6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

(Rasanya) ke-Tuban-nan Saya Sudah Hilang

Jaswanto by Jaswanto
April 20, 2023
in Esai
Libur Hari Jumat

tatkala.co

SEJAK MEMUTUSKAN merantau ke Singaraja, Bali, pada 2015 silam, sekarang saya merasa bahwa ciri khas ke-Tuban-nan saya nyaris sudah hilang. Hal itu bisa terjadi mungkin karena banyaknya budaya, kebiasaan, bahasa, dan manusia (yang berinteraksi) yang saya temui; tapi barangkali ini alasan yang paling kuat: saya jarang dan lama tak pulang ke Tuban—dan sekalinya pulang memang tak pernah lama. Dengan kata lain, saya sudah jarang berinteraksi dengan orang Tuban.

(Selama saya hidup di Singaraja, sekuat yang saya ingat, saya hanya akan pulang saat menjelang Idul Fitri. Artinya, saya hanya pulang sekali dalam setahun. Bahkan, saat pandemi corona sedang berada di puncaknya, saya merayakan Idul Fitri di Singaraja—dan itu, tentu saja, tidak enak.  Tapi sebenarnya hanya karena pertimbangan ekonomi sajalah jika kemudian saya lebih jarang pulang kampung dan, oleh karena itu, lebih berjarak dengan desa kelahiran.)

Ya, sejak saya tercatat sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri di Singaraja, saya lebih banyak berinteraksi dengan orang, budaya, kebiasaan, dan bahasa dari luar Tuban. Tentu bukan berarti di Singaraja tidak ada mahasiswa dari Tuban, tapi mahasiswa asli Tuban di Singaraja jumlahnya tak lebih banyak dari jari tangan (kanan-kiri) manusia (sekarang bahkan sudah lenyap tak tersisa). Bahkan, antar mahasiswa asli dari Tuban pun, saat berinteraksi, tak jarang malah menggunakan kebiasaan orang lain, alih-alih kebiasan sendiri.

Soal bahasa, dialek, atau logat, misalnya. Di Singaraja, saya dan teman-teman lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia daripada bahasa Jawa (atau lebih tepatnya bahasa Jawa khas Tuban). Bukannya hendak gaya-gayaan, tapi orang bodoh macam apa, sebagai orang Tuban, Jawa Timur, saat berbicara dengan orang Bali, Lombok, Sumatera, Makassar, Kupang sampai Papua, menggunakan bahasa Jawa? Alih-alih akrab, bisa jadi malah babak-belur.

Sialnya, menggunakan bahasa Indonesia nyaris setiap hari, membuat lidah saya seperti lupa mengucapkan kata, dialek, atau logat khas Tuban dengan baik dan benar.

Saya sudah jarang menggunakan kata “ngamuk” untuk kata “terserah”; “srengen”—e dibaca seperti kata serem—untuk kata “marah”; “ndhêngêr” = paham; “mlété” = sombong; “mbaít” = lihai; “ngêmpròs” = berbohong; “mêgilan” = terkenal (dalam konteks negatif); “jêmbêrên” = jijik; atau mengunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata. Ya, alih-alih menggunaka kata “ngamuk”, misalnya, dalam konteks bahasa Jawa, sekarang saya lebih banyak menggunakan kata “sembarang” atau “terserah” sebagai penggantinya.

Sekadar informasi, dalam bahasa Indonesia, imbuhan “-êm” dan “-nêm” sama seperti kata ganti kepemilikan “-mu”. Sedangkan penggunaannya didasarkan pada huruf akhir kata yang diimbuhi tersebut berupa huruf vokal atau konsonan.

Misal, jika Anda ingin mengimbuhkan kata ganti kepemilikan pada kata yang berakhiran huruf vokal seperti “jahe”, imbuhan yang berlaku adalah “-nêm”, sehingga menjadi jahenêm (jahemu). Lalu, jika Anda ingin mengimbuhkan kata ganti kepemilikan pada kata yang berakhiran huruf konsonan, seperti “kipas”, misalnya, imbuhan yang berlaku adalah “-êm”, sehingga menjadi kipasêm (kipasmu). Contoh lain: bapakêm (bapakmu), adikêm (adikmu), dan, jarinêm (jarimu), sapinêm (sapimu), atau sapunêm (sapumu), dst.

Bukan hanya itu saja, saya juga sudah jarang menggunakan seruan “lèh” sebagai penegasan pada akhiran kalimat perintah, kalimat berita, maupun kalimat tanya. Soal ini, dalam bahasa Indonesia, seruan “lèh” sama halnya seperti seruan “dong” untuk akhiran kalimat perintah dan sama seperti seruan “lho” untuk akhiran kalimat berita, juga serupa dengan seruan “kan” untuk kalimat tanya. Misal: ayo, lèh! = ayo, dong!; Iya, lèh = iya, loh; dan  iku, lèh? = itu, kan? Dst.

Sampai di sini, sekali lagi, seingat saya, saat berbicara menggunakan bahasa Jawa, saya memang sudah tidak pernah lagi menggunakan kosa kata atau istilah-istilah di atas atau menggunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata—untuk yang terakhir, soal imbuhan “-êm” dan “nem”, sudah lama saya menggantikannya dengan kata ganti kepemilikan “-mu”.

Saya tidak paham betul kenapa kita gampang sekali terpengaruh oleh lingkungan. Tetapi, soal bahasa, saya meyakini bahwa bahasa yang digunakan oleh seseorang sangat dipengaruhi oleh konteks sosial budaya yang ada di sekelilingnya. Dan konteks budaya tersebut, tentu juga bergantung pada status sosial, aktivitas, daerah geografis, usia, dan lainnya.

Dengan begitu, maka wajar jika bahasa yang digunakan masyarakat di perkotaan akan berbeda dengan bahasa yang digunakan masyarakat daerah perdesaan. Hal itu karena konteks sosial budaya di masing-masing wilayah berbeda dan menyertai kehidupan masyarakatnya.

***

Bagi sebagain orang, mungkin hal ini tampak sepele. Tapi, bagi orang yang sering mempersoalkan banyak hal seperti saya, tentu ini cukup serius dan, tentu saja, membuat saya ketar-ketir. Dan rasa itu semakin memenuhi dada saat saya pulang ke kampung halaman.

Di kampung saya di Dusun Karang Binangun, Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban, tak mungkin saya menggunakan bahasa Indonesia (memangnya orang Karang Binangun aneh macam apa yang melakukannya. Alih-alih kagum, sepertinya malah akan dibacakan mantra, sebab dianggap kesurupan). Maka, mau tidak mau, suka tidak suka, saya harus menggunakan bahasa Jawa. Sialnya, bahasa Jawa saya sudah campur aduk dengan kekhasan daerah lain.

Ya, seperti yang sudah saya sampaikan di awal, bahwa saya berinteraksi dengan banyak orang, budaya, kebiasaan, dan bahasa, termasuk bahasa dari belahan bumi Jawa yang lain—yang membuat bahasa Jawa saya tak lagi memiliki ciri khas, dangkal, blasteran, dan tak jelas.

Maka betapa remuk redam hati saya saat tetangga, kerabat, teman dekat, bahkan orang tua saya sendiri mengatakan: “Wis berubah yo sak iki. Wis gak koyo wong Karang Binangun maneh.” “Sudah berubah ya sekarang. Sudak tidak seperti orang Karang Binangun lagi.” Wah, saya pikir ungkapan ini bukan hanya sekadar ungkapan spontanitas atau sekadar bercandaan, lebih dari itu, khususnya saya pribadi, saya merasa, ucapan itu semacam bentuk kehilangan, kekecewaan, secara tidak langsung.

Parahnya, tak berhenti sampai di situ, dari urusan logat, dialek, kemudian merembet sampai urusan makanan dan hubungan kekerabatan.

Banyak orang di kampung saya mengatakan—cenderung menuduh dan tak jarang menghakimi—bahwa saya sudah tidak lagi doyan makanan kampung dan melupakan batehane (kerabatnya). “Sudah lama hidup di kota, pasti nggak mau makanan orang kampung seperti ini” juga “Dia pasti sudah lupa sama kerabatnya sendiri.” Oh, maaf, saya ralat: bukan hanya kerabat dan tetangga saja yang begitu, beberapa teman lama saya juga mengatakan hal yang sama.

Ya, ini alasan kenapa saya menganggap urusan ini cukup serius. Dan saya paham, bahwa ini adalah efek, konsekuensi, merantau.

Wajar mereka mengatakan seperti itu, wong saya sendiri merasa sudah jauh dari kampung halaman, kok. Jauh bukan hanya soal geografis, tapi juga soal-soal yang lebih filosofis dan esensial. Saya tak lagi tahu siapa orang yang meninggal, siapa yang lahir, dan siapa menikah dengan siapa. Seperti saat misan perempuan saya menikah dan betapa malunya saya saat suaminya memanggil saya sedangkan saya tidak tahu dia siapa dan menganggap dia orang lain. Atau ketaktahuan yang fatal bahwa seorang bocah tak saya kenal yang bermain di depan rumah adalah anak dari seorang sepupu.

Sampai di sini, bukankah apa yang terjadi pada saya juga terjadi dengan kebanyakan perantau? Saya tak tahu betul soal itu.

Tetapi, pada akhirnya saya cukup lega saat nenek saya dari pihak ibu berkata: “Sekolah kok nggak selesai-selesai. Garap ladang sana, bantu bapakmu!” Ia selalu menyebut saya sekolah, meskipun saat ini saya adalah seorang editor di sebuah perusahaan media dan telah setahun lulus kuliah. Saya tertawa saat pertama kali mendengarnya, tapi rasa-rasanya saya mesti berterima kasih kepada Nenek, orang yang tak pernah menggap saya berubah.

Ya, di bagian diri saya yang lain, secara psikologis, saya merasa tak pernah berubah dari pertama kali saya meninggalkan desa nyaris sembilan tahun lalu. Saya adalah bocah yang sama yang, kata Nenek, “sekolah tak selesai-selesai”. Tak peduli selama sembilan tahun saya hidup di Singaraja dan mengalami semua lika-liku ala perantau; tak peduli ke-Tuban-nan saya sudah luntur atau bahkan hilang, yang jelas, saya tetap orang Tuban dan akan tetap menjadi bagian di dalamnya—walaupun sudah jarang menggunakan “-êm” dan “-nêm” sebagai imbuhan di akhir kata. Itu bisa saya pelajari kembali, suatu saat nanti.[T]

Bulan “Akting”
Menyepi Bersama Kata-kata
Wayang, Dunia Kakek, Dunia Saya
Tags: Bahasakampung halamankolom
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Marayana dan Wiana: Berpulangnya Tokoh Hindu dari Pesisi Utara dan Pesisi Selatan Bali

Next Post

Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
0
Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

Read moreDetails

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

Read moreDetails

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
0
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

Read moreDetails

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

Read moreDetails

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
0
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

Read moreDetails

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
0
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

Read moreDetails

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026
0
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

Read moreDetails

Suryak Siu

by Dede Putra Wiguna
March 2, 2026
0
Suryak Siu

DALAM bahasa Bali, ‘suryak’ berarti bersorak dan ‘siu’ berarti seribu. ‘Suryak siu’ secara harfiah berarti ‘sorakan seribu’ ─ gambaran tentang...

Read moreDetails

Konflik Iran dan Ujian Kedewasaan Diplomasi Indonesia

by Elpeni Fitrah
March 2, 2026
0
Refleksi di Hari Media Sosial Nasional

SAYA menulis ini pada Minggu, 1 Maret 2026, tepat sehari setelah dunia dikejutkan oleh serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel...

Read moreDetails

Tatkala Duta Pariwisata Indonesia Mengulik Bali

by Chusmeru
March 1, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

MENJELANG tutup tahun 2025 jagat media sosial diramaikan dengan unggahan video yang mengabarkan Bali sepi wisatawan. Langsung saja memicu perdebatan....

Read moreDetails
Next Post
Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Menengok Wisata Religi Islami di Jembrana, Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co