12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jas Kuning Adalah Identitas Baru Ridwan Kamil

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 25, 2023
in Esai
Jas Kuning Adalah Identitas Baru Ridwan Kamil

Ridwan Kamil [gambar berdasar foto di internet]

BELUM GENAP TIGA BULAN dikenakan, jas kuning milik Ridwan Kamil menuai polemik. Jas kuning tersebut digunakan Gubernur Jawa Barat yang sekarang kader partai Golkar pada saat bertemu siswa SMPN 3 Tasikmalaya secara daring.

Video tersebut lantas mengundang pelbagai komentar dari warganet. Tidak hanya jas, latar tulisan pun bernuansa kuning. Hal ini langsung disambut komentar ribuan warganet. Salah satunya adalah Muhammad Sabil Fadhilah, seorang guru tidak tetap di SMK Telkom Sekar Kemuning, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Sabil yang belakangan diketahui sebagai pendukung Ridwan Kamil pada saat Pilkada Jabar tahun 2018 lalu menulis komentar “Dalam zoom ini, Maneh teh keur jadi gubernur jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil?”

Komentar tersebut lantas menjadi sorotan, hal ini dikarenakan Sabil menggunakan kata “maneh” yang dianggap kurang pantas ditujukan kepada seorang gubernur, ditambah kata itu keluar dari seorang guru. Tentu saya tidak akan mengomentari lebih lanjut soal bahasa yang digunakan, mengingat saya kurang memahami tingkatan bahasa Sunda. Jadi saya akan mengomentari hal lain yang masih berkelindan dengan persoalan ini.

Sabil Adalah Kita

Saya pikir komentar yang disampaikan Sabil terhadap unggahan Ridwan Kamil adalah hal yang wajar. Hal serupa juga terlintas di kepala saya saat melihat unggahan tersebut. Setelah saya amati kembali akun Instagramnya, memang sebelumnya Ridwan Kamil beberapa kali sudah mengunggah video dengan nuansa kuning. Dua diantaranya memang secara terang membahas partai. Sisanya adalah aktivitas sebagai Gubernur Jawa Barat, seperti video call dengan pelajar asal Jawa Barat yang sedang belajar Turki dan ngobrol dengan siswa SMPN 3 Tasikmalaya.

Sebagai pemimpin, Ridwan Kamil harusnya tidak menitikberatkan pada pilihan kata yang digunakan Sabil. Substansi dari komentar tersebutlah yang harus jadi pokok pembahasan. Setidaknya itu yang saya bayangkan. Alih-alih menanggapinya dengan lebih bijak, Ridwan Kamil justru memilih untuk menyematkan komentar Sabil dan mengirim pesan ke tempat Sabil bekerja. Buat saya sendiri, menyematkan komentar warganet, yang di dunia nyata juga adalah warganya adalah hal yang tak patut dilakukan seorang pemimpin.

Dengan menyematkan komentar Sabil, Ridwan Kamil secara sadar memberi ruang warganet lain—yang berpihak padanya untuk menyerang akun dari Sabil. Dan benar, akun Sabil mendapat begitu banyak menerima hujatan, kemudian berdampak pada karirnya. Sabil pada akhirnya menerima surat pemberhentian kerja dari Yayasan Miftahul Ullum yang menaungi sekolah tempatnya mengajar.

Apa yang dilakukan oleh Ridwan Kamil tersebut saya kira adalah strategi agar keributan tidak terjadi secara vertikal, tetapi secara horisontal. Artinya biarkanlah yang menghakimi Sabil adalah sesama warganet, sedang dirinya cukup memantau saja. Hehe, ini hanya dugaan saya saja ya.

Politik Simbol di Tahun Politik

Simbol dan politik adalah dua entitas yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya. Apalagi di Indonesia yang menganut sistem multipartai yang kemudian mendatangkan konsekuensi persaingan cukup ketat. Persaingan tersebut berdampak pada ideologi yang dibawa oleh masing-masing partai tidak jauh berbeda. Realitas ini menggiring partai politik untuk memformulasikan strategi agar mudah dikenal oleh publik, salah satunya melalui simbol.

Simbol merupakan tanda gambar, bentuk, warna, atau benda yang dapat mengantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan atau masa lalu. Makna atas simbol sendiri diperoleh dari kesepakatan bersama dalam memaknai sesuatu. Simbol sendiri digunakan untuk menyalurkan hasrat manusia karena enggan untuk menyampaikan pesan secara gamblang.

Oleh karena itu, pesan disampaikan melalui perwujudan yang berbeda namun memiliki makna serupa. Pada intinya penggunaan simbol adalah cara untuk menghaluskan penyampaian pesan guna mencapai tujuan tertentu.

Sejak resmi bergabung, sudah lima unggahan Ridwan Kamil di Instagram yang bernuansa kuning. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hanya dua yang secara terang-terangan diunggah untuk menyosialisasikan partainya. Lalu sisanya bagaimana? Kalau bahasa anak mudanya, Ridwan Kamil sedang tepe-tepe alias tebar pesona dengan menggunakan pakaian bernuansa kuning, seperti jaket dan jas kuning.

Penggunaan jas atau jaket kuning secara tidak langsung adalah langkah untuk memperkenalkan partai Golkar—partai yang dikenal dengan warna kuning menyala. Langkah tersebut tentu dapat saya dan anda identifikasi sebagai langkah Ridwan Kamil dalam menyampaikan pesan. Pesan bahwa dirinya sudah bergabung dengan partai Golkar, dan mengajak warganet memilih partai Golkar pada saat Pemilu nanti. Dua pesan itu adalah hal yang pasti dan lazim disampaikan oleh para politisi, tak terkecuali Ridwan Kamil.

Sebagai tokoh publik dengan jumlah pengikut yang besar, Ridwan Kamil sudah memiliki awareness, likely, education, dan electability. Empat hal tersebut adalah langkah dalam membranding diri, dan saya kira Ridwan Kamil telah memiliki semuanya. Masyarakat sudah “ngeh” atas keberadaannya, hal tersebut dibuktikan dari segala aktivitasnya selalu menjadi bahan perbincangan.

Ia juga disukai oleh banyak orang, bukti sederhananya adalah ia banyak menerima komentar positif dari warganet. Ia sebagai tokoh publik telah melakukan pelbagai edukasi lewat sosial medianya. Dan terakhir, ia juga sudah memiliki tingkat keterpilihan dari masyarakat—bahkan masuk bursa Cawapres. Tentu modal yang dimiliki sangatlah besar.

Tapi berbeda cerita ketika ia berperan sebagai kader partai. Apa yang telah dimiliki seorang Ridwan Kamil hari ini adalah branding sebagai tokoh yang tidak terikat partai. Kini ia adalah kader partai yang harus ikut aturan main partai. Perlahan namun pasti, Ridwan Kamil mencoba memperkenalkan ke publik bahwa dirinya kini adalah bagian dari partai Golkar.

Penggunaan jas kuning adalah langkah awal memunculkan awareness publik terhadap dirinya yang kini adalah kader partai. Selanjutnya, bagaimana ia dengan identitas baru dapat disukai oleh publik dan dapat menuntaskan tahap likely?

Saya berasumsi bahwa langkah Ridwan Kamil ke tahap selanjutnya akan lebih sulit. Hal ini tidak lepas dari pemberhentian Sabil sebagai guru akibat komentarnya terhadap jas kuning Ridwan Kamil. Belum lagi kebiasaan Ridwan Kamil menyematkan komentar warganet.

Ada juga asumsi bahwa Ridwan Kamil sengaja melakukan ini agar dirinya terus diperbincangkan publik. Perbincangan publik tentang dirinya dan jas kuning yang intens tentu secara tidak langsung mempengaruhi alam bawah sadar publik, kemudian bisa saja mempengaruhi referensi publik dalam memilih nanti.

Apa kalian ada asumsi lain? [T]

Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya
Virus “Lato-Lato” Jadi Ancaman Politik Indonesia
Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia
Tags: Partai GolkarPartai PolitikPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebaikan Tanpa Pengetahuan Adalah Kesalahan

Next Post

Inilah 10 Finalis Bagus dan 10 Finalis Jegeg Buleleng | Kalian Jagokan Siapa?

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Inilah 10 Finalis Bagus dan 10 Finalis Jegeg Buleleng | Kalian Jagokan Siapa?

Inilah 10 Finalis Bagus dan 10 Finalis Jegeg Buleleng | Kalian Jagokan Siapa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co