3 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepi Tak Berarti Tiada

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 2, 2026
in Esai
Sepi Tak Berarti Tiada

Poli Psikiatri sebuah rumah sakit di Denpasar-Bali. (Foto: Angga Wijaya)

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki masalah mental lalu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri adalah orang-orang pemberani.

Sebab, datang ke Poli Jiwa atau Psikiatri berarti seseorang berani mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya. Ia memilih mencari pertolongan, alih-alih terus menyembunyikan, menyangkal, atau menganggap persoalannya sebagai sesuatu yang sepele.

Kini, menjadi pasien Poli Jiwa atau Psikiatri bukan lagi sesuatu yang luar biasa, terutama di kota-kota besar. Isu kesehatan mental juga semakin banyak dibicarakan, terutama oleh generasi muda, termasuk melalui berbagai konten di media sosial.

Tetapi ada sesuatu yang kemudian terasa ganjil. Ketika seseorang memiliki atau merasa ada yang aneh dengan perilaku, pikiran, dan emosinya, ia justru membiarkannya bertahun-tahun. Dianggap sepele. Dianggap hanya sedang banyak pikiran, kurang bersyukur. Atau mungkin dianggap kurang kuat menghadapi hidup.

Padahal, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Cap seperti dalam bahasa Bali, buduh-buduhan, yang kira-kira berarti agak gila, memang kadang terdengar lucu dalam percakapan sehari-hari. Tetapi di balik kelucuannya ada ironi. Sebab, istilah semacam itu dapat membuat persoalan kesehatan jiwa terasa sebagai bahan lelucon, bukan sesuatu yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami persoalan kesehatan mental. Sebagian mungkin mengalami tekanan psikologis yang membutuhkan perhatian, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan profesional.

Persoalan ini bukan sesuatu yang kecil. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa Bali memiliki prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis sebesar 11,1 per mil. Artinya, secara statistik terdapat sekitar 11 rumah tangga dari setiap 1.000 rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan kondisi tersebut. Angka Bali merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Di Kota Denpasar, berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensinya tercatat 80 per mil. Angka ini memang bukan jumlah seluruh orang yang mengalami persoalan kesehatan mental di Denpasar. Ia merupakan indikator rumah tangga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis.

Karena itu, angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, dan orang tua yang mungkin bingung. Ada pasangan yang mungkin tidak mengerti, dan ada anak yang mungkin tumbuh bersama situasi yang tidak mudah.

Dan mungkin ada pula orang yang sampai sekarang belum pernah datang ke rumah sakit. Di sinilah judul tulisan ini menjadi penting; sepi tak berarti tiada. Poli Psikiatri yang sepi bukan berarti masyarakat di sekitarnya bebas dari persoalan kesehatan mental. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada banyak orang yang sedang berjuang dalam diam.

Mereka mungkin masih bekerja, pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah. Masih bercanda di grup WhatsApp, masih mengunggah foto di media sosial. Dari luar terlihat biasa saja. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam kepala seseorang.

Karena itu, jangan menunggu kerabat atau sahabat kita menunjukkan gejala yang semakin parah. Jangan menunggu ia marah-marah, berteriak, mengamuk, atau sampai membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain baru kemudian kita membawanya ke rumah sakit.

Jangan pula menganggap gangguan tidur yang berlangsung lama sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ada keberanian di dalamnya.

Saya kira kita perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Pergi ke psikolog atau psikiater tidak seharusnya membuat seseorang merasa malu. Sama seperti seseorang pergi ke dokter ketika mengalami sakit pada tubuhnya, mencari bantuan ketika mengalami persoalan pada pikiran, emosi, atau perilaku juga merupakan bentuk kepedulian kepada diri sendiri.

Apalagi dalam kondisi kehidupan yang semakin berat. Tekanan ekonomi, pekerjaan, hubungan keluarga, kesepian, perubahan sosial, hingga derasnya informasi dari media sosial dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin penuh. Pada saat yang sama, ruang-ruang bersama untuk duduk, berbicara, dan ngorta semakin berkurang.

Kita memang semakin mudah terhubung melalui telepon genggam. Tetapi belum tentu semakin dekat sebagai manusia. Dulu, orang bisa duduk lama di bale, warung, halaman rumah, atau tempat-tempat lain sambil berbicara tentang banyak hal. Tidak selalu ada solusi dari percakapan itu. Tidak selalu ada nasihat yang bijak. Kadang hanya omongan sederhana.

Tetapi mungkin justru di situlah manfaatnya. Ada orang yang mendengarkan, orang yang mengetahui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan  ruang untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.

Sekarang, percakapan semacam itu semakin mudah digantikan oleh pesan singkat. Kita mengirim emoji ketika tidak tahu harus berkata apa. Menekan tombol like ketika sebenarnya seseorang mungkin membutuhkan telinga untuk mendengarkan.

Karena itu, mungkin salah satu bentuk sederhana menjaga kesehatan mental adalah kembali melakukan sesuatu yang sangat lama kita kenal, yakni berbicara. Berbicara dengan pasangan, anak, orang tua, sahabat, atau tetangga. Dan ketika memang diperlukan, berbicara dengan psikolog atau psikiater.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendiri, kesedihan harus disembunyikan, perubahan perilaku harus dianggap biasa. Dan tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar baik-baik saja.

Kita juga perlu belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang lelah, jangan selalu menjawab, “Semua orang juga lelah.” Atau, ketika seseorang mengatakan dirinya sedang sedih, jangan buru-buru mengatakan, “Jangan dipikirkan.” Kadang seseorang tidak sedang meminta nasihat. Ia hanya ingin didengarkan.

Di zaman yang semakin ramai ini, mungkin justru kemampuan untuk mendengarkan menjadi sesuatu yang semakin mahal. Saya percaya komunikasi verbal di dalam keluarga masih memiliki tempat penting. Bukan berarti kita harus berbicara sepanjang waktu. Tetapi mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat kita hubungi ketika sedang tidak baik-baik saja adalah sesuatu yang berharga.

Kepedulian kecil mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan. Namun, ia dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan seseorang pada saat tertentu.

Mari lebih peduli kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Perbanyak komunikasi secara verbal. Jangan buru-buru memberi cap kepada seseorang yang perilakunya berbeda. Jangan menjadikan gangguan mental sebagai bahan lelucon. Dan bila persoalan terasa semakin berat, jangan takut mencari bantuan profesional.

Sebab, datang ke Poli Psikiatri bukan berarti seseorang telah kalah. Bisa jadi justru di situlah ia sedang mulai memenangkan dirinya sendiri. Poli Psikiatri boleh sepi. Ruang tunggunya boleh tidak seramai poliklinik lain. Tetapi persoalan kesehatan jiwa di masyarakat tidak berarti tiada.

Sebab, sepi tak selalu berarti tidak ada.Kadang yang sepi justru adalah tempat orang-orang berani datang untuk mencari pertolongan. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mentalpsikiatri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Next Post

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

by Sugi Lanus
September 2, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

Read moreDetails

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

Read moreDetails

Ketika Api Menjadi Cermin

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

Read moreDetails

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

by Made Chandra
August 31, 2026
0
Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

Read moreDetails

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026
0
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

Read moreDetails

Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

by T.H. Hari Sucahyo
August 31, 2026
0
Berhenti Menjadikan Hidup Sebagai Ruang Tunggu

SEMAKIN kita menginginkan sesuatu, semakin jelas pula rasanya bahwa kita tidak memilikinya. Ada ironi yang cukup melelahkan dalam cara kerja...

Read moreDetails

Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

by Teguh Wahyu Pranata,
August 30, 2026
0
Anak-anak yang Beruntung: Mendengar Cerita Klasik Barat atau Cerita Klasik Timur?

SAYA memiliki seorang keponakan perempuan, ia kini memasuki umur 5 tahun. Beberapa bulan terakhir keponakan saya mulai belajar membaca, menggabungkan...

Read moreDetails

Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 30, 2026
0
Apa yang (Sebaiknya) Kita Bicarakan saat Membicarakan Masa Depan Transportasi Publik di Bali?

KAMI duduk di ruangan auditorium. Di atas panggung, seorang moderator memandu diskusi dengan empat orang narasumber yang secara bergantian memaparkan...

Read moreDetails

Demo Kok Cepat Pulang? Jangan-Jangan Kita Gagal Paham Soal Demonstrasi

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

Ada yang kecewa setelah massa aksi AMPB dari Pati bubar. “Baru juga datang, kok sudah pulang?”  Komentar semacam itu berseliweran...

Read moreDetails

Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

by Muhammad Farras Hanif
August 29, 2026
0
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan

MAKANAN sehari-hari yang kita konsumsi tentu tidak hadir begitu saja di atas meja makan kita. Sepiring nasi tidak lahir begitu...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI DALAM "FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [8]: Ketika AI Ikut Menulis: Kata-kata Tanpa Manusia

SETIAP era memiliki ancamannya masing-masing terhadap proses berpikir yang dalam. Pada masa otoritarianisme, ancamannya adalah sensor. Negara menentukan apa yang...

by Andre Syahreza
September 2, 2026
Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang
Persona

Maria Margarheta Indrawati: Dari NTT, Menikmati Proses dan Menjemput Mimpi di Negeri Orang

“Saya adalah seorang anak yang tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah,” kata Maria Margarheta Indrawati dengan wajah sendu ketika mengenang...

by Yohana Purnama Fajar
September 2, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda
Panggung

Mendorong Nilai-Nilai Kemanusiaan Lewat Film Pendek: Minikino Film Week 12 Bersiap Hadir di Bali dengan Perspektif Generasi Muda

Di tengah ketegangan geopolitik global, perpecahan, dan krisis kemanusiaan yang terus membayangi dunia hari ini, ruang pertemuan budaya yang tulus...

by Nyoman Budarsana
September 2, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

— Sugi Lanus “Hukuman bagi orang-orang baik yang menolak untuk terlibat dalam politik adalah mereka akan diperintah oleh orang-orang yang...

by Sugi Lanus
September 2, 2026
Sepi Tak Berarti Tiada
Esai

Sepi Tak Berarti Tiada

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki...

by Angga Wijaya
September 2, 2026
Siapa Membiayai Pangan Kita? ——Membuka Jalan Investasi Syariah ke Sektor Pangan
Esai

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

DAYA beli masyarakat menjadi salah satu cermin penting dalam melihat denyut perekonomian. Ketika masyarakat masih leluasa berbelanja, pelaku usaha memiliki...

by Muhammad Farras Hanif
September 1, 2026
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding
Khas

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

by Dian Suryantini
September 1, 2026
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik
Esai

Ketika Api Menjadi Cermin

ADA sesuatu yang terasa ganjil dari api. Ia kecil ketika kita menyalakan kompor. Ia jinak ketika berada di tungku. Ia...

by Ahmad Sihabudin
September 1, 2026
Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026
Kuliner

Ulam Carik, Jejak Kuliner Persawahan dalam Tanah Lot Art and Food Festival VI 2026

UDARA pagi terasa panas ketika rangkaian Tanah Lot Art and Food Festival VII 2026 memasuki penghujung acara. Usai menutup festival,...

by Nyoman Budarsana
September 1, 2026
Apakah Buku Fisik Masih Asik?
Esai

Apakah Buku Fisik Masih Asik?

KITA mungkin mengingat bahwa pandemi membekaskan banyak hal dalam kehidupan hari ini. Saat-saat dimana secara fisik tubuh kita diharuskan terpisah...

by Made Chandra
August 31, 2026
Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota
Esai

Dongeng Sebelum Tidur: Simfoni Abu-Abu di Pelataran Kota

KOTA ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya ditenangkan oleh dongeng-dongeng yang ditulis oleh jemari tak berwajah. Di atas aspalnya...

by Wayan Gde Yudane
August 31, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co