23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
February 20, 2023
in Esai
Mengenal Politisi Berbaju Relawan di Indonesia

Ilustrasi tatkala.co | Wiradinata

SEBENARNYA SAYA tidak terlalu kaget ketika membaca berita yang berseliweran di layar gawai saya. Berita tersebut menyebutkan kalau kelompok Relawan Ganjar Pranowo Mania (GP Mania) bubar. Hal tersebut langsung disampaikan oleh Immanuel Ebenezer selaku Ketua Umum Relawan GP Mania.

Ia menyebutkan kalau Ganjar Pranowo bukanlah sosok yang pantas untuk menjadi Presiden RI menggantikan Joko Widodo. Ia menambahkan hingga dua tahun terbentuknya relawan ini, belum ada gagasan orisinal yang ditemukan dari sosok Ganjar Pranowo yang saat ini masih mengemban tugas sebagai Gubernur Jawa Tengah.

Dalam alam demokrasi, sekumpulan orang yang menghimpun diri dalam sebuah kelompok adalah sebuah keniscayaan, dan hal tersebut juga dijamin dalam UUD NRI 1945. Dan jelang Pemilu 2024 yang menyisakan kurang dari satu tahun, sudah begitu banyak sebenarnya kelompok relawan yang terbentuk dan memiliki tujuan berbeda pula.

Misal, sebut saja Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) yang merupakan kelompok pendukung Anies Baswedan. Kemudian ada Barisan Relawan Airlangga (Baralangga) sebagai kelompok pendukung Airlangga Hartarto yang juga Ketua Umum Golkar, juga ada Dewan Kolonel yang hadir untuk mendukung Puan Maharani menjadi Presiden RI di tahun 2024.

Beda Relawan Kemanusiaan dan Relawan Politik

Jika merujuk pada kata “relawan”, maka kata tersebut memiliki arti orang yang tanpa dibayar menyediakan waktunya untuk mencapai tujuan organisasi, dengan tanggung jawab yang besar atau terbatas, tanpa atau dengan sedikit latihan khusus, tetapi dapat pula dengan sedikit latihan yang sangat intensif dalam bidang tertentu, untuk bekerja sukarela membantu tenaga profesional.

Kemudian merujuk definisi yang lain, relawan merupakan merupakan orang-orang yang tidak memiliki kewajiban menolong suatu pihak tetapi memiliki dorongan untuk berkontribusi nyata dalam suatu kegiatan dan berkomitmen untuk terlibat dalam kegiatan yang membutuhkan kerelaan guna mengorbankan apa-apa yang dia miliki, baik berupa waktu, tenaga, pikiran, serta materi untuk diberikan kepada orang lain.

Keberadaan relawan sendiri biasanya hadir di tengah-tengah situasi dan keadaan yang sulit, seperti bencana alam.

Maka sudah sangat wajar ketika terjadi bencana alam di pelbagai wilayah Indonesia, maka rakyat Indonesia akan berbondong-bondong untuk saling membantu meringankan beban saudara yang tertimpa bencana.

Mereka akan berkontribusi lewat tenaga, hingga harta yang dimilikinya—bahkan tanpa dikomando. Apalagi mengharapkan imbalan, saya pikir para relawan yang bergerak di kemanusiaan tidak akan pernah berpikir demikian.

Tapi bagaimana dengan kelompok-kelompok relawan dalam dunia politik? Apakah mereka bergerak berdasar atas kerelaan mereka untuk mengorbankan segala yang dimiliki?

Sejatinya saya meragukan keberadaan kelompok-kelompok relawan dalam dunia politik Indonesia. Peter Merkl dalam Miriam Budiardjo menyebutkan bahwa “Politik dalam bentuk yang paling baik adalah usaha mencapai suatu tatanan sosial yang baik dan berkeadilan”, namun di sisi lain Peter Merkl juga menyebutkan bahwa “Politik dalam bentuk yang paling buruk, adalah perebutan kekuasaan, kedudukan, dan kekayaan untuk kepentingan diri sendiri” atau secara singkat dapat kita bahasakan “politik adalah perebutan kuasa, tahta, dan harta”.

Barang kali berangkat dari definisi tersebut, saya pikir tidak hanya politisi yang berlomba merebut kuasa, tahta, dan harta, tetapi juga para relawan politik tersebut. Atau saya menyebutnya “politisi berbaju relawan”.

Kenapa saya menyebutnya sebagai politisi berbaju relawan? Sangat sederhana. Karena mereka-mereka ini hadir hanya di saat jelang perhelatan Pemilihan Umum—sisanya mereka kemana? Keraguan saya menguat setelah membaca data bahwa tidak sedikit relawan-relawan yang ketika tokoh dukungannya memenangkan kontestasi, mereka mendapatkan “kue” untuk dinikmati. Setidaknya ada 6 (enam) orang yang berasal dari relawan dan berhasil menduduki kursi-kursi empuk dengan pelbagai tunjangan di dalamnya. Siapa saja mereka?

Dilansir dari laman cnbcindonesia.com daftar 6 nama tersebut, yaitu Fadjroel Rachman (pendukung Jokowi sejak 2014) pernah menjadi Staf Khusus Presiden & Komisaris PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan kini menjadi Duta Besar RI untuk Kazakhtan merangkap Republik Tajikistan. Andi Gani Nena Wea (Ketua Umum Relawan Buruh Sahabat Jokowi) berhasil duduk sebagai Komisaris Utama & Independen PT PP Tbk, Ukin Ni’am Yusron (Penggiat Media Sosial Pendukung Jokowi) duduk sebagai Komisaris ITDC. Kemudian ada Eko Sulistyo (Tim Relawan Jokowi) duduk sebagai Komisaris PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), lalu Dyah Kartika Rini (Jokowi Advanced Social Media Volunteers) sebagai Komisaris Independen Jasa Raharja, dan Kristia Budiyanto (Influencer Jokowi—pemilik akun twittwe @kangdede78) berhasil duduk sebagai Komisaris Independen PT Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI).

Kalau melihat dari jabatan yang diperoleh, keseluruhan merupakan jabatan yang sangat bergengsi atau bisa dikatakan masuk grade A. Hehe. Kemudian untuk apa publik harus menanggapi secara serius bubarnya kelompok relawan GP Mania besutan Immanuel Ebenezer? Bisa saja alasan-alasan yang diungkapkan oleh Immanuel Ebenezer yang sudah saya ungkap di atas adalah alasan semu untuk menutupi alasan sesungguhnya. Belum adanya kepastian Ganjar Pranowo akan melaju sebagai Calon Presiden (capres) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) bisa jadi menjadi salah satu faktor utama.

Meski dalam HUT PDIP ke-50 kemarin, Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum sudah menyatakan secara tegas bahwa calon yang akan diusung partainya adalah kader, tapi tidak ada jaminan bahwa Ganjar-lah orangnya, meski Ganjar secara survei masih berada di peringkat atas bersama Anies Baswedan dan Prabowo Subianto. Belakangan beredar lima nama kader PDIP yang digadang-gadang akan diusung sebagai Presiden RI. Sebut saja, Puan Maharani sang Puteri Mahkota, lalu ada Ganjar Pranowo, disusul oleh Budiman Sudjatmiko, Abdullah Azwar Anas, dan terakhir adalah Tri Rismaharani. Tentu jalan mendapatkan tiket capres masih sangat panjang.

Lahir hingga bubarnya kelompok-kelompok relawan pendukung tokoh-tokoh potensial jelang perhelatan politik adalah bagian dari demokrasi Indonesia yang tidak bisa dihindarkan. Hal tersebut jadi ajang menuangkan ekspresi kesukaan dan dukungan terhadap tokoh-tokoh yang mereka dukung.

Namun patut diingat bahwa kelompok-kelompok relawan ini hadir untuk sebuah tujuan—tidak hanya untuk mencapai tujuan kelompoknya, tapi juga ada tujuan pribadi masing-masing dari mereka. Bukankah pesta demokrasi hari ini sangat amat bisa dimanfaatkan semua orang sebagai ladang mencari nafkah? Jadi jangan dihujat, cukup perhatikan dan maklumi saja. Hehehe. [T]

BACA artikel lain dari penulis TEDDY CHRISPRIMANATA PUTRA

Politik Catur Ala Erick Thohir
Valentine dan Pemilu 2024 di Indonesia
Tags: PilpresPolitikpolitisirelawan politik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Seni Baligrafi Makin Diminati Kalangan Remaja Bali

Next Post

Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Total, Ada yang “Belum Drama”

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Total, Ada yang “Belum Drama”

Drama Bali Modern di Bulan Bahasa Bali: Ada yang Total, Ada yang “Belum Drama”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co