22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Koster, Besakih, dan Manuver Dua Jari

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
April 19, 2023
in Esai
Koster, Besakih, dan Manuver Dua Jari

Wayan Koster | Ilustrasi diolah dari sumber Google

LINIMASA Instagram saya beberapa kali menampilkan Gubernur Bali, I Wayan Koster dengan ramah menyapa umat Hindu yang akan atau baru saja selesai sembahyang di Pura Besakih. Tak lupa Koster berfoto bersama dengan umat di sana. Sampai di sini saya menganggap hal-hal semacam ini adalah fenomena yang biasa, namun menjadi berbeda saat pose yang digunakan di setiap fotonya hampir selalu sama.

Dua jari dipamerkan oleh Koster dan setiap orang yang berfoto di dalamnya, tak lupa senyum optimis juga disunggingkan. Jelang tahun politik di Bali, tentu pose ini cukup mudah bagi saya dan anda menerjemahkannya.

Pose dua jari yang beberapa kali diunggah oleh Instagram @pemprov_bali bagi saya adalah sebuah informasi bahwa Koster dan juga rakyat Bali (tidak semua ya) siap menyambut periode kedua dari Koster sebagai Gubernur Bali.

Mengapa Koster sudah melakukan “kampanye” sejak hari ini, padahal pemilihan kepala daerah (pilkada) masih cukup jauh?

Pasca Piala Dunia U-20

Harus diakui bahwa pasca Gubernur Bali mengirimkan surat kepada Menpora RI perihal penolakan kehadiran Israel di gelaran ini, Koster menerima banyak “serangan” dari warga—khususnya lewat sosial media. Benar saja, akun resmi @pemprov_bali dan @gubernur.bali melakukan antisipasi dengan membatasi kolom komentarnya. Cara klasik yang biasa dilakukan pejabat publik yang pengecut saat menghadapi kemarahan warganet.

Bahkan Pengamat Politik dari Universitas Udayana, Kadek Dwita Apriani, mengingatkan Koster soal elektabilitasnya, apalagi masyarakat Bali sudah menganggap Koster sebagai biang kerok kegagalan terselenggaranya Piala Dunia U-20. Tentu isu ini bisa saja menjadi senjata bagi lawan politik Koster pada saat pilkada nanti. Hal ini harus diwaspadai Koster apabila ingin memimpin Bali dua periode.

Namun belum surut benar kemarahan masyarakat Bali soal Piala Dunia U-20, beberapa waktu lalu kembali muncul potongan video Koster yang menurut saya cukup blunder. Dalam video tersebut, Koster menyebutkan bahwa meskipun dirinya kecil, tetapi memiliki khasiat yang luar biasa. Ia melanjutkan bahwa hanya dia satu-satunya gubernur yang berani menolak Israel. Berangkat dari video tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa Koster bukanlah pemimpin yang mampu membaca psikologis rakyatnya sendiri.

Mungkin saja Koster menganggap bahwa rakyat Bali memandang dirinya sebagai seorang pahlawan dan layak mendapat pujian. Benarkah demikian? Menurut saya sih tidak.

Mengapa tidak? Mudah saja.

Pertama, Koster bukanlah satu-satunya gubernur yang menolak kehadiran Israel. Masih ada Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah yang menyuarakan penolakan—juga bernaung di partai yang sama.

Kedua, menggunakan Permenlu No. 3 Tahun 2019 tentang Panduan Umum Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah pun tidak tepat sasaran. Hal ini juga sudah diterangkan oleh pihak Kemenlu RI.

Ketiga, sikap Koster tersebut telah dianggap mendatangkan kerugian yang besar bagi sepak bola Indonesia, dan berpotensi mendatangkan kerugian bagi pariwisata Bali yang sampai saat ini masih jadi “Panglima Ekonomi”.

Dua Jari dan Upaya Menaikkan Elektabilitas

Kembali ke pose dua jari ala Koster. Bagi saya, ini adalah upaya Koster untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap dirinya yang cukup berantakan pasca penolakan Israel di Piala Dunia U-20 yang berujung pada batalnya perhelatan event ini.

Koster cukup rajin datang ke Pura Besakih, selain untuk sembahyang tentu saja untuk berpose dua jari bersama umat yang antusias menghaturkan sembah bhakti. Saya menduga lewat foto-foto tersebut, Koster ingin memberi pesan bahwa dirinya masih mendapat dukungan dari rakyat Bali dan siap kembali memimpin Bali di periode kedua.

Keinginan Koster untuk kembali berkuasa bukanlah satu hal yang aneh di tengah kehidupan berpolitik di Indonesia. Apabila Koster terpilih kembali sebagai gubernur di periode kedua, maka secara tidak langsung ia meneguhkan diri sebagai ahli strategi dan juga dicintai oleh sebagian rakyat Bali. Dalam ilmu sosiologi, hal ini dapat dijelaskan lewat teori inersia yang menyebutkan bahwa kaum kelas atas akan melakukan berbagai upaya untuk mempertahankan posisinya agar tetap di atas.

Berangkat dari hal tersebut, pose dua jari yang dipamerkan Koster di akun sosial media pemerintah provinsi Bali dapat diduga menjadi salah satu upayanya untuk mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat Bali yang mungkin hilang karena batalnya Piala Dunia U-20.

Pose tersebut juga dapat dibaca bahwa Koster ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya ingin memimpin Bali hingga periode kedua. Lalu pertanyaan kemudian, mengapa harus di Pura Besakih?

Seperti yang sudah diketahui bersama, hari-hari ini di Pura Besakih sedang berlangsung Upacara Karya Ida Bhatara Turun Kabeh. Seluruh umat Hindu di Bali dan luar Bali sebisa mungkin menyempatkan diri untuk menghaturkan sembah baktinya kepada Ida Sang Hyang Widhi.

Saya menduga Koster mengambil momentum ini untuk mendulang kembali popularitasnya di tengah masyarakat Bali yang bisa dikatakan kini titik kumpulnya berada di Pura Besakih. Selain itu Koster juga memiliki legacy bahwa di bawah kepemimpinannya-lah penataan kawasan suci Pura Besakih terlaksana dan manfaatnya dapat dirasakan oleh umat Hindu.

Jika mengacu pada teori inersia yang sudah dijelaskan di atas, saya menduga di sisa kepemimpinannya hingga 5 September 2023 mendatang, Koster akan melakukan berbagai cara untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitasnya ke masyarakat Bali. Hal tersebut akan lebih mudah dilakukan karena saat ini dirinya memegang kendali atas berbagai instrumen negara.

Kemudian kalau bicara soal sosial media, maka saat dirinya masih menjabat sebagai gubernur-lah dirinya akan lebih mudah mendapatkan konten yang siap diunggah ke sosial media. Jadi layak ditunggu, manuver apa yang akan dibuat oleh Koster di sisa masa jabatannya? [T]

BACA esai-esai politik lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

Anas Urbaningrum dan Kemungkinan Serangan Balik untuk Demokrat
Tolak Israel, PDIP Uji Ganjar?
Jas Kuning Adalah Identitas Baru Ridwan Kamil
Politik Catur Ala Erick Thohir
Tags: Gubernur BaliPemilu 2024Pilkada BaliPolitikPura BesakihWayan Koster
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Hari Libur Adalah Hari Yang Sakral, Harus Dihargai (Catatan Pasca-sarjana)

Next Post

DPRD Buleleng Serius Bahas Tiga Ranperda: 1 Inisiatif Dewan, 2 Diajukan Eksekutif

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
DPRD Buleleng Serius Bahas Tiga Ranperda: 1 Inisiatif Dewan, 2 Diajukan Eksekutif

DPRD Buleleng Serius Bahas Tiga Ranperda: 1 Inisiatif Dewan, 2 Diajukan Eksekutif

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co