7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Komunikasi dan Revitalisasi Kesenian Tradisional

Chusmeru by Chusmeru
May 22, 2023
in Esai
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana

INDONESIA PATUT berbangga memiliki Bali. Kesenian tradisional masih bertahan hidup di masyarakat hingga hari ini. Sementara di daerah lain, utamanya di Pulau Jawa, kesenian tradisional memiliki nasib yang kurang menguntungkan. Ada yang punah tergerus zaman. Ada pula yang terengah-engah dalam persaingan dengan budaya modern.

Dua hal turut mendukung kelestarian kesenian tradisional Bali.Pertama, kesenian tradisional Bali menjadi bagian tak terpisahkan dari adat dan agama masyarakat Bali. Hampir semua komunikasi ritual, adat, dan agama diwarnai dengan kesenian tradisional; baik berupa tarian, tembang maupun tetabuhan.

Kedua, industri pariwisata di Bali tumbuh pesat lantaran didukung oleh atraksi seni budaya yang khas. Wisatawan domestik dan mancanegara yang datang ke Bali bukan hanya ingin melihat pantai atau sawah, namun juga menyaksikan adat, budaya, dan kesenian tradisional. Tanpa adanya kesenian tradisional, Bali tidak akan menjadi destinasi wisata yang menarik.

Sementara daerah lain di Indonesia, yang juga memiliki destinasi wisata indah kurang diminati wisatawan karena tidak didukung oleh potensi seni budayanya. Kesenian tradisional di daerah seringkali ada dalam kondisi hidup enggan, mati pun tak mau. Padahal di masa lalu hampir setiap desa di Tanah Air memiliki kesenian tradisional.

Regenerasi

Gaya hidup modern dan komunikasi era baru kerap dianggap sebagai faktor yang membuat kesenian tradisional tidak dapat bertahan dan berkembang di daerah. Orang lebih asyik di depan gawai sambil menyaksikan berbagai totonan, ketimbang harus datang ke lokasi pertunjukan kesenian tradisional.

Hasil penelitian terhadap keberadaan kesenian tradisional Ebeg (Kuda Lumping) di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menunjukkan adanya tiga hal serius (Chusmeru, 2011). Pertama, proses komunikasi dan pelestarian kesenian tradisional terkendala oleh regenerasi pelaku kesenian.

Generasi muda merasa enggan menjadi pelaku kesenian tradisional. Alasannya malu saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan teman-teman jika menjadi pemain kesenian. Apalagi adanya stigma terhadap pemain kesenian yang dianggap kuno dan dekat dengan hal-hal klenik. Hal ini tentu saja menghambat proses komunikasi dan regenerasi dari pelaku kesenian tradisional yang telah berusia lanjut kepada yang muda.

Kedua, ditemukan problem organisasional pada kesenian tradisional di daerah. Banyak kelompok kesenian yang tidak memiliki struktur organisasi resmi. Hal ini akan berpengaruh terhadap proses pembinaan kesenian tradisional oleh pemerintah. Keterbatasan pengetahuan dan pendidikan para pelaku kesenian di daerah menyebabkan kesenian tidak terorganisasi dengan baik.

Ketiga, ada masalah finansial yang menghantui kesenian tradisional di daerah. Kelompok kesenian biasanya dikelola secara sosial dan nonprofit. Sementara berbagai peralatan dan perlengkapan kesenian memerlukan perawatan yang membutuhkan biaya.

Sumber penghasilan yang digunakan untuk operasional perawatan adalah honor pementasan. Padahal jadwal pentas kesenian tidak menentu, karena masyarakat kini lebih memilih menanggap hiburan musik organ tunggal ketimbang kesenian tradisional.

Faktor yang menjadi penghambat pelestarian dan regenerasi membuat kesenian tradisional semakin terpinggirkan. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah penyelamatan agar kesenian tradisional kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Revitalisasi

Setiap daerah memiliki jenis kesenian tradisional yang khas dengan permasalahan masing-masing. Langkah penyelamatan diperlukan agar masyarakat tidak kehilangan orientasi dan jatidirinya. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan revitalisasi agar kesenian yang nyaris punah dapat kembali hidup, dan yang terpinggirkan dapat berperan kembali dalam komunikasi dan kehidupan sosial budaya masyarakat.  

Revitalisasi kesenian tradisional dapat dilakukan secara edukasional, institusional, dan relasional. Langkah edukasional ditempuh dengan menjadikan kesenian tradisional bagian dari kurikulum atau muatan lokal di sekolah, sejak tingkat pendidikan dasar sampai perguruan tinggi. Dengan demikian, kecintaan terhadap kesenian tradisional sudah terbangun sejak dini.

Secara institusional, kesenian tradisional dapat diselamatkan dengan pembuatan peraturan daerah (Perda) yang mengatur tentang pelestarian kesenian tradisional di daerah. Hal ini memerlukan komitmen legislatif dan eksekutif dalam upaya revitalisasi kesenian tradisional.

Secara kelembagaan, kesenian tradisional juga dapat dipertahankan melalui pembentukan kelompok-kelompok kesenian di daerah. Patut dicontoh apa yang terdapat di Bali, dimana setiap desa memiliki sekeha (kelompok) kesenian tradisional. Tak heran jika kesenian tradisional di Bali masih bertahan sampai kini.

Pemerintah di daerah berkepentingan untuk menyelenggarakan festival kesenian secara rutin. Dengan demikian kelompok-kelompok kesenian terpacu untuk berkreativitas. Festival kesenian juga menjadi bagian dari komunikasi sosial masyarakat dengan akar-akar budaya mereka. Lagi-lagi Bali patut dicontoh. Setiap tahun Bali menggelar Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diikuti oleh kelompok kesenian di seluruh kabupaten di Bali.

Langkah relasional berupa kemitraan dengan pihak-pihak yang selama ini diuntungkan atau memiliki kepedulian terhadap kesenian tradisional. Sejauh ini industri pariwisata diuntungkan dengan kesenian yang ada di daerah. Maka sudah sewajarnya jika pemangku kepentingan di sektor pariwisata ikut melestarikan kesenian tradisional.

Revitalisasi kesenian tradisional bukan hanya memerlukan tenaga, tetapi juga membutuhkan biaya. Pihak pengelola objek dan daya tarik wisata, biro perjalanan, perhotelan, dan restoran dapat menyisihkan sebagaian keuntungan mereka untuk program pelestarian kesenian.

Bentuknya bisa berupa kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) dengan menjadikan kelompok kesenian di daerah sebagai “anak angkat”. Kepada kelompok kesenian diberikan bantuan finansial untuk melestarikan keseniannya. Bisa juga memberi kesempatan kepada kelompok kesenian untuk tampil dalam penyambutan wisatawan di tempat usaha mereka.

Revitalisasi kesenian tradisional sejatinya bukan sekadar menyelamatkan kesenian, namun juga menyelamatkan generasi. Revitalisasi diharapkan mampu menempatkan kesenian tradisional dalam tatanan kehidupan sosial yang lebih beradab. Komponis Stephen Sondheim menegaskan, kesenian  adalah sebuah upaya untuk mencapai tatanan dari kekacauan.[T]

Komunikasi Tradisional: Masih Adakah Urgensi?
Memaknai Perbedaan Komunikasi Antarbudaya:  Bukan Sekadar Wacana
Dimensi Komunikasi Puasa dan Lebaran
Tags: esaiilmu komunikasikomunikasikomunikasi antarbudayakomunikasi informasi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Menjadikan Program Informasi Desa Sepopulis Bedah Rumah, Infrastruktur Desa, atau Bansos Sembako | Catatan Tatkala May May May 2023

Next Post

Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Chusmeru

Chusmeru

Pensiunan dosen

Related Posts

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

by I Wayan Yudana
September 5, 2026
0
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

Read moreDetails

Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

by Ahmad Fatoni
September 4, 2026
0
Ketika Kotak Makan Menjadi Jalan Pulang

 “Mau diberikan ke mama. Karena di rumah tidak ada nasi.” Muhammad Suleman Datau mengatakannya ketika teman-temannya mulai membuka kotak makanan...

Read moreDetails

AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

by Nanoq da Kansas
September 4, 2026
0
AI Membuat Musik Semakin Mudah, Bukan Semakin Gampang

PHIL COLLINS pernah melakukan sesuatu yang pada zamannya terasa luar biasa. Dalam album Both Sides yang dirilis tahun 1993, ia...

Read moreDetails

Nusa Dua Memang Tiada Satunya

by I Nyoman Tingkat
September 4, 2026
0
Nusa Dua Memang Tiada Satunya

NUSA DUA lebih dikenal daripada Desa Adat Bualu yang menaunginya.  Sebelum akhir tahun 1950-an, Nusa Dua berada di bawah naungan...

Read moreDetails

Membaca Trilogi Kejujuran Wong Banyumas dari Dapur, Panggung, dan Mulut

by Tri Nugroho Adi
September 4, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Tubuh yang Bicara Sore di Banyumas tidak dimulai dengan jam. Ia dimulai dengan suara wajan. "Sesss" minyak panas ketemu adonan...

Read moreDetails

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Sepi Tak Berarti Tiada

by Angga Wijaya
September 2, 2026
0
Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

Read moreDetails
Next Post
Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Seandainya Persian Magnetism Menjadi Mata Kuliah di FKH

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co