisa menjawab. Balik sang MC ke saya,” tolong dijawab pak, jangan buat kami penasaran!”.

Dengan berat hati saya jawab, dia ngomong begini,” teras keleng jelema to, sing ngelah lek…tapi pantesan juari, gelahne gede soalne!”..hanya  sedikit yang tertawa.

Sejak saat itu saya bulatkan tekad, tak mau lagi maju buat stand up comedi, seperti kata seorang sahabat,” Seperti  kacang atom tut, kau garing sampai ke dalem”, sedih. [T]

15 Tahun Sudah, Kembali ke Rumah Kembali ke Sekolah | Cerita Reuni Alumni 2007 SMANSA Singaraja
Unexpected Reunion, Perjumpaan Tak Biasa Made Wianta dan Nyoman Erawan
Tags: persahabatanreuniSMAN 1 Singaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Terus Berkolaborasi, Minikino Mempertegas Posisi Budaya Film Pendek Indonesia

Next Post

Lihadnyana : PPPK Tenaga Kesehatan Harus Profesional, Paham Tugas, dan Penuhi Target

dr. Ketut Suantara

dr. Ketut Suantara

Dokter. Lahir di Tista, Busungbiu, Buleleng. Kini bertugas di Puskesmas Busungbiu 2 dan buka praktek di Desa Dapdaputih, Busungbiu

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Lihadnyana : PPPK Tenaga Kesehatan Harus Profesional, Paham Tugas, dan Penuhi Target

Lihadnyana : PPPK Tenaga Kesehatan Harus Profesional, Paham Tugas, dan Penuhi Target

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co