17 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepi Tak Berarti Tiada

Angga Wijaya by Angga Wijaya
September 2, 2026
in Esai
Sepi Tak Berarti Tiada

Poli Psikiatri sebuah rumah sakit di Denpasar-Bali. (Foto: Angga Wijaya)

DIBANDINGKAN poliklinik lain, Poliklinik Psikiatri memang lebih sepi pasien, apalagi di rumah sakit kecil. Namun, bagi saya, mereka yang memiliki masalah mental lalu datang ke rumah sakit untuk memeriksakan diri adalah orang-orang pemberani.

Sebab, datang ke Poli Jiwa atau Psikiatri berarti seseorang berani mengakui bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja dalam dirinya. Ia memilih mencari pertolongan, alih-alih terus menyembunyikan, menyangkal, atau menganggap persoalannya sebagai sesuatu yang sepele.

Kini, menjadi pasien Poli Jiwa atau Psikiatri bukan lagi sesuatu yang luar biasa, terutama di kota-kota besar. Isu kesehatan mental juga semakin banyak dibicarakan, terutama oleh generasi muda, termasuk melalui berbagai konten di media sosial.

Tetapi ada sesuatu yang kemudian terasa ganjil. Ketika seseorang memiliki atau merasa ada yang aneh dengan perilaku, pikiran, dan emosinya, ia justru membiarkannya bertahun-tahun. Dianggap sepele. Dianggap hanya sedang banyak pikiran, kurang bersyukur. Atau mungkin dianggap kurang kuat menghadapi hidup.

Padahal, dampaknya bisa panjang. Bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi pasangan, anak, orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Cap seperti dalam bahasa Bali, buduh-buduhan, yang kira-kira berarti agak gila, memang kadang terdengar lucu dalam percakapan sehari-hari. Tetapi di balik kelucuannya ada ironi. Sebab, istilah semacam itu dapat membuat persoalan kesehatan jiwa terasa sebagai bahan lelucon, bukan sesuatu yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Banyak orang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami persoalan kesehatan mental. Sebagian mungkin mengalami tekanan psikologis yang membutuhkan perhatian, sementara sebagian lainnya mengalami gangguan mental yang membutuhkan penanganan profesional.

Persoalan ini bukan sesuatu yang kecil. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa Bali memiliki prevalensi rumah tangga dengan anggota rumah tangga yang mengalami gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis sebesar 11,1 per mil. Artinya, secara statistik terdapat sekitar 11 rumah tangga dari setiap 1.000 rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan kondisi tersebut. Angka Bali merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia.

Di Kota Denpasar, berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensinya tercatat 80 per mil. Angka ini memang bukan jumlah seluruh orang yang mengalami persoalan kesehatan mental di Denpasar. Ia merupakan indikator rumah tangga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa skizofrenia atau psikosis.

Karena itu, angka tersebut seharusnya tidak dibaca sekadar sebagai statistik. Di balik setiap angka ada manusia, keluarga, dan orang tua yang mungkin bingung. Ada pasangan yang mungkin tidak mengerti, dan ada anak yang mungkin tumbuh bersama situasi yang tidak mudah.

Dan mungkin ada pula orang yang sampai sekarang belum pernah datang ke rumah sakit. Di sinilah judul tulisan ini menjadi penting; sepi tak berarti tiada. Poli Psikiatri yang sepi bukan berarti masyarakat di sekitarnya bebas dari persoalan kesehatan mental. Bisa jadi justru sebaliknya. Ada banyak orang yang sedang berjuang dalam diam.

Mereka mungkin masih bekerja, pergi ke pasar, mengantar anak ke sekolah. Masih bercanda di grup WhatsApp, masih mengunggah foto di media sosial. Dari luar terlihat biasa saja. Tetapi kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam kepala seseorang.

Karena itu, jangan menunggu kerabat atau sahabat kita menunjukkan gejala yang semakin parah. Jangan menunggu ia marah-marah, berteriak, mengamuk, atau sampai membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain baru kemudian kita membawanya ke rumah sakit.

Jangan pula menganggap gangguan tidur yang berlangsung lama sebagai sesuatu yang harus ditanggung sendirian. Meminta pertolongan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya, ada keberanian di dalamnya.

Saya kira kita perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan mental. Pergi ke psikolog atau psikiater tidak seharusnya membuat seseorang merasa malu. Sama seperti seseorang pergi ke dokter ketika mengalami sakit pada tubuhnya, mencari bantuan ketika mengalami persoalan pada pikiran, emosi, atau perilaku juga merupakan bentuk kepedulian kepada diri sendiri.

Apalagi dalam kondisi kehidupan yang semakin berat. Tekanan ekonomi, pekerjaan, hubungan keluarga, kesepian, perubahan sosial, hingga derasnya informasi dari media sosial dapat membuat kehidupan sehari-hari terasa semakin penuh. Pada saat yang sama, ruang-ruang bersama untuk duduk, berbicara, dan ngorta semakin berkurang.

Kita memang semakin mudah terhubung melalui telepon genggam. Tetapi belum tentu semakin dekat sebagai manusia. Dulu, orang bisa duduk lama di bale, warung, halaman rumah, atau tempat-tempat lain sambil berbicara tentang banyak hal. Tidak selalu ada solusi dari percakapan itu. Tidak selalu ada nasihat yang bijak. Kadang hanya omongan sederhana.

Tetapi mungkin justru di situlah manfaatnya. Ada orang yang mendengarkan, orang yang mengetahui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja, dan  ruang untuk mengeluarkan sesuatu yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.

Sekarang, percakapan semacam itu semakin mudah digantikan oleh pesan singkat. Kita mengirim emoji ketika tidak tahu harus berkata apa. Menekan tombol like ketika sebenarnya seseorang mungkin membutuhkan telinga untuk mendengarkan.

Karena itu, mungkin salah satu bentuk sederhana menjaga kesehatan mental adalah kembali melakukan sesuatu yang sangat lama kita kenal, yakni berbicara. Berbicara dengan pasangan, anak, orang tua, sahabat, atau tetangga. Dan ketika memang diperlukan, berbicara dengan psikolog atau psikiater.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendiri, kesedihan harus disembunyikan, perubahan perilaku harus dianggap biasa. Dan tidak semua orang yang terlihat baik-baik saja benar-benar baik-baik saja.

Kita juga perlu belajar mendengarkan tanpa buru-buru menghakimi. Ketika seseorang mengatakan dirinya sedang lelah, jangan selalu menjawab, “Semua orang juga lelah.” Atau, ketika seseorang mengatakan dirinya sedang sedih, jangan buru-buru mengatakan, “Jangan dipikirkan.” Kadang seseorang tidak sedang meminta nasihat. Ia hanya ingin didengarkan.

Di zaman yang semakin ramai ini, mungkin justru kemampuan untuk mendengarkan menjadi sesuatu yang semakin mahal. Saya percaya komunikasi verbal di dalam keluarga masih memiliki tempat penting. Bukan berarti kita harus berbicara sepanjang waktu. Tetapi mengetahui bahwa ada seseorang yang dapat kita hubungi ketika sedang tidak baik-baik saja adalah sesuatu yang berharga.

Kepedulian kecil mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan. Namun, ia dapat membuat seseorang merasa tidak sendirian. Dan mungkin itulah yang paling dibutuhkan seseorang pada saat tertentu.

Mari lebih peduli kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Perbanyak komunikasi secara verbal. Jangan buru-buru memberi cap kepada seseorang yang perilakunya berbeda. Jangan menjadikan gangguan mental sebagai bahan lelucon. Dan bila persoalan terasa semakin berat, jangan takut mencari bantuan profesional.

Sebab, datang ke Poli Psikiatri bukan berarti seseorang telah kalah. Bisa jadi justru di situlah ia sedang mulai memenangkan dirinya sendiri. Poli Psikiatri boleh sepi. Ruang tunggunya boleh tidak seramai poliklinik lain. Tetapi persoalan kesehatan jiwa di masyarakat tidak berarti tiada.

Sebab, sepi tak selalu berarti tidak ada.Kadang yang sepi justru adalah tempat orang-orang berani datang untuk mencari pertolongan. [T]

Penulis:Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: kesehatankesehatan jiwakesehatan mentalpsikiatri
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Saat Daya Beli Melemah, Bisakah Keuangan Syariah Menjadi Penopang Ekonomi?

Next Post

BALI DALAM “FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK”

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

by Pande Susan
October 17, 2026
0
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

Read moreDetails

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

by Angga Wijaya
October 17, 2026
0
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

Read moreDetails

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

by I Wayan Artika
October 16, 2026
0
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

Read moreDetails

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
0
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

Read moreDetails

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
0
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

Read moreDetails

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

Read moreDetails

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

by Angga Wijaya
October 13, 2026
0
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

Read moreDetails

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

Read moreDetails

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
0
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

Read moreDetails

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

BALI DALAM "FENOMENA KUTUKAN ORANG BAIK"

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026
Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow
Esai

Ketika BBM Mengusik Kebutuhan Dasar: Membaca Bali dari Kaca Mata Maslow

BAYANGKAN seorang tenaga medis yang baru saja menerima panggilan darurat. Seorang pasien membutuhkan pertolongan segera dan sudah terbaring di meja...

by I Kadek Adhi Dwipayana
October 16, 2026
Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan
Esai

Mengantre Bensin, Merayakan Kekalahan

ADA kejanggalan ketika mendapatkan bensin harus dirayakan sebagai sebuah kemenangan. Warga rela mengantre berjam-jam, menanti hingga dini hari, bahkan mengorbankan...

by Dede Putra Wiguna
October 16, 2026
Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali
Bahasa

Dari “Panic Buying” hingga “Maborbor”: Cerita Bahasa di Balik Antrean BBM Bali

SECARA pribadi, saya sebisa mungkin menghindari antrean BBM di Bali saat ini. Saya pernah berada di posisi itu dahulu, dan...

by I Made Sudiana
October 16, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Selembar Kain di Antara Aku dan Dunia: Ritual Menutup Gorden Ketika Senja

Ada sebuah tindakan kecil yang hampir selalu kita lakukan tanpa pernah bertanya mengapa. Ketika sore mulai turun, cahaya matahari perlahan...

by Tri Nugroho Adi
October 16, 2026
Hukum Tanah Air Bali
Buku Tatkala

Hukum Tanah Air Bali

Judul: Hukum Tanah Air Bali Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: I Made Pria Dharsana ISBN: Masih dalam proses Tebal:...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Meninggal Seperti Pepes Ikan
Fiksi

Kemping yang Mencekam

LIBUR semester telah tiba. Mahasiswa dan anak sekolah dapat bersantai. Agung Santoso berencana memanfaatkan libur itu bersama keluarga. Ia ingin...

by Chusmeru
October 15, 2026
𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co