22 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jas Kuning Adalah Identitas Baru Ridwan Kamil

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
March 25, 2023
in Esai
Jas Kuning Adalah Identitas Baru Ridwan Kamil

Ridwan Kamil [gambar berdasar foto di internet]

BELUM GENAP TIGA BULAN dikenakan, jas kuning milik Ridwan Kamil menuai polemik. Jas kuning tersebut digunakan Gubernur Jawa Barat yang sekarang kader partai Golkar pada saat bertemu siswa SMPN 3 Tasikmalaya secara daring.

Video tersebut lantas mengundang pelbagai komentar dari warganet. Tidak hanya jas, latar tulisan pun bernuansa kuning. Hal ini langsung disambut komentar ribuan warganet. Salah satunya adalah Muhammad Sabil Fadhilah, seorang guru tidak tetap di SMK Telkom Sekar Kemuning, Kota Cirebon, Jawa Barat.

Sabil yang belakangan diketahui sebagai pendukung Ridwan Kamil pada saat Pilkada Jabar tahun 2018 lalu menulis komentar “Dalam zoom ini, Maneh teh keur jadi gubernur jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil?”

Komentar tersebut lantas menjadi sorotan, hal ini dikarenakan Sabil menggunakan kata “maneh” yang dianggap kurang pantas ditujukan kepada seorang gubernur, ditambah kata itu keluar dari seorang guru. Tentu saya tidak akan mengomentari lebih lanjut soal bahasa yang digunakan, mengingat saya kurang memahami tingkatan bahasa Sunda. Jadi saya akan mengomentari hal lain yang masih berkelindan dengan persoalan ini.

Sabil Adalah Kita

Saya pikir komentar yang disampaikan Sabil terhadap unggahan Ridwan Kamil adalah hal yang wajar. Hal serupa juga terlintas di kepala saya saat melihat unggahan tersebut. Setelah saya amati kembali akun Instagramnya, memang sebelumnya Ridwan Kamil beberapa kali sudah mengunggah video dengan nuansa kuning. Dua diantaranya memang secara terang membahas partai. Sisanya adalah aktivitas sebagai Gubernur Jawa Barat, seperti video call dengan pelajar asal Jawa Barat yang sedang belajar Turki dan ngobrol dengan siswa SMPN 3 Tasikmalaya.

Sebagai pemimpin, Ridwan Kamil harusnya tidak menitikberatkan pada pilihan kata yang digunakan Sabil. Substansi dari komentar tersebutlah yang harus jadi pokok pembahasan. Setidaknya itu yang saya bayangkan. Alih-alih menanggapinya dengan lebih bijak, Ridwan Kamil justru memilih untuk menyematkan komentar Sabil dan mengirim pesan ke tempat Sabil bekerja. Buat saya sendiri, menyematkan komentar warganet, yang di dunia nyata juga adalah warganya adalah hal yang tak patut dilakukan seorang pemimpin.

Dengan menyematkan komentar Sabil, Ridwan Kamil secara sadar memberi ruang warganet lain—yang berpihak padanya untuk menyerang akun dari Sabil. Dan benar, akun Sabil mendapat begitu banyak menerima hujatan, kemudian berdampak pada karirnya. Sabil pada akhirnya menerima surat pemberhentian kerja dari Yayasan Miftahul Ullum yang menaungi sekolah tempatnya mengajar.

Apa yang dilakukan oleh Ridwan Kamil tersebut saya kira adalah strategi agar keributan tidak terjadi secara vertikal, tetapi secara horisontal. Artinya biarkanlah yang menghakimi Sabil adalah sesama warganet, sedang dirinya cukup memantau saja. Hehe, ini hanya dugaan saya saja ya.

Politik Simbol di Tahun Politik

Simbol dan politik adalah dua entitas yang tidak dipisahkan satu dengan lainnya. Apalagi di Indonesia yang menganut sistem multipartai yang kemudian mendatangkan konsekuensi persaingan cukup ketat. Persaingan tersebut berdampak pada ideologi yang dibawa oleh masing-masing partai tidak jauh berbeda. Realitas ini menggiring partai politik untuk memformulasikan strategi agar mudah dikenal oleh publik, salah satunya melalui simbol.

Simbol merupakan tanda gambar, bentuk, warna, atau benda yang dapat mengantarkan seseorang ke dalam gagasan atau konsep masa depan atau masa lalu. Makna atas simbol sendiri diperoleh dari kesepakatan bersama dalam memaknai sesuatu. Simbol sendiri digunakan untuk menyalurkan hasrat manusia karena enggan untuk menyampaikan pesan secara gamblang.

Oleh karena itu, pesan disampaikan melalui perwujudan yang berbeda namun memiliki makna serupa. Pada intinya penggunaan simbol adalah cara untuk menghaluskan penyampaian pesan guna mencapai tujuan tertentu.

Sejak resmi bergabung, sudah lima unggahan Ridwan Kamil di Instagram yang bernuansa kuning. Seperti yang saya katakan sebelumnya, hanya dua yang secara terang-terangan diunggah untuk menyosialisasikan partainya. Lalu sisanya bagaimana? Kalau bahasa anak mudanya, Ridwan Kamil sedang tepe-tepe alias tebar pesona dengan menggunakan pakaian bernuansa kuning, seperti jaket dan jas kuning.

Penggunaan jas atau jaket kuning secara tidak langsung adalah langkah untuk memperkenalkan partai Golkar—partai yang dikenal dengan warna kuning menyala. Langkah tersebut tentu dapat saya dan anda identifikasi sebagai langkah Ridwan Kamil dalam menyampaikan pesan. Pesan bahwa dirinya sudah bergabung dengan partai Golkar, dan mengajak warganet memilih partai Golkar pada saat Pemilu nanti. Dua pesan itu adalah hal yang pasti dan lazim disampaikan oleh para politisi, tak terkecuali Ridwan Kamil.

Sebagai tokoh publik dengan jumlah pengikut yang besar, Ridwan Kamil sudah memiliki awareness, likely, education, dan electability. Empat hal tersebut adalah langkah dalam membranding diri, dan saya kira Ridwan Kamil telah memiliki semuanya. Masyarakat sudah “ngeh” atas keberadaannya, hal tersebut dibuktikan dari segala aktivitasnya selalu menjadi bahan perbincangan.

Ia juga disukai oleh banyak orang, bukti sederhananya adalah ia banyak menerima komentar positif dari warganet. Ia sebagai tokoh publik telah melakukan pelbagai edukasi lewat sosial medianya. Dan terakhir, ia juga sudah memiliki tingkat keterpilihan dari masyarakat—bahkan masuk bursa Cawapres. Tentu modal yang dimiliki sangatlah besar.

Tapi berbeda cerita ketika ia berperan sebagai kader partai. Apa yang telah dimiliki seorang Ridwan Kamil hari ini adalah branding sebagai tokoh yang tidak terikat partai. Kini ia adalah kader partai yang harus ikut aturan main partai. Perlahan namun pasti, Ridwan Kamil mencoba memperkenalkan ke publik bahwa dirinya kini adalah bagian dari partai Golkar.

Penggunaan jas kuning adalah langkah awal memunculkan awareness publik terhadap dirinya yang kini adalah kader partai. Selanjutnya, bagaimana ia dengan identitas baru dapat disukai oleh publik dan dapat menuntaskan tahap likely?

Saya berasumsi bahwa langkah Ridwan Kamil ke tahap selanjutnya akan lebih sulit. Hal ini tidak lepas dari pemberhentian Sabil sebagai guru akibat komentarnya terhadap jas kuning Ridwan Kamil. Belum lagi kebiasaan Ridwan Kamil menyematkan komentar warganet.

Ada juga asumsi bahwa Ridwan Kamil sengaja melakukan ini agar dirinya terus diperbincangkan publik. Perbincangan publik tentang dirinya dan jas kuning yang intens tentu secara tidak langsung mempengaruhi alam bawah sadar publik, kemudian bisa saja mempengaruhi referensi publik dalam memilih nanti.

Apa kalian ada asumsi lain? [T]

Golf Hanya Untuk Orang Kaya dan Orang yang Ngebet Kaya
Virus “Lato-Lato” Jadi Ancaman Politik Indonesia
Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia
Tags: Partai GolkarPartai PolitikPemilu 2024Politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Kebaikan Tanpa Pengetahuan Adalah Kesalahan

Next Post

Inilah 10 Finalis Bagus dan 10 Finalis Jegeg Buleleng | Kalian Jagokan Siapa?

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Inilah 10 Finalis Bagus dan 10 Finalis Jegeg Buleleng | Kalian Jagokan Siapa?

Inilah 10 Finalis Bagus dan 10 Finalis Jegeg Buleleng | Kalian Jagokan Siapa?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri
Esai

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co