2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 20, 2023
in Esai
Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEBENARNYA SAYA tidak terlalu kaget ketika membaca berita yang berseliweran di layar gawai saya. Berita tersebut menyebutkan kalau kelompok Relawan Ganjar Pranowo Mania (GP Mania) bubar. Hal tersebut langsung disampaikan oleh Immanuel Ebenezer selaku Ketua Umum Relawan GP Mania.

Ia menyebutkan kalau Ganjar Pranowo bukanlah sosok yang pantas untuk menjadi Presiden RI menggantikan Joko Widodo. Ia menambahkan hingga dua tahun terbentuknya relawan ini, belum ada gagasan orisinal yang ditemukan dari sosok Ganjar Pranowo yang saat ini masih mengemban tugas sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Dalam alam demokrasi, sekumpulan orang yang menghimpun diri dalam sebuah kelompok adalah sebuah keniscayaan, dan hal tersebut juga dijamin dalam UUD NRI 1945. Dan jelang Pemilu 2024 yang menyisakan kurang dari satu tahun, sudah begitu banyak sebenarnya kelompok relawan yang terbentuk dan memiliki tujuan berbeda pula.

Misal, sebut saja Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) yang merupakan kelompok pendukung Anies Baswedan. Kemudian ada Barisan Relawan Airlangga (Baralangga) sebagai kelompok pendukung Airlangga Hartarto yang juga Ketua Umum Golkar, juga ada Dewan Kolonel yang hadir untuk mendukung Puan Maharani menjadi Presiden RI di tahun 2024.

Beda Relawan Kemanusiaan dan Relawan Politik

Jika merujuk pada kata “relawan”, maka kata tersebut memiliki arti orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya untuk mencapai tujuan organisasi, dengan tanggung jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan sedikit latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela membantu tenaga profesional.

Kemudian merujuk definisi yang lain, relawan merupakan merupakan orang-orang yang tidak memiliki kewajiban menolong suatu pihak tetapi memiliki dorongan untuk berkontribusi nyata dalam suatu kegiatan dan berkomitmen untuk terlibat dalam kegiatan yang membutuhkan kerelaan guna mengorbankan apa-apa yang dia miliki, baik berupa waktu, tenaga, pikiran, serta materi untuk diberikan kepada orang lain.

Keberadaan relawan sendiri biasanya hadir di tengah-tengah situasi dan keadaan yang sulit, seperti bencana alam.

Maka sudah sangat wajar ketika terjadi bencana alam di pelbagai wilayah Indonesia, maka rakyat Indonesia akan berbondong-bondong untuk saling membantu meringankan beban saudara yang tertimpa bencana.

Mereka akan berkontribusi lewat tenaga, hingga harta yang dimilikinya—bahkan tanpa dikomando. Apalagi mengharapkan imbalan, saya pikir para relawan yang bergerak di kemanusiaan tidak akan pernah berpikir demikian.

Tapi bagaimana dengan kelompok-kelompok relawan dalam dunia politik? Apakah mereka bergerak berdasar atas kerelaan mereka untuk mengorbankan segala yang dimiliki?

Sejatinya saya meragukan keberadaan kelompok-kelompok relawan dalam dunia politik Indonesia. Peter Merkl dalam Miriam Budiardjo menyebutkan bahwa “Politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan”, namun di sisi lain Peter Merkl juga menyebutkan bahwa “Politik dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri” atau secara singkat dapat kita bahasakan “politik adalah perebutan kuasa, tahta, dan harta”.

Barang kali berangkat dari definisi tersebut, saya pikir tidak hanya politisi yang berlomba merebut kuasa, tahta, dan harta, tetapi juga para relawan politik tersebut. Atau saya menyebutnya “politisi berbaju relawan”.

Kenapa saya menyebutnya sebagai politisi berbaju relawan? Sangat sederhana. Karena mereka-mereka ini hadir hanya di saat jelang perhelatan Pemilihan Umum—sisanya mereka kemana? Keraguan saya menguat setelah membaca data bahwa tidak sedikit relawan-relawan yang ketika tokoh dukungannya memenangkan kontestasi, mereka mendapatkan “kue” untuk dinikmati. Setidaknya ada 6 (enam) orang yang berasal dari relawan dan berhasil menduduki kursi-kursi empuk dengan pelbagai tunjangan di dalamnya. Siapa saja mereka?

Dilansir dari laman cnbcindonesia.com daftar 6 nama tersebut, yaitu Fadjroel Rachman (pendukung Jokowi sejak 2014) pernah menjadi Staf Khusus Presiden & Komisaris PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan kini menjadi Duta Besar RI untuk Kazakhtan merangkap Republik Tajikistan. Andi Gani Nena Wea (Ketua Umum Relawan Buruh Sahabat Jokowi) berhasil duduk sebagai Komisaris Utama & Independen PT PP Tbk, Ukin Ni’am Yusron (Penggiat Media Sosial Pendukung Jokowi) duduk sebagai Komisaris ITDC. Kemudian ada Eko Sulistyo (Tim Relawan Jokowi) duduk sebagai Komisaris PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), lalu Dyah Kartika Rini (Jokowi Advanced Social Media Volunteers) sebagai Komisaris Independen Jasa Raharja, dan Kristia Budiyanto (Influencer Jokowi—pemilik akun twittwe @kangdede78) berhasil duduk sebagai Komisaris Independen PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).

Kalau melihat dari jabatan yang diperoleh, keseluruhan merupakan jabatan yang sangat bergengsi atau bisa dikatakan masuk grade A. Hehe. Kemudian untuk apa publik harus menanggapi secara serius bubarnya kelompok relawan GP Mania besutan Immanuel Ebenezer? Bisa saja alasan-alasan yang diungkapkan oleh Immanuel Ebenezer yang sudah saya ungkap di atas adalah alasan semu untuk menutupi alasan sesungguhnya. Belum adanya kepastian Ganjar Pranowo akan melaju sebagai Calon Presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bisa jadi menjadi salah satu faktor utama.

Meski dalam HUT PDIP ke-50 kemarin, Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum sudah menyatakan secara tegas bahwa calon yang akan diusung partainya adalah kader, tapi tidak ada jaminan bahwa Ganjar-lah orangnya, meski Ganjar secara survei masih berada di peringkat atas bersama Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Belakangan beredar lima nama kader PDIP yang digadang-gadang akan diusung sebagai Presiden RI. Sebut saja, Puan Maharani sang Puteri Mahkota, lalu ada Ganjar Pranowo, disusul oleh Budiman Sudjatmiko, Abdullah Azwar Anas, dan terakhir adalah Tri Rismaharani. Tentu jalan mendapatkan tiket capres masih sangat panjang.

Lahir hingga bubarnya kelompok-kelompok relawan pendukung tokoh-tokoh potensial jelang perhelatan politik adalah bagian dari demokrasi Indonesia yang tidak bisa dihindarkan. Hal tersebut jadi ajang menuangkan ekspresi kesukaan dan dukungan terhadap tokoh-tokoh yang mereka dukung.

Namun patut diingat bahwa kelompok-kelompok relawan ini hadir untuk sebuah tujuan—tidak hanya untuk mencapai tujuan kelompoknya, tapi juga ada tujuan pribadi masing-masing dari mereka. Bukankah pesta demokrasi hari ini sangat amat bisa dimanfaatkan semua orang sebagai ladang mencari nafkah? Jadi jangan dihujat, cukup perhatikan dan maklumi saja. Hehehe. [T]

BACA artikel lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

Politik Catur Ala Erick Thohir
Valentine dan Pemilu 2024 di Indonesia
Tags: PilpresPolitikpolitisirelawan politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Baligrafi Makin Diminati Kalangan Remaja Bali

Next Post

Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Total, Ada yang “Belum Drama”

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Total, Ada yang “Belum Drama”

Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Total, Ada yang “Belum Drama”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co