DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki masalah mental lalu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri adalah orang-orang pemberani.
Sebab, datang ke Poli Jiwa atau Psikiatri berarti seseorang berani mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya. Ia memilih mencari pertolongan, alih-alih terus menyembunyikan, menyangkal, atau menganggap persoalannya sebagai sesuatu yang sepele.
Kini, menjadi pasien Poli Jiwa atau Psikiatri bukan lagi sesuatu yang luar biasa, terutama di kota-kota besar. Isu kesehatan mental juga semakin banyak dibicarakan, terutama oleh generasi muda, termasuk melalui berbagai konten di media sosial.
Tetapi ada sesuatu yang kemudian terasa ganjil. Ketika seseorang memiliki atau merasa ada yang aneh dengan perilaku, pikiran, dan emosinya, ia justru membiarkannya bertahun-tahun. Dianggap sepele. Dianggap hanya sedang banyak pikiran, kurang bersyukur. Atau mungkin dianggap kurang kuat menghadapi hidup.
Padahal, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Cap seperti dalam bahasa Bali, buduh-buduhan, yang kira-kira berarti agak gila, memang kadang terdengar lucu dalam percakapan sehari-hari. Tetapi di balik kelucuannya ada ironi. Sebab, istilah semacam itu dapat membuat persoalan kesehatan jiwa terasa sebagai bahan lelucon, bukan sesuatu yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.
Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami persoalan kesehatan mental. Sebagian mungkin mengalami tekanan psikologis yang membutuhkan perhatian, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan profesional.
Persoalan ini bukan sesuatu yang kecil. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa Bali memiliki prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis sebesar 11,1 per mil. Artinya, secara statistik terdapat sekitar 11 rumah tangga dari setiap 1.000 rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan kondisi tersebut. Angka Bali merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.
Di Kota Denpasar, berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensinya tercatat 80 per mil. Angka ini memang bukan jumlah seluruh orang yang mengalami persoalan kesehatan mental di Denpasar. Ia merupakan indikator rumah tangga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis.
Karena itu, angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, dan orang tua yang mungkin bingung. Ada pasangan yang mungkin tidak mengerti, dan ada anak yang mungkin tumbuh bersama situasi yang tidak mudah.
Dan mungkin ada pula orang yang sampai sekarang belum pernah datang ke rumah sakit. Di sinilah judul tulisan ini menjadi penting; sepi tak berarti tiada. Poli Psikiatri yang sepi bukan berarti masyarakat di sekitarnya bebas dari persoalan kesehatan mental. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada banyak orang yang sedang berjuang dalam diam.
Mereka mungkin masih bekerja, pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah. Masih bercanda di grup WhatsApp, masih mengunggah foto di media sosial. Dari luar terlihat biasa saja. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam kepala seseorang.
Karena itu, jangan menunggu kerabat atau sahabat kita menunjukkan gejala yang semakin parah. Jangan menunggu ia marah-marah, berteriak, mengamuk, atau sampai membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain baru kemudian kita membawanya ke rumah sakit.
Jangan pula menganggap gangguan tidur yang berlangsung lama sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ada keberanian di dalamnya.
Saya kira kita perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Pergi ke psikolog atau psikiater tidak seharusnya membuat seseorang merasa malu. Sama seperti seseorang pergi ke dokter ketika mengalami sakit pada tubuhnya, mencari bantuan ketika mengalami persoalan pada pikiran, emosi, atau perilaku juga merupakan bentuk kepedulian kepada diri sendiri.
Apalagi dalam kondisi kehidupan yang semakin berat. Tekanan ekonomi, pekerjaan, hubungan keluarga, kesepian, perubahan sosial, hingga derasnya informasi dari media sosial dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin penuh. Pada saat yang sama, ruang-ruang bersama untuk duduk, berbicara, dan ngorta semakin berkurang.
Kita memang semakin mudah terhubung melalui telepon genggam. Tetapi belum tentu semakin dekat sebagai manusia. Dulu, orang bisa duduk lama di bale, warung, halaman rumah, atau tempat-tempat lain sambil berbicara tentang banyak hal. Tidak selalu ada solusi dari percakapan itu. Tidak selalu ada nasihat yang bijak. Kadang hanya omongan sederhana.
Tetapi mungkin justru di situlah manfaatnya. Ada orang yang mendengarkan, orang yang mengetahui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan ruang untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.
Sekarang, percakapan semacam itu semakin mudah digantikan oleh pesan singkat. Kita mengirim emoji ketika tidak tahu harus berkata apa. Menekan tombol like ketika sebenarnya seseorang mungkin membutuhkan telinga untuk mendengarkan.
Karena itu, mungkin salah satu bentuk sederhana menjaga kesehatan mental adalah kembali melakukan sesuatu yang sangat lama kita kenal, yakni berbicara. Berbicara dengan pasangan, anak, orang tua, sahabat, atau tetangga. Dan ketika memang diperlukan, berbicara dengan psikolog atau psikiater.
Tidak semua masalah harus diselesaikan sendiri, kesedihan harus disembunyikan, perubahan perilaku harus dianggap biasa. Dan tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar baik-baik saja.
Kita juga perlu belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang lelah, jangan selalu menjawab, “Semua orang juga lelah.” Atau, ketika seseorang mengatakan dirinya sedang sedih, jangan buru-buru mengatakan, “Jangan dipikirkan.” Kadang seseorang tidak sedang meminta nasihat. Ia hanya ingin didengarkan.
Di zaman yang semakin ramai ini, mungkin justru kemampuan untuk mendengarkan menjadi sesuatu yang semakin mahal. Saya percaya komunikasi verbal di dalam keluarga masih memiliki tempat penting. Bukan berarti kita harus berbicara sepanjang waktu. Tetapi mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat kita hubungi ketika sedang tidak baik-baik saja adalah sesuatu yang berharga.
Kepedulian kecil mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan. Namun, ia dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan seseorang pada saat tertentu.
Mari lebih peduli kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Perbanyak komunikasi secara verbal. Jangan buru-buru memberi cap kepada seseorang yang perilakunya berbeda. Jangan menjadikan gangguan mental sebagai bahan lelucon. Dan bila persoalan terasa semakin berat, jangan takut mencari bantuan profesional.
Sebab, datang ke Poli Psikiatri bukan berarti seseorang telah kalah. Bisa jadi justru di situlah ia sedang mulai memenangkan dirinya sendiri. Poli Psikiatri boleh sepi. Ruang tunggunya boleh tidak seramai poliklinik lain. Tetapi persoalan kesehatan jiwa di masyarakat tidak berarti tiada.
Sebab, sepi tak selalu berarti tidak ada.Kadang yang sepi justru adalah tempat orang-orang berani datang untuk mencari pertolongan. [T]
Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

















![Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2026/08/andre.-cover-algoritma-350x250.png)










