23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Ikrom F. by Ikrom F.
June 3, 2023
in Esai
Diskursus Dongeng Sesuap Nasi

Ilustrasi tatkala.co

SAAT MEMBACA berita mengenai peran pemuda dalam menjaga lingkungan di Kompas, saya segera teringat pada salah satu kumpulan esai karya M. Faizi yang terbit dengan judul Merusak Bumi Dari Meja Makan (2021).

Tulisan esai itu begitu sejuk dan serat akan ilmu pengetahuan soal masalah sampah dan bagaimana manusia menghadapinya. Satu-satunya tulisan yang mungkin berbau kultur budaya desa atau dongeng adalah dalam paragraf ini:

“Ketika saya kecil, saya tinggal bersama nenek. Beliau akan murka jika piring yang saya gunakan untuk makan tidak dalam keadaan bersih seperti dipel ketika saya meninggalkannya untuk cuci tangan.

“Bersihkan! Jangan sisakan sebutir pun butiran dipiringmu akan menangis kalau dibiarkan begitu! demikian pesan nenek.

Beliau tidak menjelaskan motif apa pun di balik perintah itu, termasuk adanya motivasi sunah nabi, dan sebagainya. Perintahnya malah mirip dongeng, bahwa setiap butiran nasi turut berzikir, dan sebagainya. Perintahnya malah mirip dongeng, bahwa butiran-butiran itu akan menangis jika tidak ikut dimakan manusia dan hanya berakhir di tempat sampah”.

K. M. Faizi menulis itu untuk menggambarkan pada kita seperti apa dunia desa membikin alam ini tak tercemar kotoran manusia. Tak pernah terbayangkan, kita (yang hidup dari desa) mungkin lazim mendengar petuah-petuah itu dari orang tua. Kita tidak mau bertanya soal motif apapun di balik perintah itu. Tapi justru dengan petuah itu, kita sama sekali tidak punya kesempatan agar membuang-buang makanan.

Hal sama terjadi ketika ada ajaran soal berbakti pada orang tua. Di sekolah dasar, kita mengenal cerita ikonik tentang Malin Kundang yang dikutuk jadi sebuah batu. Menurut berita yang beredar, Kutukan itu berasal dari ibunya, sebab maling kundang tak mau mengakui sang ibu di depan istirnya yang bangsawan. 

Dengan itu pikiran kita bisa tahu bahwa pembahasaan anak yang durhaka adalah hal tabu dan perlu disampaikan pada generasi selanjutnya. Tanpa ada dongeng Malin Kundang misalnya, cerita seorang anak yang dikutuk itu mungkin takkan pernah terjadi dan sialnya kita sulit memberikan pemahampan pada anak-anak apalagi kepada orang dewasa.

Pemahaman melalui dongeng ini saya kira menjadi alternatif agar proses penyampaian pitutur dari seorang sesepuh masih terjalin sekalipun dunia sudah serba cepat. Kita tahu, tantangan ke depan agar merawat alam dan lingkungan tidak hanya berupa gerakan peduli lingkungan, video pendek atau cinematik alam belaka. tapi juga dilakukan studi literasi lewat dongeng tadi.

Kita mengerti dongeng adalah sebuah cerita yang kebenarannya tak bisa dipertanggung jawabkan. Dongeng dengan segala versinya, pasti mengandung unsur kebohongan dan kesengajaan sekaligus manfaat tersendiri.

Buktinya, semenjak manusia mengenal digital dan berita, orang mulai menerjemahkan kembali apa saja yang terdapat di dalam dongeng, baik tempat, waktu, nama, dan latar belakangan yang lain.

Hanya saja kita belum mencari manfaat apa yang didapat dalam dongeng tersebut. kita juga tidak tahu bahwa dongeng tak hanya sebuah cerita, tapi dia akan terus populer sampai dunia ini berakhir, baik dalam versi sekolah, keluarga, maupun suku.

Bisa dibayangkan, seandainya kita mempunyai sebuah dongeng tentang soal sesuap nasi bisa merusak alam, mungkin itulah sekian ribu cara agar kita memahami kondisi semesta saat ini.

Dari dongeng sesuap nasi kita bisa ceritakan pada anak-anak saat mereka ingin beranjak tidur. Tentu anak-anak ini nanti, akan diceritakan ulang pada teman-temannya sehingga dongeng itu berhasil terekspos secara cepat.

Membuat dongeng alam tentu tak harus berdasarkan sifat asli cerita. Latar belakang dan tokoh legenda bisa kita buat-buat, asalkan dampaknya bisa mengenai pembaca.

Berita, misalnya tidak akan pernah dibaca oleh semua kalangan jika tak bisa menunjukkan human interest yang tepat. Sebaliknya berita dapat laku sebab pemberitaan berjalan sesuai keinginan publik.

Faktor keinginan ini yang kemudian layak dikonsumsi oleh publik. Publik begitu sudah memuncak rasa ingin tahunya, maka boleh dikata mereka pasti mengejar sampai keingintahuan itu tercapai. Logikanya sebuah toko tak akan pernah laku di mata pembeli ketika menu yang disajikan tidak bisa memenuhi hasrat.

Dari sini, Erich Fromm dalam buku To Have or To Be (2019) yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, menuliskan risalah panjang bagaimana seseorang bisa mengada sekaligus punya rasa memiliki.

Dalam modus mengada, kata Erich, tidak dapat dipisahkan terhadap soal keyakinan. Bahkan keyakinan adalah unsur yang patut diperhitungkan sedari awal.

“Jelas, tanpa keyakinan, kita menjadi hampa, putus asa, takut hingga ke dasar keberadaan.”

Diskursus soal Dongeng Sesuap Nasi tadi juga bentuk dari yang awalnya mengada. Bentuk mengada ini nantinya menjadi simbol holistik terhadap pembacaan masyarakat kita.

Tentu bukan perkara mudah, berbicara dongeng sebelum tidur seperti ini. Tapi di saat orang mulai percaya terhadap serial Maling Kundang, Bawang Merah dan Putih atau Si Kancil Mencuri Timun, kita mendapat kesempatan untuk membikin yang lebih baik.

Sejak serial dongeng perlahan-lahan mulai habis, kita seolah-olah ingin mengembalikan kembali citra nusantara melalui budayanya. Salah satu budaya yang dari dulu sudah terbentuk dan terbukti hanyalah dongeng tadi. Tapi dongeng akhirnya gagal bersaing dengan majunya teknologi, yang ingin mengubah dunia dengan satu kedipan mata. 

Keniscayaan tetaplah jadi produk kita. Sehebat apa pun canggihnya tekonolgi, legenda masih gagah dan relevan untuk dibicarakan. Tapi, kata Goenawan Muhammad, sang pahlawan sebaiknya mati. Sebab revolusi tak pernah sama dengan dongeng yang sempurna.

Sekalipun tak sempurna, dongeng adalah legenda yang memikat. Ia tetap jadi pitutur yang tabu dan syahdu.[T]

Mengapa Kita Perlu Dongeng dan Mendongeng?
Dongeng Kayu, Metode Kreatif Mengasuh Anak
Pentingnya Dongeng bagi Pembentukan Karakter Anak
Tags: dongengdongeng pendidikanpembelajaran
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Senja di Akhir Luka | Cerpen Ni Wayan Sumiasih

Next Post

Dendam pada Musuh yang Imaginer

Ikrom F.

Ikrom F.

Pemuda kelahiran Jember. Saat ini sedang mengabdi di pondok pesantren Annuqayah daerah Lubangsa. Aktif di beberapa komunitas, seperti Komunitas Penulis Kreatif (KPK) Iksaj, IPJ, LPM Fajar dan PMII. IG @ikrom_f1234.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Kemajuan Manusia dan Kestabilan Mental

Dendam pada Musuh yang Imaginer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co