25 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepi Tak Berarti Tiada

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 2, 2026
in Esai
Sepi Tak Berarti Tiada

Poli Psikiatri sebuah rumah sakit di Denpasar-Bali. (Foto: Angga Wijaya)

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki masalah mental lalu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri adalah orang-orang pemberani.

Sebab, datang ke Poli Jiwa atau Psikiatri berarti seseorang berani mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya. Ia memilih mencari pertolongan, alih-alih terus menyembunyikan, menyangkal, atau menganggap persoalannya sebagai sesuatu yang sepele.

Kini, menjadi pasien Poli Jiwa atau Psikiatri bukan lagi sesuatu yang luar biasa, terutama di kota-kota besar. Isu kesehatan mental juga semakin banyak dibicarakan, terutama oleh generasi muda, termasuk melalui berbagai konten di media sosial.

Tetapi ada sesuatu yang kemudian terasa ganjil. Ketika seseorang memiliki atau merasa ada yang aneh dengan perilaku, pikiran, dan emosinya, ia justru membiarkannya bertahun-tahun. Dianggap sepele. Dianggap hanya sedang banyak pikiran, kurang bersyukur. Atau mungkin dianggap kurang kuat menghadapi hidup.

Padahal, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Cap seperti dalam bahasa Bali, buduh-buduhan, yang kira-kira berarti agak gila, memang kadang terdengar lucu dalam percakapan sehari-hari. Tetapi di balik kelucuannya ada ironi. Sebab, istilah semacam itu dapat membuat persoalan kesehatan jiwa terasa sebagai bahan lelucon, bukan sesuatu yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami persoalan kesehatan mental. Sebagian mungkin mengalami tekanan psikologis yang membutuhkan perhatian, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan profesional.

Persoalan ini bukan sesuatu yang kecil. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa Bali memiliki prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis sebesar 11,1 per mil. Artinya, secara statistik terdapat sekitar 11 rumah tangga dari setiap 1.000 rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan kondisi tersebut. Angka Bali merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Di Kota Denpasar, berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensinya tercatat 80 per mil. Angka ini memang bukan jumlah seluruh orang yang mengalami persoalan kesehatan mental di Denpasar. Ia merupakan indikator rumah tangga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis.

Karena itu, angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, dan orang tua yang mungkin bingung. Ada pasangan yang mungkin tidak mengerti, dan ada anak yang mungkin tumbuh bersama situasi yang tidak mudah.

Dan mungkin ada pula orang yang sampai sekarang belum pernah datang ke rumah sakit. Di sinilah judul tulisan ini menjadi penting; sepi tak berarti tiada. Poli Psikiatri yang sepi bukan berarti masyarakat di sekitarnya bebas dari persoalan kesehatan mental. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada banyak orang yang sedang berjuang dalam diam.

Mereka mungkin masih bekerja, pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah. Masih bercanda di grup WhatsApp, masih mengunggah foto di media sosial. Dari luar terlihat biasa saja. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam kepala seseorang.

Karena itu, jangan menunggu kerabat atau sahabat kita menunjukkan gejala yang semakin parah. Jangan menunggu ia marah-marah, berteriak, mengamuk, atau sampai membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain baru kemudian kita membawanya ke rumah sakit.

Jangan pula menganggap gangguan tidur yang berlangsung lama sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ada keberanian di dalamnya.

Saya kira kita perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Pergi ke psikolog atau psikiater tidak seharusnya membuat seseorang merasa malu. Sama seperti seseorang pergi ke dokter ketika mengalami sakit pada tubuhnya, mencari bantuan ketika mengalami persoalan pada pikiran, emosi, atau perilaku juga merupakan bentuk kepedulian kepada diri sendiri.

Apalagi dalam kondisi kehidupan yang semakin berat. Tekanan ekonomi, pekerjaan, hubungan keluarga, kesepian, perubahan sosial, hingga derasnya informasi dari media sosial dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin penuh. Pada saat yang sama, ruang-ruang bersama untuk duduk, berbicara, dan ngorta semakin berkurang.

Kita memang semakin mudah terhubung melalui telepon genggam. Tetapi belum tentu semakin dekat sebagai manusia. Dulu, orang bisa duduk lama di bale, warung, halaman rumah, atau tempat-tempat lain sambil berbicara tentang banyak hal. Tidak selalu ada solusi dari percakapan itu. Tidak selalu ada nasihat yang bijak. Kadang hanya omongan sederhana.

Tetapi mungkin justru di situlah manfaatnya. Ada orang yang mendengarkan, orang yang mengetahui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan  ruang untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.

Sekarang, percakapan semacam itu semakin mudah digantikan oleh pesan singkat. Kita mengirim emoji ketika tidak tahu harus berkata apa. Menekan tombol like ketika sebenarnya seseorang mungkin membutuhkan telinga untuk mendengarkan.

Karena itu, mungkin salah satu bentuk sederhana menjaga kesehatan mental adalah kembali melakukan sesuatu yang sangat lama kita kenal, yakni berbicara. Berbicara dengan pasangan, anak, orang tua, sahabat, atau tetangga. Dan ketika memang diperlukan, berbicara dengan psikolog atau psikiater.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendiri, kesedihan harus disembunyikan, perubahan perilaku harus dianggap biasa. Dan tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar baik-baik saja.

Kita juga perlu belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang lelah, jangan selalu menjawab, “Semua orang juga lelah.” Atau, ketika seseorang mengatakan dirinya sedang sedih, jangan buru-buru mengatakan, “Jangan dipikirkan.” Kadang seseorang tidak sedang meminta nasihat. Ia hanya ingin didengarkan.

Di zaman yang semakin ramai ini, mungkin justru kemampuan untuk mendengarkan menjadi sesuatu yang semakin mahal. Saya percaya komunikasi verbal di dalam keluarga masih memiliki tempat penting. Bukan berarti kita harus berbicara sepanjang waktu. Tetapi mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat kita hubungi ketika sedang tidak baik-baik saja adalah sesuatu yang berharga.

Kepedulian kecil mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan. Namun, ia dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan seseorang pada saat tertentu.

Mari lebih peduli kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Perbanyak komunikasi secara verbal. Jangan buru-buru memberi cap kepada seseorang yang perilakunya berbeda. Jangan menjadikan gangguan mental sebagai bahan lelucon. Dan bila persoalan terasa semakin berat, jangan takut mencari bantuan profesional.

Sebab, datang ke Poli Psikiatri bukan berarti seseorang telah kalah. Bisa jadi justru di situlah ia sedang mulai memenangkan dirinya sendiri. Poli Psikiatri boleh sepi. Ruang tunggunya boleh tidak seramai poliklinik lain. Tetapi persoalan kesehatan jiwa di masyarakat tidak berarti tiada.

Sebab, sepi tak selalu berarti tidak ada.Kadang yang sepi justru adalah tempat orang-orang berani datang untuk mencari pertolongan. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mentalpsikiatri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Next Post

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
0
Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

Read moreDetails

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

Read moreDetails

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
0
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

Read moreDetails

Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

by I Ketut Suar Adnyana
September 22, 2026
0
Membaca Tanda: Kijang Berkelana di Tengah Kebun Kopi Warga

SUASANA pagi hari di kebun di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng diwarnai oleh suara burung, embun yang masih menggantung di...

Read moreDetails

Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

by Angga Wijaya
September 22, 2026
0
Merenungkan Kembali Suka-Duka-Lara-Pati

SEJAK menjalani pengobatan kanker kelenjar getah bening, rumah sakit menjadi tempat yang lebih sering saya datangi. Saya duduk di ruang...

Read moreDetails

Bahasa Penjilat: Komunikasi dan Relasi Kuasa dalam Politik

by Chusmeru
September 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

KOMUNIKASI semestinya mampu menjadi jembatan untuk menyampaikan kebenaran. Namun dalam politik, komunikasi kerap berubah fungsi. Ia bukan lagi sarana untuk...

Read moreDetails

Sepeda Motor Bekas Sudah Cukup

by Angga Wijaya
September 21, 2026
0
Telenovela

ADA masa ketika sepeda motor bukan sekadar kendaraan. Ia bisa menjadi tanda keberhasilan, simbol kemampuan ekonomi, bahkan pengumuman diam-diam tentang...

Read moreDetails

Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

by I Kadek Adhi Dwipayana
September 21, 2026
0
Pendidikan yang Membebaskan: Membaca Kembali Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dan Paulo Freire

PENDIDIKAN terlalu sering kita pahami sebatas kegiatan mengajar. Guru menjelaskan, siswa mendengarkan, mengerjakan tugas, dan mengikuti ujian. Keberhasilan belajar pun...

Read moreDetails

Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

by I Nyoman Tingkat
September 20, 2026
0
Kolaborasi Tari Sanghyang Jaran dengan Genjek

WALAUPUN Desa Adat Kutuh di wilayah Kuta Selatan termasuk desa kecil, desa ini memiliki pagar spiritual di setiap tapal batasnya...

Read moreDetails

PEMIMPIN SAKIT JIWA MENURUT HINDU DHARMA

by Sugi Lanus
September 20, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian, 20 September 2026 * Vāk-Pāruṣya (Sanskerta: वाक्पारुष्य) secara harfiah diterjemahkan sebagai "kekerasan verbal", "kata-kata kasar",...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI DALAM "FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan
Esai

Titik Permulaan Kesejahteraan Hewan

SERINGKALI orang orang memulai suatu kebijakan berdasarkan aspirasi normative dan ideologi. Dimana yang menjadi fokus utama adalah bagaimana penerapan ini...

by Doni Sugiarto Wijaya
September 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Takut Korupsi? Kayak Anak Kecil Aja

BELAKANGAN ini banyak berita soal korupsi yang membuat khawatir. Kalau KPK sukses menangkapi oknum yang melanggar hukum maka korupsi sudah...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 24, 2026
Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12
Ulas Film

Breadsong: Menelusuri Jejak Masa Depan dari Roti Berjamur–Catatan Minikino Film Week Festival 12

SAYA saya masih duduk di bangku SMP, saya pernah bertanya pada diri sendiri, “Apa yang akan terjadi jika saya bisa...

by Yoga Wismantara
September 24, 2026
Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998
Ulas Film

Gecko: Menelusuri Ingatan Mei 1998

PERKEMBANGAN ekonomi dalam masyarakat biasanya memicu berbagai perubahan pada pasar yang kemudian berdampak pada kehidupan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya....

by Arya Dhamma Nanda
September 24, 2026
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar
Khas

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

by Jaswanto
September 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia
Budaya

Rendez-vous Rasa 2026 Hadir di Bali, Perkuat Pertukaran Pengetahuan Gastronomi Prancis–Indonesia

DENPASAR | TATKALA.CO -- Gastronomi Prancis dan Indonesia akan bertemu di Bali melalui rangkaian kegiatan Rendez-vous Rasa: France–Indonesia Gastronomy Week...

by tatkala
September 23, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian
Politik

Tut Karben Raih Suara Terbanyak di Pilkel Guwang, Gagasan Kini Menanti Pembuktian

PEMILIHAN Perbekel Desa Guwang 2026 telah usai. I Ketut Karben Wardana meraih suara terbanyak dalam pemungutan suara yang berlangsung pada...

by Dede Putra Wiguna
September 23, 2026
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif
Ulas Rupa

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

by Emi Suy
September 23, 2026
Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik
Esai

Antara “Mindfulness” dan Kebutuhan Dasar: Menakar Sensitivitas Sosial Figur Publik

KONTEN mindfulness dari Maudy Ayunda yang mengajak masyarakat menata respons emosional di tengah maraknya berita buruk memicu gelombang kritik netizen....

by Gema Pertiwi
September 22, 2026
Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”
Pop

Jelang Album “Raja Pasir”, Jangar Lepas “K3” dan “Waktu”

SETELAH merilis single “Air Keras”, Jangar melanjutkan perjalanan menuju album penuh kedua mereka, Raja Pasir, dengan melepas dua lagu sekaligus,...

by Dede Putra Wiguna
September 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co